لومړۍ 200 کرښې.
Translated by sadoks
Baiklah. Siap. Ini dia!
Tangkapan yang bagus!
Lemparan yang bagus, Delgo.
Yang ini lebih tinggi!
Oh, tidak! Bagus.
Lemparan yang buruk. Bukan salahmu. Ayo ambil. Cepat!
Di negeri Jhamora, hidup kaum Lockni yang rendah hati dalam damai.
Di tempat yang jauh di awan...
...negeri kaum Nohrin yang bersayap mulai tandus...
...habis akan sumber daya alam.
Prihatin akan rakyatnya, Raja Nohrin mengirim tentara untuk mencari tempat tinggal baru.
Pencarian mereka membawa mereka ke Jhamora, di mana mereka disambut oleh Lockni.
Raja Nohrin bersumpah untuk tidak pergi...
...sampai rakyatnya yang terakhir telah menetap dengan aman.
Kau, Putri kecilku...
...akan bertumbuh untuk memimpin rakyat kita di negeri yang indah.
Ia mengirim Sedessa, adiknya yang ambisius...
...untuk memimpin Nohrin di negeri yang baru.
Waktu berlalu dan ketegangan bertambah...
...saat kaum Nohrin mencari tempat yang lebih.
Akhirnya, Lockni tak mau memberi lagi.
Ibu.
Di balik pagar!/ Amankan daerahnya.
Jangan biarkan seorangpun lolos!/ Bakar desanya!
Jangan ada yang selamat!
Kebencian, ketika diaduk...
...merusak diri sendiri.
Dan percikan dendam...
...memicu api peperangan.
Kita berperang! Seharusnya kau bernegosiasi!
Bernegosiasi? Dengan kaum biadab?
Jangan terlalu naif.
Jhamora itu milik kita yang harus direbut, Kakakku.
Beranilah untuk menyelesaikan yang aku mulai.
Kau telah membuat malu keluarga kita. Kau membunuh orang tak berdosa dan tentara kita.
Kau telah memastikan bahwa putriku akan tumbuh di dunia...
...di mana kedamaian tak bisa lagi dibenarkan.
Kau bukan lagi anggota keluarga kerajaan...
Bukan lagi adikku.
Sedessa Graleon...
Kau dinyatakan bersalah atas pembunuhan...
Dan pengkhianatan.
Sesuai dengan hukum Nohrin...
...dengan ini kau dihukum...
...untuk menghabiskan sisa hidupmu...
...dalam pengasingan...
...dan tak bisa kembali.
15 TAHUN KEMUDIAN...
Tidak.
Astaga.
Maaf, membuat kalian menunggu, Tuan-tuan.
Aku tak bisa menemukan pakaian yang cocok.
Ini adalah acara perpisahan.
Aku khawatir hubungan kerja kita sudah berakhir.
Berakhir? Bagaimana dengan penyerbuan Jhamora?
Oh, ya. Aku akan tetap menyerbu seperti yang direncanakan.
Tanpa pasukan?
Anda butuh suku kami, Ratu.
Oh, tapi aku sudah punya sukumu.
Bersatu. Dilatih dengan baik.
Cukup siap untuk bertempur./ Kami yang menyatukan mereka!
Kau butuh kami untuk membuat mereka tetap bersatu.
Pencapaianmu sangat sederhana.
Suku-suku berdiri tegap di belakangku.
Menejemen menengah hanya akan menghalangi rencana.
Kau sudah lupa semua yang kami lakukan padamu, Ratu? Istana yang kami bangun?
Akan kuhubungi kalian saat butuh yang lain.
Bagaimana dengan janji anda? Negeri, gelar, kekayaan Jhamora?
Uang dan kekuasaan.
Sangat dangkal.
Sebaiknya kalian memperhatikan diri kalian dengan hal-hal spiritual.
Insinyur Prando.
Kumohon, Ratu! Kumohon ampuni kami!
Ayolah. Kalian kenal aku.
Jika ada satu hal yang tak sukai...
...itu adalah mendengar makhluk-makhluk aneh memohon pengampunan.
Sedikit musik pasti menutupinya.
Tidak!
Kami hanyak mengikuti perintah!/ Kau tak bisa melakukan ini!
Kita tak butuh tempat tinggal!/ Aku tak bisa merasakan kakiku!
Ada yang berbau lezat.
Kau tahu? Ini...
Ya. Tidak. Ya.
Ini jalan pintas...
...terpanjang dan terpanas yang pernah kulewatti.
Aku tahu jalan yang lebih cepat.
Tidak!
Ada apa? Takut kau akan kalah?
Aku tak ingin balapan saja./ Baiklah. Tak masalah.
