لومړۍ 200 کرښې.
Dalam rangka perayaan Dussehra,
kami sambut anda di Uttar Pradesh Kesari, pertandingan gulat tahunan.
Di sebelah kanan adalah mantan Menteri Kandidat Balram Tripathi,
Raju Patil dari Hubbali Karnataka.
Di sebelah kiri anda,
Manindar Singh, calon menteri Omkar Shuka dari Lucknow.
Kedua pegulat ini putera generasi bangsa kita.
Pergulatan sengit mereka memberikan hiburan yang menarik buat para penonton.
Jangan biarkan lolos? Jangan lepaskan dia layaknya lintah!
Betapa bodohnya dia!
Kukira dia bertarung bagai singa. Ternyata dia kalah bagaikan tikus!
Pecundang! Gemuk aja kayak kerbau! Ayo! Hajar dia!
Kubawa kau kesini bukan mau dipijit!
Ingat kau hampir tak berpakaian,
jika kau kalah,
akan kuarak kau berkeliling telanjang!
Kau akan jadi viral!
Ayo menangkan pertandingan ini!
Hei, Tripathi!
Berapa lama kau terus menutup telinganya!!
Pergilah sekarang!
Ya, lanjutkan, akan kami hajar kalian sampai babak belur!
Memukulinya sampai babak belur?
Aku bersumpah atas Bhajrang Bali,
akan kuberi kau pelajaran yang tak pernah kau lupakan!
Kita lihat saja.
Raju memasuki ring; pertandingan dilanjutkan.
Tn. Shukla yakin terhadap petarungnya.
Sungguh mengejutkan!
Raju menunjukkan kehebatannya, mengalahkan lawannya
dan memenangkan pertandingan!
Tn. Tripathi jelas sangat senang!
Seluruh timnya masuk ke arena dengan sorak kegirangan!
Tn. Shukla! Tunggu!
Momen yang menggembirakan ini tentunya butuh selfie, bukan?
Ayo, kita selfie yang seksi!
Tunggu saja sampai pertandingan berikutnya.
Akan kutunjukkan siapa pemenangnya!
Orang yang kalah sama saja dengan mati.
Pecundang berduka, sementara pemenang merayakan!
Akhir yang sempurna!
Andaikan anak itu terlambat sedetik aja membanting pegulat itu,
kau akan membunuhku, bukan?
Tuan, tolong maafkan aku!
Kutahu kau tukang batu yang mau membangun makamku.
Tapi ada insinyur yang merancang rencana ini!
Jadi katakan, siapa dia?
Aku, Omkar Shukla, bukanlah MLA.
Aku pelayanmu yang hina!
Dia operator yang handal, ayah.
Harus terlihat seperti kecelakaan,
tapi tugasnya harus diselesaikan, juga.
Rencananya cerdas untuk menghabisimu!
Tidaklah cukup merencanakan dengan cerdas;
rencananya juga harus berhasil.
Itu akan menjadi takdirnya!
Tapi dengan satu panah,
cuma bisa mengalahkan satu Rahwana!
Tak gampang menghabisi seseorang.
Jika kau bulatkan tekadmu, tak ada yang mustahil!
Menurutku,
kalian semua tiruan Dewa Rama.
Kalian semua punya senjata ditanganmu yang dinamakan "vote".
Jika kau memilihku dalam pemilu berikutnya juga,
akan kuhancurkan lingkungan kejahatan.
Dan kuupayakan sebaik-baiknya kau akan menjalani hidup yang damai.
Jika ada orang yang mau menghancurkanku,
tak lain pastinya dialah penjahat yang lebih besar dariku.
Dia pasti teror yang lebih hebat dariku!
Dia pasti lebih kejam dariku!
Cuma dengan begitu aku bisa mengakhirinya!
Apa ada orang yang berani melakukan itu padaku?!
Ada yang mau?
Siapapun?
Navarathi ini, semoga kalian...
Seperti dirinya Tuhan, pegulatku menyelamatkanku di saat yang tepat.
Siapakah yang akan menyelamatkan Shukla, cuma Tuhan yang tahu!
Sungguh mulianya sikapmu! Tuan!
Hanuman menahan gunung Sanjeevini dan menyelamatkan Laxmana.
Hanuma ini menahan banner itu dan menyelamatkanku!
Aku penggemarmu sekarang nak!
Mulai sekarang, kau akan selalu ada didalam hatiku!
Superman, Iron Man cuma pahlawan dalam film.
Tapi pahlawan nyata adalah kau!
Siapa namamu nak?
Raghava, tuan.
Ini anakku.
Siapa namamu nak?
Arjun.
Kami memanggilnya Laddu!
Siapa dia? / Temanku, Tuan.
Bagai ekor Anjaneya, aku di belakangnya sepanjang waktu!
