لومړۍ 198 کرښې.
Aku Brisa Ramirez.
Aku tinggal di rumah terkutuk yang mencoba menghancurkanku
dan keluargaku.
BERIKUT INI ADALAH SEBUAH KISAH NYATA
Aku tahu kita berjanji tak akan bicara
tentang hal ini lagi,
tetapi kurasa sebagai keluarga,
kita harus menghadapi ketakutan kita.
Itu terjadi pada tahun 2004.
Mungkin kalian tak terlalu ingat karena masih kecil.
Usia kalian empat atau lima tahun.
Saat itu aku menceraikan ayah kalian.
Itu adalah masa yang sangat sulit
karena kita tak punya tempat tinggal.
PUTRA BUNGSU BRISA
Pada waktu itu,
kita tinggal bersama nenek dan bibi kalian untuk sementara waktu.
Terkadang…
PUTRA SULUNG BRISA
di hotel.
Untungnya, saat sidang perceraian selesai,
aku diberi tahu
bahwa aku akan mempertahankan rumah yang kita perjuangkan.
Kita pindah ke sana,
berpikir bahwa kita akhirnya akan tenang.
- Yang pertama ke sana, menang. - Tidak!
Hati-hati, Anak-anak.
- Jangan sentuh itu. - Kenapa?
Jangan berebut. Kedua raknya sama.
Aku sangat senang karena kami akhirnya punya rumah sendiri.
Aku mulai merenovasinya, melengkapi perabotannya,
mempercantiknya.
Seminggu setelah kami tiba di rumah…
SUAMI BRISA
ada kejadian pertama yang menarik perhatianku
dan aku berpikir, "Ini aneh."
Aku menggantung tirai pada salah satu jendela ruang tamu.
Anak-anak!
Ketika aku menyekrup batang tirai,
aku melihat kaki kecil tak beralas.
Matikan lampu saat kau pergi dan tutup pintunya.
Sudah kubilang jangan berkeliaran tanpa alas kaki.
Siapa yang memakai kamar mandi dan tak mematikan lampu?
Apa?
Aku ingat kalian menatapku dengan heran dan bilang, "Kami belum ke kamar mandi."
Menurutku itu sangat aneh.
Ya, aku jadi takut.
Namun, aku berusaha melupakan insiden itu.
Itu adalah pertama kalinya aku berkata, "Apa yang tadi kulihat di kamar mandi?"
Seiring waktu berjalan,
hal-hal lain terjadi.
Aku ingat
kalian suka meninggalkan mainan berserakan di seluruh rumah.
Saat malam, saat kalian tidur, aku mengumpulkan mainan itu.
Namun, keesokan harinya, aku mendapati mainan itu berada di sofa ruang tamu,
berbaris, tersusun berderet.
Kupikir, "Seseorang masuk ke rumah.
Aku sendiri bersama anak-anakku. Apa yang terjadi?"
Pikiranku ke mana-mana dan aku mencemaskan keselamatan kalian.
Kalian masih kecil dan menjadi tanggung jawabku.
Aku mulai ketakutan.
Aku takut membayangkan ada seseorang yang membobol rumah
atau ada suatu hal
yang gaib.
Ibu?
Yang paling aneh adalah letak mainan itu selalu berada di sofa ukuran sedang.
Ketika itu, kukira kalian bangun saat tengah malam
dan bermain dengan mainan kalian.
Aku agak cemas karena kupikir,
"Itu berbahaya jika kalian meninggalkan kamar
dan berkeliaran di sekitar rumah tanpa kuketahui."
Saat itulah aku memutuskan untuk memasang pagar di kamar kalian.
Suatu sore, beberapa hari kemudian,
Darío bilang padaku sebelum tidur
bahwa dia tak mau tidur di kamar itu.
Itu terjadi bukan hanya satu malam saja, tetapi malam-malam lainnya juga.
Aku ingat kakakku dan aku selalu tak bisa tidur
karena kami berdua merasa ada sesuatu di sana.
Adikku terus mengatakan
bahwa ada sesuatu di balik jendela rumah itu.
Namun, itu hanya perasaan bahwa ada sesuatu di sana.
Aku tak tahu apa itu,
tetapi itu sesuatu yang kucoba kuhilangkan dari pikiranku karena aku takut.
SAUDARA BRISA
Kami tak ingin kembali ke kamar itu
karena alasan itu, ketakutan dari dalam diri kami.
Hal-hal yang tak kita pahami,
yang ada di luar pemahaman kita,
bisa menghancurkan kita.
Saat anakmu sakit, kau ke dokter.
Saat anakmu…
butuh bantuan psikologis, kau ke psikolog.
Namun, bagaimana dengan ini?
Ini pertanyaan besarnya, aku harus apa?
Keesokan harinya,
kita kehabisan gas dan kita pergi ke rumah nenekmu.
Kita kembali ke rumah
dan ada tetangga yang datang dan berkata, "Kuketuk pintumu, tetapi tak kaujawab."
