لومړۍ 200 کرښې.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Monako,
lebih dikenal sebagai Herkules Monoikos,
adalah negara merdeka yang berdaulat.
Dibangun di sekitar pelabuhan nelayan kecil ,
dan terkenal akan kerajinan lokalnya.
Rakyat Monako telah mempertahankan nilai keaslian dan kesederhanaannya.
Hai, Sobat! Kita berbelanja lagi.
Tempat berikutnya, di Gucci!
Jean-Charles, tadi aku bilang, "Gucci."
Kita sampai.
Monako, pemandangan indah ini, rasa memiliki masyarakatnya,
tempat orang berkumpul untuk menikmati kesenangan sederhana,
berbagi momen-momen menyenangkan…
Di mana dia?
…dan solidaritas.
Generasi mudanya mempertahankan tradisi setempat ,
menyeimbangkan gaya hidup aktif dan sehat dengan selera bisnis yang baik.
Masih kurang lima euro.
Masih kurang… Kau tahu bagaimana keadaan sopir taksi?
Makanya kalian pasti akan terkejut.
Para pemuda sering terlihat pada pagi buta
setelah bekerja semalaman.
Di mana perahu Ayah?
Perahu?
Apa pintunya terbuka sendiri?
Aku mau pesan espreso hangat
dan jus guava segar dengan sejumput jahe.
Monako.
Surga kecil yang menawan
bagi mereka yang ingin menikmati hidup dan memanjakan diri.
…akhirnya diresmikan.
Dikelola oleh salah satu pengusaha hebat di wilayah kita yang indah,
Francis Bartek.
Kami potret ya. Lihat ke sini.
- Pak Bartek? - Pak Bartek? Terima kasih.
Kau gelisah karena acara nanti malam.
Kenapa harus gelisah karena ulang tahun?
Tahun lalu, Stella hampir mencekik petugas katering.
Ya, tapi…
Itu karena warna temanya putih, dan si bodoh itu menyajikan sampanye ros.
Benar, bila kau melihatnya begitu…
Dengar, Ferruccio. Kau punya anak dulu, baru kita bicara.
Untunglah aku menghindarinya.
Itu sangat tak adil. Stella banyak berubah dalam setahun.
Dia sudah dewasa.
Bukan ini yang aku minta.
Jelek sekali. Lihatlah aku.
Aku tak pernah minta model begini!
Dasar penata rambut bodoh!
Juan Carlos, Sayang!
Juan Carlos!
- Sayang, ini mengerikan! - Ada apa, Sayang?
Lihat pekerjaan penata rambut itu. Aku jadi berantakan.
Apa? Kau tampak cantik.
Pipiku jadi terlihat tembam. Jelek sekali.
Aku bermeditasi.
- Beri aku dua menit. - Maaf, Sayang.
Maaf.
Sial.
Aku harus menenangkan diri.
Aku hampir stres.
Halo, Ayah, Ayah Baptis. Boleh aku bicara?
- Cepatlah. Ayah ada rapat. - Pasti. Jangan khawatir.
- Aku punya ide abad ini. - Lagi?
- Kenapa dia cuma pakai kaus kaki? - Entahlah.
Baiklah. Apa hal terburuk saat kau membeli sepatu baru?
- Yang mengacaukan hidupmu. Ayah? - Entahlah.
Kakimu akan sakit.
Sepatu seharga 800 euro itu akan menyakiti kakimu.
Selama seminggu kau menyesuaikannya dan jalan tertatih-tatih,
kaki akan melepuh. Terkadang di tumit, jari kaki.
Itu mimpi buruk.
Aku punya solusi.
Victor, silakan.
BILA SEPATUNYA PAS
"Bila Sepatunya Pas."
Akan kujelaskan. Ini agak abstrak.
Lihatlah, aku tak pakai sepatu.
Kenapa?
Karena Victor memakai sepatuku.
Dia akan memaksa memakainya selama seminggu.
Sudah kupikirkan semuanya. Kita sewa hanggar berkarpet,
mempekerjakan orang yang memakai sepatu selama seminggu.
Ayo, peragakan. Jalan. Lihat?
Dia menyesuaikannya. Dengar suara regangan kulit sepatu?
Saat pelanggan kembali, "Di mana sepatuku?"
"Tidak."
"Sepatumu sudah tak ada. Sudah jadi sandal."
Ayo pergi! Bahama, mojito, caipirinha…
- Ini menarik. - Menarik?
Menyenangkan! Kenapa berhenti?
Misalnya, sempak baru bisa menimbulkan luka lecet di pangkal paha.
Di sini? Aku juga mengalaminya. Kita bisa melakukannya.
Pria lain bisa memakai sempakmu…
Bila sempak pas. Ini tak terpikirkan olehku!
Juga, misalnya, saat kau membuka jendela lebar-lebar,
kau mengambil uang dan melemparnya begitu saja.
Tak bisa begitu.
