لومړۍ 177 کرښې.
Teman-teman,
tidak ada absen pulang hari ini. Kalian boleh pulang.
- Baiklah. - Baiklah.
Lima, empat, tiga, dua, satu.
Masuk.
Sayang, ayo pulang.
Astaga.
Orang berikutnya akan masuk.
Tiga, dua, satu. Ayo.
Kyung-woo.
Kyung-woo. Sekolah sudah berakhir.
Apa kalian anak anjing?
Seolah-olah kalian terus menunggu sampai pemilik kalian selesai.
Kalian ke sekolah untuk berkencan? Kalian harus belajar.
Kau bahkan tidak belajar.
Setidaknya berkencanlah.
Aku tidak bisa mendengarmu.
Sial.
Aku tidak percaya kita kalah.
Lee Kyung-woo. Apa yang kau lakukan?
Berapa lama kau akan bermain? Aku agak bosan.
Benar. Tunggu.
- Mari bermain satu babak lagi. - Kau bermain lagi?
Biarkan aku memainkan babak terakhir ini, ya?
Posisi kami bagus sekarang.
Baiklah.
Kyung-woo. Tidak ada yang bisa kulakukan. Boleh aku pulang lebih dahulu?
- Kau mau pulang? - Kenapa? Kami baru mulai panas.
Maafkan aku. Jangan cemaskan aku dan bersenang-senanglah.
Ye-seul.
Sial.
Ye-seul.
Aku menang!
Untuk apa?
Aku terus ikut setiap kali pergi ke bioskop dengan Ja-rim.
Tiket sehari ke Lotte World.
Sungguh? Berapa orang? Dua, bukan?
Coba kulihat.
Astaga. Aku bisa bawa sampai tiga orang lagi.
Empat tiket?
Akan sempurna jika kita berempat pergi.
Mau pergi akhir pekan ini?
Apa maksudmu? Kenapa aku harus pergi dengan kalian?
Aku akan pergi dengan Ja-rim.
"Aku akan pergi dengan Ja-rim."
Lantas, seharusnya jangan membahasnya. Kau tidak setia kawan.
Astaga.
Hei, Gang. Bagaimana denganmu?
Mau kencan ganda dengan Bang Ye-seul?
Aku akan menanyakannya.
Karena kini Lee Kyung-woo punya pacar, dia akan segera meninggalkan kita.
Sudah berapa lama kalian bersama?
- Ja-rim dan aku... - Bukan kau.
Aku tidak mau tahu.
Sudah sekitar 20 hari.
Sudah sejauh mana?
Benar. Kita tidak bisa melewatkan ini.
Apa menurut kalian dia sudah bertindak sejauh itu?
- Kau gila. - Hei!
Jangan mengatakan hal itu di tempatku.
Ja-rim juga datang kemari. Itu menjijikkan.
Kami sudah berciuman.
- Kapan? - Di mana?
- Kenapa kalian ingin tahu? - Beri tahu kami.
Astaga, dasar berandal.
Kau menciumnya lebih dahulu?
Dia menciumku lebih dahulu di depan rumahnya.
Astaga, aku iri sekali.
Kapan aku akan punya pacar?
Kau tak akan pernah dapat, Kyung-min.
- Tidak, itu kau. - Itu tidak benar.
- Tidak, kau tidak akan dapat pacar. - Kau juga tidak akan dapat.
- Kau juga. - Tidak, kau juga.
- Kau juga tak akan dapat. - Tidak, kau.
- Kau juga. - Tidak, kau tidak akan dapat.
[Episode 23, Kencan ganda, Lotte World, Ciuman]
[Jika kupikir, aku sudah mengencani Ja-rim selama setengah tahun,]
[Tidak, selama Ja-rim ada di sisiku...]
[Tapi Kyung-woo baru berkencan kurang dari sebulan,]
[Kurasa aku tidak akan bisa tidur.]
Sayang!
Apa yang kau lakukan di sekolah?
Kenapa kau berkata begitu kepada pacarmu?
Jangan bersikap seperti ini di sekolah.
Mau pegang ini saja?
Sayang, semua orang di sekolah tahu kita berkencan,
kenapa kita tak bisa bergandengan?
