لومړۍ 200 کرښې.
Sial!
UNTUK LIMA TAHUN TERSIKSA #AkuBenciPekerjaanku.
UNTUK LIMA TAHUN KEBAHAGIAAN #AkuCintaPekerjaanku.
Sial!
Kita menjalani kehidupan ganda.
Satu yang kita jalani...
- Selamat malam, Tuan. - Ya, selamat malam.
Bajingan!
Dan satu lagi yang kita citrakan.
Tuan, Anda bekerja sampai larut akhir-akhir ini.
- Aku mencintai pekerjaan ini. - Harus begitu, Tuan.
Brengsek!
Tapi kenapa harus berpura-pura?
Untuk membuat masyarakat terkesan.
Agar masyarakat menganggap kita bahagia, keren, dan sukses.
Jika ingin berkembang di perusahaan ini,
kau harus memastikan targetmu tercapai, paham?
Bahagia, keren, dan sukses, omong kosong!
Ambil contoh pembaruan media sosial.
Neerav Shah berada di ruang tunggu Kelas Bisnis Emirates.
Apa perlunya pembaruan bodoh ini?
Agar semua orang tahu
bahwa Neerav sudah unggul dalam perlombaan hidup.
Lihat ini! "Sarapan di Taj Lands End!"
Biar Mishra dan Shrivastav tahu aku juga makan di hotel bintang lima!
Luar biasa!
"Bepergian dari."
"Terminal Chhatrapati Shivaji Maharaj ke Miami."
Ini baru permulaan.
Dia akan mengunggah foto
selama dia di sana dan membuat semua orang iri.
Kejutan yang manis!
Orak-arik telur buatan suami saat fajar!
Ini foto jarak dekat, menengah, dan luasnya.
Dia tak memberi tahu temannya, tapi menyombong di depan mereka.
"Lihat! Suamiku sangat mencintaiku."
"Cinta..."
Enyah! Sialan!
Orang tua pikir mereka punya mata yang jeli untuk bakat
dan anak-anak mereka sangat hebat.
Inaya juara pertama lomba lari kelereng.
#momen membanggakan.
Setiap orang punya gaya hidup sehat akhir-akhir ini.
Makan soya tikka dengan roti nachani.
Mati saja kau!
Persiapan maraton.
Lari maraton.
Menyelesaikan maraton.
Pergi kau, brengsek!
Aku tak bicara padamu.
Seperti yang kau lihat, semua bahagia, keren, dan sukses.
Ini kebohongan sekaligus kenyataan yang pahit.
Aku punya 1.567 teman di Facebook, tapi hanya 2 di dunia nyata.
Malhotra, alias Mal.
Dan Vaghela, alias Vaghela.
Hanya mereka berdua yang membantuku di setiap masalah.
Belum lagi mereka yang membawa masalah itu padaku!
- Kawan! - Ya!
Terima kasih.
Jadi, bagaimana pekerjaanmu?
Ya, begitulah.
- Bagaimana denganmu? - Sama.
- Dan kau? - Masih sama.
Tapi jika orang lain yang menanyakan hal yang sama...
Hai! Apa kabar, kawan?
Devika.
Aku menyukainya saat kelas lima.
Kami jadi teman akrab saat kelas delapan.
Dan sekarang...
Aku hanya teman Facebook.
Lihat, Devika ada di sini!
Mari kita lihat siapa yang dia bawa.
Arjun si brengsek itu!
Arjun si menyebalkan itu!
Saat kecil, Pythagoras, Einstein, dan Newton tak menyusahkan kita
- sepeti yang dilakukan Arjun. - Bersedia, siap, ya!
Arjun tak pernah selangkah di depan,
tapi satu kilometer di depan kita.
Saat kita bertepuk tangan,
dia memetik gitar.
Kita senang jika dapat nilai 75%.
Dia akan menangis meski dapat 98%.
Kita mengisap loli
selagi keparat itu melahap buku.
Kita berperan sebagai pohon
saat dia menjadi pangeran.
Dan sejak hari itu,
Arjun menjadi standar emas di masyarakat.
Sedangkan kita dikategorikan sebagai barang rongsokan.
Kemarilah.
Dia menuju ke sini.
Aku yakin dia butuh bantuan.
Tenanglah. Devika bersamanya.
Bukan berarti dia ipar kita.
"Devika bersamanya." Brengsek!
Hai, kawan.
Hai, Devika.
Halo, Arjun.
