لومړۍ 200 کرښې.
Kembali lagi bersama kami di Radio…
Para pendengar yang bersedia menemani senja malam hari dari batas,
biarkanlah diri ini mengalun perlahan.
Mengantar kenangan dan perasaan yang pernah singgah.
Mari kita dengarkan bersama lagu dari Nike Ardilla
dengan judul "Bintang Kehidupan".
- Permisi, Bu. - Ya.
- Punya tang? - Punya.
Mau pinjam sebentar.
- Pinjam ya, Bu. - Ya.
Dulu waktu… Apa namanya?
Insinyur atau pemborongnya itu janji
boleh lewat sini,
tapi tiap tahun harus ada tumbal.
Orang yang naik sepeda motor,
sopir, atau kernet.
Belum lama, ada di sini yang putus kepalanya.
Pak, ayo cepat.
- Ayo, Gendis. Cepat. - Ya, Bu.
Koran, koran! Korannya, Bu, Pak.
- Ayo! Pekalongan! Semarang! - Ayo, Enduk!
- Ayo, bantu Ibu. - Ya, Bu. Sebentar.
Ayo, Pekalongan, Semarang!
Aduh, daganganku!
Aduh.
- Hei, Bu! - Maaf, Pak.
- Ini anaknya dijaga! - Ya, maaf, Pak.
Kalau begini, siapa yang tanggung jawab?
Aduh. Sudah, Enduk. Tidak usah.
Maaf ya, Pak. Kami buru-buru kejar bus.
Hei, kalau minta maaf, kau bantu ini.
Ya, Pak. Bapak lihat sendiri, 'kan, anakku penglihatannya terbatas.
Kami juga buru-buru, Pak.
Modalku juga terbatas.
Kalau dihambur-hamburkan begini,
habis dong.
Aduh.
Sini, Enduk.
Ini, Pak.
Ya sudah. Hati-hati!
Anaknya dijaga!
Kenapa nasibku begini?
Mas.
Minta tiketnya dua ke Semarang.
Tidak bisa, Mbak. Sudah tutup.
Aduh, Mas, tolong dua tiket saja.
Tidak bisa, Mbak. Sudah tutup. Sudah tidak bisa ini.
Lobi saja kondekturnya.
- Aduh. - Ayo, Pekalongan! Semarang!
- Aduh! - Ayo.
Ayo, Pekalongan, Semarang!
Ayo, Enduk.
Ayo, Gendis!
Ya, Bu.
Ayo, Enduk. Buruan!
Mas, satu lagi!
- Aduh. - Bu.
Bu. Kenapa, Bu?
Kita ketinggalan busnya.
Kenapa, Mbak?
Ketinggalan bus, Mas.
Bus itu ada lagi paling besok, Mbak. Jam enam pagi.
- Aduh. - Mbaknya mau ke mana?
Mau ke Semarang.
Betul, busnya yang itu tadi.
Apa tidak ada bus malam, Pak?
Kami benar-benar di sana harus pagi.
Soalnya hari pertama kerja.
Ya, sebetulnya ada, tapi sopir kami sedang istirahat, Mbak.
Ya, paling kalaupun jalan, harus ada biaya lebih, Mbak.
Biaya lebih?
- Ya sudah, tidak apa-apa. - Boleh, Mbak.
Aduh…
Mas, adanya cuma segini.
Tolong dibantu ya, Mas.
Boleh, Mbak. Ayo ikut aku, Mbak.
Aduh, coba tadi tidak menabrak penjual.
Mana uang tinggal selembar.
Ayo, Enduk!
Mas, lumayan ini dua kali lipat.
Ayo berangkat, Mas.
Lewat mana?
Alas Roban?
Malam-malam lewat Alas Roban?
- Ayo, Gendis. - Ya, Bu.
Aduh.
Aduh…
Terima kasih, Pak.
Aduh.
Aduh…
Masa ini harus dikembalikan, Mas?
Alas Roban ini.
Lagi pula, itu cuma mitos, Mas.
Kita kalau pergi sekarang,
sebelum Magrib juga sudah lewat Alas Roban.
Yang penting jangan lupa itu lo, Mas.
"Tin-tin", itu lo, Mas.
Ayo. Lumayan dua kali lipat, Mas.
Berangkat, Mas.
Maafkan Gendis ya, Bu.
Gendis tidak bisa melihat jelas.
Kok menangis?
Ya ampun, Ibu tidak marah kepadamu.
Ibu marahnya sama keadaan.
Maaf ya, Nak.
Ibu janji kau bisa melihat jelas.
'Kan sekarang kita mau ke Semarang
karena di tempat kerja Ibu yang baru
gaji Ibu lebih besar.
Jadi, Ibu bisa menabung untuk operasi matanya Gendis.
Terima kasih ya, Bu.
Ibu tahu tidak
siapa orang pertama yang Gendis mau lihat sehabis operasi nanti?
Siapa, Nak?
Ibu.
Soalnya dulu Ayah sering bilang Ibu itu cantik banget.
Masa sih?
Lebih cantik kau, dong.
Dagunya,
pipinya.
Baunya.
- Sedap! - Sedap!
Bajingan. Malam-malam lewat Alas Roban.
Sur, bangun!
Sur!
Klakson mati.
Sur, bangun!
Pak?
Bangun!
Kita sudah lewat sini dua kali.
Kenapa, Mas?
Kita berputar di jalan yang sama.
Nah, ini.
Untuk buang sial.
Sur!
Kenapa, Mas?
Kau tidak apa-apa, Enduk?
Tidak apa-apa, Bu.
Ada apa ya, Pak?
Belum tahu, Mbak. Sebentar, aku periksa dulu ya, Mbak.
Turun dulu, ya. Busnya lagi ada masalah.
Ini di mana?
Pada mau ke mana? Ayo.
Turun, yuk.
Kau kenapa, Enduk?
Aku kebelet pipis, Bu.
Aduh…
Ya sudah, yuk.
Sudah, taruh situ saja bonekanya. Ayo.
Pelan-pelan, Enduk.
Mas, bukannya bannya baru diganti?
Pak.
Ya, Mbak?
Boleh aku pinjam senternya, Pak?
Anakku mau buang air kecil.
Boleh, tapi…
Hati-hati ya, Mbak.
- Mau ditemani tidak? - Tidak usah. Tidak apa-apa.
Terima kasih.
- Ayo, Enduk. - Ya, Bu.
Sudah belum, Sur?
Mereka pipisnya kok jauh banget di sana?
Silakan.
Mbak.
Boleh numpang ke kamar mandi?
Di sebelah sana.
Terima kasih.
Di situ, Nak. Ya.
- Ibu tutup, ya. - Ya.
Bisa, Enduk?
Bisa, Bu.
Gendis, sudah?
Gendis?
Enduk?
Enduk?
Gendis?
Nak?
Sudah?
Sudah.
Yuk.
Pelan-pelan turunnya.
Mbak, terima kasih.
Mari.
Tidak mampir dulu, Mbak?
Makan dulu.
Perjalanannya masih jauh.
Ibunya tidak ikut makan?
Tidak, Mbak. Aku…
Bantu anakku makan saja.
- Mari. - Mari.
Mbak, ayo.
Ini tinggal menunggumu, Mbak.
- Ya, Mas. Maaf. - Ayo cepat, Mbak.
Sini, Mbak.
Hati-hati, Enduk.
Tugasmu cuma administrasi dan pendaftaran saja.
Kadang korban kecelakaan seperti ini
tidak ada identitasnya.
Jadi, kau coba cari.
Kau telusuri keluarganya.
No comments yet. Be the first to leave one.