لومړۍ 180 کرښې.
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
Ibycellia.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Akhirnya, berkat ramuan ingatan ini,
aku akan mengetahui siapa diriku dahulu.
Jangan takut.
Apa pun yang terjadi, Ayah akan selalu bersamamu.
Sudah siap.
Tidak... mustahil.
Tidak! Bukan dia!
Apa yang telah kulakukan?
Ibycellia, tidak!
Lepaskan dia!
Kemarilah!
Jangan!
PARA LEGENDA
Kerja bagus!
Kamu memang berbakat, Nak.
Nak?
- Aku nggak percaya! - Ryans!
Ikut bersulang, nggak? Aku mau niup lilin, nih!
- Hari ini ulang tahunku! - Maaf, aku harus berangkat sekolah.
Dasar nggak asyik! Ulang tahun ke-53 nggak terjadi setiap hari.
Ryans, jangan lupa sepatu hak tinggiku.
- Besok saja! - Hai, Tukang Sepatu.
- Hai. - Pagi, Ryans.
- Ada kabar apa? - Harga batu giok sedang melonjak.
Tukang cukur menganggur karena tak ada lagi yang berjanggut!
Koran! Silakan korannya!
- Lidah Girawas! Lidah Girawas segar! - Lidah Girawas!
Saya beli dua kilo.
- Pagi, apa kabar? - Ah, begitulah... seperti hari Senin.
- Anak-anak, tenang. -
Jam istirahat sudah selesai.
Ayo, semuanya duduk.
Besok, seperti yang kalian tahu,
kita akan mengenang dua tahun Tragedi Jovenia.
Sekaligus mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Eyrul, tolong nyalakan Crystalema-nya.
Iya! Aku suka sekali Crystalema.
Aku juga.
Keren banget!
Di balik Pegunungan Shaiar,
berdirilah kediaman paling jahat,
- Casthell. - Oh!
Milik seorang penyihir iblis,
Darkhell yang mengerikan.
Darkhell ingin menguasai dunia.
Tapi dia harus berhadapan dengan para penegak keadilan pemberani,
Para Legenda!
Ini Shimy,
elf dari Astria.
Razzia, raksasa dari Rymar.
- Gryfenfer, Jaguarian terakhir. -
Jadina, Putri Orchidia.
Dan Danaël, ksatria berpedang emas.
Ayahku bilang mereka itu pecundang.
- - Diam!
Mereka bersatu untuk menghentikan Darkhell menguasai dunia.
- Lihat! - Itu Batu Jovenia!
Benar. Salah satu dari enam batu suci
yang menciptakan planet kita, Alysia, dan Astria, negeri para elf.
Sayangnya, batu itu beserta kekuatan
awet mudanya telah jatuh ke tangan yang salah.
Para Legenda, hentikan dia sebelum menggunakan batunya!
Serang!
Mundur atau mati!
- Dia di mana? - Dia kabur?
Kita menang?
- Sudah selesai? - Dia benar-benar hancur!
Para Legenda, kurasa kita punya masalah.
Ini apaan?
Razzia, tubuhmu jadi kecil!
Mimpi buruk apa ini?
- Kalian jadi anak-anak. - Lihat dirimu sendiri.
Begitulah, Batu Jovenia
melepaskan sihirnya ke planet Alysia dan Astria,
mengutuk bangsa kita hidup dalam tubuh anak-anak selamanya.
Andai saja ada yang bisa mematahkan kutukan ini...
Ibuku bilang semua ini salah Para Legenda.
Apa ibumu ada di sana?
Mereka pengecut! Mereka bersembunyi!
Pengecut?
Mereka menghadapi Darkhell dan mempertaruhkan nyawa.
Bu Guru, benarkah kami akan menjadi manusia terakhir di Alysia?
Tentu saja. Tak ada lagi yang punya bayi.
Bayi dibuat bagaimana, Bu?
Aku
- Putri Jadina! - Jadina KW!
Jangan marahi mereka.
