لومړۍ 200 کرښې.
Aku pergi.
Aku pergi.
Jangan lewati Yeongdongdaegyo.
Tetap di Gangbuk hari ini.
-Mengemudilah. -Ya!
-Sabuk pengaman. -Baik.
-Sudah? -Belum.
Baik. Jalan.
-Baik. -Ayo.
Kenapa?
Tunggu, kakiku.
Kakimu?
EPISODE 7
-Ada yang minta menggeser mobilmu. -Baik.
Halo?
Baiklah.
Tidurlah lagi.
Maaf. Maaf merepotkan.
Dia beli mobil baru?
Aku… Tunggu. Kenapa… Aku tak bisa bernapas.
Aku tak bisa bernapas… Tunggu!
Kenapa kau mencekikku?
Kau tahu perasaan gemas pada hal yang manis?
Sangat manis sampai mau kita cubit dan peluk sangat erat.
Seperti saat melihat anak anjing atau kucing.
Aku tahu aku semanis itu.
Benar.
Tunggu. Aku tak bisa bernapas.
Baiklah.
Sial. Aku terlambat bekerja.
Hei, Kyeong-do.
Jangan bekerja. Tetap bersamaku. Kumohon.
Kau berat. Kau juga harus bekerja.
Hari ini saja. Kumohon.
Hei, kubilang kau berat.
Kumohon.
Anak Magang.
Sudah periksa tanggal rilis film ini?
Ya.
Kirim ke Bu Manajer.
Dia menyuruhku mengunggahnya setelah kau konfirmasi.
"Jika Pak Asisten Manajer yang agung menyetujuinya, publikasikan."
Begitu katanya.
Tapi sebaiknya kita perlihatkan kepadanya sekali lagi.
Baik.
Kim Doo-jin di mana?
Sepertinya dia di konferensi pers Polisi Paruh Baya.
Apa harus sepagi ini?
Sialan!
Ketemu kau, sialan. Tunggu di sana.
Astaga, dari mana dia tahu?
Kartu perusahaan?
Kartuku sendiri.
Kau kira aku akan menyerah jika dihindari?
Aku bukan menghindarimu. Aku kemari untuk bekerja.
Tiga jam sebelum konferensinya?
Kenapa kau kemari? Jabatanmu terlalu tinggi untuk kemari.
Aku datang untuk menangkapmu, Berandal.
Aku mengorbankan waktu makan siangku demi kemari.
Kenapa? Kenapa begitu?
An Da-hye. Kenapa kau meliputnya?
Reporter tak boleh menekan reporter lain menyebutkan informannya.
Itu mencurigakan. Kenapa An Da-hye mencarimu?
Lalu kenapa kau menghindariku? Pasti kau menyembunyikan sesuatu.
Bukan begitu. Aku meliputnya dengan jujur.
Lagi pula, kau tak boleh begini.
Jangan anggap personal karena mantanmu terlibat.
Tidak.
Apanya yang "Tidak"?
Pacarku saat ini.
Hari itu.
Di lobi, saat Seo Ji-woo mengatakan dia memakai celana dalammu…
Aku tahu ada sesuatu.
Sama. Aku juga tahu ada sesuatu.
Secara pribadi, aku sangat penasaran. Aku akan merahasiakannya. Siapa orangnya?
Tapi…
PANGGILAN SEO JI-YEON
Silakan diangkat.
Itu kakak iparmu.
Jika terus main-main, kau akan dapat masalah.
Ya, halo?
Ya.
Bukankah Excel itu hal dasar?
Aku masih belajar, tapi itu sulit.
Kau belajar…
Jika kau terus begini, kau akan terus dipanggil orang titipan.
Baik.
"Baik"?
-Bukan "Baik." Kau… -Ada tamu.
Halo. Bu Seo akan segera datang.
-Silakan tunggu di dalam. -Baik.
Bawakan teh.
Mau minum apa?
Amerikano panas saja.
Sialan. Sampai kapan aku harus begini?
Sampai kapan aku harus menghadapi si kolot itu?
Terima kasih.
Tunggu, kenapa kau minum itu?
Maaf. Aku kira…
Itu minuman Bu Seo. Kenapa kau minum itu?
Maaf, tapi kenapa kau begitu marah gara-gara ini?
