لومړۍ 200 کرښې.
Permisi, saya membawakan tehnya.
- Ya, taruh saja di sana. - Baik.
Kakak!
Kakak!
Kakak... Kau kakakku, kan?
Apa yang kau lakukan?
- Kakak! - Kakak apanya?
Omong kosong apa yang kau bicarakan?
Kakak, ini aku!
Aku Yeon Ha!
Kakak...
Gadis gila... Menyingkir!
Kakak! Apa yang terjadi?
Ini aku! Yeon Ha!
Joseon penuh dengan orang gila!
- Apa yang terjadi? - Di mana kau menemukan budak seperti itu?
Apa maksudmu...
Bagaimana caramu mendidik budakmu?
- Aku pergi sekarang. - Apa maksudmu, pergi?
- Para tamu ke sini untuk bicara denganmu, Tuan Hanjo... - Suruh mereka bicara dengan Kanemaru saja.
Tuan Hanjo!
Kau yakin? Apa Dia benar-benar kakakmu?
Yeon Ha...
Maafkan kakak...
Dia cukup menakjubkan.
Tak mudah bersikap kejam pada saudara kandungnya sendiri.
- Berarti... - Pasti ada salah satu dari dua dugaan ini.
Entah kita yang salah, atau...
Dia kembali dengan tekad yang kuat.
Tuan Hanjo!
Kurasa Kau harus keluar untuk memeriksanya.
Ada apa?
:: Episode 8 ::
Kenapa ini?
- Wanita ahli mesiu ini mencuri bubuk mesiu. - Apa?
Bagaimana bubuk mesiunya?
Aku mengambilnya kembali dan mengembalikan semuanya ke gudang.
Maaf. Aku hanya ingin mencari tahu sesuatu...
Apa?
- Itu... - Kau ahli mesiu, kan?
Jadi, apa yang tidak kau tahu? Apa yang coba Kau lakukan?
Kesepakatanku dengan Kelompok Pedagang Gyeonggi berakhir hari ini.
- Tuan Hanjo... - Beritahu mereka sekarang.
Beritahukan sendiri!
- Pestanya sangat menyenangkan. - Jangan berkata begitu.
Terima kasih sudah datang. Hati-hati di jalan.
Tentu, tentu.
Jalan.
IDFL SubsCrew
Ayo masuk ke dalam.
Kau... temui aku sekarang.
- Kakak? - Ya.
Maafkan saya, Nona. Saya salah.
Tolong maafkan saya. Saya takkan membuat kesalahan lagi.
Tolong jangan kirim saya ke tempat lain..
Biarkan saya tetap di sini.
Jangan khawatir. Kami takkan mengusir budak hanya karena masalah itu.
Tapi, siapa namamu?
Yeon Ha.
Yeon Ha?
Ya.
Lalu, kakak yang kau cari itu...
Tak apa. Katakan saja.
Yoon Kang.
Namanya Park Yoon Kang.
Ini jelas rencana Choi Won Shin.
Dia menempatkan Yeon Ha disana untuk mengungkap identitasku.
- Hyungnim... - Kita harus keluarkan dia sekarang juga.
Jika kita biarkan dia di sana, sesuatu bisa terjadi padanya.
Tolong bersabarlah, Hyungnim.
Jika kau bertindak tergesa-gesa, identitasmu akan terungkap. Lalu...
Lalu, kau takkan bisa mencari tahu tentangnya.
- Aku akan keluarkan dia. Malam ini. - Hyungnim!
Aku tak bisa memaafkan perbuatannya ini.
Setelah Yeon Han diselamatkan...
Aku takkan membiarkan Choi Won Shin begitu saja.
Apa? Siapa yang ke sini?
Mantan kanselir Kim Jwa Young. Beliau ingin bertemu Yang Mulia.
Kabar Anda baik-baik saja?
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Ini mengingatkan hamba pada kenangan yang indah.
Anak kecil yang datang menemui hamba sembari menggenggam tangan Pangeran Heungseon...
telah menjadi seorang kaisar sekarang.
Itukah alasanmu datang menemuiku?
Untuk mengingatkanku bahwa aku bisa duduk di sini berkat kau yang memilihku?
Maafkan hamba.
Sekarang hamba sudah tua. Hamba selalu mengenang masa dulu layaknya orang tua lainnya.
Apa alasanmu datang menemuiku?
Hamba dengar Anda memulai sesuatu yang besar.
Memang.
Hamba khawatir Anda terlalu terburu buru.
Politik seharusnya berjalan secara alami seperti air mengalir.
Bila tidak, akan melenceng dan membahayakan secara perlahan..
Tapi, Joseon tak punya banyak waktu untuk melakukan itu.
Jika tak ada angin, kita harus mendayung perahu agar bisa maju.
Perahu tak bisa menyeberangi sungai hanya dengan mendayung di satu sisi.
Tapi, juga perlu mendayung di sisi berlawanan.
Itulah yang disebut keseimbangan.
Jika hanya satu sisi, perahu akan terbalik.
Apa kau mengancamku sekarang?
Yang Mulia... siapa yang berani mengancam Anda di Joseon ini?
Hamba hanya mengatakan logika dasar dari hukum dunia.
Logika yang tidak pernah gagal dalam sejarah Dinasti Joseon.
Dahulu, ada penembak yang diperintah untuk membunuh abdiku yang setia.
Dan aku harus menuduh abdiku itu sebagai pengkhianat dan membunuhnya sekali lagi.