Mereka masih anak-anak.
Anak-anak sungguhan yang terakhir.
Kenapa kamu masih keras kepala?
Orang-orang sudah tak menginginkan Para Legenda lagi.
Mereka memang benar.
Dulu kalian pahlawan.
Kalau kalian dulu tidak bertarung,
kita pasti sudah jadi budak seorang tiran.
Apa semua orang sudah gila?
Lebih tepatnya, mereka kehilangan tinggi 60 sentimeter.
Jadi, bagaimana sekolahmu hari ini?
Suruh dia mengumpulkan Para Legenda.
Lagi?
Kamu harus mengumpulkan Para Legenda.
Tapi kalau bisa, tolong siapkan makan dulu. Aku lapar sekali.
Silakan saja ditertawakan. Sejarah selalu terulang.
Cepat atau lambat akan muncul lagi penyihir jahat.
Kalau bukan para pahlawan kita, siapa yang akan mematahkan Kutukan Jovenia?
Biar orang lain saja yang mengurusnya.
Aku sih ndak ngeluh. Senang rasanya punya wajah muda lagi.
Ayo, ambil mangkuk kalian. Katanya makan sup bisa bikin cepat besar!
Anakku, selama ini kamu sudah seperti cucu kami sendiri,
tapi hidupmu bukan di sini. Para Legenda adalah teman-temanmu.
Apa kamu tidak sedih karena sudah lama tak bertemu mereka?
Bagaimana dengan Putri Jadina?
Sudahlah, nanti dia ngambek.
Dulu kamu suka dia, kan?
Nggak! Naggak sama sekali!
Nah, kan. Jadi ngambek.
Rasa bersalah itu tidak baik buat kesehatan.
Tak ada yang bahagia kalau terus bersembunyi.
- Beri dia waktu. - Sudah dua tahun.
Kobi?
Kobi!
- Hah? -
Tidak!
Kobi?
Kamu sedang apa?
Lihat! Di tengkuknya!
Berhenti!
Lepaskan dia!
Oh!
Kobi! Aku tidak mau menyakitimu.
Hei, aku butuh senjata!
- Aku butuh senjata! - Senjata?
- Iya, cepat! - Nih!
Serius?
Yang tajam, 'kali!
Astaga!
- - Kobi!
Apa...
Hah?
Kamu memaksaku.
Siapa kamu?
Apa maumu?
Hmm...
Aduh, kepalaku!
Kobi? Itu kamu?
Iya, kurasa begitu. Kamu tidak apa-apa? Maaf.
Aku benar-benar kehilangan kendali.
- Tadi itu apa? - Hmm...
- Itu sihir hitam. - Oh, tidak.
Parah sekali! Kalian menghancurkan semuanya!
Bu, itu Ryans.
Lihat! Pedang Emas!
- Pedang Emas? - Itu Ksatria Danaël!
- Salah satu Para Legenda? - Dia bikin gigiku copot!
Kami tak butuh kamu!
- Iya! - Terkutuklah kamu dan seluruh gengmu!
- Pergi sana! - Kembalikan giginya!
Jangan kembali lagi!
Kalian seharusnya malu!
Dia menyelamatkan kita. Sekali lagi.
Iya, sambil menghancurkan seluruh lingkungan!
Terus gigiku bagaimana?
Kalian tak tahu apa yang telah Para Legenda korbankan demi melindungi kita.
Siapa di antara kalian yang berani menghadapi Darkhell?
Ayahku, dengan otot-ototnya.
Oh, Danaël.
Nenek benar. Tempatku memang bukan di sini.
Aku harus memastikan makhluk itu tak akan menyakiti siapa pun lagi.
Jangan hadapi dia sendirian.
Mintalah bantuan teman-temanmu. Janji, ya!
Nenek tak akan berhenti sampai kamu berjanji.
Hmm.
Aku janji.
Apa itu?
Kami tak mau sihir di sini!
Kita sudah sampai. Pegunungan Linorah.
No comments yet. Be the first to leave one.