لومړۍ 200 کرښې.
Hai, Billy.
Kirimi aku pesan saat kau sudah dekat dan aku akan turun. Baiklah.
Baiklah. Tidak. Tidak mungkin. Matikan.
Jangan belanja sepatu di TikTok lagi.
Astaga! Kau mengagetkanku. Kukira kau sudah pergi.
Tidak, aku harus ganti sepatu.
Sepatu hak tinggi ini tak seperti berjalan dengan sepatu kets.
Jadi, Val...
Ada yang harus kukatakan kepadamu.
Ya.
Aku tak ingin membahasnya semalam karena kekacauan CNN itu
tapi kau akan melihatnya sekarang.
- Melihat apa? - Aku membuat tato di Burning Man.
Ya, tato apa? Daun ganja kecil di pergelangan kakimu?
Entah bagaimana perasaanmu soal ini
tapi ini sesuatu yang sangat kuinginkan.
Kau membesar-besarkan masalah kecil...
Mark!
DI TEMPAT LAIN
Kau takkan bisa berenang lagi.
Aku bisa jika aku mengakui tulisannya.
- Berbaliklah, apa tulisannya? - "Di tempat lain."
Baiklah, jadi, kau apa?
Sangat tak ingin berada di Burning Man?
Bukan, aku sangat tak ingin berada di sini. Aku tak bahagia.
Aku banyak berpikir belakangan ini...
Kau meninggalkanku?
Ya, aku meninggalkanmu dan mengumumkannya dengan tato.
Tertulis "di tempat lain", bukan "orang lain".
Baiklah, tapi dengar, Mark, hanya saja
aku di sini, dan kau tak ingin berada di sini.
Bukan di sini.
Di sini.
Apa? Baiklah. Keluarkan isi kepalamu.
- Ubah pikiranmu. - Jangan putarbalikkan ucapanku.
Aku terjebak, Val. Aku tak suka di mana aku berada.
Aku membuat tato sebagai pengingat.
Baik, aku tak yakin itu ide bagus untuk membuat pengingat selamanya
bahwa kau tak ingin berada di sini.
Apa maksudmu?
Saat ada hal buruk, kau harus melupakannya.
Kau tak bisa hanya menatapnya.
Kau bahkan tak bisa melihatnya, Mark, itu ada di punggungmu.
Kau bisa membaca terbalik?
Aku tak berniat membuatnya di wajahku. Aku bukan orang aneh.
Benar, bukan.
Baik, Marky Mark, meski aku tidak ingin berada "di tempat lain"
tapi di sini, aku harus menemui Billy di bawah, dan sepatu ini juga sakit.
Kami mengejar Paulie G.
- Apa? - Ya.
Aku harus merekamnya mengakui bahwa dia membocorkan informasi AI.
Entah apa ini bijaksana, Val.
Kata pria 62 tahun dengan tato baru.
Terima kasih.
- Hai. - Jane.
Hai.
- Kau tahu itu bukan aku, kan? - Ya, aku tahu.
- Terima kasih sudah tampil di CNN. - Ya.
- Kau bahkan memakai lipstik. - Sedikit.
Ya.
Jadi, apa yang kau lakukan di sini, Jane?
Boleh aku kembali?
Yang terjadi kepadamu sekarang salah, dan aku ingin membelamu
tapi bukan untuk konten video berkualitas tinggi
konglomerat perusahaan.
Aku ingin melakukannya sendiri. Dengan benar.
Dengan ini.
Ini kamera yang kupakai untuk merekam The Lesbians of Treblinka.
Seserius itulah aku melakukannya.
Apa itu kamera yang kau pakai untuk memenangkan Oscar?
- Tentu, mari kita lakukan. Ya. - Baiklah.
Sebaiknya kau tak di sini untuk membuat keributan, Jane.
Karena kami punya keamanan yang serius sekarang.
Ini James, dia menjaga Gaga.
Tak ada keributan, Billy.
Jane dan aku sudah membicarakannya
dan dia memakai kamera Oscar-nya untuk merekamku sekarang
jadi, kami baik-baik saja.
Jane, maaf sudah mengusirmu dari tempat parkir
aku hanya melindungi bisnis kami.
Ya, aku juga minta maaf. Aku melindungi kemanusiaan.
Ya, dua poin bagus.
Jane, duduklah di depan. Ya.
Terima kasih. Baiklah.
Kau harus merekam wajah Paulie G saat dia melihatku. Mengerti?
Studio ingin menyalahkan seseorang atas kebocoran itu
dan itu bukan aku.
- Apa kita punya tagihan kopi? - Patience punya kartu Val.
Paulie bilang ini tempatnya.
- Aku tak melihatnya. - Dia bilang sering datang ke sini.
Lihat siapa yang datang. Valerie Cherish.
Kau datang untuk memukul perut Paulie G lagi?
Ya, atau kau datang untuk mengambil pekerjaan kami secara langsung?
Astaga, mereka semua penulis.
Baik, dengar, aku mengerti.
Tapi melampiaskan ini kepadanya itu salah.
Dia hanya aktris
yang putus asa mencari pekerjaan, jadi, dia menerima acara itu.
- Mengerti? - Dia putus asa?
Aku melamar pekerjaan di Costco sekarang.
Baiklah. Ya, dia tak di sini. Kenapa kita tidak pergi saja?
Maafkan aku.
Ya, kau harus minta maaf untuk banyak hal.
