لومړۍ 200 کرښې.
Ada apa?
Aku mengkuatirkanmu.
Aku terkurung disini lebih dari 10 tahun.
Kau baru saja datang dan mungkin saja terjebak lebih lama.
Mungkin keburuntunganku lebih baik darimu.
Dulu aku juga yakin begitu, tapi sekarang aku masih tetap disini.
Aku tidak ingin kau bernasib sepertiku.
Paman, kau begitu baik. Orang-orang diatas sana sungguh munafik.
Jika semua orang sepertimu, aku tidak akan terjebak disini sekarang.
Ya, kau benar! Aku berada disini sangat lama, tapi kau baru.
Aku harap kau bisa membebaskan dirimu sendiri sewaktu-waktu.
Paman, apa kau baik-baik saja?
Aku tidak apa-apa. Lubang ini semakin membesar dan aliran udara ini membuatku kedinginan.
Setelah aku pergi, kau dapat memiliki tempatku.
Seseorang datang.
- Dia seorang pria gemuk. - Dia milikku.
- Paman, kau tidak bisa mendapatkannya. - Kenapa tidak?
- Dia akan mengluarkanku dari sini. - Kau sama saja seperti yang lain.
Oh, aku tidak. Aku hanya bersikap realistis.
- Dasar tua bangka! - Anak muda, tenanglah.
Tenang?! Aku tidak ingin menjadi sepertimu dan membuang waktu lebih lama disini.
Bahkan disini ada peraturan. Jangan memulai sebuah pertikaian!
- Semoga yang terbaik menang. - Baiklah!
Sisakan untukku, kau tua bangka!
Itu sangat menakutkan!
- Kau menakutiku! - Kau yang menakutiku!
- Mimpi buruk? - Bagaimana kau tahu?
Kenapa lagi kau harus berteriak seperti itu?
Aku bermimpi tentang dua hantu yang pasti sudah gila.
Mereka tidak mau berhenti mengejarku.
Itu hanya sebuah mimpi. Kau selalu membual tentang seberapa beraninya dirimu.
Tentu saja! Keberanianku sudah terkenal luas.
- Arwah-arwah akan menghantuimu. - Kenapa?
Semakin miskin dirimu, semakin mungkin dirimu dihantui.
Kau itu yang akan dihantui.
Dikejar oleh hantu masih lebih baik daripada tidur denganmu.
- Baju ini... - Ini terlihat cocok denganku, ya kan?
- Dari siapa kau mendapatkan ini? - Aku membelinya sendiri.
Kau membelinya? Ini pasti mahal sekali.
Aku tidak membelinya dengan uangmu!
Begitukah?! Lalu dengan uang siapa?
- Aku... uangku. - Uangmu? Kau tidak mempunyai banyak uang!
Aku menyimpan sedikit setiap hari, dan semakin bertambah banyak!
Menyimpan sedikit setiap hari?!
Ini waktunya kau berangkat kerja.
Hari ini ada Perayaan Hantu, Tn. Tam memberiku hari libur.
- Apa kau akan pergi keluar untuk sarapan? - Tidak.
Terserah kau saja. Sampai nanti.
Roti enak!
Ah Dooh? Sudah duluan disini! Makanlah apapun yang kalian mau. Aku yang bayar.
Cheung Gagah, kau memang gagah dari nama dan penampilan.
Itu benar sekali! Semua orang disini tahu aku bukan pengecut!
Aku rasa kau tidak sehebat itu. Kau hanya berlagak!
Aku tahu suatu permainan dari Barat yang mana orang asing sendiri ketakutan.
Bahkan menakuti orang asing? Ceritakan bagaimana untuk memainkannya.
Itu disebut Mengupas-Apel. Kau hanya perlu...
Mengupas-Apel?! Kupikir itu sesuatu yang baru.
- Dia belum selesai, biarkan dia menyelesaikan. - Baik, lanjutkan.
Saat tengah malam, kau membawa sebuah apel,
kemudian kau menyalakan sebuah lilin dan lihat ke cermin.
Kau harus mengupas apel itu dalam sekali jalan, tanpa memutuskan kulitnya.
