لومړۍ 200 کرښې.
[Peristiwa berikut adalah karya fiksi. Nama, perilaku, dan tindakan karakter tidak terkait dengan institusi, organisasi, atau profesi apa pun, dan dibuat hanya untuk tujuan hiburan. Penonton harap bijak]
Hei, Top!
Ada apa denganmu,
memanggilku ke tempatmu jam segini?
Aku taruh sini saja, ya.
Sudah lama kita tak bertemu.
Aku cuma ingin mengobrol denganmu.
Kau di rumah sendirian?
Wah.
Keluargaku sedang di luar negeri.
Kung pulang ke kampung halamannya.
Cuma ada aku di rumah.
Wah!
Jadi, kau memanggilku untuk pesta?
Tentu!
Biar kuambil barangnya dari kamar ayahmu.
Ini akan membuat malam ini lancar.
Itu bisa nanti saja.
Sini.
Ayo mengobrol.
Kau baik-baik saja?
Ada masalah?
Kau kelihatan agak serius.
Beam, sudah berapa lama kita berteman?
Lebih dari sepuluh tahun, kurasa.
Memangnya kenapa?
16 tahun.
Ya, 16 tahun.
Sialan.
Dan menurutmu
ada sesuatu yang belum kau ceritakan padaku?
Apa maksudmu?
* Astaga! * Apa?
* Kau ini kenapa? * Ada sesuatu yang mau kutunjukkan padamu.
Coba kulihat.
* Anjing! * Hei.
Duduk tenang, oke?
Sebentar lagi mencapai klimaksnya.
Bangsat!
Kau menyuap pemilik bar untuk menghapus rekamannya,
tapi aku berhasil memulihkannya, sialan.
Aku tak tahu kalau itu pacarmu.
Kau tahu semuanya dari awal,
tapi kau tutup mulut bangsatmu itu rapat-rapat!
Waktu itu, aku tak tahu harus berbuat apa.
Aku tak berpikir panjang.
Tentu saja kau tahu, bajingan!
Kau cuma ingin menyelamatkan dirimu sendiri
dan membiarkan pacarku yang menderita!
Tega-teganya kau melakukan ini padaku?
Tega-teganya kau melakukan ini pada Bell?!
Berani-beraninya kau buat dia dijebloskan ke penjara?
Kau temanku, ingat?
Bajingan tengik!
Bukankah kau
yang memberiku obat itu?
Pergi dan mengakulah, sialan.
Kurasa semuanya sudah
terlalu tak terkendali.
Bagaimana kalau aku menolak?
Akan kuserahkan rekaman ini ke pihak berwenang.
Jadi...
Aku, sahabat tersayangmu,
harus menanggung kesalahannya, begitu?
Kau yang membuat Bell ditangkap.
Aku hanya melakukan hal yang benar
untuk menyelamatkannya.
Kau tak benar-benar ingin menyelamatkannya.
Kau cuma ingin menyelamatkan dirimu sendiri.
Ayolah, fokus pada pekerjaan kalian, semuanya.
Kalau selesai lebih awal, kalian bisa istirahat lebih cepat.
Kalian mau apa?
Kami ingin minta maaf padamu.
Sekarang, kami sudah putus hubungan dengan Kae.
Bukankah dia...
yang menendang kalian?
Dia memberikan jatah kami ke Mathusorn dan Karakade
dan
mengambil semua anak buah kami.
Bagianku sudah kecil,
dan dia masih memberikannya pada mereka.
Begitu kalian terdesak,
kalian merangkak kembali padaku,
hah?!
Tetap saja, aku selalu luluh pada kalian.
Aduh!
Sialan kalian ini.
Astaga!
Ya ampun...
Kau jadi sakit gara-gara pelukan kami?
Ini cuma gangguan pencernaan. Nanti juga hilang.
Apa yang akan kau lakukan pada Kae?
Kau akan melepaskannya?
Dia main-main dengan 3D.
Kami tak akan melepaskannya begitu saja.
Kenapa kamu senyum-senyum?
Kamu menyesal tidak sih?
