لومړۍ 200 کرښې.
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, KEJADIAN DALAM DRAMA INI FIKTIF
Kau mau apa sekarang?
Aku bertambah kuat…
dan ini saatnya kau menyerah.
Kata siapa?
Kata siapa?
Siapa bilang ini saatnya aku menyerah?
Mun.
Habisi bedebah itu dulu.
Kita hidup sebatang kara, tanpa keluarga.
Haruskah kita saling membunuh?
Jangan samakan aku denganmu!
Sialan.
Kita sudah mengenal satu sama lain selama tujuh tahun.
Ini saatnya kita mengakhiri segalanya, Keparat.
Mun!
- Mun! - Tidak!
Nn. Chu…
Nn. Chu.
Nn. Chu.
Nn. Chu!
Pak Tua.
Nn. Chu.
- Tolong jaga dia. Mun. - Ya?
- Nn. Chu. - Ha-na butuh kita.
Aku baik-baik saja.
- Aku tak apa. - Sungguh?
Kau masih bernapas?
Aku memanggil…
roh jahat ini.
EPISODE 15
Maafkan aku.
Ini salahku. Tongkat itu…
Maafkan aku.
Aku mengerti,
kalian telah berusaha mengingat situasi tersebut.
Memang disayangkan tongkatnya patah,
tapi bahkan setelah batasan itu menghilang,
kami tetap menghajar Shin.
Jika kami bersatu sebagai tim
dan tetap menjadi tim…
kami bisa tangkap dia.
Kami bisa melakukannya.
Kau benar.
Ha-na sudah memanggil Baek Hyang-hui,
kini hanya tersisa Shin Myeong-hwi.
Benar.
Hanya tersisa si bajingan terbesar.
Mun juga makin mahir menggunakan kemampuannya.
Memanggil wilayah sekarang hal remeh baginya.
Bebatuan itu. Kalian lihat dia mengangkatnya, 'kan?
Kemampuan anak ini tak terbatas.
Kau bertingkah seolah itu kekuatanmu.
Kau selalu mengomentariku.
Tapi, tetaplah berhati-hati.
Tidak akan mudah melawan iblis murni.
Tersisa lima hari lagi.
Sebelum para jiwa yang dimangsa oleh roh jahat itu lenyap.
Kita harus menyelesaikannya.
Ya, tentu saja.
Kita akan buat Shin membayar perbuatan jahatnya,
balaskan dendam Mo-tak,
dan panggil roh jahat itu untuk menyelamatkan Cheol-jung.
Mun juga harus menemui orang tuanya.
Rapat selesai. Kerja bagus.
Ayo pergi.
- Ikut denganku. - Apa?
- Ayolah. - Kenapa?
- Ibu. - Ya?
Lukamu sudah baik-baik saja?
Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil.
Kalian tak perlu cemas. Pulanglah.
Aduh, kerja bagus hari ini.
Beristirahatlah agar tak sakit.
Kalian juga.
Pak Tua itu sudah sampai dengan selamat.
Pasti sulit baginya,
terjun ke lapangan setelah sekian lama.
Ya.
Mun.
Kau mungkin merasa tertekan
seiring dengan bertambahnya kekuatan yang kau miliki.
Keinginanmu untuk menyelamatkan orang tuamu
mungkin membuatmu merasa terdesak.
Tapi ini bukanlah peperanganmu semata.
Ini adalah tugas…
bagi kita semua sebagai Counter.
Oleh sebab itu…
jangan membebani dirimu sendiri.
Baik.
Datanglah ke ruang latihan besok pukul 06.00.
Baik.
Apa?
Sudah lama, ya?
Ini tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin aku menyerahkan diri
saat aku harus terbang ke luar negeri?
Aku tidak bilang kau menyerahkan diri.
Kau tertidur di depan kantor.
Lalu kenapa seorang buron bisa tidur di depan kantor polisi?
Aku tidak ingat. Aku tidak ingat apa pun.
Kau sudah kembali ke tempat asalmu.