Kau dan omong kosong AI-mu.
Baiklah, kau tahu? Cukup, Pak, sudah cukup.
Aku bicara dengannya.
Dia ambil semua uang penulis kami untuk dirinya sendiri
dan aku harus mengeluarkan anakku dari sekolah swasta
karena aku tak mampu.
Jika kau tak punya uang untuk sekolah
lalu kenapa kau menghabiskan delapan dolar untuk latte?
- Astaga! Persetan kau! - Astaga!
- Maaf. - Sial!
- Aku bermaksud melakukan ini. - Tidak!
Astaga! Itu 16 dolar yang anak-anakmu takkan dapatkan!
- Terserah. Berengsek. - Baiklah, Billy, sudah cukup.
Tidak, ayo pergi sebelum ada yang melempar scone.
Kau sudah dapat kopimu? Bagus, kita bisa pergi sekarang.
- Aku punya boba untuk Patience. - Baiklah.
Baiklah, kita harus mampir ke kondominiumku lagi
agar aku bisa berganti pakaian.
Baiklah, aku akan minta mereka mengantarku pulang setelah itu.
- Aku akan ambil cuti setelah ini. - Ya.
Val! Hei!
- Apa yang terjadi pada kalian? - "Apa yang terjadi"?
Akan kuberi tahu apa yang terjadi.
Seorang penulis yang marah baru saja melempar
dua frapolatt grande dingin ke arah kami
karena kau memberi tahu semua orang soal AI dan acara kita.
Tidak, aku tak memberi tahu siapa pun.
Bahkan, aku mengirimimu pesan. Kau tak menerimanya?
Dia dapat banyak pesan kemarin, Paulie
sebagian besar menyarankan dia bunuh diri
jadi, mungkin dia tak menerima pesanmu.
Benar.
- Baiklah, Billy. - Kau kena krim kocok.
- Akan kuseka nanti. - Setidaknya bawa serbet.
- Terima kasih. - Aku punya tisu basah di mobil.
- Bagus. - Ada di sini.
"Val, maaf semua ini terjadi. Sungguh.
- Kau tak pantas mendapatkannya." - "Kau tak pantas mendapatkannya."
Ya, aku menerimanya. Aku melewatkannya.
- Maaf aku menuduhmu. - Tidak.
Aku paham kenapa kau berpikir begitu. Kenapa tidak?
- Baiklah. Ya. - Ya.
Kau tahu? Masuklah.
Kau pantas mendapatkan permintaan maaf. Masuklah.
Aku baik-baik saja, ya.
Kumohon, sebentar saja.
Hanya untuk luruskan masalah dengan para penulis.
Kau tahu? Aku...
Aku sudah meluruskan masalah dengan penulis yang ingin kutemui.
- Jadi... - Baiklah.
- Hei, Val. - Ya.
Aku dapat pekerjaan.
- Di sini? - Ya, barista. Tidak.
Komedi romantis zombi bodoh untuk setengah kutipanku.
Tapi ini menulis, jadi...
- Ya. - Terima kasih.
Baiklah. Kenapa berterima kasih kepadaku?
Hari itu di lokasi syutingmu
membuatku sadar aku lebih suka menulis
daripada duduk di sana, mengeluh tentang tidak menulis.
- Jadi, aku menahan malu... - Ya.
dan dapat pekerjaan di acara orang lain.
- Bagus untukmu. - Ya.
- Semoga tayang lama. - Ya.
Baiklah. Sampai jumpa, Paulie.
Gioppino.
- Benar, bukan? Paulie Gioppino. - Ya.
- Ya. - Sampai jumpa.
- Jadi, siapa yang membocorkan? - Mari pikirkan. Siapa yang tahu?
Paulie G, Jimmy, kau, krumu.
Mark, kau, Billy, Patience, para pemeran.
Frank, PDP...
Aku tahu siapa orangnya. Aku!
Aku pembocornya. Memberi tahu terlalu banyak orang.
Ya, begitulah itu tersebar.
Memberi tahu terlalu banyak orang.
Siapa yang tahu siapa yang mereka beri tahu?
Jangan katakan itu di jumpa pers Step and Repeat hari Kamis.
Aku tak bisa pergi ke sana sekarang.
Aku harus tampil di Finance Dudes sore itu.
- Ya, tapi acaranya pukul 20.00. - Benar.
Dengar, pers berpikir aku tak perlu pergi.
- Terlalu menjadi... - Pusat perhatian negatif?
- Terima kasih. - Aku akan pergi.
- Mewakili kita dan acara ini. - Ya, bagus.
Kau melewatkan jumpa pers untuk acaramu? Seperti bukan kau.
Jangan membesar-besarkannya, Jane. Mengerti?
Aku punya banyak urusan, jadi, ya, aku akan melewatkan Step and Retreat.
- Kau bilang, "Step and Retreat." - Benarkah?
- Hei, Valerie Cherish harus pergi! - Baiklah.
- Hei, hei, ho, ho! - Ada apa?
- Valerie Cherish harus pergi! - Apa?
Hei, hei, ho, ho! Valerie Cherish harus pergi!
- Astaga! - Tutup jendelanya.
Tidak bisa, aku butuh ruang untuk mikrofon.
- Selamat siang. Tolong pengenalnya. - Ya, aku punya.
- Ini, bisa berikan pengenalku? - Siapa itu di sana?
No comments yet. Be the first to leave one.