لومړۍ 200 کرښې.
- Chae-rok? - Nenek?
Aku sangat terdesak, anak-anakku tak jawab telepon.
Jadi, aku menghubungimu.
Apa ada masalah? Kenapa pakai ponsel Kakek?
Deok-chul menghilang.
Apa?
- Ibu Choi. - Chae-rok.
Kakek menghilang?
Mungkin dia hanya tersesat. Apa yang terjadi sebelumnya?
Dia membeli permen, tapi tak kembali.
Ponselnya ada padaku. Aku harus bagaimana?
Dia akan baik-baik saja, 'kan?
- Biar aku yang cari. - Aku akan ikut.
Tidak usah, Nenek tetap di sini. Bisa saja Kakek datang dari sisi itu.
Benar juga. Kalau begitu, aku akan tunggu di sini.
Nyonya, kami sudah periksa rekaman, tapi suamimu tak terekam.
Astaga. Bagaimana ini?
Mohon perhatian.
Akuarium akan segera tutup.
Semoga para pengunjung selamat sampai tujuan.
Ponselku.
Ada pada Hae-nam.
Dia pasti menungguku.
Ke mana dia pergi?
Ada perlu apa kemari?
Maaf.
Aku tersesat.
Begitu rupanya. Lewat sini.
Baik.
Terima kasih banyak.
Kakek.
Dari mana saja?
Chae-rok, kenapa kau di sini?
Tentu saja karena khawatir. Aku berkeliling mencarimu.
Kenapa mencariku?
Nenek bilang kau menghilang.
Hae-nam?
Benar.
Chae-rok, aku sedang…
Kau menemukannya?
Terima kasih.
Aku akan ke sana.
Jantungku masih berdegup kencang, tak bisa kalau diam saja.
Baik.
Kau kemari gara-gara aku.
Lalu pergelangan kakimu? Sudah tidak sakit?
Aku masih berlatih sebelum kemari. Sudah membaik.
Omong-omong, Kakek, kenapa datang ke akuarium?
Ini hari jadi pernikahan kami.
Begitu rupanya. Nenek pasti akan marah padamu.
- Aduh. - "Marah"?
Kau buat aku sampai sesak dada!
Aku bisa bernapas karena dua lubang hidungku.
Entah apa jadinya jika tak ada Chae-rok.
- Aku hanya… - Apa yang kau pikirkan tadi?
Seharusnya cari jalan keluar sendiri.
Jika tersesat, bertanyalah pada orang lain.
Bagaimana kau bisa bekerja sebagai kurir pos selama 40 tahun?
Kau bahkan tak belikan permen untukku.
Sebenarnya aku mengikuti anak kecil yang tersesat…
Dasar tukang ikut campur.
Perhatikan saja dirimu sendiri.
Saking gegabahnya, aku sampai menghubungi Chae-rok.
Itu tidak masalah.
Jangan berbohong. Kau bahkan sangat sibuk menjelang kompetisi.
Maaf, Hae-nam.
Masih duduk? Tidak mau pulang?
Baik.
EPISODE 7
Untuk naik taksi. Terima kasih banyak.
- Tidak perlu, Nek. - Bentuk terima kasihku.
Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Dah. Sampai jumpa.
Ada yang aneh pada Chae-rok.
Apa sesuatu terjadi padanya?
Itu karena dia mengkhawatirkanmu.
Begitukah?
- Relakan kompetisi kali ini. - Apa?
Tidak mau. Kenapa aku harus merelakannya?
- Aku yakin bisa. - Aku yang memutuskan.
Atas dasar apa?
Itulah alasanku berhenti balet.
Keras kepala sepertimu.
Pesan dari seorang pendengar.
"Setelah persaingan ketat, aku mendapatkan pekerjaan.
Aku pasti bisa, 'kan? Tolong beri aku dukungan."
Tentu saja kau pasti bisa.
Aku dan para pendengar akan mendukungmu.
Mau ke mana? Kenapa berpakaian rapi?
Wawancara kerja?
Aku sudah wawancara.
Aku diterima kerja.
Kau diterima kerja?
Perusahaan mana?
Sudah temukan hal yang kau sukai?
Bukan seperti itu. Temanku carikan pekerjaan, dan kupikir akan kucoba dahulu.
Harus dicoba agar aku tahu apakah aku suka dan apakah cocok denganku.
Ayah bertanya, perusahaan apa?
Apa? Pegawai tidak tetap? Pekerja lepas?
Dia bilang akan coba semua.
Di situasi ini, masih bisa bicara santai?
- Kau sungguh ibunya? - Apa?
Pekerjaan itu harus punya visi dan prospek.
