لومړۍ 200 کرښې.
WE ARE ALL TRYING HERE
Kapan
momen terberat dalam hidupmu?
Kurasa
kau belum pernah menceritakannya.
Dulu saat aku dan temanku lagi naik kereta habis makan malam,
tiba-tiba dia bertanya,
"Kapan momen terberat dalam hidupmu?"
Jantungku langsung berdebar.
Aku tak menjawabnya,
dan sebelum aku menangis,
aku turun dari kereta.
Pada hari itu,
aku menangis sesenggukan dalam perjalanan pulang.
Saat kupikir-pikir lagi,
ternyata aku tak pernah menceritakan momen tersebut
pada saat itu.
Yang paling menakutkan adalah,
meski masih kecil, aku menyadarinya.
Aku tahu itu berarti rasa takutnya terasa amat nyata bagiku,
tapi aku tak tahu cara menghentikannya.
Aku cuma bisa menahan semua rasa takut itu,
benar-benar tak berdaya dan kewalahan.
Yang paling kuinginkan saat itu
adalah cepat gede,
biar aku bisa pergi kapan saja seolah itu hal sepele.
TUTUP SAMPAI AKHIR DESEMBER
Aku berpikir betapa enaknya
boleh jalan sendiri di malam hari
saat sudah dewasa.
Aku lagi duduk di sana…
Saat hidungku mulai mimisan.
Burung gagak terus berkumpul di luar jendela.
Kupikir,
"Aku pasti lagi sekarat."
Di saat itulah…
Ayahku pulang
setelah 28 hari.
Dan ibuku…
Tak pernah pulang lagi.
Tak pernah sekalipun
aku bercerita soal kejadian itu.
Kujalani hidup dengan tidak memikirkannya.
Tapi
saat temanku bertanya soal momen terberat itu,
amarah itu muncul lagi, serasa kayak baru kejadian kemarin.
Sebelumnya,
aku tak merasakannya saat melihat wajah ibuku
muncul di mana-mana,
seolah aku tak mengenalnya.
Tapi begitu amarah itu muncul…
Aku tak tahan melihat wajahnya.
IBUKU
Sumber semua rasa sakitku.
Kejadian di masa lalu…
Dan orangnya.
Ibuku.
Orang yang menelantarkanku…
Adalah ibuku.
Berusia 30 tahun berarti kita sudah hidup lebih dari 10.000 hari.
Tapi tiap kali ada masalah,
aku selalu teringat akan masa 28 hari itu,
seolah dari situlah jati diriku saat ini berasal.
Aku benci bicara soal luka.
Rasanya kayak bahasa orang lemah.
Tapi…
Itulah yang lagi kulakukan.
Tiap kali ada masalah,
kuingatkan ke diri ini aku sudah hancur,
dan makanya aku begini sekarang.
Kukaitkan semuanya ke masa lalu.
Tapi…
Jika aku sudah sukses…
Apakah aku tetap ingat dan sulit melupakan momen itu?
Akankah aku terus membawa-bawa masa lalu sebagai penyebab…
Ketidakberhasilanku saat ini?
Bagaimana mungkin tidak membawa-bawa masa lalu?
Bukankah kau keras sama diri sendiri?
Tapi kau tak begitu.
Kau tak membawa-bawa masa lalu
sebagai penyebab kondisimu saat ini.
Aku tak ada masa lalu buat dibawa-bawa.
Mungkin kau tak percaya,
tapi keluargaku
dulu cukup berada.
Dulu kami bahagia sekali…
Sampai aku di tahun kedua kuliah.
Saat bisnis ayahku bangkrut,
semua kekayaannya hilang dalam waktu singkat.
Lalu ibuku
dan ayahku
meninggal susul-menyusul.
Tak kusangka semuanya bisa hancur secepat itu.
Pasti banyak orang yang merasa puas
melihat keluarga kami hancur.
Aku paham.
