لومړۍ 200 کرښې.
GYEONG WOO-YEON
Kenapa tersambung?
Apa? Dia menjawab.
Dia menjawabnya hari ini.
Halo, Gyeong Woo-yeon.
Dia berbicara juga.
Kau mabuk, Gyeong Woo-yeon.
Kau mabuk, Gyeong Woo-yeon.
Kau bahkan berhalusinasi.
Apa aku bermimpi?
Kau tidak bermimpi. Ini benar-benar aku.
Astaga. Hangat.
Ini film empat dimensi?
Bahkan dia mengeluarkan aroma.
Bisakah kau menambahkan kata sifat?
Aroma yang wangi.
Dia terlihat nyata.
Seberapa banyak kau minum?
- Ayo pulang. - Tidak.
Kau tidak ada di sana.
Aku ingin tetap bermimpi.
Kenapa kartu namaku habis?
Kenapa pergelangan tanganku sakit?
Jika Nona Kim datang, suruh dia mengopi ini.
Berikan kepadaku. Biar aku saja.
Kau tak perlu repot.
Sampaikan saja kepada Nona Kim saat datang.
Baik.
OBROLAN GRUP
Bayar sesuai tagihan.
Astaga, aku salah ruang obrolan. Itu untuk pegawai tetap.
Yang lain tak perlu membayar.
Aku pesan satu es Americano.
Jika tunjukkan kartu pegawai, dapat diskon 15 persen.
- Tidak usah. - Ini.
So-yeong?
Mereka berpikir tentang hal besar saat menyebut kata "diskriminasi".
Padahal diskriminasi sebenarnya adalah hal sepele begini.
Diskon 15 persen untuk segelas kopi.
"Kau tak perlu repot. Kau tak perlu membayar."
Mereka menyamarkannya sebagai perhatian.
Kau benar.
Di lokakarya bulan lalu,
mereka bertanya apa aku mau datang ke lokakarya.
Kenapa mereka bertanya seperti itu?
Bukankah kau sudah menjadi pegawai tetap?
Tidak semua pegawai tetap itu sama.
Aku tidak mendapat promosi atau kenaikan gaji.
Mereka bahkan tidak mau mengajakku ke lokakarya.
Sekali biru, selamanya biru.
Tali pertama itu tali terakhir.
Tidak ada masa depannya.
Kemarin aku bermain tinju dan memecahkan rekor baru.
Sungguh?
Yeong-hui.
Yeong-hui. Apa kemarin aku bermain tinju?
Kenapa pergelanganku sakit?
Ya. Kau melakukannya kepada Su.
Su? Apa maksudmu?
Kasihan. Dia langsung kesulitan begitu kembali ke Korea.
Dia kembali?
Itu bukan mimpi?
Gyeong Woo-yeon.
Halo, Gyeong Woo-yeon.
Dasar tak sopan.
Ini bagus.
Bisa tunjukkan ukuran 43?
Kau bisa langsung mencoba yang itu.
- Aku sungguh tidak apa-apa. - Pakailah.
Aku tak tahu akan memakainya ke mana.
Jangan lusuh hanya karena tak punya tempat tujuan.
Jangan putus asa karena belajar untuk ujian negara. Aku tidak suka.
Kau membelikanku sepatu untuk kabur?
Aku membelinya agar kau menjadi PNS.
Ini bagus.
- Kau mau ini? - Ya, aku suka.
Aku akan berjuang.
Kenapa kau di sini?
Kenapa kau datang ke sini?
- Kau yang memintaku datang. - Aku?
Itu tidak mungkin.
Kau yang memintaku datang
untuk mendapatkan uang damai.
Aku tidak mau.
Lee Su.
Kenapa dia?
- Woo-yeon. - Jangan pergi.
- Sudahlah. - Tampar.
Aku tidak beruntung.
Jangan, Woo-yeon!
Hei, itu karenamu…
Jangan memukulku.
Astaga. Woo-yeon.
- Tunggu, pegangi dia. - Hentikan, Woo-yeon!
Ding dong.
Kau harus menjawab, "Siapa?" Ding dong!
Siapa itu?
Jika punya masalah,
kau bisa datang untuk mendapat uang damai.
Ponselku ketinggalan di kantor.
Apa tanganmu itu kantor?
Ada di sini rupanya.
Bagaimana tentang uang damainya?
Aku…
sungguh minta maaf soal kemarin.
Untuk apa?