Aku bisa menghormati itu. Pengecut!
Apa?/ Aku tak bilang apa-apa.
Pengecut./ Aku dengar itu!
Dengar apa, Pecundang?
Maksudku, Filo./ Aku tak mau balapan!
Ayo!
Apa?
Ayo! Cepat!
Jalan, Nak, cepat!
Bertahan! Oh, tidak!
Whoa!
Oh, yee-haw!
Hyah!
Ah!
Kau baru tiba di sini?
Aku mengalahkanmu!
Balapannya belum selesai.
Hup!
Whoa!
Hei.
Ow! Ooh! Whoa!
Delgo!
Delgo?
Oh, Delgo.
Dia sudah tiada!
Dia sudah tiada untuk selama-lamanya!
Filo!
Delgo? Delgo, apa itu kamu?
Kau di atas sana?
Tidak, di bawah sini!
Oh, tidak! Pasti itu saat...
Tidak! Di bawah sini!
Delgo! Kau masih hidup!
Bertahanlah, Delgo!
Jangan khawatir! Aku akan menembak suar.
Oops.
Maaf!
Filo, kenapa pohon itu terbakar?
Terbakar? Oh, api itu. Yang terkena... Yang ini ada apinya?
Begini, aku baru saja...
Kemudian...
Kau tahu, yang kulakukan...
Lalu... Api apa yang kau maksud?
Lupakan saja. Carilah bantuan.
Ya, kita.../ Dan cepat!
Aku baik-baik saja! Apa? Oh, tidak!
Kembali kemari!
Halo di sana./ Whoa!
Butuh bantuan?/ Dari seorang Nohrin?
Kurasa tidak.
Tolong!
Ah!
Kenapa pohon itu terbakar?
Delgo!
Kau baik-baik...
Kau baik-baik saja?/ Hei!
Hei!
Bogardus!
Putri tak butuh teman baru, Lockni.
Kolonel! Jenderal! Kalian kelewatan.
Yang Mulia, Lockni hanya mengerti kekerasan.
Cukup!/ Lewat sini!
Yang Mulia, kita melanggar gencatan senjata.
Aku tahu hukum, Kolonel.
Bawa ia pergi dari sini!
Lepaskan aku! Aku bisa terbang sendiri.
Waktu bermain sudah berakhir.
Ya, sebaiknya kau tetap terbang, Pengecut!
Anak-anak, kenapa pohon itu terbakar?
Bagaimana bisa aku meminta rakyatku menghormati...
...perbatasan jika putriku menolak melakukannya?
Ia butuh bantuan, Ayah.
Tak semudah itu, Kyla. Posisi kita di sini sangat rumit.
Ada kaum Lockni yang diam-diam membenci kita.
Jika sesuatu terjadi padamu.../ Semuanya baik-baik saja...
...sampai Bogardus memukul...
Bogardus hanya melindungimu!/ Dari bocah yang tak berbahaya!
Dari bocah Lockni! Mereka punya alasan bagus untuk memperhatikan keselamatanmu.
Kau hanya anak-anak, Kyla. Kau tak mengerti apa yang dipertaruhkan di sini.
Bimbing batunya. Yang lain akan mengikuti.
Jangan yang ini lagi.
Ayo mulai.
Berhubunganlah dengan batu, Delgo.
Rasakan detaknya.
Untuk apa, Sesepuh Marley?
Ajarkan sesuatu yang bisa kugunakan, seperti yang dilakukan Talusi.
Semua murid mempelajari hal yang sama, untuk mengendalikan batu.
Aku bisa mengendalikan batu./ Bagus.
Kalau begitu kita coba lagi.
Selesai.
Batu adalah jalan ke tujuan yang lebih tinggi...
...bukan akhir bagi diri mereka sendiri.
Mereka juga akan mengajarimu tentang dirimu.
Tapi kau harus bersedia untuk belajar.
Kolam Ethoch. Lihat ke dalam.
Jangan ada yang selamat!
Kau sendirian, Nak.
Kita tak bisa merubah masa lalu.
Tapi kita bisa memilih apa yang bisa kita pelajari dari itu.
Di mana seseorang belajar balas dendam, yang lain belajar mengampuni.
Aku tak memaksa batu. Aku membiarkan mereka bebas.
Hati kita butuh kebebasan yang sama...
...atau mereka juga menjadi berat, keras kepala.
Ada pepatah kuno Stoneage:
"Pemula mengikuti tangan mereka."
"Murid mengikuti hati mereka."
"Sesepuh tak tahu bedanya."
"Hati dan tangan adalah satu."
Jika kau ingin mengendalikan batu...
...pertama-tama kau harus...
No comments yet. Be the first to leave one.