- Setelah kau selesai... - Apa yang terjadi?
- ...kau akan mendapat apapun yang kau inginkan. - Apa kau serius?
Apa yang terjadi kalau itu putus?
Jika itu terjadi, kau akan mengalami sesuatu yang sangat menyeramkan.
- Lalu apalagi... - Omong kosong! Aku tidak percaya itu.
Apakah begitu? Apa kau berani untuk mencobanya?
Tentu, selama salah satu dari kalian membayar sarapanku.
Baik, aku akan membayar sarapanmu besok. Datanglah ke tempatku malam ini.
Baik, mari silahkan Orang lain yang membayar.
Pelayan, satu set lagi disini.
Besok ada sarapan gratis. Jangan lupa untuk datang.
Sekarang!
Aku memutuskan kulitnya.
Sesuatu yang buruk akan terjadi padaku.
Kemari, kemari.
Kenapa dia memakai sepatu pria?
Tahi lalat itu terlihat sangat akrab.
Ini pasti Ah Dooh. Akan kuberi dia pelajaran.
Keluar, keluar! Cepat!
Aku keluar!
Beraninya kau mempermainkanku! Akan kupukul kau sekarang.
- Ini hanya bercanda. - Kau sudah menakutiku.
Itu tidak mungkin! Kau kan tidak kenal takut!
Hentikan! Dia sudah tahu!
Dia tahu ini hanya bercanda. Hentikan itu.
- Bagaimana bisa dia tahu? - Jadi kau bekerja sama menakutiku?
Sudah cukup. Kau nyalakan lilinya.
Kami tidak bermaksud membuatmu malu.
Kau sangat gagah, tidak perlu dipertanyakan.
Kau nyalakan lilinnya.
- Ada apa? - Hantu! Ayo pergi dari sini!
- Bagaimana kau bisa keluar dari cermin? - Itu gampang. Mari ikut aku.
Cermin ini dapat dipindahkan, kau bisa melihatku jika kuturunkan ini.
Kau tidak dapat melihatku ketika aku menariknya lagi ke atas.
Aku mungkin saja takut dengan hantu asli, tapi tidak dengan candaan seperti ini.
Jika kau berani mencobanya lagi, aku akan...
Ayolah... Aku yang bayar sarapannya. Aku benar-benar minta maaf.
Kau benar-benar sesuai dengan reputasimu.
- Kau benar-benar... - Aku terima permintaan maafmu.
Aku lebih baik pergi sekarang.
Hei, jangan bercanda lagi.
Apa kau sedang mencoba menakutiku lagi? Kau sudah membuatku marah!
Dimana dia?
Dia mempermainkanku!
Kemana mereka?
Ah Mo! Ah Pang!
Apa ini?
Cheung!
Ya, Tn. Tam?
Ingat, jangan katakan pada siapapun kemana aku pergi.
Jangan kuatir, Tn. Tam. Aku tidak bodoh.
Anda sudah mengatakan padaku. Aku tidak akan lupa pesanmu.
Aku kaya dan sangat dihormati.
Aku bahkan mencalonkan diri menjadi walikota.
Jika orang tahu apa yang kulakukan, bisa hancur reputasiku.
Iya, itu akan menghancurkan reputasimu.
- Pandai-pandailahi, aku tidak akan melupakanmu. - Baik.
Tn. Tam, aku tidak mengerti.
Anda begitu kaya raya.
Anda dapat memiliki setiap wanita yang anda inginkan. Apa ini sesuai dengan resikonya?
Tapi aku adalah seorang tuan tanah, dan diposisiku aku harus berhati-hati.
Lagipula, aku menyukai bahayanya.
Aku mengerti maksud anda.
Sudah sampai.
Hati-hat, Tn. Tam.
Aku akan kembali menjemput anda setelah dupa ini habis.
Tn. Tam, lewat sini.
Tahu manis ini enak sekali.
Tolong semangkuk tahu.
- Tidak masalah. Kau terlambat hari ini. - Aku sedang bersama Tn. Tam.
Cepatlah! Boss sedang menunggumu.
