لومړۍ 200 کرښې.
Anni, abang di mana?
Di belakang. - Lagi ngajar?
Satu,
dua,
tiga,
empat,
lima.
Apa? - Bang, aku mau ke Parry's Corner
buat restok obat.
Jaga toko dulu sampai aku balik, ya?
Baik, pergi aja. - Baik, Bang.
Oh iya, kita udah bikin daftar obat yang habis, kan?
Pastiin tidak ada yang kelewat. - Baik.
Pergi sana.
Urus kelasnya sebentar. - Baik, Guru.
Bu.
Rohan dari sebelah mukul aku! - Nila!
Siapa yang mulai, Sayang? - Dia.
Terus tanganmu buat apa?
Balas mukul dia!
Ayo!
Rohan!
Udah kangen dipukul lagi?
Bu!
Bu!
Rohan nendang aku, Bu!
Nila.
Coba lihat.
Kemari.
Kau tahu tidak?
Hari ini Rohan.
Besok bisa orang lain. Akan terus ada yang lain.
Mereka bakal terus datang.
Ayah dan Ibu tidak akan selalu ada di sampingmu.
Kau harus belajar melindungi dirimu sendiri.
Kalau gitu, aku mau belajar karate juga.
Serius? - Iya.
Nila!
Boneka beruang?
Rohan!
Apa?
Nila, kalau remote-nya rusak,
gimana kita nonton TV?
Pegang remotenya pelan-pelan, ya?
Om.
Obat itu buat apa?
Itu buat batuk. - Kalau itu?
Itu tonik buat sakit perut.
Kalau ini? - Yang mana?
Buat bikin orang batuk.
Itu punyaku.
Jangan bilang ayahmu.
Lihat betapa parahnya dia mukul anakku.
Kau cuma boleh bertarung
saat pertandingan.
Di luar itu tidak boleh, ngerti?
Jangan biarkan siapa pun meremehkanmu
cuma karena kau perempuan, oke?
Dia mukul lagi
karena si bocah ngadu.
Berapa kali Ibu harus manggilmu?
Keluar dan makan sekarang!
Anakku lagi ngapain?
Udah makan malam?
Tidak bisa tidur? - Iya, tidak bisa.
Aku kalah di pertandingan.
Tapi ini yang terakhir.
Kau tidak akan kalah lagi.
Kau bakal lihat sendiri. - Gimana caranya?
Aku kasih tahu.
Aku udah ikut 34 turnamen sejauh ini.
Aku cuma kalah satu kali.
Malam itu...
Aku tidak bisa tidur.
Aku terus memikirkannya.
Itu bikin aku gila.
Bukan karena kalah.
Tapi keinginan untuk tidak ngalamin malam itu lagi,
yang bikin aku terus bertarung.
Setelah itu, aku tidak pernah kalah lagi.
Kau sama sepertiku, kan?
Mulai sekarang, kau cuma akan menang.
Om.
Ayah ngajarin aku karate.
Terus siapa yang ngajarin dia?
Kakekmu.
Ayahnya Ayah?
Ayahnya Ibumu.
Dari 34 turnamen,
dia bilang cuma kalah satu kali, kan?
Iya.
Kau tahu siapa yang ngalahin dia?
Ibumu.
Ibuku?!
HOTEL BALAMURUGAN
Kalian mau apa?
Tanyakan mereka punya apa.
Bungkus sambarnya tambah. - Baik.
Ingat Bhaskar?
Dia ngasih tahu polisi tempat penyimpanan minuman keras kita.
Itu anaknya, kan?
Itu dia! - Nak!
Kemari.
Coba cerita, Bro.
Ayahnya bakal ketakutan lihat anaknya pulang berlumuran darah.
Tonjok mukanya sampai hancur!
Bang, tolong. Lepasin aku, Bang.
Kak.
Lihat, pahlawannya datang!
Berhenti mencubit, Bung.
Lepaskan.
Sakit!
Sakit!
Lepas tanganku.
Lepas, Bung! - Aku lepas kalau bocah ini suruh.
Tanganku!
Lepas, Bung!
Lepaskan!
Lepas!
Aku tidak akan macam-macam lagi. Suruh dia lepas, Nak.
Sakit, Bung. Tolong suruh dia lepas.
Kasihan. Lepasin dia, Bang.
Sakit, Bung!
Mantap!
Ayah kenal bocah itu
dari hotel? - Tidak, Sayang.
Lalu kenapa Ayah bela dia?
Nila.
Aku dulu punya adik perempuan.
Waktu itu aku sekitar 10 tahun.
Aku sangat menyayanginya.
Sesuatu yang mengerikan terjadi padanya.
Orang-orang cuma diam,
tidak ada yang bilang apa-apa.
Kalau ada satu orang yang bersuara,
adikku mungkin masih bersama kami sampai sekarang.
Namanya Nila.
Kau dinamai seperti dia.
Nila.
Kalau sesuatu terjadi pada ibumu,
atau aku di depan matamu,
apa yang akan kau lakukan?
Aku tidak akan diam saja.
Bagus.
Tapi kau tidak perlu
kenal korbannya
untuk membela mereka.
Setiap ketidakadilan harus dilawan!
Itulah saat hidup kita jadi berarti.
Istriku bilang kau menunggu lama sekali sebelum pergi.
Aku baru pulang. Ceritakan, Bu.
Pak, suamiku dulu narik becak,
nabung sedikit demi sedikit,
lalu beli tanah dekat pangkalan becak.
Sebelum beliau wafat,
beliau bilang jual tanah itu
buat pernikahan putri kami.
Setelah beliau wafat,
anak buah Sundaram memalsukan suratnya,
dan mengaku tanah itu milik mereka.
Mereka mengancam
akan membunuh putriku
kalau aku tidak kasih surat aslinya malam ini.
Aku mau ke tempat mereka
bawa surat aslinya.
Bisa bicara dengan mereka?
Aku takut mereka bakal celakai putriku
kalau aku lapor polisi.
Bu, aku paham perasaanmu.
Tapi mereka anak buah Sundaram.
Kalau orang lain,
mungkin aku bisa bantu.
Mereka cuma mau suratnya
biar kau tenang, kan?
Kasih aja. Anggap mereka pergi untuk selamanya.
Mereka monster kejam.
Sundaram janji 10 persen
kalau masalah tanah ini beres.
Dan nenek-nenek ini
mau aku bicara buat dia!
Menyedihkan!
Yang mau turun di Purasaiwakkam, siap-siap.
Cek siapa di luar!
Gerak!
Tidak ada siapa-siapa, Bro.
Siapa yang mukul kau, Bung?
Aku?
Di mana surat tanah palsunya?
Bawa surat-surat itu, Bung.
Suruh dia robek.
Lakukan, Bung.
Jangan berani main-main dengan orang lemah,
karena mengira mereka tidak punya siapa-siapa.
Kalau kau berani, ingat rasa sakit ini.
Pulanglah, Bu.
Mereka tidak akan ganggu lagi.
Kau melakukan ini untukku?
Apa kau kenal aku?
KECELAKAAN PABRIK MENGERIKAN 47 PEKERJA TEWAS DALAM KEBAKARAN
Dalam ledakan
No comments yet. Be the first to leave one.