لومړۍ 200 کرښې.
Jadi, kalian yang mencurangi ibu-ibu itu?
Kami memang mencurangi mereka.
Apa itu urusanmu, Pendekar Mahyong?
Ibu-ibu itu teman-temanku.
Urusan mereka, urusanku juga.
- Barat. - Pong.
BARAT
- Naga Hijau. - Pong.
NAGA HIJAU
Mahyong.
NAGA MERAH
Menang, Batu Besar, Tiga Angin Besar, Tiga Naga Kecil.
Tiga Kong Tersembunyi, menjadi dua pasang.
Sebagus itu?
NAGA MERAH
Batumu kurang.
- Hei. - Hei.
Batu kurang. Dua pemain keluar.
Masih ada aku, Bocah!
Batumu juga kurang.
Mustahil batuku kurang.
Astaga!
Aku lupa mengambil batu Bunga.
Pendekar, boleh delapan kali lipat?
Baiklah, tapi berhenti menipu ibu-ibu itu.
Itu akan merusak bisnisku.
Jangan keterlaluan!
Aku hajar kau!
Kita seharusnya menurutinya.
Kita tambah rugi, Paman Gendut.
Apa dia manusia?
Mustahil bisa menang dengan delapan dan setengah pasang.
Astaga!
Terima kasih, Sobat.
Dilarang parkir di sini. Tunjukkan SIM-mu.
Apa kau tak punya rumah sampai tidur di jalanan?
Apa pekerjaanmu?
- Aku bertanya, apa pekerjaanmu. - Bermain mahyong.
Bermain mahyong? Berarti kau pengangguran.
Tidak berguna.
- Apa isi tas besar itu? - Uang.
Banyak sekali. Kau merampok bank?
Merampok tak seseru bermain mahyong.
- Halo. - Pendekar, tolong! Kami kurang pemain!
Baiklah. Aku akan tiba setengah jam lagi!
Bisa lebih cepat?
Bu Zhao, kau berada di Stanley.
Tidak perlu. Bu Sou bilang dia bisa datang dalam 15 menit.
Hei!
Aku akan tiba dalam 14 menit. Tunggu aku.
Kau pergi ke Stanley dalam 14 menit? Mau mengebut?
Tentu tidak. Minggir.
Lima ratus dolar. Di mana toiletnya?
- Di dalam. - Terima kasih. Cepat!
Dasar pejudi kompulsif.
Bungkus. Roti lapis dua telur, teh susu panas, sedikit gula.
- Cepat! - Baik!
Cepat.
Pong.
- Chow. - Pong.
- Chow. - Pong.
Mahyong.
Cepat.
- Siapa pesan bungkusan? - Aku! Terima kasih.
Hei, itu bukan milikmu!
Terima kasih.
Parkir sembarangan!
Bu Wong, ada apa?
Aku terbangun begini.
Leherku kaku.
Tunjukkan lidahmu.
Putar matamu.
Tidak ada masalah.
Matamu tak kuning. Lidahmu tampak sehat.
Tidak apa-apa. Hanya keseleo.
Bagaimana?
- Timur. - Pong.
- Selatan. - Pong.
- Barat. - Pong.
- Utara. - Pong!
- Satu bambu. - Hei!
Aku menang. Satu bambu. Angin Besar.
- Aku yang menang. Chicken Hand. - Kenapa? Berapa kali lipat?
Apa-apaan ini? Kau jahat.
Kau itu apa? Berani mencuri kemenanganku?
Sangat tak sopan!
Hei, aku bisa bergerak normal lagi!
- Berhasil. - Sudah kubilang bisa sembuh.
- Bisa sembuhkan flu dan demam? - Tentu. Main sampai berkeringat.
- Astaga. - Mataku terasa kering.
Air mata jarang keluar. Main sampai menangis.
Aku tak mudah menangis.
Bahkan tak menangis saat suamiku wafat.
Tidak masalah.
Kau memang tak mudah menangis.
Perlu delapan kali kalah agar kau menangis.
Banyak orang merasa lemas setelah dua kali kalah.
Bagaimana dengan kalian berdua? Kalian merasa sakit?
Aku baik-baik saja, tapi tagihan berobatmu cukup mahal.
Kesehatan kalian penting. Ayo, sudah waktunya pergi.
- Rawat cucumu. Jaga dirimu. - Kau boleh pulang dahulu.