Kapibara.
Ke mana perginya Kapibara?
Meow!
Bukan kucing ini.
Kapibara.
Sini, nikmati makanmu.
Ibumu punya banyak utang.
Aku tak tahu apa kami mampu membeli makananmu berikutnya.
Maafkan aku, ya.
Jangan begitu.
Melihat mawarnya mekar saja...
sudah cukup membuatku bahagia.
Kamu sebenarnya tak perlu membantuku melunasi utangku, tahu?
Aku harus bantu.
Kita menanam mawar ini bersama-sama,
jadi kita harus saling bantu membayar pupuknya.
Bagaimana cara kita mendapatkan semua uangnya?
Hanya ada satu cara.
Apa itu?
Kita harus bekerja.
Iya, 'kan?
Hah?
Kalian mau apa?
Aku sedang cari kerja.
Kerja?
Yah, yang lain juga melakukannya.
Tak ada yang aneh, 'kan?
Sana, ambil kursi kosong yang ada.
Dia bekerja tanpa henti.
Tumpukan kertasnya besar sekali!
Aku sudah kerja lama sekali,
tapi hasilnya tak sebanyak dia!
Menjengkelkan sekali.
10 narapidana.
Kak, kau baik-baik saja?
Aku tak apa. Cuma agak pusing.
Baiklah.
Cukup untuk hari ini.
Lanjutkan pekerjaan kalian besok.
Ayo tanda tangan untuk upah kalian.
Kau mau diam di sini saja atau bagaimana?
Kembalilah ke sini besok, oke?
Tanda tangan!
Hei.
Sudah cukup. Kita sudah mencapai kuota.
Tak ada uang lembur?
Uang lembur?
Kami tak membayar lembur!
Semakin banyak aku bekerja, semakin banyak bayarannya, 'kan?
Kau bercanda, ya?
Datang saja sudah dapat bayaran.
Tak peduli seberapa keras kau bekerja.
Itu terdengar sangat tidak adil.
Semakin keras kita bekerja, harusnya bayarannya makin banyak.
Kamu tidak apa-apa?
Selamat pagi.
Bagaimana kabarmu, sayang?
Kamu lelah bekerja?
Aku capek sekali.
Aku melipat kertas sepanjang pagi.
Kamu sebenarnya bisa kerja di sini, tahu?
Aku kerja sendirian di sini.
Kerjaannya juga gampang.
Tapi upahnya agak rendah.
Lipat gandakan taruhannya!
* Hei, kau curang ya?! * Hei.
Astaga, aku kesal sekali.
* Apa-apaan ini?! * Bell.
Sudah berapa kali kamu menang?
Waktu kecil, aku main Pok Deng dengan ayahku setiap hari.
Aku lumayan jago juga.
Mau kutunjukkan caranya?
Tolong, jangan.
Kita harus kerja keras, tahu?
Ini jalan pintas menuju kekayaan.
Itu bukan jalan yang baik.
Apa kamu mau aku
berhenti dan kerja bersamamu?
Dengan begitu, kita dapat lebih banyak.
Tidak, tidak apa-apa.
Nanti kamu kecapekan.
Kalau uang kita tidak cukup,
aku akan jual satu ginjalku.
Kamu gila, ya?
Aku serius.
Aku akan baik-baik saja.
Dan kamu tak akan kesepian.
Hei.
Hei!
Sudah berapa lama kau kerja di sini?
Kenapa lambat sekali?
Lihat dua anak baru ini.
Kinerja mereka lebih bagus dari kalian. Ayolah.
Jangan cuma bengong.
Kerja lebih keras, sialan!
Astaga, satu anak baru saja sudah cukup buruk.
Sekarang, ada dua orang.
Mereka bikin keadaan makin sulit buat kita.
Harusnya ada yang memberitahu mereka
kalau tak ada yang dapat bayaran lebih cuma karena kerja lebih keras.
Dia kerja banyak sekali di hari pertamanya.
Berhenti bergosip.
Kubilang kerja!
No comments yet. Be the first to leave one.