لومړۍ 200 کرښې.
EFEK CAHAYA DALAM VIDEO INI MUNGKIN MENYEBABKAN EPILEPSI PADA PENONTON YANG SENSITIF TERHADAP CAHAYA
PENONTON DIHARAPKAN BIJAK DALAM MENONTON
Gimana hasil evaluasi pelatihannya?
Secara keseluruhan, kemampuan bertarung tangan kosong dan tingkat bahayanya biasa aja.
Ya, sampai beberapa waktu lalu.
Tapi setelah ada kecelakaan waktu latihan, dia tiba-tiba...
Sepertinya...
kamu ngiket mereka setelah memastikan mereka udah mati.
Buat apa coba?
Aku pengen lebih.
"Lebih"?
- Kamu udah bunuh mereka semua. - Tepat.
Aku pengen mereka menderita selama mungkin.
Tapi mereka mati terlalu cepat.
Kalau aku ngiket mereka cukup kencang,
kupikir mereka masih bisa ngerasain sakit.
Meskipun cuma sebentar setelah mati.
Sayang banget, ya?
Sepertinya pacarmu udah ngerusaknya nggak bisa dibenerin lagi.
MASALAH KELUARGA
Itu Yoon Myung-hwan.
Dia pasti tahu kalau kita bakal langsung tahu soal kekerasannya.
Kurasa aku yang dijadikan kambing hitam, bukan dia.
Aku sudah nunggu kamu.
Sial. Ini jelas bug.
Begitu aku lihat dia,
aku langsung sadar pernah lihat wajah itu sebelumnya. Ternyata benar.
Jadi, pendeta yang bawa Simbok adalah si Doom-veloper.
Yang dikirim oleh Pelatihan Khusus buat buru kita semua.
Biar aku yang urus ini. Kalian naik ke atas dan istirahatlah.
Aku udah bilang aku bakal bunuh bajingan itu.
Sejak hari kita kabur, itu jadi urusanku sendiri.
Ini nggak ada hubungannya dengan kamu.
Young-hee!
Melindungimu adalah tugasku. Itu segalanya buatku!
Gimana bisa kamu bilang itu bukan urusanku?
Tanpa kamu, aku nggak ada apa-apanya.
Chul-su itu bukan siapa-siapa tanpa Young-hee!
Chul-su.
Aku cuma...
Aku benar-benar takut.
Kamu yakin bisa ngadepin ini?
Tentu aja.
Demi lindungi Young-hee, Chul-su bisa lakuin apa aja!
Aku tahu.
Kamu mungkin bakal rela mati demi nyelametin aku.
Tapi kalau cuma satu dari kita yang bisa selamat...
itu harusnya Chul-su, bukan Young-hee.
Demi anak-anak kita.
RUMAH SAKIT HEWAN PAWFECT HAVEN
GEREJA ASPIRASI KUMSU
Maaf bikin kamu nunggu.
"Nunggu"? Nunggu siapa?
Simbok.
Dia sudah dirawat.
Iya. Simbok.
Jujur aja, entah kamu manusia atau anjing,
yang bikin kamu bisa terus hidup itu ketemu orang yang tepat.
Itu berlaku buat Simbok, nyonya jemaat,
bahkan juga buat detektif di sana.
Lama nggak ketemu, Nomor 10.
Aku Nomor 11.
"Nomor 11"?
Tapi kenapa kamu nggak punya penandanya?
Kamu beneran lupa atau cuma pura-pura bego?
Itu menyakiti perasaanku, tahu.
Selama ini aku cuma memperhatikan kamu, cuma kamu.
Bahkan setelah aku bunuh banyak orang buat kirim pesan ke kamu,
kamu tetap nggak bereaksi.
Tapi lihat sekarang, foto-foto ini berhasil bikin kamu bergerak.
Kamu nggak pernah benar-benar punya perasaan atau naluri keibuan.
Tapi demi anak yang bahkan bukan anakmu,
kamu bersikap seolah kamu ibu penuh kasih yang emosional.
Sikapmu berubah-ubah. Mungkin kamu sendiri masalahnya.
Cukup.
Sepertinya nggak ada gunanya lagi ngobrol.
Perhatian.
Di mana Young-su?
Young-su?
Dia pergi buat urus si bajingan itu.
Aku harus pergi.
Bukankah kamu bilang kamu bakal mati kalau dia menyuruh?
Dia menyuruhmu tinggal bukan tanpa alasan.
Dia minta kamu tetap diam dan bertahan hidup.
Lakukan apa yang dia bilang.
Oke?
Maafkan aku, Pastor.
Kamu bilang aku plin-plan?
Nggak, aku cuma peduli satu hal.
Aku bukan takut anak-anak bakal terluka.
Aku takut mereka akan jadi seperti aku.
Kalau aku bisa mencegah itu terjadi,
aku akan lakukan apa pun--
Itu lucu banget sampai aku nggak bisa nahan ketawa.
