لومړۍ 131 کرښې.
Hidup kita penuh dengan gangguan, penuh dengan rangsangan.
Namun, bayangkan jika ada cara untuk memperlambat segalanya
agar pikiran beristirahat dan tubuh melepaskan stres.
Kapan kali terakhir kau berhenti, kau diam,
kau meletakkan ponselmu, menyingkirkan gangguan di sekitarmu?
Kapan kali terakhir kau tak melakukan apa pun?
Maksudku, benar-benar tak melakukan apa pun.
Hai, aku Andy, dan selamat datang di Headspace Guide to Meditation.
Aku akan memandumu menjelajahi benak
dan mengetahui manfaat meditasi bagi hidup kita.
Entah kau pernah melakukan meditasi atau benar-benar pemula,
aku akan memandumu melalui tiap tahapan.
Melalui serial ini,
aku akan memperkenalkanmu pada berbagai teknik
dan menjelaskan bagaimana tiap teknik bisa digunakan dalam hidupmu.
Di akhir tiap episode,
kau bisa melatih teknik itu
selagi aku memandumu lewat meditasi.
Aku ingin menunjukkan bagaimana meditasi bisa membantumu lebih fokus
dan minim gangguan,
bagaimana itu membuat hidupmu lebih bahagia,
serta membantu kita terhubung dengan orang-orang tersayang.
Jadi, kau mungkin bertanya, "Apa itu meditasi?"
Sebenarnya, itu hal yang sangat sederhana.
Pada dasarnya, meditasi adalah kemampuan atau cara melatih benak kita
agar benak kita lebih tenang dan bersih, serta terasa lebih nyaman
di benak, tubuh, dan kehidupan kita.
Kau bisa bermeditasi sendirian atau bersama orang lain.
Pada dasarnya, kita hanya melepaskan diri selama beberapa menit,
mungkin sedikit lebih lama, secara teratur,
saat kita berhenti dan melatih benak
untuk lebih fokus, minim gangguan.
Usiaku sekitar sepuluh tahun saat kali pertama mengenal meditasi.
Namun, baru pada akhir masa remaja, mungkin awal usia 20-an,
meditasi berdampak lebih besar pada hidupku.
Seiring bertambah usia, aku mengalami kehilangan dalam hidupku.
Orang-orang dekat denganku…
dan aku tak tahu cara menghadapinya,
jadi, aku kewalahan dengan emosi.
Aku mendapati benakku sangat sering sibuk.
Pada tingkat tertentu, kupikir aku bisa mencari jalan keluar.
Ternyata, aku tidak bisa.
Aku butuh sesuatu yang lebih radikal.
Jadi, aku memutuskan berhenti kuliah
dan menjadi biksu Buddha.
Aku pergi ke Himalaya
dan memulai perjalanan bertahun-tahun dengan tinggal di berbagai biara
di berbagai negara.
Selama itu, aku beruntung bisa
belajar dari para master terhebat di banyak tradisi berbeda.
Aku berharap bisa membagi kebijaksanaan dan pengetahuan mereka kepadamu
agar kau tak perlu pergi ke Himalaya.
Kau tak perlu menjadi biksu atau biksuni
dan tak perlu melakukan kesalahan yang kulakukan dalam perjalananku.
Saat mulai berlatih di biara,
aku berasumsi bahwa meditasi berarti mengendalikan benak,
mengubah benak,
mampu menyingkirkan pikiran dan gangguan.
Namun, penjelasan guruku berbeda.
Dia bilang, "Bayangkan kau duduk di pinggir jalan."
Dia bilang, "Kau hanya perlu duduk di sana dan melihat mobil.
Mobil adalah pikiranmu."
Terdengar mudah, 'kan?
Namun, hal yang bisa terjadi
adalah kita merasa agak gelisah
karena pergerakan lalu lintas.
Jadi, kita berlari ke jalan dan mencoba menghentikan mobil
atau mungkin kita mengejar beberapa mobil,
melupakan gagasan bahwa kita hanya duduk di sana.
Semua pikiran yang berkeliaran ini
menambah perasaan gelisah dalam benak kita.
Jadi, melatih benak
berarti mengubah hubungan kita dengan pikiran dan perasaan yang berlalu…
belajar melihat semua itu dengan lebih banyak perspektif.
Saat melakukan ini, kita secara alami menemukan ketenangan.
Akankah terkadang kita lupa
gagasan dari latihan dan menjadi terganggu?
Tentu saja.
Namun, begitu kita ingat, di sinilah kita,
kembali ke pinggir jalan, hanya melihat lalu lintas berlalu,
merasakan kenyamanan di tubuh dan benak.
Salah satu teknik dasar untuk menanamkan tempat tenang itu
disebut Perhatian Terfokus.
Saat melatih benak,
memfokuskan perhatian pada sesuatu sangatlah penting.
Itu bisa berupa visualisasi, pertanyaan, kata, frasa,
mungkin sesuatu dari luar.
Objek fokus yang paling umum adalah napas.
Tempat untuk perhatian terfokus itu memberi kita tumpuan.
Itu sesuatu untuk kembali saat kita menyadari
benak kita berkelana,
yang tentu saja, pasti terjadi sesekali.
Saat fokus pada objek seperti napas,
kita tak berusaha terbebas dari pikiran
atau menutup dunia di sekitar kita.
Kita belajar mengakui
saat kita terjebak dalam pemikiran
atau gangguan apa pun,
lalu perlahan keluar dari situ, melepaskannya,
dan kembali ke tempat tenang itu, perhatian terfokus.
Teknik seperti Perhatian Terfokus bukanlah hal baru.
Itu bagian dari tradisi Buddha yang sudah ada ribuan tahun.
Dalam pratiknya,
ada tradisi mewariskan ajaran
dari guru ke murid dan seterusnya.
Aku sangat beruntung bisa mengalami hal itu.
Aku merasa sangat terhormat bisa membagikan ajaran ini kepadamu.
Aku berharap saat kau bermeditasi, kau melakukannya dengan keyakinan
bahwa ini sesuatu yang telah diteliti dan dikembangkan
selama ribuan tahun.
Fokus pada napas sebenarnya
berkembang dari berbagai teknik
sejak hampir 3.000 tahun lalu.
Tentu saja, orang yang berlatih bertahun-tahun
telah merasakan manfaatnya,
tetapi tentu tak bisa menjelaskan dampak fisiologisnya.
Namun, dalam 20 tahun terakhir, para ilmuwan bisa melakukan itu,
mengukur dengan teliti
apa yang terjadi pada detak jantung, tekanan darah,
tingkat stres, dan bahkan struktur otak itu sendiri.
Saat menjadi biksu, aku tak tahu
ada sesuatu bernama neuroplastisitas,
bahwa otak itu fleksibel, mudah dibentuk, dan bisa berubah.
Para ilmuwan menyaksikan ini
dengan menempatkan biksu di pemindai fMRI
dan melihat apa yang terjadi di otak
sebelum, selama, dan setelah meditasi.
Kini kita tahu bahwa bermeditasi memiliki cara kerja yang sama
seperti latihan otot di pusat kebugaran agar lebih tebal dan kuat.
Sama halnya dengan otak, bagian otak yang bertanggung jawab
atas perasaan kebahagiaan dan kesejahteraan
No comments yet. Be the first to leave one.