Itu yang penting.
Hei, tunggu.
Lalu, apa yang terjadi pada wajahku? Siapa yang melakukannya?
- Hei! Ada yang tidak beres! - Hei!
Bisa kau diam?
Siapa jalang ini?
Sialan. Akan kuinjak dan kuremukkan lehermu.
Dia menjadi makin kuat.
Kita harus membunuhnya.
Kita harus membunuhnya sebelum dia makin kuat lagi.
Pak Wali Kota?
Itu kau, Pak Wali Kota.
Pak Wali Kota.
KERJA PARUH WAKTU DENGAN AKOMODASI
HASIL UNTUK KERJA PARUH WAKTU DENGAN AKOMODASI
Kau tahu ayahmu sudah berubah.
Kau juga melihat sorot mata itu.
Aku tak percaya kau mengundangku kemari.
Ini sebuah kehormatan besar.
Jangan begitu.
Silakan masuk.
Baik.
Lewat sini.
KEDAI MI EONNI
Aku harus bergerak lebih cepat
jika ingin menangkapnya.
Mun.
Ha-na.
Duduklah.
Aku tidak apa-apa, sungguh.
Aku melihat keluargaku kemarin.
Baek Hyang-hui mencekikku kemarin,
dan aku sekilas…
melihat mereka.
Ha-na. Hei, Ha-na.
Ha-yeong.
Ha-na.
Ha-na.
Kau harus kembali.
Ibu.
Mereka semua menunggumu.
Ayah.
Mungkin juga itu cuma mimpi.
Biasanya…
ingatan akan keluargaku hanya membuatku menderita.
Aku membencinya.
Tapi…
kurasa aku rindu mereka.
Saat kulihat wajah mereka…
aku merasa senang.
Akan kubantu kau bertemu orang tuamu.
Akan kupastikan kau mampu mengatakan…
yang ingin kau sampaikan pada mereka.
Dahulu kau membanting siapa pun yang berani menyentuhmu.
- Ada apa ini? - Ini?
Kau mulai lagi. Menjengkelkan.
Apa?
Cinta bersemi di tengah peperangan. Tentu saja.
Berhenti menjodoh-jodohkan. Itu membuat suasananya canggung.
Kenapa kau pergi?
Untuk membuat sarapan! Puas?
Kita harus berlatih.
Ayo.
KEDAI MI EONNI
KEDAI MI EONNI
Astaga.
Kalian sebut diri kalian keluarga?
Kalian harus perhatikan satu sama lain.
Hentikan itu.
Siapa yang panggil pak tua ini kemari?
Nn. Chu, kau harus pergi ke dokter. Kenapa tidak menurut?
Aku tidak perlu ke dokter. Kau lihat sendiri,
aku hanya sakit kepala.
Berhenti mengoceh dan kembali bekerja.
Kau yakin tidak apa-apa, Nn. Chu?
Kau menyembuhkan kami saat kami sakit,
tapi saat kau sakit…
kami tak bisa melakukan apa-apa.
- Aku harus berbaring. - Baiklah.
- Kemari. - Hei, tunggu!
Astaga!
Kemari.
Kenapa? Ada apa?
Katakan pada kami. Apa lagi yang bisa kau lakukan?
Kau berjalan, berlari, dan kini, kau terbang.
Tunggu, apa aku lupa menghapus ingatan kalian?
Sudah kuduga. Dia menghapus ingatan kita selama ini.
Tidak, aku hanya meracau. Jangan dianggap serius.
Lupakan. Ada yang bisa kami bantu?
Yang bisa kalian bantu? Tidak ada.
Rasanya selama ini kau telah melakukan hal hebat
menggunakan kekuatan luar biasamu.
Temanku adalah pahlawan super. Aku tenang sekarang.
- Sadarlah. - Baik.
Jadi, kami bisa bantu apa?
Bilang saja. Kami sangat siap.
Level dua.
Teman-teman, maaf.
No comments yet. Be the first to leave one.