Kau tak memahami proposalku.
- Ayah? - Tak ada yang perlu dikatakan?
Ayolah, Ayah!
Ini pasar yang tak terbatas! Kita semua punya kaki! Di semua negara!
Ayah kenal orang tanpa kaki? Tidak.
Ayah akan pertimbangkan.
Sementara itu, ada pekerjaan untukmu.
Antar dokumen ini ke Avignon. Cari Pak Noai.
Bilang kau putraku. Dia akan senang berkenalan.
Kau serahkan langsung, ya?
- Aku tak yakin. Perlihatkan. - Tentu. Begini.
- Lihat? - Sekali lagi. Aku tak yakin.
Sial, ini sulit sekali.
Ayah tak mengerti.
Alih-alih menjadi bos sepatu, aku menjadi kurir.
Dengar, Philippe.
Kau akan mewarisi bisnis ini.
Mulailah mempelajari cara kerjanya dengan melakukan tugas semacam ini.
Baiklah.
Kau juga harus hadir di pesta ulang tahun adikmu malam ini.
Baiklah, Ayah.
Pak Philippe? Sepatumu boleh kulepas? Kakiku sakit. Ukurannya salah.
Jangan mengeluh. Cara berjalanmu salah.
Jika benar, itu tak akan terasa sakit.
- Kuharap kau tak akan mendanainya. - Tentu saja tidak.
Haruskah kuingatkan berapa biaya kita untuk ide-idenya?
Sempak ber-AC, cerutu vape.
Aku tahu aku memanjakan mereka. Aku harus lebih tegas.
Mereka butuh waktu. Mereka kehilangan ibu.
Dia meninggal 15 tahun lalu.
Rasanya seperti baru kemarin.
Aku bisa bersikap keras. Lihat Alexandre.
Kubilang aku akan menghajarnya jika dia bolos kuliah.
Alex…
- Jam berapa kelas Virginie selesai? - Entahlah. Kenapa?
Ada tenggat untuk tugasku. Aku mau tahu apa dia sudah membantuku.
Jadi, putriku mengerjakannya selagi kau meniduri ibunya?
Aku tak bisa ada di dua tempat sekaligus.
Kau pantas dihajar!
Bah. Mobil sampah macam apa ini?
Celanamu bisa kotor.
- Monako tak sama seperti dulu lagi. - Benar.
Dia parkir di sebelah mobilku tanpa rasa malu.
Jangan sampai menyerempet mobil rongsokannya.
Dia suka konsep "Bila Sepatunya Pas"?
Kau bercanda, ya? Dia amat menyukainya!
Ayo berpesta!
Stella
Stella
Aku rindu melihat matahari terbit di Pampas.
Mengambil gitarku dan bernyanyi bersama gaucho semalaman.
Namun, sembari menatap gelas sampanye ini,
aku merasa pasrah saat meninggalkan tanah kelahiranku
meski masih ada sedikit kesenangan.
Yang paling penting adalah kehadiranmu dalam hidupku, Stella.
- Betapa indahnya. - Maaf. Aku jadi emosional.
Mereka amat lambat. Tak kusangka.
Stella
Kenapa kau pergi begitu saja?
Ada yang lihat jus jeruk bali?
Kupesan sepuluh menit lalu. Kenapa belum datang?
Maaf, Bu.
Haruskah kucatat? Sepertinya ini rumit bagimu.
Tak ada yang berubah.
Matthias? Sedang apa di sini?
Bibiku ingin aku membantu.
Aku senang melihatmu.
Tentu untuk melayanimu semalaman.
Jus jeruk balimu, Bu.
Terima kasih.
Minumlah atau vitaminnya akan hilang.
- Omong-omong, selamat ulang tahun. - Terima kasih.
Sayang?
Aku datang. Permisi.
Kau mengenalnya?
- Siapa pria itu? - Dia cuma pelayan.
Baiklah. Ayo sajikan sampanye ini.
Dua puluh empat.
Stella kecil berusia 24 tahun hari ini. Tidak disangka, ya?
Ingat saat dia lahir?
Tentu saja kau ingat.
Aku sering ragu apa aku bisa membesarkan mereka.
Bagaimana menurutmu?
Apa dia menjawab?
Saat aku bicara dengan mendiang suamiku
dan bilang kau memberiku kenaikan gaji, kurasa aku melihatnya tersenyum.
Aku amat merindukannya.
Aku bisa masuk jika kau mau.
Masuk? Maksudmu?
Kau butuh istri baru.
Kau bukan tipeku, tapi sebaiknya aku menikah dengan pria kaya
daripada melayani pria depresi.
Aku tidak depresi.
Baiklah, Marguerite. Philippe sudah datang?
- Biar aku lihat. - Baiklah.
Aku tidak depresi.
Apa aku depresi?
Sampanye!
Sampanye!
Sampanye!
Sampanye!
No comments yet. Be the first to leave one.