Jika dia terus main-main dan melewatkan musim perekrutan,
kau mau tanggung jawab?
Awal karier merupakan hal penting.
Aku baru ingat. Kemarin Ibu menelepon.
Namun, aku tidak angkat.
Kenapa potong pembicaraanku?
Astaga.
Padahal Ibu bisa menghubungiku.
Apa ada masalah?
Kenapa tanya padaku?
Bisakah tanyakan padanya? Astaga.
- Kau di sini, Manajer Sim. - Halo, Pak Yoon.
- Tadi kau… - Bukan apa-apa.
Kita makan siang bersama nanti.
- Baik, Manajer Sim. - Sampai jumpa nanti.
Kenapa Ibu telepon?
Ada apa?
Ibu kemarin telepon. Apa ada masalah?
Astaga, kau baru menanyakannya.
Ini tentang ayahmu.
- Tak ada masalah. - Ayah kenapa?
Ibu matikan.
Apa ini?
Anak-anak tidak berguna.
Hanya menelepon ketika teringat.
Kelihatannya dia sudah pergi berlatih.
Apa dia sudah makan?
"Tiap pagi aku minum teh sembari mendengarkan suaramu.
Aku menantikannya juga besok."
"Semoga di tahun 2021 banyak harapan yang terwujud."
Halo.
- "Kuharap kau akan membacakan kisahku." - Kau datang awal.
Keberuntungan hari ini sudah datang sejak pagi.
Aku turut senang.
"Aku merasa usiaku bertambah tanpa prestasi.
Namaku Ye-bi, usia 20 tahun, sedang menunggu pengumuman.
Aku sangat ingin kuliah. Doakan aku lolos."
- Silakan duduk di sini. - Kau akan dapat hasil bagus.
- Baik. - "Siapa penyiarnya? Suaranya bagus."
Terima kasih.
Setelah hangat beberapa waktu, pagi ini suhu turun lagi di bawah nol derajat.
Namun, seiring menurunnya suhu, langit menjadi cerah dan bersih,
serta perasaanku menjadi senang seharian.
Ada lirik lagu berbunyi "musim dingin memang dingin, tapi musim yang hangat."
Lagu ini akan menghangatkan pagi…
- Siap putar. - …sebelum harimu dimulai.
Aku Lee Jun-hui, penyiar Halo, Pukul Sembilan.
Mari dengar lagu "Intern" dari Rooftop Moonlight.
Mulai.
Meski siaran pagi, ini bukan siaran perdana,
jadi, tidak terlalu sibuk.
Seperti yang kau lihat tadi, memeriksa pesan masuk,
baca cerita pendengar, lalu memilih pemenangnya,
mengelola kolom komentar,
mencari bintang tamu, dan mencetak naskah adalah hal dasar.
Selain itu, semua tugas jadi tanggung jawab staf termuda.
Seluruh pekerjaan untuk menjalankan siaran.
Baik.
Meski tidak sulit, banyak hal kecil yang perlu diperhatikan.
Selain tulis naskah, semua adalah tugasmu.
Termasuk pesan makanan,
juga bawakan air minum untuk penyiar.
Aku yang bawakan air minum?
Lalu siapa?
Tentu harus bawa sendiri…
Baiklah.
Tujuh puluh persen siaran radio bergantung pada penyiar.
Kita harus memperhatikannya.
Siaran langsung pukul 09.00, maka datang pukul 08.00.
Tidak boleh terlambat.
- Mengerti? - Ya.
Aku harus bisa sebelum Chae-rok tiba.
Baru sehari istirahat, tubuh rasanya sudah kaku.
Sudah cukup kuberikan untuk satu pekan.
Tulis saja resep lagi untukku.
Kenapa, ya? Terakhir kali MRI tak ada masalah.
Tidak akan sakit jika tak ada masalah.
Seberapa sakit? Nilailah satu sampai sepuluh.
Berikan resepnya saja.
Saat berikrar Sumpah Hippokrates,
tahu aku menambahkan satu kalimat?
Aku tak ingin tahu.
"Jangan kencing di kaki yang membeku."
Walau terasa hangat sekejap,
tapi apa yang terjadi jika kencing tadi membeku?
Tentu lebih dingin.
Kakimu akan beku kedinginan.
Jika beku makin parah, kaki hanya bisa dikeluarkan dengan gergaji…
Paham maksudku?
Pergilah.
Pak Kim, aku akan istirahat 30 menit.
Menyebalkan.
KLINIK ORTOPEDI OH JOONG-SIK
Kenapa tidak mendengarkanku?
- Kau sungguh… - Chae-rok.
Ada Pak Ki juga.
Kau datang awal.
No comments yet. Be the first to leave one.