Aku tidak bisa bilang siapa,
tapi kudengar anak-anak zaman sekarang berciuman
walaupun mereka belum lama berpacaran.
Berandal itu.
Memangnya kenapa? Kau ingin menggosokkan bibir kita?
Ya. Tidak. Tidak.
Kita bisa menggosok tangan dengan penuh cinta saja.
Astaga.
Jangan sentuh aku di sekolah kecuali kau ingin kehilangan tanganmu.
Baiklah.
Lupakan saja. Bukan itu intinya.
Wang Ja. Dia ingin pergi ke Lotte World akhir pekan ini.
Ya. Aku dapat empat tiket,
dan aku setuju kencan ganda dengan mereka berdua.
Apa harus kalian berempat?
Kau lebih suka pergi berduaan.
Ya, tapi saat tahu aku menang, dia ada di sampingku.
Aku tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Itu tampak kikir.
Jadi, kau mau pergi?
Ya... Baiklah.
Asyik!
Baiklah. Aku juga akan menanyainya.
Baiklah.
Sabtu ini? Dengan senang hati.
Itu bagus.
Apa itu benar-benar pedas?
Aku bisa menahannya. Tidak apa-apa.
Astaga. Kau bahkan tidak bisa makan makanan pedas.
Tidak. Ini lezat.
Kau sering bermain gim.
Benar. Aku bermain sesekali.
Kau sering memainkannya saat bersamaku dan kau bermain kemarin juga.
Lihat. Aku tidak bermain sekarang.
Kau sangat suka bermain gim.
Kau akan menguranginya, bukan?
- Buka. - Baiklah.
[Kencan di Lotte World bersama Ja-rim.]
[Ja-rim dan aku bisa bergandengan dan berangkulan.]
[Lalu saat di depan komidi putar,]
[Benar. Kami sudah berkencan selama setengah tahun,]
[jadi, inilah harinya. Inilah harinya...]
Semua wahana populer setidaknya harus menunggu selama 30 menit.
Mau naik komidi putar dahulu?
- Baiklah. - Hei. Kenapa kita naik itu di sini?
Mari kita naik saja. Aku tidak mau menunggu dari awal.
Benar. Kukira kau akan merasa seperti itu,
jadi, kucari yang antreannya lebih pendek. Aku hebat, bukan?
Benar.
Ye-seul, bagaimana denganmu?
Apa? Aku juga suka ide itu.
Mari berfoto.
Baiklah, semuanya selain Lee Kyung-woo tidak keberatan.
Ayo ke komidi putar.
Apa hanya pendapatmu yang penting?
Ayo, Sayang.
Kau tidak ikut?
Ya. Aku hanya menyalakan aplikasi.
Aku akan membantumu.
Pakai sabuk pengamanmu.
Terima kasih.
Terima kasih. Aku akan memotretmu.
Satu, dua, tiga.
Kau cantik sekali. Bisa tersenyum kali ini?
Satu, dua, tiga.
Mari berfoto bersama.
Itu berbahaya. Aku akan bersandar padamu.
- Ini lebih berbahaya bagimu. - Aku baik-baik saja.
Satu, dua, tiga.
[Ada pengumuman untuk semua tamu kami...]
- Mari berfoto juga. - Apa?
[Tolong jangan berdiri saat wahana sedang berjalan.]
Manis sekali.
Lihat kemari. Aku akan memotretmu.
Kenapa? Tak perlu. Biar kufoto kau.
Berfotolah untukku. Aku ingin menjadikannya latar ponselku.
Mari berfoto di sini.
Apa kita di sini untuk berfoto? Kau berfoto ke mana pun kita pergi.
Hei, foto yang kau ambil di sini tahan seumur hidup.
Cepat berdiri di sana.
- Haruskah kita berfoto? - Tidak, jika kau tidak mau...
Tidak, ayo berfoto.
Aku akan memotret.
Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
Astaga.
Apa hasilnya bagus? Coba kulihat.
Hanya aku yang tersenyum. Kau juga harus. Kau tampan saat tersenyum.
Aku merasa canggung hari ini.
Aku juga akan memotret kalian.
Sayang, haruskah kita berfoto sambil berciuman?
No comments yet. Be the first to leave one.