لومړۍ 200 کرښې.
Lurus aja lewat sana.
Halo!
Halo! Halo!
Selamat datang, Rose.
- Ini. Oh, siapa lagi? Siapa lagi? - Pagi!
Selamat pagi untuk kalian semua.
Ini untukmu.
Ini.
Selamat pagi, semuanya!
- Selamat pagi! - Selamat pagi!
Kalian semua kayaknya nggak semangat.
- Hah? - Selamat pagi!
Selamat pagi, semuanya!
- Selamat pagi! - Selamat pagi!
Nah, gitu dong.
Ngomong-ngomong, aku Nanay Eka.
Seperti kata mereka... Aku salah satu pemimpin,
atau walikota dari salah satu sel
di Lapas Maalikaya ini.
Tapi!
Panggil aja aku Ibu.
Karena di sini,
kita adalah keluarga.
Iya, kan?
Dari awal... Kita memang beda, kan Nay?
Ya!
Dan uh...
Ngomong-ngomong, selamat ya
untuk para pendatang baru!
Mari kita beri mereka tepuk tangan.
Sipir bilang
dari penjara asal kalian,
kalian terpilih karena
kalian yang paling berkelakuan baik
dan paling penurut.
Hah? Jadi aku harap, aku harap banget!
Kalau di sini, kalian nggak akan...
kalian nggak akan bikin kami pusing,
nggak ada pembuat onar.
Oke? Soalnya,
seperti yang kalian lihat,
kita di sini sangat beda.
Kita jauh lebih baik
daripada Lapas lain, kan?
Karena di sini,
kalian punya yang namanya...
HARAPAN!
Kalian tahu apa artinya harapan (hope)?
H-O-P-E.
Itu, ada tulisannya.
Peluang Bantuan Memberikan Pemberdayaan.
Yang mengawasi
program ini
tidak lain
adalah
kita yang sangat baik,
dan sangat seksi
Ibu Wilms.
Ibu Wilms! Silakan!
Silakan masuk.
Mari kita beri tepuk tangan yang meriah.
Di sini, silakan.
Nah.
Selamat pagi untuk kalian semua.
Oh, kayaknya nggak ada yang...
- Kaku lidahnya. - Apa kabar?
- Kami baik. - Kami baik.
- Gitu dong! - Oke,
- Itu dia. - Bagus.
Aku jelaskan sedikit apa itu HOPE.
HOPE adalah program
di mana kita akan diberi
kesempatan
untuk bekerja di sini
di dalam fasilitas Lapas.
Ini adalah program mata pencaharian
di mana kalian akan diberi
harapan.
Aku tunggu ya kebersamaan kita
dan mengenal kalian lebih jauh.
Terima kasih banyak.
Ayo, tepuk tangan.
Tepuk tangan yang meriah.
Yang hangat untuk Ibu Wilms.
Terima kasih, terima kasih.
Kan? Baik banget, kan?
Dari awal,
kita sudah punya kesempatan
untuk berubah
meski kita di dalam.
Iya, kan?
Kamu, kamu, kamu!
Kalian bisa berubah.
Mana tepuk tangannya dong.
Nah.
Hei, bangun!
Baris!
Lambat sekali.
Cepetan!
Lebih cepat!
- Satu! - Hitung!
- Dua! - Tiga!
- Empat! - Lima!
- Enam! - Tujuh!
Delapan!
Kalian lambat sekali.
Oke? Sekadar mengingatkan.
Sel kita harus selalu bersih.
Paham? Aku nggak mau ada yang berantem.
Oke? Jelas itu?
Nggak ada berantem,
dan nggak ada mencuri.
Kalau kalian butuh sesuatu, kita punya fasilitas di sana.
Kalian bisa minta.
Oke, Kara?
Karena kamu— Kamu ke...
Sini. Kamu tinggal di sana.
Oke? Di situlah kamu taruh barangmu.
Itu tempat tidurmu.
Kamu, di sisi satunya.
Nak, di sana kamu siram tanamannya.
Sini, sini. Sebelah sini.
Benerin, Nak.
Nah!
Silakan!
Nah.
Sebelah sana!
Nah.
Ini harus diulang.
Aku naikin sedikit
karena dia maunya begitu.
Bisa pegang ini? Boleh?
Nah, di situ.
Bukan, bukan itu, itu rumput. Sebelah sana.
Siapa namamu tadi?
Kara.
Kara.
Lila.
Kita harus ulang ini karena
ini agak terangkat.
Mawar itu agak rapuh.
Berduri.
Ini dijual di luar
jadi harus dirawat baik-baik.
Mereka butuh air.
Airnya sedikit aja
karena gampang tenggelam.
Mereka butuh banyak perawatan.
Nih. Giliranmu sekarang.
Cuma siram tanaman, kan?
Serahin aja padaku.
Aku bisa urus.
Bukan cuma nyiram.
Kamu juga harus lihat
rumput liar yang tumbuh di sekitarnya.
Kadang ada serangga
yang harus kamu buang.
Kadang angin bertiup.
Mereka tumbang.
Itulah rahasianya
supaya tumbuh dengan baik.
Kamu nggak akan sadar.
Tanamannya sudah mekar.
Kasusmu apa?
Pembunuhan.
Kamu, kasusmu apa?
Pembakaran.
Siapa yang kamu bakar?
Orang tuaku.
Dan kamu?
Berapa lama kamu di penjara kota?
Hmm...
Aku lama di penjara kota.
Soalnya...
aku punya pacar sipir di sana.
Makanya aku cepat sampai sini.
Nih lagi.
Untung kamu masuk lapas, kan?
Tentu saja.
Aku baik.
Ini punyamu.
Hei! Sini!
Masuk!
Jangan malu-malu.
Nggak semua anak baru
digebukin.
Nggak benar itu.
Cara kami 'menggebuk' di sini beda.
Iya, kan?
- Astaga... - Tahu nggak,
gampang kok jadi baik di sini.
Kamu beruntung cuma enam tahun.
Itu cepat.
Kami, sepuluh tahun seorang.
Oh, tidak.
Di sinilah kita bakal jadi kucel.
Aku membunuhnya di
hari pernikahan kami.
Kamu kuat.
Kamu bunuh dia di hari pernikahanmu?
No comments yet. Be the first to leave one.