لومړۍ 200 کرښې.
Kita baru menyadari kehilangan seseorang yang kita cintai...
setelah orang itu tidak ada.
Namun, bagaimanapun juga,...
kehidupan terus berjalan.
Kalau aku menikah sama Aryan, bagaimana?
Memang kau mau menikah beda agama?
Dering ponselmu kencang sekali.
Kalau kerja, aku matikan.
Ya sudah, sambil menunggumu berpikir,...
aku angkat telepon dulu.
Halo, Bay?
Ya, ini aku sudah pulang. Lagi di kantin sama Aisyah.
Ya, baik.
Bertemu di depan, ya.
Baik.
Kau pulang?
Ya, mau menonton dulu sama Bayu.
Bukan sama Tama?
Tama tidak mengerti kalau urusan film.
Terus Tama tidak apa-apa kau pergi sama Bayu?
Memang Tama harus kenapa-kenapa?
Aku, Bayu, dan Tama sudah berteman dari lama.
Sama kau juga.
Sudah, daripada memikirkan aku,...
kau pikirkan baik-baik perasaanmu sama Aryan.
Dipendam.
Kalau bisa dihilangkan.
- Aku pergi, ya. Asalamualaikum. - Wa'alaikumussalam.
Bay.
- Sudah dari tadi? - Baru sampai.
Cie, Rina.
- Ya sudah, mau langsung jalan saja? - Ayo, kalau kau sudah siap.
Sudah. Kita mau naik apa?
Naik angkot.
- Tidak apa-apa, ya? - Ya, tidak apa-apa.
Aku belum punya mobil sendiri.
Basi.
- Yuk. - Ya sudah, yuk.
- Kak, aku ke ruang IGD, ya. - Ya.
- Dokter Aisyah. - Ya?
Aku Chandra, teman Aryan.
Mas Chandra teman Aryan dari mana, ya?
Aku Chandra. Aku pegawai orang tua Aryan.
Juga sebagai teman baiknya.
Ada perlu apa denganku?
Aryan menghilang.
Sudah tiga hari ini tidak ada kabar darinya.
Apa kau tahu sesuatu tentang Aryan?
Pantas aku juga susah sekali untuk menghubungi Aryan.
Omong-omong, boleh aku minta nomor telepon dr. Aisyah?
Kalau nanti ada info tentang Aryan, kita bisa saling mengabari.
Ternyata memang benar kalau menonton bioskop,...
duduk di tengah sudah paling enak.
Layarnya pas di depan mata.
Suaranya terasa, ya, 'kan?
Makanya kalau menonton itu jangan sampai telat.
Biar kita bisa pilih tempat yang kita mau.
Tetap saja aneh.
Biasanya yang penuh lebih dulu itu pasti kursi-kursi yang di pojok.
- Benar, 'kan? - Benar.
Namun, itu sepertinya mereka mau mesum, bukan mau menonton.
Mau bayar hotel, tidak ada duit.
Sembarangan.
Hujan, Rin.
Hujan.
Ini hujannnya masih kecil. Tidak apa-apa.
Namun, ini sepertinya bakal besar.
Ya, terima kasih.
Aku yang berterima kasih.
Terima kasih kenapa?
Karena kau tetap tidak berubah,...
walaupun dengan konyolnya aku mengajakmu berpacaran.
Ya. Kau yang resek.
Sudah enak bersahabat dari kecil,...
malah mau dirusak pakai tembak-tembak segala.
Namanya juga perasaan.
Tidak bisa dibohongi.
Sekarang masih ada perasaan?
Sepertinya bakal deras.
Yuk.
Memang libur.
Namun, masa anak gadis Abi mendekam terus di kamar?
Sebentar lagi magrib.
Nak.
Kehilangan boleh.
Sedih boleh.
Namun, jangan lama-lama.
Jangan berlarut-larut.
Kau berapa lama lagi selesai bagianmu?
Seminggu lagi, Abi.
