Narappa

Narappa (నారప్ప)

د Indonesian ژباړه ډاونلوډ کړئ

د خپرونې معلومات

Narappa 2021 id
د لخوا تبصره sawoeng_k4mpoeng03

تګونه

other
په خپور شو: 2021-07-31
ډاونلوډونه: 54
د اوریدلو معیوبیت: No

د Indonesian سرليکونو مخکتنه

لومړۍ 200 کرښې.

Ayo…

Ayo, Nak!

Perhatikan langkahmu. Jangan sampai tertusuk batu.

Tetap berjalan di belakangku.

Ayah!

Ayah!

Aku tak bisa berjalan melalui air ini lagi.

Selain itu, bomnya akan basah.

Kenapa kau membawanya? Aku bilang jangan.

Aku memang meninggalkan mereka.

Tapi ketika kau bicara dengan paman, ibu memintaku menggendongnya.

Ibumu!

Mungkin dia mengira suaminya yang pecandu alkohol tak bisa menjaga putranya.

Jadi dia mengirim bungkusan bom ini bersama makanan.

Kau tahu ibumu ... Pegang ini.

Tapi apa yang ibu lakukan?

Kau selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang dia.

Ayah! dibawah sini lumpur semua.

Kenapa kita tak berjalan kesana? Bukankah akan lebih nyaman?

Tentu, itu akan nyaman. Bagi mereka yang mengejar kita..

Berjalan dengan tenang.

Berhenti!

Ayah! Polisi! - Tunggu tunggu!

Berbalik! Berbalik dan jalan!

Pindah, pindah.

Hei! Hentikan kendaraan.

Berikan aku senter.

Disini, Pak.

Dari mana anak domba ini muncul jam segini?

Apa ada orang disekitar atau tersesat?

Ada pembunuhan didesa dan seorang petinggi telah meninggal.

Seluruh penduduk desa ada dirumah sakit termasuk anak-anak.

Siapa yang peduli dengan seekor domba sekarang?

Tapi bagaimana kita yakin tidak ada yang mencarinya?

Butuh dua hari untuk menyadari kalau ini sudah hilang.

Lanjutkan.

Pak?

Lanjutkan!

Itu kecil dan lucu. Itu ramping dan baik untuk jantung. Lanjutkan!

Tangkap, tangkap!

Mereka mengklaim menghentikan semua kesalahan didunia!

Mereka menyebut diri mereka polisi!

Ini hanya kesalahan untuk menyelamatkannya tadi pagi.

Kalau kita mencabik-cabiknya saat dia memukul anakku, ini tidak akan terjadi.

Tetap tenang!

Anak-anakmu tampaknya mewarisi semua kemarahanmu.

Pelatihan polisi macam apa yang kau dapatkan? kau bahkan tidak bisa menangkap seekor domba!

Selain itu, Kau menyombongkan diri kalau berasal dari Godavari.

Aku tidak dilatih untuk menangkap domba, Pak.

Enyahlah, bung! Kau lebih banyak bicara dari istriku!

Nyalakan.

Tuan... Tuanku meninggal...

Dia tak pernah keluar tanpa sepuluh orang di sekitarnya.

Dia selalu membawa pistol.

Bagaimana kau melihat ini terjadi?

Kami tidak pernah membayangkan akan terjadi seperti ini!

Hentikan! Kau tidak bisa menyelamatkannya. Kenapa mencari alasan?

Saat listrik padam,

Dia membunuh Guru dan pergi bahkan sebelum kami sempat berkedip.

Aku ada disana sampai saat itu. Aku baru saja pergi, Pak!

Serigala besar telah pergi kehutan bersama dengan bayi serigala.

Aku memanggilmu untuk memberitahumu agar memburu mereka.

Apa kau ingin gumpalan daging atau orang hidup? - Orang-orang, tentu saja.

Tuan!

Pergi dan cari mereka dihutan.

Anakku, Gampi, sudah ada dihutan.

Besok pagi, bayi serigala akan ada didepan rumahmu.

Salam, Pak.

Sini! Tak ada yang perlu dikhawatirkan, saudara.

Tak peduli dimana mereka bersembunyi,

Aku akan menemukan mereka, mengajukan kasus dan menempatkan mereka dibalik jeruji besi.

Tak perlu, Inspektur.

Kami tidak ingin kasus diajukan.

Lebih dari kehilangan ayahmu, kau sepertinya marah kenapa ini harus terjadi!

