لومړۍ 200 کرښې.
EPISODE 11
Kapan Ibu akan selesai?
Masih lama.
Kau bosan karena tak balet, 'kan?
- Maka itu, tetap fokus di bidangmu… - Besok hari terpanas di musim panas.
Ayo makan malam samgyetang dengan Nenek.
Lusa, kesehatan ibu dan Nenek
akan diperiksa, jadi, harus puasa sejak makan malam.
Makan siang saja.
Ya.
Bukankah itu kursi yang ada di halaman Nenek?
Daya ingatmu hebat, Min-chae.
Sepertinya itu sudah usang.
Kenapa tidak buat yang baru saja?
Ini kursi yang penting bagi ibu.
Apa arti kursi itu bagi Ibu?
Ayah andal melakukan banyak hal dengan tangannya.
Ayah bisa memperbaiki dan membuat banyak barang.
Hee-do! Lihat ini!
- Ayah! - Suatu hari, Ayah membuat tiga kursi.
- Apa ini? - Ini?
Ini kursi untuk Hee-do!
- Cantik sekali. - Cantik, 'kan?
Ya.
Hee-do, kemarilah.
Cobalah duduk di sini.
Ya, begitu. Lalu…
- Ibu, Ayah, dan aku. - Terima kasih.
- Kursi itu untuk kami bertiga. - Baiklah.
Sudah lengkap.
Kami selalu senang setiap berkumpul bertiga di kursi itu.
Namun, Ayah meninggal.
Lalu, Ibu menjadi semakin sibuk.
Tidak, dia menentang artikelnya.
Sejak awal, alurnya memang sudah salah.
Ibu! Kini kakiku bisa menyentuh tanah!
Ya. Namun, pertimbangkan kekhawatiran narasumbernya.
Bagaimanapun juga narasumber tidak boleh dirugikan.
Meski sekarang begitu…
Ibu!
Lalu, hanya tinggal aku seorang yang duduk di kursi itu.
Sejak saat itu, aku terbiasa sendirian.
Aku sudah belajar mandiri sejak kecil.
Aku belajar sejak kanak-kanak…
jadi, cepat terbiasa.
Sebenarnya, datang ke pantai dengan teman-teman
adalah hal yang lebih asing bagiku.
Bagaimana menurutmu?
Sebenarnya, ini sangat menyenangkan.
Aku menyesal karena baru tahu keasyikannya sekarang.
Dahulu, di sekelilingku hanya ada para atlet anggar.
Aku serasa ada di dunia lain.
Syukurlah.
Namun, apa aku belum pernah memberitahumu bahwa ayahku sudah meninggal?
Soal itu…
Saat aku mewawancaraimu usai kau menang medali emas,
kau hanya pernah menyebutkan ayahmu sekali saja.
Jadi, aku hanya menebaknya.
Benar. Aku pernah menyebutnya.
- Bagus! - Astaga!
- Kenapa bisa jatuh begini? - Bagus!
Kau akan sungguh menyentilku?
Tentu saja. Kau kalah permainannya.
Dasar! Sentil saja!
Hei! Kau yakin?
Kau bahkan sangat cemas waktu aku terluka ringan
dan langsung mengajakku ke rumah sakit…
Kau benar-benar menyentilku.
Tega sekali kau.
Kau sebut ini cinta?
Baiklah. Ayo kita main sekali lagi.
Ayo main sekali lagi.
Aku sampai kehabisan kata.
Hei.
Kau marah?
Baiklah. Kau juga boleh menyentilku. Ayo.
Kau sedang apa?
Apa yang mau kau lakukan?
Kau mau apa?
- Tetap di situ! - Sedang apa kau?
Hei! Tunggu…
Kuhabisi kau jika tertangkap!
Aku tak akan tertangkap.
Kena!
Hei!
Jangan!
Kak Yi-jin, kenapa dahimu?
Aku digigit nyamuk.
Itu terlalu besar untuk disebut bentol.
Berisik kau.
Belajar yang benar. Akan kucek rapormu nanti.
Sial. Dasar kakak cerewet.
- Aku pamit, Bu. - Ya. Hati-hati di jalan.
- Pasti. - Datanglah lagi.
Ya.
Ada apa lagi?
Aku jadi sudah mulai terbiasa dengan perpisahan semacam ini.
Padahal keluarga kita dahulu tinggal di satu rumah yang sama.
Astaga. Kau hanya akan membuat perjalanan pulangnya tak tenang.
Harus kuapakan dia?
