لومړۍ 200 کرښې.
Berikan uangnya…
Nama?
Steve Harmon.
Usia?
Tujuh belas.
Afiliasi geng?
Aku tak terlibat geng mana pun.
Tidak ada.
Kamu pernah dipenjara?
Tidak.
Penyakitmu apa saja?
AIDS?
- Kamu mengidap AIDS? - Aku tidak mengidap AIDS.
Kosongkan sakumu.
Apa orang tuaku di sini?
Nak, orang tuamu tak di sini.
Apa aku perlu memanggil pengacara?
Kamu harus diam.
Boleh ibuku kutelep…
Monster tak menangis dalam gelap.
Itu yang seharusnya kukatakan padanya saat dia melihat, menyebut kami monster.
Tak berguna. Kuhabisi kamu!
Kita selesaikan nanti!
Ayo jika kamu berani, Pengecut! Hadapi aku!
Seharusnya kuberitahu dia bahwa sejak aku dibawa dari rumahku…
satu-satunya pemberian kegelapan
adalah rasa gigil gemetar yang mengingatkan bahwa aku masih hidup.
Dan itu hal paling menakutkan di dunia bagiku…
menyadari aku masih hidup.
Menyadari aku masih hidup dan tidak bermimpi.
Semuanya tenang dan hening pada malam hari,
jadi aku bisa mendengar suara jantung di dadaku.
Saat aku menatap diriku di cermin,
saat kudengar teriakan dari sel ketiga di sebelah
yang berteriak setiap malam pada waktu yang sama…
Kamu tak bisa apa-apa! Diam!
Tarik tenggorokan si bodoh itu!
Monster tak akan balas berteriak.
Mereka tak bisa.
Aku bisa.
Aku berteriak.
Dalam cahaya, saat siang hari,
terasa seperti film.
Inilah filmnya.
Ceritaku.
Ditulis, disutradarai, dan dibintangi Steve Harmon.
Interior, ruang tunggu, siang hari.
Steve Harmon duduk di depan pengacaranya.
Semua berkas itu, untuk semua yang kamu wakili?
Hanya sebagian.
Berapa banyak yang bilang mereka tak bersalah?
Semuanya.
Boleh aku bicara? Aku…
Aku merasa tak enak badan.
Kamu demam?
Tidak, hanya… Boleh kututup mataku sebentar?
Ya.
Mau jaketku?
Tidak, aku tak apa.
Aku tak bersalah.
Bagus.
Seharusnya, "Aku tak melakukannya".
Aku tak melakukannya.
Kamu percaya?
Tak penting apa yang kupercaya. Aku akan melakukan tugasku.
Punya waktu sebentar?
Oke.
Jadi, siap mempertimbangkan tawaranku?
Jangan mengabaikannya, Maureen.
Aku tahu pekerjaanmu sangat banyak, dan aku pulang jam enam malam,
jadi, ringankan beban kita.
Usianya baru 17.
Lalu? Karena dia pembunuhan terjadi, jika kamu ngotot, akan kujebloskan dia.
- Bukan dia pelakunya. - Apa maksudmu?
Ada rekaman kamera, saksi yang memergokinya.
- Saksimu. - Wanita tua itu saksiku, oke?
Dia sangat kredibel.
Terima tawarannya. Kamu menyia-nyiakan waktu dan uang semua orang.
Dua puluh tahun? Dia anak yang baik.
Aku tak pernah bermasalah sebelumnya. Orang tuanya hebat.
Dia bukan kriminal seperti dugaanmu.
Dia tampak seperti kriminal.
Bagaimana lima sampai tujuh tahun saja?
Terima tawarannya, sudah kubilang.
Interior, ruang sidang.
Fluoresens menerangi hitam dan putih yang menghilangkan warna abu-abu.
Tak ada ruang bagi abu-abu di pengadilan.
TUDUHAN KETERLIBATAN DALAM PERAMPOKAN DAN PEMBUNUHAN
Sebelumnya, di Harlem, saat malam hari.
Paham maksudku?
Aku bisa saja ke jalan 145 dan belok kanan.
Rumahku di sana.
Hoi… Lihat ke mana kamu jalan, Bung!
- Maaf. - Halo, Bung.
Kenapa orang ini?
- Bagaimana kabarmu, Nak? - Maaf.
Bukankah kamu tinggal dekat sini?
Rileks, Bung.