Memang adil jika hidup itu ada pasang surutnya.
Apa gunanya mempertahankan
hasil jerih payah orang tua?
Semua barang saat kami masih berkecukupan dulu
cuma disimpan di gudang
selama 20 tahun.
Biaya sewa yang mahal dibayar tiap tahun.
Kayaknya kenanganmu tak bisa dilepas.
Itu bukan cuma kenangan,
tapi bukti kami dulu makmur.
Tanpa itu…
Aku merasa tak punya pegangan.
Aku merasa
bisa melepaskannya jika kondisiku membaik, meski dikit.
Begitu debutku sukses,
aku bakal buang semuanya.
Apakah itu
momen terberat dalam hidupmu?
Bukan.
Oh, begitu…
Kau belum pernah menceritakannya.
Suara yang paling kusukai…
Adalah suara dengkur kakakku.
Saat kudengar dia mendengkur…
Aku merasa tenang.
"Oh."
Dia sudah tidur.
"Aku juga boleh tidur."
Tapi jika aku tak mendengarnya,
aku heran kenapa dia tak tidur.
Hidupku harus membaik, meski cuma sedikit.
Harus ada pencapaian atas usahaku sendiri.
Biar aku bisa melupakan masa lalu dan deritaku.
Dengan begitu,
aku tak gelisah saat melihatmu terbang tinggi,
atau khawatir kenapa kakakku tak bisa tidur.
Aku tak akan tenang.
Tidak sampai kulihat pencapaianku.
Tidak sampai kulihat kemampuanku.
Kibas!
Maju terus!
Aman!
Ayo kita pulang.
Halo.
Terima kasih.
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS HANKUK
Halo.
Astaga, ada dua pria gagah yang membantuku?
Aku merasa diistimewakan.
Rumahku istanaku.
Aku bukan tipe orang yang suka minta ganti rugi,
tapi betulkan gigi mahal.
Ini gigi palsu yang bisa dilepas, bukan implan.
Akan kupasang implannya
jika aku sudah punya duit.
Transfer saja ke rekeningku.
TOTAL 1,2 JUTA DARI JAE-YEONG
Tante bungsuku punya dua anak perempuan.
Tiap kali menantunya bikin dia pusing, dia selalu bilang,
"Andai putriku punya kakak laki-laki, menantuku pasti tak berani macam-macam."
Ada bajingan yang menyepelekan
rumah yang isinya cuma wanita.
Asal kau tahu,
di rumah Eun-a, bukan cuma wanita.
Tak bisa kujelaskan,
tapi…
Jika kau berani mengganggu Eun-a,
urusannya
bakal panjang.
Aku serius.
Lupakan film Tok, Tok, Tok .
Karier perfilmanmu
bisa hancur total.
Ingat, ya. Sudah kuperingatkan.
Jangan nanti kau menyangkalnya.
Dah.
Sinopsis lima dan enam siap?
Bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk?
Kenapa?
Lagi main gim?
Tidak.
Memangnya aku sempat main gim?
Kenapa Penulis Park tak datang?
Kenapa tak datang?
Kami mau menulis sendiri-sendiri dulu.
Kenapa?
Memangnya kami harus kerja tatap muka?
- Dengar baik-baik. - Langsung ngomong saja!
Pendengaranku masih bagus.
Kayak lagi mengancam bocah.
"Dengar baik-baik".
Aku menyesal telah membentakmu.
Aku minta maaf.
Kau lagi dalam masa gemilang, tapi malah kurusak suasananya.
Seharusnya kubiarkan sampai semuanya kelar,
tapi aku malah gusar.
Aku minta maaf.
Abaikan aku. Tulislah pakai semangat yang sama.
Aku serius.
Dan…
Ayo bercerai jika saatnya tiba.
Aku belum pernah bawa-bawa kata cerai
dalam pernikahan kita.
Aku tak mau biasakan diri untuk mengatakannya,
No comments yet. Be the first to leave one.