Ayo tinggal bersama lagi suatu saat, Bu.
Ya? Aku akan mewujudkan hal itu.
Ya ampun.
TELEPON UMUM
Apa yang baru saja kau lakukan?
Aku berharap siapa pun itu bisa kembali bangkit juga.
Dengan uang koin itu? Bagaimana caranya?
Kau tidak perlu tahu.
- Di mana yang lain? - Membeli cumi-cumi.
Yang benar saja! Jangan bohongi aku dengan hal itu!
Aku serius. Percayalah. Aku peringkat satu angkatan kita.
- Tidak mungkin. - Ada apa lagi?
Mereka memakan tentakel cumi-cumiku
dan bilang, tentakel cumi-cumi cuma ada delapan!
Memang hanya ada delapan.
Hei, Ko Yu-rim! Bisa-bisanya kau membohongiku.
Jika tahu kau begini, aku tak akan menyukaimu.
Kau sudah telanjur suka kepadaku.
- Cepat berikan kepadaku! - Tidak mau!
Ayo kita berfoto sebelum berangkat.
Foto bersama.
Coba lebih merapat lagi.
Sudah?
Siap, ya!
- Kini akan terfoto? - Ya.
Tulis nama kalian di bawah foto yang ingin dicetak! Ji-woong.
HEE-DO
Dasar Moon Ji-woong.
HEE-DO
Akan ada pelatihan di Universitas Sanga tiga hari dua malam mulai hari Jumat.
Jaga kondisi kalian. Ini kesempatan baik untuk tes kemampuan sebelum pertandingan.
- Baik! - Baik!
Pelatih, kami juga ikut, 'kan?
Tentu saja ikut.
Kalian tetap berlatih walau sedang diskors.
Kalian berdua bukan sedang berlibur.
Aku mau beri tahu.
Pada hari Sabtu minggu depan, akan ada konser grup musik kami.
Kau mau menonton?
Apa kau juga ikut konser? Biasanya kelas tiga tak tampil.
Jika aku tidak ikut, tiketnya tak terjual.
Baiklah. Aku akan ke sana.
Sungguh? Kau janji datang, ya?
Kenapa? Kau punya masalah?
Aku janji menonton konser Ji-woong pada hari Sabtu.
Namun, tiba-tiba ada pelatihan.
Konser grup musik?
Ji-woong pasti kecewa.
Kenapa pengumuman pelatihannya sangat mendadak begini?
Apa mereka pikir kita tak punya urusan lain?
Kau juga ada urusan lain?
Tentu saja tidak ada.
Memuakkan sekali.
Kapan ini semua akan berakhir?
- Hei. - Apa?
- Ada apa kemarin? - Aku lelah sekali.
Hei, sakit.
Ya, baik. Aku sudah bangun.
Apa kau bahagia, Ji-woong?
Aku akan menyatakan perasaanku kepada Yu-rim saat konser.
Saat konser? Caranya?
Pada saat encore.
Kau mau menyatakan perasaanmu di atas panggung?
Para wanita benci hal seperti itu.
Kau paham apa soal wanita?
Tentu lebih paham daripada kau.
Yu-rim.
Kemarilah sebentar.
Begini…
Sepertinya…
aku tidak bisa pergi ke konsermu.
Ada jadwal pelatihan mendadak.
- Sungguh? - Ya. Maafkan aku.
Rupanya begitu.
Mau bagaimana lagi?
Ya. Aku ada pelatihan siang. Aku pergi dahulu, ya.
Baiklah. Dah.
Dah.
Kenapa Ibu di rumah pukul sebegini?
Ada dokumen tertinggal.
Ibu harus pergi lagi.
Ibu, di halaman…
Kursi-kursinya…
sudah usang karena berjamur.
Sepertinya harus diperbaiki.
Itu tidak akan bisa diperbaiki.
Dari awal memang tak kokoh. Hanya buang uang jika diperbaiki.
Jadi, mau Ibu buang?
Mungkin hanya bisa dicat jika dibawa ke bengkel mebel.
Jika mau, kita ke sana lusa seusai ibu bekerja.
Jangan lupa makan.
JULI 1999
PERINGATAN HARI KEMATIAN AYAH
Satu, dua!
Satu, dua!
Satu, dua!
Satu, dua!
- Aku sungguh malas berlatih hari ini. - Satu, dua!
- Aku juga. - Satu, dua!
Tiap berlari keliling lapangan begini,
No comments yet. Be the first to leave one.