لومړۍ 196 کرښې.
[Sedikit demi sedikit, dorongan itu bertambah.]
[Dorongan yang terakumulasi dan perkelahian dengan Gugu]
[memandu Fushi untuk mengikuti saran Pioran]
Kudengar ada di sini.
Jadi, monster itu tinggal di sini?
Tapi tidak ada orang di sini.
Menakutkan.
- Muncul! - Monster!
Kita berhasil, Fushi!
[Makin kuat dorongan itu, makin dalam terukir di ingatan seseorang.]
[Seorang anak laki-laki berteman dengan monster.]
Kau melihat mereka?
Wajah mereka lucu!
Gugu!
Tidak kembali? Ke rumah Kakek Sake.
Tidak.
Kau belum dengar?
Kakek Sake memasukkan alkohol ke dalam tubuhku.
Gugu!
Apa? Aku tak bisa bergerak...
Sudah lama aku tidak makan.
Fushi, ada sesuatu?
Tidak.
Begitu rupanya.
Aku berhasil!
Gugu, aku berhasil!
Tunggu. Aku akan buat lagi!
Berhasil! Makanlah!
Ini enak!
Kau bahkan bisa membuat makanan sekarang?
Hebat. Ada lagi?
- Itu saja. - Begitu rupanya.
[Namun, tergantung perkembangan mendatangnya,]
[mungkin akan datang hari saat Fushi mampu]
Aku tidak bisa makan lagi.
Joan?
Myrr! Kau kabur dari rumah lagi?
Joan.
Tidak, Fushi. Ini Myrr.
Ini anjing Rean.
Siapa itu Joan?
Joan...
Seseorang menyebut nama itu saat melihat wajahku.
Kalau begitu, namamu pasti Joan.
Orang tuamu yang memanggilmu begitu?
Entahlah.
Tapi orang itu adalah orang pertamaku.
Mereka menjadi hampa, tidak bisa bergerak,
dan aku menjadi orang itu.
Begitu rupanya.
Jadi, penampilanmu awalnya berasal dari orang lain.
Dan orang itu meninggal.
Meninggal?
Ya. Itu artinya mereka sudah mati.
Kau bisa berubah menjadi gadis kecil, bukan?
Apa dia juga sudah meninggal?
Beruang besar dan serigala itu juga?
Apa itu "mati"?
Kau membicarakan kehampaan.
Tapi begitu itu terjadi, kau tidak akan pernah bisa kembali.
Itulah kematian.
Kau bereaksi terhadap rasa sakit saat menciptakan sesuatu, bukan?
Apa kau juga akan bereaksi terhadap rasa sakit emosional?
Misalnya,
jika aku mati dan kau terluka secara emosional, kau bisa menjadi aku.
Semacam itu, bukan?
Kurasa begitu.
Tapi itu bagus. Luar biasa!
Kenapa?
Meskipun aku mati,
setidaknya kau akan terus memikirkanku, bukan?
Ya.
Aku ini seorang diri.
Jika aku tumbuh di rumah tangga biasa,
akan ada seseorang yang menyiapkan makanan untukku setiap hari,
ada ranjang untuk tidur setiap malam,
ada ibu yang merawatku saat aku sakit,
ada ayah yang menanyakan kabarku setiap hari,
ada kakak perempuan kembar yang usil, tapi mau bermain denganku,
dan ada kakak lelaki yang mengajariku banyak hal.
Jika menjalani hidup yang berisi orang-orang yang akan mengingatku,
tentu saja itu sudah pasti.
Tapi...
Suatu hari, aku menyadarinya.
Ayo, Anak-anak!
Ada kue. Ayo makan bersama.
Hore! Ibu tidak melupakan janji kita!
Kue ceri, bukan? Favoritku!
Tunggu, Gugu.
Tunggu.
Itu peraturannya.
Apa? Kenapa kalian berdua menunggu di sana?
Cepat kemari dan makan kue bersama kami!
Ya. Terima kasih banyak!
Setelah beberapa saat, kami harus pindah jauh
karena pekerjaan ayahku.
Tapi mereka tidak membawa kami.
Kurasa hanya ada kita berdua sekarang.