Itu…
Apa aku sudah
memukulmu dengan pelan?
Kurasa tidak sepelan itu.
Bisa juga sedikit keras.
Apa setelah itu
aku menghamburkan kartu namaku?
Kenapa?
Apa lagi yang kulakukan?
Apa pun yang kulakukan, tolong jangan katakan kepadaku.
Tak ingat saja membuatku malu.
Seberapa malunya jika aku sampai ingat?
Baiklah.
- Tapi… - Kubilang jangan katakan!
Kenapa? Aku ingin menanyakan hal lain.
- Tentang apa? - Kenapa kau bekerja kantoran?
Bukankah kau ingin menjadi penulis atau penulis kaligrafi?
Itu tidak mudah.
Aku harus mencari pekerjaan karena butuh biaya hidup.
Mana bisa begitu? Kau harus melakukan keinginanmu.
Kau pikir berapa orang yang bisa melakukan keinginannya?
Ras, jenis kelamin, agama, orang tua,
pekerjaan, pasangan, dan sebagainya.
Di antara semua faktor itu, kau hanya bisa memilih
pekerjaan dan pasanganmu.
Bukankah terlalu menyedihkan, jika tak bisa memilih itu juga?
Di mana kampusmu?
Sekolah Institut Seni Chicago.
Bukankah itu kampus terkenal?
Itu keren.
Aku sibuk terlihat keren dari luar dan dalam.
Tidak ada yang berubah di sini, toserba dan lingkungannya.
Benar.
Semuanya sama.
Masih menyenangkan.
Masuklah.
Sampai kapan kau di Korea?
- Pekan depan. - Begitu.
Liburan musim semi. Hanya untuk mengurus visa.
Begitu rupanya.
Kita harus sering bertemu sampai saat itu.
Sering bertemu dan apa?
- Berkencan? - Berpacaran?
- Tidur bersama? - Itu agak…
terlalu bergaya Amerika.
Kenapa? Dia sudah lama tinggal di Amerika.
Benar. Itu benar. Pasti begitu.
Apanya yang benar?
Jika merindukannya, temui dia.
Jika ingin menciumnya, cium dia.
Jika ingin tidur bersama, tiduri dia. Apa pun maumu.
- Kenapa kau terus bilang begitu? - Supaya dia tidak menyesal.
Dia digantung selama tujuh tahun karena diam saja.
Lakukan apa pun, dan akhiri kutukanmu.
Aku setuju.
Aku juga setuju. Suara terbanyak menang.
Bersulang.
PIAGAM PENGHARGAAN GYEONG WOO-YEON
ANTOLOGI JURUSAN PENULISAN KREATIF TAHUN 2012
ANGIN MEMBELAI RAMBUTNYA DI HUTAN PINUS PAGI
ANGIN MEMBELAI RAMBUTNYA DI HUTAN PINUS PAGI
JANGAN HIDUP PENUH KERAGUAN
- Ibu. - Ya?
Belikan aku krayon 25 warna.
Kau masih punya krayon di rumah.
Itu yang 24 warna.
Padahal ada banyak warna di dunia ini.
Woo-yeon, naiklah.
Kenapa tiba-tiba ke sini?
Aku sedang bosan, dan kau masih kesal.
- Jadi, sekalian saja. - Kau menjadi lebih perhatian.
Aku selalu perhatian kepadamu.
- Kau? - "Kau?"
Aku sangat baik kepadamu. Kau lupa?
Kau pasti salah mengira aku dengan orang lain.
Aku tidak salah mengira karena kau satu-satunya.
Sayang sekali. Aku ingin melihat bunga sakura di Korea.
Semua sudah menghijau.
Kau seharusnya melihatnya.
Bunga sakura itu indah, tapi begitu cepat gugur.
Orang-orang ingin melihat mereka karena cepat gugur.
Kau benar.
Walau tak ada festival pohon pinus, setidaknya ada festival sakura.
Bunga sakura gugur dengan cepat, sementara pohon pinus memiliki serdadu.
Pohon pinus yang menang.
Kau pandai berkata-kata.
Apa suasana hatimu lebih baik?
Ya, sudah lebih baik.
Bagus. Aku senang karena kau sudah lebih baik.
Kenapa kau juga ikut senang?
Karena kita teman.
Aku tak bisa berteman denganmu.
Kau bahkan tak tanya alasannya.
Kau sudah tahu semuanya.
No comments yet. Be the first to leave one.