لومړۍ 158 کرښې.
Perisai layar, kelas delapan!
Perisai cermin baja terlepas!
Terpukul di blok 3865!
Apa kerusakannya?
Minimal. Tapi api penggerak terbongkar!
Cepat bangkit. Mari ajari mereka sesuatu.
Ajari mereka siapa yang mereka hadapi.
Ukuran armada musuh terlalu besar!
Jadi, semua cahaya di surga adalah musuh kita, begitu?
Mereka lawan yang layak.
Akan kurebut ruang dan waktu dan membinasakannya!
Bersiap menembakkan Meriam Maelstrom!
Targetkan Air Terjun Dimensi Agung!
Gurren Lagann, berputar!
Kau pikir aku siapa?
Menggali terowongan, hari demi hari. Itu tugasku.
Makin kami menggali, desa bisa makin luas.
Saat kepala desa senang, dia memberi kami steik babi-tikus tanah.
Apa aku menggali demi steik?
Tidak juga.
Aku melakukannya agar bisa menggali harta karun.
Ayo! Teruslah menggali!
Hei, kenapa kau tidak bisa menggali seperti dia?
Kau tidak mau steik itu?
Astaga, ini Simon Si Penggali.
Apa serunya berlumuran kotoran setiap hari?
Dia juga membawa benda aneh.
Dia menjijikkan.
Dan dia bau.
Dia melihat ke arah sini!
Jika tidak berhati-hati, dia bisa melubangi kita juga!
Berjalanlah dengan tegak, Simon.
Kamina?
Jangan panggil aku Kamina, panggil aku Kakak!
Aku tak punya saudara, jadi, itu agak…
Ini bukan soal darah! Kita saudara sejiwa, saudara dalam semangat!
Jangan cemaskan perkataan para gadis jelek itu.
Penampilan ini cocok untukmu, Nak.
Bor adalah jiwamu! Ikut aku.
Tuan-tuan! Maaf menunggu! Apa semuanya sudah siap?
Ya!
Apa yang kau lakukan?
Dengar, Simon. Bor itu bukan milik Pak Kepala.
Bor adalah dirimu.
Bormulah yang akan menembus pintu surga!
Kenapa?
Aku sudah mengetahuinya! Jangan tanya alasannya!
Kau tak bisa menjelaskan?
Baiklah, Bodoh! Apa kita siap?
- Ya! - Ya!
Kita Tim Gurren yang tidak terkalahkan! Tidak ada yang bisa menghalangi kita!
- Ya! - Ya!
Kita muak terkurung di sini!
Para pemudalah yang akan membebaskan diri!
Para pemuda kota ini,
bidik permukaannya!
Hore!
Awas! Minggir! Tim Gurren akan lewat!
Apa lagi sekarang?
Dengar, Simon! Kita akan menggunakan bormu untuk menembus langit-langit!
Menembus itu, dan perhentian berikutnya adalah permukaan!
Kita akan membobol hingga permukaan!
Ini gila!
Kau pasti bisa!
Sejak kapan kau…
Ayo! Terus jalan lurus!
Terbang!
Kamina! Kau lagi!
Minggir, Pak Kepala!
Dasar bodoh!
Bisakah kalian sadar?
Permukaan yang kalian bicarakan itu tidak ada!
Tidak mungkin! Aku pernah melihatnya!
Di permukaan, tak ada dinding, tak ada langit-langit.
Alih-alih, kau hanya melihat langit cerah dan biru!
Ternyata putra pembohong juga pembohong.
Apa?
Ayahmu juga hanya mengatakan omong kosong seperti itu.
Apa yang dia dapat? Mati! Dikubur di bawah tumpukan batu di suatu tempat!
Kau salah! Ayahku berhasil sampai ke permukaan! Aku di sana bersamanya!
Lalu apa yang kau lakukan di sini?
Itu…
Pahamilah!
Kita hanya punya desa ini.