Sepertinya akting bukan bakatmu ya?
Bagaimana bisa...
Bagaimana kamu bisa...
Sayang sekali, ya?
Kelihatannya pacarmu udah bikin dia rusak total.
Sekarang kamu ingat?
Keren, kan?
Aku masih bisa dengar jelas pakai telinga ini.
Tapi mungkin karena telinga yang satu ini rusak parah,
atau mungkin kekuatanku bangkit berkat suamimu.
Lihat anjing ini.
Dia kelihatan linglung banget. Sepertinya pengobatanmu berhasil.
Ayo.
Trik keajaibanmu bahkan berhasil ke anjing.
Tapi kenapa nggak berhasil ke aku?
Baiklah.
Sekarang, kamu punya dua pilihan.
Kamu bisa ambil pisau itu dan lawan aku sekarang juga,
atau duduk di kursi itu tanpa perlawanan
dan ikat tanganmu sendiri.
Kalau kamu pilih pilihan pertama, entah apa yang bakal terjadi ke leherku.
Tapi aku yakin kepala anjing ini bakal meledak kayak pinata.
Aku tahu.
Aku memang benar.
Kamu sama aja kayak aku.
Lepaskan Simbok sekarang.
Aku baru sadar sesuatu.
Kamu selalu mulai dengan menyumpal mulut mereka pakai ini.
Tapi sebenarnya,
aku senang dengar suaramu, jujur saja.
Young-su!
Young-su.
Kamu?
Maafkan aku.
Kemarin aku benar-benar ketakutan, jadi aku kabur.
Aku benar-benar takut pada ibuku, tahu?
Apa...
Tapi...
Aku malah lebih takut sama ayahku.
Sial. Aku berhasil nggak kena liver,
tapi tadi tusukannya terlalu dalam karena panik.
Kau... Kenapa?
Katanya dulu kau motong telinga ayahku pas latihan khusus.
"Telinga"?
Pokoknya, dia bilang kau bakal butuh itu sebelum ketemu dia.
Apa ini?
HADIAHNYA SUDAH DIANTAR
"Anak perempuan yang dibesarkan dengan baik itu nilainya sama kayak sepuluh anak laki-laki."
Kayaknya bener juga, ya.
Cukup omong kosongnya.
Cepat sini dan bunuh aku.
Dengar.
Kalau misiku cuma buat bunuh kamu,
kenapa repot-repot pura-pura jadi orang alim dan bilang mereka itu keluargaku?
Lihat, kan?
Aku bahkan bikin ini sebagai bentuk hormat buat kamu.
Salib ini melambangkan angka sepuluh.
Lalu sebenarnya apa yang kamu mau?
Menurutmu apa?
Ini semua soal keluargamu.
Kamu pikir Ibu bakal baik-baik aja sendirian?
Cuma karena aku biarin kamu ngelawan,
kamu kira semua ini udah selesai?
Udah deh, cukup drama murahan kayak gitu.
Sebenarnya kamu mau apa?
Kamu cuma punya dua pilihan.
Datang ke arcade buat tanding Disco Pang Pang,
atau ke kantor polisi buat laporan kekerasan sekolah.
Kamu bikin aku kesal.
Oke, kita selesaikan ini di Disco Pang Pang, dasar brengsek.
Ayah di mana?
Dia harus turun tangan, jadi dia pergi buat cari ibumu.
Dan kamu mau ke mana?
Aku juga mau turun tangan...
Maksudku, mau menjalin persahabatan yang erat.
Dengar, tetap di sini...
Kalau aku coba cegah kamu, apa kamu bakal bikin aku pingsan kayak yang ayahmu lakukan?
Nggak lah!
Aku rasa kamu juga nggak akan benar-benar coba cegah aku.
Kenapa begitu?
Karena kamu lebih percaya Baek Ji-woo daripada Baek Chul-hee?
Bener juga.
Kamu bisa beneran ngasih pelajaran ke anak-anak brengsek itu.
Pastinya! Soalnya kamu emang keren banget!
Kendalikan kekuatanmu.
Dan kenapa kamu ikut?
Yah...
Kupikir aku bisa bantu sedikit, walau nggak banyak.
Lihat kamu tuh.
Pinter ngomong, persis kayak aku.
Pergilah.
Siap, Pak!
Kakek.
Ada sesuatu nggak buat bantu aku menjalin persahabatan yang... keras?
Tunggu sebentar.
Astaga.
Ya Tuhan.
Yasudah...
Kita lihat aja, apakah mereka benar-benar bisa dapat keselamatan di lingkungan ini.
Apa!
Brengsek satu itu!
Jangan bilang
kau lupa soal misimu buat latih anak-anak
dan bantu mereka bangkitkan kekuatan?
Dengar baik-baik.
Kalau kau berani sentuh anak-anakku,
No comments yet. Be the first to leave one.