Ya! Mau tak mau, kita harus mengajukan kasus.

Ini pembunuhan yang dilakukan didepan umum.

Sudah cukup kau tidak perlu ikut campur dalam hal ini.

Sama sepertimu tahu cara memanipulasi orang, kami tahu dimana harus membuat batasan.

Kami akan urus apa yang harus diselesaikan.

- Sebelum upacaranya ayahku... - Tuan!

Bodoh tidak berguna! Kau tak bisa menyelamatkannya ketika kau sampai. Apa gunanya melolong sekarang?

Bunuh orang ini!

Hai, Matilah bodoh!

Pada saat upacara ayahku selesai,

Aku akan memastikan tak ada satu orang pun dari keluarga itu yang masih hidup.

Dan kemudian kau ingin duduk di penjara?

Kenapa harus repot?

Ini bukan pekerjaanmu. Ini milikku.

Ini salah satu cara membunuh dengan sebenarnya dan ada lagi membunuh untuk membuat keributan.

Baik, silakan lanjutkan.

Duduk disana.

Mutanna!

Hei, Muthana!

Hei, Basavaya? Apa ini?

Tak ada yang membayangkan itu akan menyebabkan pembunuhan.

Tidakkah kau tahu bagaimana penderitaan keluarga kita selama dua tahun, Muthanna?

Kalau anakku membawa pulang kepala orang itu, Aku sangat bahagia.

Tidak apa-apa. Tapi sekarang dimana mereka semua?

Kedua ayah dan anak berjalan kehutan dan kami datang kesini.

Bagaimana dengan rumah dan kebun? - Kami meninggalkan semuanya.

Silakan masuk kedalam, sayang. Jika seseorang mendengar, mereka akan bangun.

Ayo, sayang. Masuk kedalam.

Masuk, Masuk kedalam.

Muthanna, aku punya beberapa perhiasan.

Gadaikan mereka. Kakak iparku akan datang keperistiwa penting nomor 117.

Bisakah Kau menyerahkan uang itu kepadanya? - Kenapa kau bertanya, Basavaiah?

Apa aku orang luar?

Kau bertanya kepadaku seolah-olah aku orang luar.

Ambil.

Apa kau ingin air?

Ini sayang, Simpan ini.

Aku pergi dulu. - Baik.

Paman, tolong jangan pergi. Tetaplah bersama kami.

Bujji, jika aku pergi sekarang aku bisa segera membawa ayah dan kakakmu, kan?

Kita semua harus pulang bersama, kan?

Tetaplah bersama ibumu dan aku akan kembali.

Pergilah Bang, Aku akan menjaganya.

Bang, menuju kemana truk ini?

Beri tahu aku dulu kemana kau akan pergi.

Aku harus pergi kekota, bang.

Ke Tirupati? - Iya bang.

Ok, Kursi depan kosong. Pergi dan duduklah disana.

Baik, bang.

Hei, Apa kau lapar? -Ya, Ayah.

Disini, Ibumu sudah mengemas nasi disini, Makan. - Baik, Ayah.

Pagi itu, Sinnabba dan ayahnya Narappa…

Ibunya Sundaramma dan pamannya Basavaiah, semuanya pergi ke arah yang berbeda.

Semua yang selamat dalam keluarga Pandusami ingin membunuh semua orang dikeluarga Sinnabba.

Masalah yang dihadapi keluarga Sinnabba sekarang bukanlah hal baru.

Ini seperti bentrokan lain antara yang kaya dan yang miskin, antara yang kuat dan yang tak berdaya.

Karena orang miskin tidak memiliki kasta atau agama.

Orang kaya tak memiliki kebaikan atau kemanusiaan.

Sinnappa tinggal di Ramasagaram Desa disebelahnya adalah Siripi.

Pandusami dari Siripi mulai mengklaim tanah di Ramasagaram.

Dorasami adalah saudara Pandusami.

Bergabung dengan beberapa orang yang kembali dari Rangoon dan menghasilkan banyak uang di Bangalore,

Dia berencana mendirikan pabrik semen.

Kita tidak tahu kapan ini akan terjadi tapi hanya satu hal yang terjadi sepanjang waktu.

Setiap kali orang kaya membutuhkan tanah, ia pertama kali melihat tanah orang miskin.

Bukankah cukup kami memberimu 650 hektar?

Kenapa kau menginginkan tiga hektar itu juga?

Bagaimana kita bisa membiarkan dahi dewa tetap polos?

