لومړۍ 200 کرښې.
Pernahkah aku memohon nilai bagus kepadamu?
Kau berjanji memberiku nilai bagus jika aku mengerjakan tesismu.
Kau lucu sekali.
Eun-ho, kau bisa menolak jika tak mau.
Apa?
Bagaimana bisa menolak? Nilaiku bergantung padamu.
Kenapa Cho Min-jae mendapat A, sedangkan aku hanya C?
Pekerjaanku lumayan baik. Aku sudah berusaha keras.
Tapi…
Tapi kenapa aku gagal?
Kenapa?
Eun-ho.
Biar aku saja.
Menyedihkan.
Anak-anak zaman sekarang menyalahkan segalanya pada orang lain.
Itulah yang membuat dia gagal.
Apakah pegawai perusahaan besar
semuanya seperti dirimu?
Apa?
Hanya karena berkuasa,
kau manfaatkan anak muda yang baru kenal dunia nyata.
Lalu seenaknya mengeluh atas sikap mereka?
Kakek, siapa kau…
Jangan panggil aku "kakek."
Aku bukan orang dewasa. Usia hanyalah angka.
Aku tak punya petuah untuk anak-anak muda zaman sekarang.
Aku kasihan pada mereka.
Kuajari mereka untuk berusaha dalam hidup, tapi kenyataannya berbeda.
Itu semua karena mereka bertemu orang sepertimu sebagai atasannya.
Jika kau tak bisa mendukung, jangan berlaku seenaknya pada mereka.
Kau tidak tahu malu!
EPISODE 5
Kau pernah merasa seperti berlari di tempat?
Meski berlari sampai terasa mau mati
dan kehabisan napas,
kau tak bisa maju.
Keadaannya saja yang berbeda.
Saat SMP, SMA,
kini magang lulusan universitas.
Tiap kalinya, aku merasakan hal yang sama
sampai membuatku merinding.
Kau pasti berbeda.
Kenapa berpikir begitu?
Selama 13 tahun, aku bermain sepak bola tanpa bakat.
Saat itu aku juga seperti sedang berlari di tempat.
Aku kabur tiap usai pertandingan, dan dipukuli jika tertangkap.
Lalu aku kabur lagi.
Selalu begitu.
Lalu bagaimana kau bisa…
Menemukan hal yang kusukai?
Aku hanya melakukan hal yang sungguh kuinginkan.
Aku biasanya hidup seperti yang diperintahkan ayahku.
Lari keliling lapangan 100 kali,
menendang 1.000 kali,
dan bertanding ketika disuruh.
Namun, aku sadar saat tahu balet.
"Aku tak mau hidup begini lagi.
Aku ingin terbang meski hanya sekali.
Bagaimana rasanya berdiri di atas panggung?
Haruskah kucoba?
Ya, akan kucoba."
Itu sungguh kali pertamaku
menghadapi permasalahanku.
Karena aku ingin bahagia.
Apa yang membuatmu paling bahagia?
Apa?
Itu…
Soal itu…
Mulailah dengan mencari tahu hal itu.
Aku tak bisa memberitahumu hal itu.
Orang yang paling tahu hal yang membuatmu bahagia,
hanyalah dirimu sendiri.
- Halo. - Eun-ho sudah pulang.
Entahlah. Kurasa dia pulang ke rumah.
Yang penting kau sudah menemukannya.
Terima kasih, Chae-rok.
Sepertinya aku tidak banyak membantu.
Kakek ada di mana? Sudah pulang?
Dalam perjalanan pulang.
- Masih di jalan? - Sampai besok, Chae-rok.
Kenapa dia tak mengangkat?
- Berhentilah. - Apa aku salah?
Dia gagal masuk ke sepuluh persen teratas.
Aku sangat kaget ketika dengar dari temanku.
Eun-ho.
Hei! Cepat kemari!
Bagaimana bisa…
Daftar perekrutan semua perusahaan sampai akhir tahun. Daftarkan semuanya.
Kau harus dapat kerja tahun ini.
Kenapa diam saja? Kau dengar…
Hei, Eun-ho!
Aku tidak bisa.
Tidak.
- Aku tak mau. - Apa?
Aku tak mau melakukannya.
Tidak mau? Kau pikir kau sudah cukup sukses?
Ini baru awal bagimu.
- Kapankah akan berakhir? - Apa katamu?
Saat aku SMP, SMA, hingga kuliah,
Ayah selalu bilang begitu.