Halo?
Halo?
Halo?
Halo.
Tetanggaku bilang dia mengetuk jendelaku, tetapi anak itu tak membalikkan badan.
Ketika dia bilang hal itu,
kupastikan bahwa sesuatu telah terjadi karena kami tak berada di rumah.
Jadi, bagaimana mungkin dia bisa melihat anak kecil di rumah itu?
Hari berlalu, sampai beberapa minggu.
Aku mulai melihat banyak hal yang terjadi yang tak bisa kujelaskan.
Aku ingat aku ingin memperbaiki rumah
dan ada tukang batu yang bekerja di rumah tetanggaku.
Aku menanyai tetanggaku apakah tukang itu bisa membuatkanku tangga landai.
Tetanggaku menjawab,
"Aku tak tahu karena caramu bicara dengannya tempo hari.
Kau mengatakan banyak hal buruk padanya."
Aku tak tahu apa yang dia bicarakan.
Di mana ibumu?
Ada yang bisa kubantu?
Tidak. Maaf, Bu.
Kurasa aku salah.
Keluar, kau menjijikkan! Matilah!
Aku menghinanya dan mengatakan hal buruk.
Aku tak ingat melakukan itu pada tukang batu.
Kau sungguh tak ingat?
Tidak.
Itu bukan sifatku.
Aku tak akan meragukan jika suasana atau atmosfir di rumah itu
membuatmu bersikap berbeda.
Itu bukan sifatmu.
Aku memahami jika energi di rumah itu
membuatmu sangat berbeda dan cukup agresif.
Jangan berkeliaran tanpa alas kaki!
Keluar dari sini!
Aku belum pernah memberitahumu ini
karena kupikir ini tak penting.
Namun…
kurasa itu memengaruhi mimpi kami.
Aku bermimpi buruk di mana aku selalu mengaitkannya denganmu,
beberapa kali saat aku bisa tidur.
Aku tak tahu apa itu kau
atau apa itu makhluk lain.
Aku tak bisa menggambarkannya.
Saat itu…
aku dicekik, aku kesakitan.
Itu memengaruhi kami.
Kami semua di sini, kurasa.
Sulit mendengarnya.
Namun, ini proses untuk memahami.
Membahas kembali hal ini tidaklah mudah…
tetapi ini membantuku lebih memahami apa yang terjadi.
Aku terbangun dan tak berada di ranjangku.
Itu sangat membingungkan.
Aku berada di halaman belakang
dan berpikir, "Apa yang kulakukan di sini?"
Pikiranku mulai berputar-putar penuh ketakutan.
Aku tak mengerti kenapa aku di luar.
Aku memutuskan untuk mandi agar bangun sepenuhnya
dan mencoba mencari penjelasan.
Aku melihat di cermin dan ada bekas goresan di bahuku.
Aku bilang, "Apa ini?"
Kubilang, "Ada apa ini?" Ada yang menyakitiku.
Aku sangat takut membayangkan bahwa hal itu bisa melakukan sesuatu…
yang bisa menyakiti anak-anakku.
Anak-anak.
Anak-anak, bangun.
Ini.
- Ibu! - Kita harus pergi.
Saat itulah aku mulai berpikir jika ada sesuatu di rumah itu.
Rumah itu berhantu.
Aku mengeluarkan anak-anakku.
Sejujurnya, aku melihat
perubahan besar dalam sikapmu saat kita meninggalkan rumah.
Sesuatu yang tak bisa kujelaskan karena aku masih kecil.
Namun, karena kita membahas ini lagi, aku bisa melihat hubungannya.
Aku memikirkan banyak hal dan itu membuatku takut.
Lalu kita pindah ke rumah nenek.
Aku mulai bekerja di kantor pemerintah
dan saat itulah aku bertemu denganmu.
Kau dan aku mulai berkencan.
Semuanya berjalan lancar.
Kita memutuskan untuk tinggal bersama.
Saat itulah kita punya putra, Gabriel.
Kita mulai mengurus dokumen untuk memiliki rumah sendiri.
Aku tak mau kembali ke rumah lama.
Namun, karena masalah administrasi,
mereka tak menyerahkannya pada kita pada tanggal yang mereka janjikan.
Saat itulah kita memutuskan untuk kembali ke rumah itu.
Kukira semua akan berubah karena aku tak sendirian lagi.
Namun, aku tak tahu bagian terburuk dari mimpi buruk ini
belum terjadi.
Bahkan,
saat aku memikirkannya,
kurasa aku dikejar roh jahat jauh sebelum aku tinggal di rumah itu.
Ketika usiaku 28 tahun, aku menjalani operasi darurat.
Kantong empeduku hampir pecah.
Aku menjalani operasi, tetapi ada komplikasi.
Aku baru bangun dari pembiusan
dan mereka bilang, "Kau harus kembali ke ruang operasi."
Mereka membiusku lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.