Aku telah memantapkan diri...
Aku takkan pernah menjadi boneka lagi... Aku tak ingin menjadi kaisar yang memalukan.
Bahkan jika aku mati, tekadku takkan berubah.
Pergilah.
Pada akhirnya, begitukah tanggapan Yang Mulia?
Bahkan, dia juga mengungkit insiden penembak yang dulu.
Seakan dia menuduhku sebagai dalang insiden tersebut.
Astaga. Apa yang akan Anda perbuat sekarang, Tuan?
Untuk sekarang, Kita tunggu saja.
Mungkin saja nyali Kaisar muda itu melemah.
- Lalu, bagaimana dengan Jung Hwe Ryung? - Kau harus mencari tahunya.
Ya, saya mengerti, Tuan.
Untuk sementara ini, jangan lakukan apapun.
Baik, Tuan.
Benarkah itu?
Kau putra Penasehat Negara Kim Byung Jae?
Ya, saya anak tidak sahnya.
Kenapa kau menyembunyikan kebenaran itu?
Saya takut akan bayang-bayang sebagai putra Penasehat Negara.
Bagi saya yang terbayangi hal itu, untuk memimpin gerakan perubahan..
Saya pikir tak seorangpun akan mempercayai saya.
Itu sebabnya...
Maaf. Seharusnya saya mengatakan ini lebih awal...
Baru sekarang saya berani mengatakannya.
Aku mengerti. Itu pasti tak mudah bagimu.
Tolong jangan beritahu Soo In. Saya sendiri yang akan mengatakannya.
Baiklah kalau begitu.
Terima kasih... telah memberitahuku.
Tuan...
Kumohon... beri satu kesempatan lagi.
Sudah terlambat.
Aku sungguh menyesal. Sejujurnya, aku tidak yakin akan berhasil.
- Jadi, aku ingin mencobanya dulu... - Aku tak ingin mendengarnya.
- Pergilah. - Aku mohon. Sekali saja.
Aku tak ingin semuanya kacau hanya karena ulahku.
Dan... aku tak sanggup menanggung itu.
Tolong biarkan aku melakukan pengujiannya besok.
Tolong biarkan aku melakukannya. Tolonglah, aku mohon.
Terserah kau saja. Lagipula, kau pasti gagal.
Pergilah.
L e a v e s t
Dia baru saja muncul!
Kami mengepungnya di dalam.
Jika dia terluka, kau akan mati.
Jangan khawatir.
Kurasa dia tak bermaksud menyakitiku.
Ayo pergi. Aku akan bukakan jalan untukmu.
Lebih baik aku pergi sendiri.
Jangan ikuti kami.
Siapa kau? Kenapa menyelinap ke rumahku?
Ada apa ini?
Kenapa ada penembak...
Aku juga tidak yakin. Aku harus mencari tahunya.
Sejak kapan Sung Gil belajar menembak?
Itu juga senapan baru.
Sudah sekitar 1 tahun.
Aku mendapatkannya melalui Tuan Haneda dari konsulat.
Maafkan Ayah. Itu pasti sangat mengejutkanmu.
Ya. Aku mengalami banyak kejutan hari ini.
Aku juga baru tahu Yeon Ha ada di rumah kita.
Ya. Soo In sudah berusaha keras mencarinya, jadi aku juga mencarinya.
- Lalu, kenapa Ayah tak memberitahu Soo In? - Dia harus menguji ledakan besok.
Dia takkan bisa fokus jika dia melihat Yeon Ha.
Dan... mungkin Kita harus merahasiakan ini.
Apa maksud Ayah?
Tuan Song yang datang ke pesta tadi pagi, menyukai Yeon Ha.
- Apa? - Tuan Song memiliki ahli mesiu di rumahnya.
Jika kita memberinya Yeon Ha, Dia akan memberi kita ahli mesiu.
Ayah! Jangan!
- Jangan lakukan itu. - Kita tak punya cara lain.
Jika besok pengujian ledakan gagal, Kita mungkin perlu mengambil langkah ini.
Ayah!
Kita sudah sejauh ini, Kita tidak boleh menyerah.
Semua tergantung pada pengujian ledakan besok. Tergantung pada Soo In.
Kau terlihat sedikit lelah. Tidurmu tidak nyenyak?
Tidak, aku tidur sangat nyenyak.
Justru Kau yang terlihat sedikit lelah.
Ya. Ada pencuri di rumah kami tadi malam.
- Dia memakai senapan. - Benarkah?
Apa kau terluka?
Tidak. Tapi, Hye Won cukup ketakutan.
Pencuri itu lari setelah menjadikannya sebagai tawanan.
Astaga. Omong-omong, apa seseorang punya dendam padamu?
Bagaimana mungkin ada penembak masuk ke rumahmu?
Ya... terkadang orang merasa dendam dengan sendirinya.
Park Yoon Kang yang mirip denganmu juga begitu.
Park Yoon Kang?
Setelah ayahnya meninggal, dia menuduhku sebagai pembunuhnya.
Dia pergi setelah memperingatkanku bahwa dia akan kembali.
Tapi, dia meninggal?
Dia ditembak oleh prajurit dari Pengadilan Istana.
Lagipula, Dia tetap harus mati.
Karena dia putra seorang pengkhianat.
Orang seperti itu takkan bisa hidup di Joseon bahkan untuk sehari.
Tidak peduli seberapa keras Dia mencoba menyembunyikan identitasnya.
No comments yet. Be the first to leave one.