Apa yang kau berikan adalah untuk strukturnya. Kami membutuhkan tiga hektar untuk bagian permukaan.

Tiga hektar itu alasan kenapa kami masih menikmati rasa hormat dari klan kami.

Bagaimana kau bisa memberikannya kepada orang-orang itu?

Meskipun memiliki bioskop, tungku batu bara, penggilingan padi, dan toko pakaian didesa...

Tiga hektar milik keluarga Narappa yang sangat mereka inginkan untuk pabrik semen mereka.

Putra sulung Narappa, Munikanna, bertekad untuk tidak memberikan tanah itu kepada siapa pun.

Hei, Minikanna! Seseorang berkata mereka tidak akan pernah menikah tapi sekarang dia bersepeda bersama dengan senyuman.

Papa, dia bilang dia tidak akan menikah. Tapi dia tidak pernah mengatakan dia tidak akan melihat seorang gadis.

Apa kau mendengar itu, saudara ipar?

Hei, diam. Dia telah menyetujui setelah banyak bujukan.

Kalau kau menggodanya sekarang, dia akan marah dan kembali.

Kau benar, Lihatlah dia menjajakan dengan terburu-buru.

Seolah-olah dia marah untuk hal-hal seperti itu!

Dia terlihat cukup cepat untuk menikah dan kembali menemui kami dijalan.

Kirim putrimu kedalam keluarga Narappa dan kau bisa beristirahat dengan tenang.

Seolah-olah kita tidak cukup tahu tentang dia.

Munikanna agak pemarah.

Adalah tanggung jawab putrimu untuk menjinakkannya. Aku tak boleh menyembunyikan apa pun, bukan?

“Gadis pintar dengan tatapan nakal! Bagaimana aku bisa menjauh darimu?”

Suami! Konon katanya Kalau wajahnya menunjukkan pemikirannya.

Ayo langsung kestudio Rama dan berfoto.

Munikanna terlihat sangat tampan dengan pakaian ini.

Kita mengambil fotonya ketika usianya enam tahun dan dia terbaring ditempat tidur selama enam bulan.

Mari kita rencanakan hal-hal setelah pernikahan. Apa itu, Nak?

- Apa kau lupa kuncimu? - Ya.

- Pergi dan ambil mereka. - Hei, Munikanna!

Bahkan kami lupa beberapa kunci ketika kami masih muda.

Beberapa dari mereka tidak dikembalikan sampai sekarang.

Kunciku…

Kau ingin melihatku lagi dengan dalih kunci?

Kenapa ada kamar tambahan sekarang, Papa?

Mari kita membeli kipas dengan uang yang kusimpan. Ini akan berhasil.

Sejak kau lahir, apakah ayah atau pamanmu pernah berpikir untuk membeli kipas angin bahkan di musim panas yang terik?

Sekarang kau menyebutkan penggemar karena kau mendapatkan seorang istri. Oke.

Ibu! Siapa yang peduli siapa yang datang? Bagiku, ibuku yang paling penting.

Hei, Munikanna, kau seharusnya tak mengatakan itu.

Ibu yang terpenting bagi semua orang.

Tapi istrimu seseorang orang yang meninggalkan semua orang untukmu.

Caramu merawatnya merupakan indikasi betapa kau menghormati ibumu.

Lupakan hal-hal ini. Bongkar tembok itu dan buat ruangan.

Tetap disana bersama istrimu.

Itu tepat. Baik?

Kenapa semua itu sekarang, Ayah? Mari kita semua tetap bersama.

Tidak, ibu.

Tunggu, Makanlah.

Semuanya tampak baik-baik saja, sekarang. Kau akan melihat saranku masuk akal setelah kau menikah.

Sundarama! Haruskah kupergi kelapangan?

Oke.

Bujji, pergi tidur.

Hei, Munikanna! - Apa itu, Ayah?

Saat mencuci pakaian, ibumu menemukan dua bidi disakumu.

Bahkan minuman keras kurang berbahaya.

Bidi sangat berbahaya bagi kesehatan, Munikanna.

Hei! Siapa disana?

Hei, Mallappa! Bukankah ayahmu sudah datang?

Dia kurang sehat. Dia sedang beristirahat di rumah.

Peternakanku juga ada disini. Ingatlah hal itu saat pergi.

Seolah-olah kami akan memasuki ladangmu dan tidak adil kepada anak-anakmu?

More Indonesian subtitles for Narappa

تبصرې

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left