Terima kasih, Paman Fok.
- Terima kasih. - Cepatlah.
Aku heran begitu banyak orang muda melakukan pekerjaan seperti itu.
- Apa yang salah dengan itu? - Itu mudah dan kami mendapat banyak uang.
- Ya. - Kau mendapat banyak uang.
- Kuberitahu kalian sebuah cerita. - Bagus!
- Hei, perempuan! - Apa maumu?
Pergi dan belilkan aku manisan.
- Bagaimana jika aku memakannya sewaktu pulang? - Aku tidak peduli. Pergilah.
Dahulu ada seorang pria yang pekerjaannya mirip seperti kalian.
Dia mempunyai sebuah kereta, dan pergi bekerja setiap hari.
Hidupnya sangat enak.
Sementara kalian datang kesini untuk makan siang,
dia lebih memilih bercumbu dengan para wanita.
Tapi suatu hari, dia pulang kerja lebih awal.
Dia kembali ke rumah dan melihat...
- Tebak apa yang sedang istrinya lakukan? - Apa?
- Apa yang sedang dia lakukan? - Bercinta.
Jadi dia berhenti bekerja,
dan bersama dengan istrinya dia mulai berjualan tahu manis.
Itu adalah kisah nyata!
Brengsek kau! Kau menceritakan kepada mereka kisah kita.
Aku berselingkuh. Kau harusnya malu pada dirimu sendiri!
Aku tidak mengatakan kau berselingkuh, Aku mengatakan kau sedang bercinta.
Bercinta dengan orang lain sama saja dengan menuduhku berselingkuh.
- Aku tidak berani mengatakannya! - Ini uangnya!
- Tunggu saja sampai kau pulang ke rumah! - Sudah jangan ribut.
Jangan ganggu aku.
- Tontonan bagus! - Ya, ya.
- Bagaimana? - Dasar kalian Tukang Intip. Pergi sana!
Buka pintunya!
Buka! Buka!
Hati-hati.
- Dimana dia? - Siapa?
Keparat yang ada di ranjang denganmu!
Keparat yang ada di ranjang denganku?
Kau mengatakan aku berselingkuh!
- Lihat saja sendiri ke ranjang! Sana! - Aku tadi melihat seseorang disini.
Oh, aku mengerti...
kau sudah tidak bahagia bersamaku, dan kau mencari alasan untuk menceraikanku.
Lakukan saja, ceraikan aku! Ceraikan aku!
- Tulis saja surat cerainya kalau begitu! - Aku... aku...
Kau pikir kau hebat, bahwa kau pantas dibanggakan!
Aku telah bekerja keras, dan aku hanya sedang tidur siang.
Bahkan kau ingin membunuhku dengan pisau itu.
Bunuh aku! Bunuh aku! Brengsek kau! Ayo, bunuh aku!
- Sepatu siapa ini? - Itu milikmu.
Ini terlalu besar untukku. Dimana yang satunya?
Ya, memang benar, itu terlalu besar, jadi aku membawanya kembali.
- Ini sepatu usang. - Kau selalu membeli sepatu usang.
Lihat mereka! Kau mempermalukanku di depan semua orang!
Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi!
- Bunuh aku! Bunuh aku! - Sayang, tolong hentikan!
Aku terlambat!
Sayang, ini semua salahku. Aku harus kembali bekerja sekarang.
Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau tidak boleh pergi!
Urus diri kalian sendiri.
Pergilah!
Ini pasti milik selingkuhannya.
Tidak seharusnya kau dan istrimu bertengkar seperti itu.
Tuanku, anda mencariku?
Anda sudah puas dengan istrinya Cheung, bukan begitu?
Tidak, tapi hampir saja aku tertangkap basah olehnya.
Kenapa bisa seperti itu? Bukankah anda menyuruh seseorang untuk mengawasi dia?
Aku tidak tahu apa dengan dirinya hari ini.
Tiba-tiba saja dia pulang ke rumah dan memeriksa istrinya.
- Apa dia melihatmu? - Tidak!
Jika tidak aku sudah mati sekarang.
No comments yet. Be the first to leave one.