لومړۍ 200 کرښې.
=Episode 2=-
Turun.
Ini, dari mana kau dapatkan?
Dari mana kau dapatkan--
Hei, Amnesia. Hei!
Kau apakan jepit rambutku?
Dari mana kau dapatkan itu?
Ini milikku.
Tidak mungkin. Dari mana kau dapatkan?
Aku sudah memakainya ketika aku meninggal.
Kalau begitu, maksudmu kau sudah memilikinya sejak kau masih hidup?
Tentu saja, karena ini milikku.
Kalau begitu, mungkinkah dia mengenal ibuku?
Tapi, sekarang dia tidak mengingat apapun.
Bagaimanapun juga, terima kasih atas pertolonganmu barusan.
Jika ada kesempatan, aku pasti akan membalas kebaikanmu.
Hati-hati.
Aku akan membantumu!
Jika aku bisa membantu mengembalikan ingatannya,
mungkin saja aku bisa mengetahui sesuatu tentang ibuku.
Aku akan membantumu. Mencari tahu siapa namamu, dan juga dari mana asalmu.
Benarkah? Sungguh?
Kenapa kau berubah pikiran?
Sepertinya aku tidak salah.
Kau benar-benar lebih pemberani dibanding yang lainnya.
Dan juga, kau seorang yang sangat murah hati.
Penilaianku terhadap orang benar-benar bagus.
Benar, kan?
Kau lebih pemberani daripada yang lainnya.
Dan juga sangat murah hati.
Bagian pertama kalimatmu mungkin benar,
tapi kalimat selanjutnya sama sekali tidak benar.
Tidak. Aku benar.
Dari luar kau memang terlihat kasar,
tapi hatimu sangat baik, Tuan muda.
Berhentilah mengatakan hal-hal yang bukan jati diriku.
Yang kukatakan memang benar.
Aku sangat baik dalam menilai orang.
Jika kau sudah meninggal kenapa kau tidak pergi ke alammu saja?
Untuk apa kau tetap menderita di sini?
Jangan sembarangan bicara sebelum kau sendiri merasakan kematian.
Aku punya alasan yang kuat atas apapun yang kukerjakan.
Mencari tahu nama dan dari mana asalmu,
bagimu juga merupakan alasan yang kuat?
Tentu saja.
Sebagaimana kau ingin menemukan ibumu.
Kau tahu betapa frustrasinya orang yang tidak mengetahui identitasnya?
Pepatah mengatakan, "ketidaktahuan adalah kebahagiaan".
Bagaimana jika setelah diketahui, ternyata kau adalah orang yang mengerikan?
Tetap saja lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.
Itu adalah kesimpulan yang kubuat setelah mengembara selama tiga tahun.
Kudengar mereka semua memanggilmu Arang.
Aku tidak akan memanggilmu dengan nama itu.
"Amnesia".
Panggil saja sesuka hatimu.
Kita bukannya akan menjalin hubungan yang mengharuskan kita memanggil nama satu sama lain.
Tentu saja bukan.
Kenapa kau berdiri di situ dengan tatapan hampa?
Kau memikirkan adik perempuanmu?
Bukan.
Terkadang nasib ibarat anglo tanpa api, atau ibarat menantu laki-laki tanpa anak perempuan.
Karena kau sudah menjadi utusan Tuhan,
kau harus memutus semua jalinan dari kehidupanmu sebelumnya.
Tapi, kau bisa menangkap yang melarikan diri itu?
Belum. Mohon ampuni aku.
Kau tidak berhasil menangkapnya?
Oh, Yama!
Keterlaluan. Aku benar-benar tidak habis pikir.
Waktu itu, kenapa tali merah-nya bisa lepas?
Dia akan datang atas kemauannya sendiri.
Bibit takdir yang kutanam telah bertunas,
dan sekarang sudah saatnya memekarkan bunganya.
Beginilah takdir.
Berputar-putar di pusarannya. Dan pada suatu saat...
semuanya kembali ke posisi awalnya.
Kenapa... selalu ada kebimbangan di dalam hatiku?
Ke mana sebenarnya dia pergi?
Tuan muda!
Ayo kita kembali ke kantor.
Apa?
Untuk apa kita ke sana?
Aku akan menjadi Hakim.
Apa?
Ap... apa yang kau lakukan?
Kemarin kepalamu terbentur sesuatu?
Kenapa?
Aku hanya ingin menjadi Hakim.
Bukan untuk waktu yang lama.
Ini semua karena ketiga orang tua itu!
Hei. Hei! Hei!
Aneh, kenapa dia masih hidup?
Kalau begitu, berarti bukan hantu yang menyebabkan kematian sebelumnya?
Bagaimanapun juga, bukankah semuanya sudah berjalan dengan baik?
"Kepada Yang Mulia, yang tentunya merasa sangat khawatir atas keadaan Miryang."
"Kami sudah menunjuk dan menempatkan seorang Hakim."
"Akan tetapi, tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba dia meninggalkan Miryang."
"Ini merupakan tindakan tidak terpuji terhadap Yang Mulia,
"dan juga merupakan penghinaan terhadap Keluarga Kerajaan dan negara..."
Bagaimana?
"Merupakan penghinaan terhadap Keluarga Kerajaan dan negara"?