Bahwa ini baru permulaan, jadi, aku harus bersiap.
Itu yang Ayah katakan, tapi kenapa tidak ada akhir?
Kau sungguh tak mengerti?
Supaya kau bisa naik sedikit demi sedikit.
Kau tahu apa yang terjadi jika tertinggal?
Bagaimana bisa kau gagal magang?
- Hanya ini kebisaanmu? - Benar.
Hanya ini yang kubisa. Ayah tidak tahu?
Apa katamu?
Eun-ho.
Apa yang Ayah tahu tentangku?
Ayah.
Apa Ayah tahu aku tidak suka gimbap ?
Ibu tahu?
Lihatlah.
Kalian tidak tahu.
Saat pindah ke Gangnam di usia lima tahun,
aku sudah ikut banyak bimbel. Itu yang kalian tahu, 'kan?
Tapi kalian tak tahu,
kesibukan itu membuatku tak memiliki waktu makan.
Sampai kelas tiga SMA, aku hanya bisa makan gimbap di mobil.
Karena itu aku tak suka gimbap. Aku muak mengingat hal itu.
Ayah tahu betapa tersiksanya aku?
Apa kau tahu penderitaanku?
Apa yang membuatmu istimewa?
Semua orang sama.
Sekali saja, tak bisakah bertanya apa aku baik-baik saja?
Aku sudah bekerja keras.
Aku berusaha untuk menang agar bisa hidup seperti Ayah.
Tahukah hal bodoh yang kulakukan demi mencapai hal itu?
Namun, aku masih saja gagal.
Aku akan berhenti di sini.
"Berhenti"?
Itu omong kosong.
Jadi, apa yang akan kau lakukan?
Apa yang membuatmu bahagia?
Apa?
Seseorang bertanya padaku, tapi tak bisa kujawab.
Akan kucari terlebih dahulu.
Eun-ho! Kemari kau!
Eun-ho!
Eun-ho!
EUN-HO, MOBILMU KUPARKIR DI LUAR. KUNCINYA ADA DI KOTAK SURAT.
Ini kalsium,
omega-tiga,
juga multivitamin.
Aku harus minum semua?
Lupa perkataan anak-anak? Jika kau sakit, maka aku yang repot.
Berjalan saja sendimu sudah sakit,
kini kau pakai untuk peregangan dan melompat setiap hari.
Tubuhmu bisa sakit.
Aku masih kuat.
Lihat ini, tulang baja semua.
Baja pun lama-lama bisa berkarat.
Turuti aku.
Aku tidak butuh ini.
Ayolah!
Baiklah, terima kasih.
Kau belum makan, mau ke mana?
Aku manajer. Aku harus pergi lebih awal dan mempersiapkan semuanya.
Chae-rok sangat sibuk karena kompetisi.
Aku pergi, Sayang.
Makanlah sebelum pergi.
Jika sudah tak sibuk,
ajaklah dia ke rumah. Kita makan bersama.
Ya, tentu.
SERTIFIKAT KEUNGGULAN SERTIFIKAT PENUNJUKAN
INI CHAE-ROK. APA PUN YANG KAU LAKUKAN, KUDUKUNG!
Apa yang sebenarnya membuatku bahagia?
Mana kunci mobil?
Kakek.
Eun-ho.
Kakek ketahuan.
Hanya ini yang bisa kuberikan.
Aku baik-baik saja.
Semua akan berlalu, Eun-ho.
Itulah yang kakek rasakan selama hidup.
Berbagai masalah datang, tapi kini kakek tak mengingatnya.
Semua sudah berlalu.
Tentu hal bagus jika tak terpuruk dalam hidup.
Baguslah jika tak ada hambatan di jalan kita.
Namun,
tak apa jika terjatuh.
Luka di lutut itu tak seberapa.
Itu bukan salahmu.
Mengerti?
Kakek senang kau bertahan dan membentak dia.
Kau membuatku bangga kemarin.
Kakek pergi. Sampai nanti.
Sedang apa kau?
Kau tak akan bisa menghabiskannya.
Makan, lalu pergilah.
Seharusnya mereka tidak berlatih bersama.
Ayolah, ini hanya roti lapis.
Ulang dari awal.
Ingat, tangan kanan.
Angkat kakimu! Berhenti!
Ulangi.
Hentikan. Hentikan!
Tak dengar kataku?
No comments yet. Be the first to leave one.