Raghava,
selanjutnya aku polisimu, ambulans., asuransi, saldo bank,
24 jam setiap saat, di mana saja!
Raghava ini, dewa rumahku selanjutnya!
Aku pergi dulu.
Jai Ram Ji Ki. / Jai Ram Ji Ki.
Bossuu,
kau bersusah payah menahan banner itu demi melindungi menteri itu?
Bossuu!
Lalu kenapa paman itu begitu emosional?
Begitulah, laddu.
Meskipun Dewa Rama membunuh Rahwana demi menyelamatkan Seetha,
bukankah seluruh dunia merayakannya?
Sama halnya seperti ini.
Benarkah?
Ya, Jai Sri Ram!
Jai Sri Ram!!
Ambil foto ini, bingkaikan 20x30
dan gantung di kamar tidurku!
Biar kunyanyikan pujian saat bangun pagi!
Dasar bodoh!
Apa yang harus kulakukan dengan foto ini, ya??
Kenapa kau tak membunuhnya di tempat!!
Ada banyak yang memakai kostum Hanuman disana.
Dia sedang tampil di Balram Tripathi!
Pergi dan potong dia!
Pergi!
Temukan dan bawa dia ke sini!
Keluar!
Dimana kau?
Dimana kau?
Bossuu! Aku siap!
Bentar.
Cepatlah!
Ayo pergi?
Kayaknya aku tak bisa masuk kantor hari ini...
Bentar, maaf pak!
Kau menemukan rumahku cuma mau memarkir motor peyotmu! Pindahkan!
Tapi masih bisa lewat' kan, pak?
Berani membantah? Kau tahu siapa aku?
Kickboxer baru dari Lucknow!
Cukup sekali tendang, langsung terkapar kau ketanah!
Pindahkan motormu sekarang!
Bossuu, tunggu sebentar ya;
kasihan, motornya tak mau menyala.
Bossu, tapi dia kickboxer!
Pikirmu dia engga bisa stater injak motornya?
Ayo pergi sekarang.
Jai Ram Ji Ki. / Jai Ram Ji Ki.
Apa susu ini asli? Kayaknya palsu!
Susunya basi pagi hari!
Orang di rumahku memarahiku!
Kenapa begitu lama mengambil tempat susunya!
Jika kau sengaja berlama-lama, bisa kunaikkan harganya!
Maaf pak!
Jangan selalu bilang "pak" berulang-ulang!!
Apa ini pak, susunya encer sekali!
Jika kau tak mau meminumnya, cucilah mukamu dengan itu!
Untuk uang yang kau bayar, bisakah mencampurnya dengan madu?
Pergilah!
Berlagak sok pintar denganku!
Jika kau menipu kami, kau akan membusuk di neraka!
Ambil ini! Ini!
Malang sekali, saudara kita Gopal!
Hei tunggu! Aku akan terlambat ke sekolah!
Daah, Bossu!
Bossu!
Ya?
Balas dendam itu bukanlah hal yang baik, Bossu.
Oh, dia harus tahu itu?
Bossu, kita nonton video kemarin. Kau ingat?
Yang mana Bossu?
Seekor anjing menggonggong dan menakuti singa yang perkasa!
Oh yah!
Apa yang kau rasakan saat menonton video itu?
Serasa mau meneriaki orang yang merekam video itu!
Apa dia engga punya rasa kemanusiaan?
Alih-alih menghentikan pertarungan mereka, malah dia memilih merekamnya!
Oh Tuhan!
Ada dua pesan.
Pesan 1: jika singa diam, anjing akan menyerangnya.
Pesan 2:
Jika anjing itu takut, singa-pun akan tetap diam.
Kenapa kau tak bisa memahami semuanya ini?
Kau memang orang bodoh!
Jika kau tak balas dendam,
orang jahat akan mengunyah kita seperti jeruk!
Hati-hati dan pulanglah. Daah!
Oh Tuhan!
Halo, Tn. Funeral Bhat!
Tuan, aku bukan Funeral Bhat. Namaku Vishwanath Bhat.
Tapi kaulah pemasak makanan India Selatan untuk upacara kematian di Lucknow, kan?
Jadi!
Kau ada waktu tanggal 11?
Kenapa?
Kakekku sedang di ICU.
Keinginan terakhirnya, memenuhi kebutuhan upacara kematiannya!
Ini, uang mukanya. Daah.
Daah.
Saudara ipar, haruskah kulepas reklame katering Amritha
dan menggantinya dengan reklame katering acara kematian?
Tentu!
Ejek sesukamu.
Putriku Amritha,
kembali hari ini setelah selesaikan sekolah manajemen hotel di London.
Setelah dia kembali...
Jadi kita akan siapkan makanan untuk acara kematian orang asing juga?
Aku diam karena kau iparku.
No comments yet. Be the first to leave one.