Si Gendut menantimu di sekolah. Serahkan kepadaku.
Aku harus merapikannya, suamiku bisa marah nanti
- saat dia pulang. - Biar kubantu. Pergilah.
Cepat. Bagaimana kalau si Gendut tertabrak mobil
- di depan sekolah? Cepat! - Jangan lupa mengunci pintu.
Aku akan menyapu lantai juga.
Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh mobilku!
Dahulu aku sering mencuci mobilmu.
Kita sudah lama putus.
Itu keinginanmu sendiri.
Apa yang jelek dariku?
Kau emosi ketika kalah.
Aku tak akan berjudi lagi.
Emosi saat kalah berarti sifatmu jelek.
Apa yang jelek dari sifatku?
Kenapa berhenti menjadi pelayan lalu menjadi polisi?
- Untuk menilangmu. - Lihat?
Katakan kepadaku. Kau gila, 'kan?
Aku sudah berubah.
Beri aku kesempatan. Ayo main satu ronde.
Kau sudah pernah bilang begitu.
Lalu kau marah dan ingin menghajar orang.
- Pergi saja. - Tidak lagi, aku janji.
Pergi. Pergi saja. Cepat.
Kembalikan motor itu. Berhenti bekerja. Apa kau pandai mengemudi?
Bagaimana jika terjadi kecelakaan dan kau sedang sendirian?
Halo. Ya?
Bermain mahyong? Baiklah.
Kekurangan pemain?
Baiklah. Aku akan ke sana.
- Hei! - Ya!
Kau tak akan marah?
Aku akan memberimu kesempatan.
- Ayo. - Bagaimana dengan motorku?
Tinggalkan saja. Lagi pula, kau akan berhenti.
POLISI
Hei. Cepat.
Nona.
- Maaf. - Hei, kau!
- Tidak perlu gugup. - Maaf.
- Taruhan kita kecil. - Lepaskan helm itu.
Aku tak gugup. Sebenarnya...
Dia bilang akan menikahiku
- jika aku tak marah. - Giliranmu.
Menikahimu? Kita baru saja pacaran lagi.
Bukankah berarti kau akan menikahiku?
Aku tak bisa tinggal denganmu. Pikirkan itu.
- Aku tak bisa menjelaskan ke bibiku... - Baiklah.
- Begitu juga pamanku dan... - Baiklah!
Jika kau tak marah dan menang, aku akan menikahimu.
Sembilan Lingkaran.
Kenapa syaratmu ditambah? Tadi tak begitu.
Bagaimana jika istriku menghabiskan semua uangku?
Sudah main saja.
Kau mau aku tak marah dan menang.
Itu sulit sekali.
Nona, kau tak akan marah jika menang.
Betul juga.
Aku tak mungkin marah kalau menang.
Lima Bambu.
Tapi aku tak pernah menang saat melawannya.
- Dia pasti mengalahkanku. - Lima Bambu.
Jangan begitu.
Tiga Lingkaran.
Kini, aku tak punya kesempatan untuk Pong atau Chow.
Tiga Lingkaran.
Kau begitu lagi.
Kau jahat sekali. Kenapa begitu?
Kau butuh batu Karakter?
- Ini. Lima Karakter. - Pong.
Kenapa kau membuangnya?
Kenapa? Wanita harus saling membantu.
Aku juga berpikir begitu. Tiga Karakter.
Pong.
Kau butuh batu apa sekarang?
Dua Karakter? Empat Karakter?
- Tujuh Karakter? - Pong!
Sembilan batu.
All One Suit atau Mixed One Suit?
Biar kulihat. Mixed One Suit.
Mixed One Suit?
Itu langka. Naga Hijau.
- Mahyong! - Mahyong?
Ini. Hadiah pernikahan untukmu.
Terima kasih.
Datanglah ke pernikahanku.
- Kau lumayan juga. - Tentu.
Batuku kurang.
Itu hukuman untukmu.
Apa itu? Biar kulihat.
Tidak, batu ini milikmu.
Aku yang kekurangan batu.
Tentu saja.
- Mahyong. Menang. Delapan kali lipat. - Hebat!
- Apa yang kau lihat? - Bayarlah.
- Bayarlah. - Aku akan menikah.
Kalian berniat begitu setiap ronde?
Kurang lebih begitu. Bermain spontan saja.
Kami akan melakukan trik lainnya.
No comments yet. Be the first to leave one.