Siapa namamu? Scott, Sam atau…
Steve.
- Steve. - Ya.
Steve.
Kamu baik-baik saja?
Aku berusaha.
Semua berdiri.
Yang Mulia Lionel James memimpin sidang.
- Pagi, Semuanya. - Pagi.
Pagi.
Silakan duduk.
Jaksa siap?
Ya, Yang Mulia.
Pembela?
Siap, Yang Mulia.
- "Kita Percaya Pada Tuhan". - Siap, Pak.
Jika ada pertanyaan, tulislah.
Akan kucoba menjawabnya saat ada kesempatan.
Bagaimana akhir pekan kalian?
Hebat. Aku pesan makanan Thailand
dan menonton serial Downton Abbey.
Adik perempuanku menikah.
Ingat, tugas kita adalah memanusiakanmu di mata juri.
Ada yang belum menikah?
- Tinggal sedikit, Yang Mulia. - O'Brien?
Aku bersama keluarga, Yang Mulia.
Bagus.
Mari kita mulai.
Panggil juri.
Juri memasuki ruangan.
Beragam usia, ras.
Aneka ragam manusia dengan tatapan mata tanpa emosi.
Kosong.
Karena itukah mereka menghindar saat kami saling menatap?
Mereka seperti orang yang tak menonton berita.
Apa aku dianggap manusia?
…pendanaan untuk komunitas kecil ini.
Ya, tentu. Tak masalah. Kutemui kamu di sana nanti.
Ya. Oke. Baiklah.
He, ini bagus, Jer. Aku suka tendanya.
Ya.
Bagus. Kapan kamu selesaikan?
Dua menit lalu.
Daftarkan kami saat kamu tiba.
Baiklah. Terima kasih, bagus. Baik.
Bisa minta selainya?
- Baiklah, sampai nanti, ya? - Dah.
Terima kasih.
Kamu sudah siap untuk tesmu, 'kan?
- Siap? - Aku belajar.
- Kamu belajar. - Kapan aku pakai kalkulus?
- Jangan anggap remeh tesnya, paham? - Ya.
Kamu siswa SMA, semua nilai penting, oke? Universitas sudah di depan mata, Sayang.
Ya, baiklah.
- Baik? - Dah, Ibu.
Baik. Hei, kamu jaga Jerry malam ini, ada acara kurikulum.
Bisa ingatkan ayahmu?
Baiklah.
Hei!
Kita akan bermain-main malam ini.
Jangan pergi ke taman.
Ya.
Ada dua puluh dolar di laci teratas.
Pagi.
Sedang mengerjakan apa?
Iklan perusahaan asuransi.
- Ya? - Ya. Kamu suka?
Ya, aku suka.
Kamu tahu rasanya di sini dan di sini?
Ya, tepat.
Kamu tahu kenapa begitu, bukan?
- Tidak. - Rasio emas?
- Tidak. - Sudah kubilang. Belum, ya?
- Kurasa belum. - Oh, oke.
Ini juga bisa digunakan saat syuting.
Rumus yang menyatakan bahwa ada simetri yang memuaskan
saat membuat ruang yang berisi dua kotak dan persegi panjang.
Dan di dalam persegi panjang, dua kotak dan persegi panjang.
Jika kamu merencanakannya, akan ada lingkaran bak di alam.
Seperti kerang.
Ya, moluska.
Ya. Itu juga ada di piramida, Perjamuan Terakhir da Vinci…
Kenapa aku sekolah padahal aku bisa bicara denganmu?
Karena aku mencintaimu,
tapi jika tak mau sekolah, kamu masih bisa kuberi pelajaran.
- Ya? Kamu dan aku? - Ya. Dor.
- Mau apa? - Mau apa?
Apa yang akan kamu lakukan?
Baik. Aku harus pergi, oke?
Baiklah. Kemarilah.
- Oke? - Ya, pergilah.
Ada acara kurikulum malam ini.
Ah, sungguh beruntung.
Ya.
- Hei, lakukan tes itu dengan baik. - Ya.
Pernyataan pembukaan. Lebih tepatnya monolog.
Persiapan
- sampai pembukaan… - Hadirin sekalian…
sampai kesimpulan.
namaku Anthony Petrocelli,
Asisten Jaksa Wilayah New York,
dan dalam hal ini aku mewakili rakyat New York.
No comments yet. Be the first to leave one.