Baiklah. Ayo cari pekerjaan di tempat lain.
Kukira mereka keluargaku,
tapi mereka hanya majikanku.
Satu-satunya yang sungguh memikirkanku hanya kakakku.
Sejak kami tinggal berdua, dia selalu baik kepadaku.
Tapi sekarang, itu pun sudah berlalu.
Pada akhirnya, aku sendirian.
Tapi sekarang kau di sini.
Maaf atas perbuatanku, Fushi.
Maafkan aku karena telah menyakitimu.
Jika aku mati, jadilah aku, Fushi.
Aku agak mengantuk sekarang.
Kau makan terlalu banyak?
Saat ini, aku sangat bahagia.
Karena kau mencemaskanku.
Kau memikirkanku dan kini kau di sini untukku.
Aku merasa
seperti itulah keluarga seharusnya.
Gugu.
Aku menemukanmu! Sedang apa kau di sini?
Rean?
Aku sudah lama mencarimu!
Bagaimana kau bisa tahu?
Aku dengar suara Myrr.
Myrr suka kabur.
Kenapa kau tidak kembali?
Apa maksudmu, "kenapa aku tidak kembali"?
Aku korban di sini!
Kakek bilang dia sudah bertobat.
Dia akan mengeluarkan benda di perutmu secara cuma-cuma!
Cuma-cuma?
Tentu saja!
Jadi, kita harus kembali.
Ayo, kita pergi.
Tunggu!
Kenapa semua orang ingin aku kembali?
Kenapa?
Karena kami semua membutuhkanmu.
Karena kami menyayangimu!
Benarkah?
Rean juga?
Ya.
Kakek, Nenek, makanan sudah siap!
- Astaga! - Menjijikkan!
Jika kau mau mengeluh, buatlah sendiri!
Tidak.
Aku terlalu malas.
Aku juga tidak mau melakukan ini!
Tapi aku tidak akan kembali.
Aku sudah membuang topengnya.
Itu artinya aku juga membuang rasa kemanusiaanku.
Bukankah itu seharusnya lelucon untuk pelanggan?
Maaf, aku berbohong.
Itu untuk menyembunyikan bekas luka di wajahku.
Maafkan aku. Kau masih menyembunyikannya?
Apa yang kau lakukan?
Tega! Cabul! Jahat!
Kenapa kau menempel ke pohon seperti serangga?
Siapa yang peduli dengan wajahmu?
Itu penting bagiku!
Aku tidak mau wajahku terlihat!
Olehmu...
Meski kau terus memamerkannya?
Fushi, tolong diam sebentar!
Apa? Jadi, kau tidak mau menunjukkannya kepadaku?
Bukan begitu.
Jika kau memakai topeng, bisakah kau berhenti bersikap seperti serangga?
Aku akan mengambilnya. Jadi, katakan di mana kau meninggalkannya.
Di mana aku meninggalkannya?
Gugu!
Apa?
Kau selalu terlihat seolah dadamu sakit
saat bicara dengan Rean.
Apa kau akan merasa lebih baik dengan topeng itu?
Apa?
Apa maksudmu?
Aku akan mencarinya!
Jangan tinggalkan aku!
Orang yang aneh.
Tapi dia sangat baik.
Hei, haruskah kutunjukkan lukaku?
Lukaku cukup parah.
Mungkin kau akan sadar lukamu tak cukup buruk untuk disembunyikan.
Tunggu!
Lihat? Bukankah itu mengerikan?
Tentu saja tidak!
Apa?
Jahat sekali! Aku sangat mengkhawatirkannya!
Dibandingkan lukaku, lukamu seperti upil!
- Kalau begitu, tunjukkan lukamu! - Tidak!
Aku bisa memastikan lukamu sudah hampir sembuh.
Kenapa kau mencemaskannya? Bodoh!
Reaksi yang berlebihan itu ada batasnya!
Apa?
Kau mengatakan hal yang sama seperti orang tuaku.
Astaga. Maafkan aku.
Apa hubungan dengan orang tuamu buruk?
Tidak masalah seperti apa hidupku.
No comments yet. Be the first to leave one.