لومړۍ 143 کرښې.
["Moga Bunda Disayang Allah" oleh Melly Goeslaw]
Manusia .
Sosok yang selalu meminta.
Sosok yang selalu memohon.
Sosok yang selalu bertanya.
Ya, Allah.
Apakah harapan itu ada?
Jika ya…
terlalu mulukkah kami mengharapkannya?
Kak Karang, ayo!
Ya Allah…
Ayo!
- Apakah keajaiban itu ada? - Jalan, ya?
Jika ya…
akankah Engkau berbaik hati memberikannya?
Bagus, bukan? Ayo, Nak.
Ke sini!
Tasnya berikan kepada Kakak. Dia akan menyimpan di atas.
- Taruh di situ. - Ya Allah.
Apakah hidup itu adil?
Jika ya…
di mana letak keadilan-Mu?
Tak lelah kami berharap…
suatu saat, keajaiban dan keadilan itu datang.
Suatu saat, janji-Mu pasti akan tiba.
Kau sendiri yang menggurat kalimat indah itu dalam kitab suci.
Di balik kesulitan,
pasti ada kemudahan.
Tapi bagaimana jika harapan itu bagai kabut yang digantang matahari meninggi?
Menguap…
bagai sisa-sisa air dalam ember bocor.
Menghilang…
Lelah sekali ditunggu,
meski hanya untuk menyisakan sedikit asa.
Hingga kita membenci harapan-harapan itu
karena seluruh sisa pengharapan sepertinya akan berakhir sia-sia.
Kak Karang.
Kamu sedang melihat apa?
Qintan sedang berpikir, Kak Karang.
Kenapa sore begini, langitnya sudah gelap sekali?
Padahal, saat wisata air tadi, sangat cerah.
Itu namanya mendung. Mau hujan. Yuk, masuk.
Memang jika hujan akan turun, langit selalu menjadi gelap?
Mendung selalu gelap karena awan berisi uap air.
Jika uap airnya sudah terlalu banyak, sinar matahari tidak bisa menembus.
Jadi, langitnya gelap. Yuk, ke dalam.
Tidak apa-apa. Hujannya pasti berhenti sebentar lagi.
- Kurangi kecepatan! - Mengurangi kecepatan!
- -
Ayo, kiri! Sepuluh ke kiri!
Sepuluh ke kiri!
Qintan tetap di sini, ya?
Kak Karang berjanji,
tidak akan terjadi apa pun kepadamu. Ya?
Pelampung! Ambil pelampung di bawah!
Tolong, Kakak!
Berpegangan! Berpegangan erat!
Bawa dia. Pandu dia.
Kak Karang, tolong kami! Tolong, Kak! Kami tak bisa…
Tolong kami, Kak!
Qintan!
- -
Tolong!
Qintan.
Bertahan, Sayang.
Qintan takut, Kak Karang.
Ya Allah, aku mohon.
Bertahan, Qintan.
Cahaya…
Aku melihat cahaya…
Jangan, Sayang. Jangan pergi. Kak Karang mohon.
Ada Ayah, Kak Karang…
Qintan!
- Mama dan Papa datang… - Qintan!
Malaikat, Kak Karang…
MUHAMMAD, ALLAH
MUHAMMAD, ALLAH
Airnya sudah cukup.
- Pelan-pelan, Sayang. - Melati, makan yang baik, ya?
Biarkan dia. Melati tidak suka disentuh jika sedang makan.
Aduh! Melati, sakit!
Aduh, Melati! Lepaskan!
- Sakit! Lepaskan, Melati! - Melati.
Nak.
Sayang.
- - Melati, diam.
Dua hari terakhir ini perkembangannya cukup baik.
Melati sudah bisa lebih tenang.
Berbeda dengan sebelumnya, dia bisa lebih menurut.
Alhamdulillah.
Dengan begini, kami rasa akan lebih mudah bagi kami…
Melati, jangan!
Hei! Lepas!
Lepas, Melati!
- Lepas! -
Anak itu tidak butuh dokter, Nyonya,
tapi butuh rumah sakit jiwa.
Dasar anak liar!
Sebelum semuanya terlambat,
anak itu harus dibawa ke unit konservasi kejiwaan, Tuan HK.
Melati tidak gila.
Melati tidak gila.
Melati sekarang tidak gila, Nyonya.
Tapi dengan keterbatasan ini, suatu saat, pasti itu yang akan membuatnya gila.
Anak ini butuh terapi yang komprehensif.
- Melati tidak gila. - Maafkan kami, Nyonya.
Melati tidak gila!
Hanya orang gila yang bisa menggigit jari orang lain sampai putus, Nyonya!
Kami permisi.
- Ibu! Melati! Ibu! - Melati!
Ibu!
Jangan!
Tenang!
Kemari, Sayang.
Sudah…
Ayah sedang di Tiongkok. Ada pertemuan di prefektur Han Jin.
Jadi, hari ini, aku menggantikan Ayah. Bunda tidak apa-apa, bukan?
- Kapan Kinasih tiba? - Sepekan yang lalu.
Sebenarnya, dua hari yang lalu, Kinasih sudah mau menjenguk,
tapi masih ada urusan yang harus dibereskan.
Mengurus izin praktik.
Kinasih sangat merindukan Bunda, Melati, dan Tuan HK.
Makin hari, Melati makin tidak terkendali.
Sampai dia nyaris membahayakan dirinya sendiri.
Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mencari jalan, tapi… Ya Allah…
Semuanya sia-sia.
Suatu saat, Kinasih yakin
Melati akan bisa memanggil "Bunda" dengan utuh.
Memeluk, dan menyatakan cintanya pada Bunda dengan sempurna.
Terima kasih, Nak. Kamu gadis yang baik.
Semoga Allah memberikan jodoh yang baik untukmu.
Bunda, kalau Bunda tak keberatan,
ada seseorang yang mungkin bisa membantu Melati.
Dahulu, Kinasih sering menjadi sukarelawan di taman bacaannya saat libur kuliah.
Dia seseorang yang sangat dekat dengan anak-anak.
Kehadirannya selalu membuat anak-anak ceria.
Sudah pulang, Nak?
Karang, sebentar.
Ada surat lagi untukmu.
Sudah tujuh surat dikirim ke sini.
Kamu tidak pernah membacanya?
Qintan.
Ada yang mau bertemu.
No comments yet. Be the first to leave one.