Selama beberapa generasi, kita diperingatkan untuk tak buka kanopi.
Orang yang tidak mengerti aturan itu tidak boleh makan.
Masuk ke tembok pertahanan! Tanpa makanan!
- Maafkan kami, Pak! - Dasar berengsek!
Maaf, Kamina!
Tapi tanpa makan malam sangat menyusahkan.
Ayolah, Kak, telan harga dirimu dan minta maaf juga.
Jangan memanggilku Kakak.
Aku tidak mau dipanggil Kakak oleh kalian bertiga!
Terserah!
Ternyata kesetiaan tidak terlalu dalam di Tim Gurren milikmu.
Simon, kau juga ikut.
Aku tahu Kamina membujukmu untuk membantunya.
Kau punya pekerjaan penting di Desa Jeeha,
menggali terowongan untuk memperluas desa.
Kau tidak perlu bersama si bodoh itu, jadi, ikutlah.
- Tapi aku… - Pergilah.
Jangan khawatir. Ayo.
Ini gempa bumi! Semuanya, berlindung!
Kamina! Ayo pergi dari sini!
Kamina!
- Tidak mau. - Tapi…
Aku tidak lari dari apa pun!
Jika tidak lari, kita akan hancur di sini!
Benar juga. Aku lupa apa yang terjadi padamu.
Jangan khawatir, ini sudah mulai membaik.
Apa kalian akan terus hidup dalam ketakutan akan gempa setiap hari?
Di permukaan, tidak ada langit-langit!
Bisakah kau berhenti?
Aku tidak menjaga kalian, anak-anak yatim, karena kebaikan hatiku!
Itu karena aku kepala!
Aku punya tugas menjaga kesejahteraan desa ini!
Tapi jika kau tidak bisa mematuhiku, tidak ada tempat untukmu di sini!
Apa yang kau lakukan di sini juga?
Anak pintar.
Kurasa aku punya ransum darurat sekarang.
Orang tuaku meninggal karena gempa bumi. Itu terjadi saat usiaku tujuh tahun.
Tidak peduli berapa banyak lubang yang kugali,
langit-langit akan runtuh dan menghancurkanku ,
lalu semua orang di desa, serta kami semua, akan mati.
Itu sudah pasti. Itulah kenyataan hidup.
Benarkah begitu?
Matikan lampu!
Matikan lampunya! Sudah malam!
Semuanya, tidurlah! Jangan sia-siakan listrik berharga!
Menjadi besar…
Tumbuhlah menjadi steik besar yang lezat untukku…
Apa-apaan ini?
Kamina!
Simon? Ada apa?
Ikut aku! Ada yang harus kau lihat!
Cepat!
Ini akan menjadi pembobolan.
Jika Pak Kepala tahu, akan ada akibatnya, Simon.
Aku sangat sibuk hingga tidak terpikir olehku.
Jika kita kembali besok pagi, dia tidak akan tahu.
Apa pentingnya aku harus keluar dari penjara untuk melihatnya?
Wajah! Ada wajah yang sangat besar!
Berani sekali kau, Kamina, kabur dari penjara.
Simon, apa ini wajah besar yang kau maksud?
Jangan meremehkanku, Anak Muda!
Aku kepala, artinya aku juga berjaga!
Simon, ini juga berlaku untukmu!
Aku tahu soal terowongan tambahan yang kau gali diam-diam!
Jangan ganggu dia. Dia tidak melakukan apa pun. Aku yang bersalah.
Aku tahu kau sangat bersalah!
Jadi, Simon. Hal yang ingin kau tunjukkan padaku…
Apa dia orangnya?
Lihat!
Itu permukaannya!
Apa kubilang? Ada permukaan!
Wajah besar ini jatuh dari permukaan! Jatuh dari atas!
Bukan begitu, Pak Kepala?
- Itu monster! - Lari!
No comments yet. Be the first to leave one.