Menurutku sudah tepat.
Bukankah kalimat itu yang paling sering digunakan?
Benar sekali.
"Kenyataan bahwa dia mengabaikan Miryang, wilayah kekuasaan Yang Mulia--"
Meskipun kita bertiga diabaikan ribuan kali...
Hei, kalian tiga orang tua bodoh!
Dasar orang tua bodoh!
Apa yang kalian lakukan terhadap Tuan mudaku?
Lepaskan tanganmu lalu kita bicara baik-baik!
Tidak ada maaf untuk kalian!
Hentikan!
Bagaimana kita menyikapi hal ini?
Rencana kita tampaknya telah menjadi bumerang.
Dia adalah putra Tuan Gim Eun Bul.
Kita tidak akan bisa menyentuhnya.
Mungkin saja itu tidak benar.
Aku sudah bertanya ke mana-mana.
Ada juga orang tua bernama Gim Heungbu yang kerjanya merawat kaki burung gereja. (Dongeng Korea)
Jangan-jangan dia putranya.
Menurutku tidak mungkin.
Mungkin saja ini hal yang baik.
Jika posisi hakim kosong, pengadilan akan terus-menerus meminta kita memilih hakim.
Pada akhirnya, Tuan Choe pasti akan ditekan.
Dan yang mengalami dampak buruknya adalah kita.
Bagus juga jika kita bisa memanfaatkannya sebagai tameng.
Memangnya dia cukup layak untuk dijadikan tameng?
Lihat, dia terus-menerus berubah pikiran.
Tentu saja dia layak.
Hanya saja, kita tetap harus memantaunya beberapa hari ini.
Kita lihat seperti apa kepribadiannya.
Kuharap dia adalah orang yang bisa menoleransi seperti apapun bentuk ketidakadilan.
- Aku juga. - Aku juga.
Ngomong-ngomong, siapa yang akan melapor kepada Tuan Choe?
Siapa, ya?
Yah...
Kenapa kalian mengambil keputusan sendiri untuk persoalan yang sangat besar ini?
Ma... maafkan aku.
Ada perintah dari kerajaan untuk mengisi posisi itu.
Walaupun mereka melakukan hal yang bodoh,
tapi bukan suatu yang buruk, Tuanku.
Ya! Ya!
Kami juga berpikiran yang sama,
dan memilih orang yang tepat.
Hanya saja... cukup mengkhawatirkan karena dia adalah putra Tuan Gim Eun Bul.
Tuan Gim Eun Bul saat ini sudah pensiun dan mengajar murid-murid di kota kelahirannya.
Tapi dia masih memiliki kekuatan.
Lebih jauh lagi, karena dialah
Tuanku turun jabatan dan dikirim kembali ke sini, Tuanku.
Tuan Gim Eun Bul. Tapi, memangnya dia punya anak laki-laki?
Apa yang dilakukannya sekarang?
Ada... wanita...
Wanita?
Jangan bergerak!
Sudah selesai.
Bagus sekali. Luar biasa.
Memangnya... wajahku seperti itu?
Tidak.
Salah... alisnya terlalu panjang!
Bukan-bukan... Bukan begitu. Coba lukis lagi.
Setelah melukis wajah seorang wanita sepanjang hari,
dia membawa masuk seorang pelukis potret.
Melukis wajah wanita. Kenapa?
Aku juga tidak tahu.
Apa sebenarnya yang kalian kerjakan?
Amati terus dan laporkan padaku semua gerak-geriknya!
Baik... baik.
Berikan padaku!
Apa gunanya menempelkan ini kalau tidak ada orang yang bisa mengenalinya.
Di mana kau meninggal? Mungkin kita bisa pergi ke sana.
Pasti ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Tempatku meninggal?
Aku tidak tahu.
Apa? Bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana kau meninggal?
Aku kehilangan ingatanku. Sudah berapa kali kukatakan padamu!
Kau bilang kau terbangun setelah meninggal tanpa memiliki ingatan.
Lalu di mana tempatmu terbangun?
Aku terbangun di jalan. Di jalan. Jalan menuju alam baka!
Sudah kubilang ketika aku terbangun sambil berjalan aku sedang mengikuti pencabut nyawa!
Kau mendengarkan kata-kataku dengan kakimu, ya?
Memang kau ini. Dari kepala sampai kaki tidak ada isinya sama sekali.
Begitulah.
Tapi setidaknya aku mengingat dua hal.
Benarkah?
Bagus. Apa itu?
Pertama...
Sudah tiga tahun aku menjadi hantu pengembara yang tidak memiliki ingatan.
Mengesankan.
Selanjutnya.
Yang kedua...
Kadang-kadang di sini terasa sakit seolah-olah aku ditikam.
Mungkinkah aku meninggal karena ditikam?
Hei. Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini? Kenapa?
Kau bilang dengan menempel lukisan wajahku akan menyelesaikan masalah!
Berkas kasus pembunuhan?
Pertama-tama, di antara kasus pembunuhan yang tidak terungkap selama tiga tahun ini,
bawakan padaku kasus pembunuhan terhadap wanita.
Ke... kenapa?
Kalian tidak perlu tahu.
Bawakan saja yang kuminta.
Tapi, kenapa dia meminta berkas?
No comments yet. Be the first to leave one.