Hai. Bisa minta tolong?
Bisa antar Devika pulang?
Ada rapat mendadak,
kalau tidak, akan kuantar dia dengan Mercedes dan sopirku.
Dia bersamamu, jadi kau yang antar.
Kenapa kami harus meninggalkan miras?
Ayolah!
Tak ada yang memintamu mengantarku sekarang.
Lagipula, siapa yang mau pulang secepat ini?
Lanjutkan saja, kami yang akan antar.
Naik Ola dengan sopir kami!
Aku berutang pada kalian.
- Sam! - Ya, Tuan?
- Sloki! - Baik, Tuan.
Masukkan ke tagihanku.
Tak perlu begitu.
Perlu, Mal.
Ini kesempatanmu minum miras bagus, kawan!
- Apa kau mau mentraktir, kawan? - Mal...
Baiklah, ayo berswafoto.
- Ayo berswafoto. - Swafoto?
Dia brengsek. Abaikan saja.
Bagus!
- Sayang, kirim fotonya via WhatsApp. - Baik.
Dah.
Dah, kawan.
Terima kasih.
- Mari minum satu putaran lagi. - Brengsek.
Dia akan mengunggah ini di Facebook dan pamer
bahwa dia meninggalkan pesta seru demi pekerjaan.
Kau akan pakai bot untuk memberinya suka palsu.
- Benar? - Mal...
Aku tak membantunya. Aku melakukannya untuk selebriti.
Lagipula, ini pekerjaanku.
Tunggu sebentar.
Setidaknya aku tak membuat kode bodoh dan meretas situs porno sepertimu!
- Devika... - Tunggu sebentar.
Apa salahnya?
Ini sudah menjadi norma sejak lama.
Dulu, kita mencari apresiasi dari orang-orang di sekitar kita.
Kini, kita lakukan hal yang sama secara daring di media sosial. Benar?
Kawan, mari minum.
Sudah berapa lama kau kencan dengan Arjun?
Sekitar dua sampai tiga bulan.
Beberapa bulan!
Astaga! Kenapa tak beri tahu Gaurav?
Dia sakit hati.
- Bisa kalian diam? - Diam!
Dengar, Devika.
Apa Arjun pacar keempatmu?
Kelima.
Sial.
Kau bahkan tak masuk lima besar.
- Maaf. - Bisa kau diam dua menit saja?
Apa hanya Arjun pria yang bisa kau temukan di dunia?
Aku tak menikahinya; Kami hanya berkencan.
Dia mengencani orang gila!
Dia sebenarnya tak seburuk itu.
- Benarkah? - Ya.
Maksudku... dia tampan.
Arjun 1, Gaurav 0.
Dia bekerja di perusahaan ternama.
- Arjun 2, Gaurav 0. - Nol.
Gajinya besar.
- Arjun 3 dan Gaurav... - Nol.
Ayahmu takkan menyetujuinya.
Ayah!
Dia menyukainya. Ayah sangat suka!
Dan itu gol bunuh diri.
Arjun di angka 4 dan Gaurav, nol besar!
Hilang ditiup angin.
- Nol kuadrat! - Kawan, aku bisa dengar semuanya. Berhenti.
Memang itu tujuannya, Sayang.
Sial!
- Sial! Kalian keterlaluan! - Tak apa.
- Sobat, kita akan menang lain kali. - Pergilah.
Ceritakan lebih banyak soal Arjun.
Seleranya sangat bagus...
- Arjun sialan! - Berapa harganya?
Apa?
Ya. Arjun 21 dan Gaurav...
- Berapa skor Gaurav? - Nol.
Ongkosnya, bodoh!
Saat hidup tak adil,
kenapa peduli soal ongkos?
Baiklah.
- Dah. - Dah, kawan.
- Sampai jumpa. - Aku juga mencintaimu, Devika.
Persetan, Mal.
Pergilah.
Woi!
Kejarlah dia.
Apa-apaan ini!
Setiap ibu tahu saat putranya habis minum miras.
Dan setiap putra tahu
bahwa ibunya tahu dia habis minum miras.
Tapi mereka berdua bersikap seolah tak terjadi apa pun.
Tolong jangan begadang menungguku.
Jika kau mengkhawatirkanku, pulanglah lebih awal.
Bangunkan aku pagi-pagi. Aku harus ke kantor jam 8 pagi.
Bekerja di hari Minggu juga?
Hubungi bosku dan minta dia
No comments yet. Be the first to leave one.