Sebentar lagi menjadi dokter, ya?
Belum, Abi.
Sertifikasi dulu, magang dulu.
Baru menjadi dokter.
Alhamdulillah.
Masih lama, Abi. Kenapa alhamdulillah?
Alhamdulillah, kau belum menjadi dokter,...
tapi kau sudah dapat pengalaman berharga.
Alhamdulillah.
Kopi pahit, ya, Abi?
Boleh coba tidak?
Boleh. Ini.
Hati-hati, panas.
Omong-omong, Abi tadi berpikir,...
kau sudah siap menikah belum?
Kenapa? Pahit?
Bukan kopinya. Omongan Abi pahit.
Memang kau tidak mau menikah?
Mau, tapi tidak sekarang.
Ini...
Misalkan, ya.
Kalau Abi...
menjodohkanmu, bagaimana?
Sekarang zaman modern, Abi. Masa dijodohkan?
Cuma misal.
Takutnya penting.
Aku angkat dulu.
Ini diajak bicara sama abinya.
Asalamualaikum. Halo?
Halo? Dokter Aisyah?
Aku Chandra.
Ya, Mas Chandra.
Maaf kalau aku telah mengganggu waktu liburnya.
Aryan sudah ditemukan.
Namun, aku butuh bantuanmu.
Bisa?
Ais!
Kau mau ke mana?
Ada perlu sebentar, Abi. Insyaallah, tidak bahaya.
Sebentar lagi magrib. Tidak bisa ditunda besok?
Abi, tolong, cuma sebentar.
Cuma mau bertemu sama teman.
Kumohon, boleh.
Terima kasih, Abi.
Tidak bawa motor?
Naik angkot. Asalamualaikum.
Wa'alaikumussalam.
Hei, Bara!
- Hei, Cantik. - Minum dulu.
- Kau datang kemarin, Bar? - Ke mana?
Gila. Acara duka mantanmu sendiri.
Kau tidak ingat?
- Ryana? - Ya.
- Aku sedih. - Sedih sekali kelihatannya.
Parah.
Tentu sedih.
Belum aku apa-apakan.
Kau dulu diputusi atau kau yang memutuskan?
Aku yang memutuskan.
Tidak mungkin anak kecil penyakitan seperti itu aku pertahankan.
- Parah sekali. - Kali saja diputusi.
Santai kali.
Adikku lebih pintar dari kau, tahu tidak?
Dia tahu otakmu isinya kotoran semua!
Abangnya.
Santai.
Sialan kau.
Kau mau jadi jagoan di sini?
Duduk!
Kau berani sama aku? Mati kau sama aku.
Sabar. Ini bukan tempatmu lagi, ya.
Hei.
Masa bodoh! Aku tidak peduli!
Kalian semua harus minta maaf kepada adikku, paham?
Kita selesaikan cara biasa. Berani?
- Apa taruhannya? - Mobil.
Aku tidak butuh mobil.
Kalau aku menang,...
kalian sujud di makam adikku.
Paham?
Sepakat.
Bara!
Maaf.
Sudah siap, Semuanya?
Satu!
Dua!
Aisyah? Kau sedang apa di sini?
Kau yang sedang apa?
Kau pikir kalau mabuk, balapan liar begini, Ryana akan senang?
Aisyah, turun sekarang. Bahaya.
Tiga!
Aryan!
Aryan.
Pegangan.
Aryan!
Kalau takut, tutup mata.
Aryan!
Baik.
Kita pulang.
Keren sekali!
Bara.
Kita dapat mobil.
Keren sekali, Bar.
- Ke mana si Aryan? - Dia sudah tidak punya muka.
Besok aku tagih mobilnya.
- Kalau kau butuh bantuan, bilang kita. - Ya.
Aisyah.
Aisyah, tunggu. Aku minta maaf.
Aku khawatir kepadamu, Aryan.
Aku mencarimu seharian. Aku menunggu kabarmu.
No comments yet. Be the first to leave one.