Maaf. Rapatnya mengaret.
Tak apa-apa, aku baru sampai.
Bu Seo, aku akan bawakan kopi baru.
Kang Min-woo…
Suamimu informannya?
Ya.
Tapi kenapa…
Itu cuma masuk akal jika dia diuntungkan.
Dia dapat apa dari menyingkirkan Cho Jin-eon?
Jika ada Cho Jin-eon, menjual perusahaan akan sulit.
Para eksekutif memuji Jin-eon atas kinerjanya.
Jual perusahaannya?
Itu sebabnya dia juga berpura-pura mengabaikan penyakitku.
Dia tak tertarik mengelola perusahaan.
Dia akan mengungkapkan penyakitku pada saat penting
dan membuat orang berpikir tak ada penerus lagi.
Lalu dia akan mengajukan menjual perusahaan.
Karena begitu ingatanku sepenuhnya hilang, dia akan menjadi wali sahku.
Sepertinya sudah ada pembeli.
Astaga. Dia sangat menakutkan.
Lalu Ji-woo…
Itu sebabnya aku cemas.
Ji-woo harus melalui semua ini. Aku khawatir.
Apakah aku egois?
Aku cemas Ji-woo tak bisa memikul semua ini.
Aku merasa bersalah dan kasihan kepadanya.
Ini sebabnya kau belum beri tahu dia?
Jika dia tahu aku demensia, Ji-woo akan hancur.
Setelah bicara langsung dengannya,
ternyata dia sangat mengandalkanku meski aku tak bisa diandalkan.
Jika ada yang bisa kubantu, aku akan berusaha keras.
Sekretaris yang tadi di sini…
Sekretaris Yoo?
Ya, apa dia direkrut melalui perekrutan terbuka?
Kenapa?
Tadi kudengar dia dipanggil "orang titipan".
Dia lulus dari sekolah ayah mertuaku.
Dia rekomendasi suamiku.
Bisa ambilkan pakaianku?
Baik, Bu. Segera kubawakan.
Tunggu, kenapa kau minum itu?
Itu minuman Bu Seo. Kenapa kau minum itu?
Agar bisa kuminum nanti. Kopi di sini enak.
Aku bisa minta buatkan lagi…
Tidak usah. Ini cukup.
Kenapa kau datang kemari?
Aku tak bisa.
Sampai kapan aku harus begini? Bu Cha terus memarahiku. Aku bisa gila.
Kau tak menduga ini terjadi?
Itu juga, tapi ini terlalu berbahaya.
Bagaimana jika Bu Seo tewas? Itu obat apa?
Jika ini kacau, aku bisa dipenjara.
Jangan keras-keras.
Katakan saja intinya.
Kau mau uang, 'kan?
Baiklah. Kembali bekerja.
Lalu,
jangan pernah kemari.
Karena ponsel keduamu mati…
Jika mau bicara, kirim pesan.
Pasti kuperiksa.
Terima kasih.
Selamat siang.
Hei, Seong-sik.
Saat menulis artikel tentang jus, kau mengujinya di mana?
Benarkah? Bisa kirimkan tautannya?
Ya, terima kasih.
Ini.
Tolong periksa apakah ada zat berbahaya,
zat yang bisa memicu penyakit,
atau zat apa pun yang biasanya tak ada dalam kopi.
Baik.
Ini perlu berapa lama?
Biasanya dua sampai tiga pekan.
Baiklah…
Aku harus menulis artikel, jadi jika bisa dipercepat…
Kumohon.
Baik, akan kucoba.
Terima kasih.
PINTU KELUAR KERETA BAWAH TANAH
BUNGA
Halo.
Halo.
Ibu.
Terima kasih.
Kau belum pernah melakukan ini.
Ibu sering bilang suka bunga,
tapi kau cuma beri bunga anyelir.
Hari ini aku ingat.
-Lain kali, beli setengah saja. -Baik.
Pergilah.
Ibu mau ke mana?
Misa hari Selasa.
Kenapa dia selalu lewat sini?
Itu dari siapa?
-Dari putraku. -Kau pandai mendidiknya.
Aku cuma memberinya makan nasi, tapi dia besar dengan baik.
Bir paling enak dengan piza.
Bir paling enak dengan piza.
No comments yet. Be the first to leave one.