لومړۍ 200 کرښې.
Pak, ini penawaran terbaik.
Mereka semua mengatakan itu.
Bagaimana jika aku buat tur kota?
Sungguh?
Kedengarannya seru.
- Di mana tasku? - Kenapa?
Tasku hilang!
Ambillah ini.
Jadi, apa terjadi hal ganjil?
Berkat dirimu, tak ada.
Baiklah.
Terima kasih waktunya.
- Ini yang kau mau, 'kan? - Benar.
Namun, hanya ini uang yang kupunya.
Maka hanya ini yang bisa kujual.
Napoli, kota di selatan Italia,
adalah tempat wisata terkenal,
sangat indah sampai orang berkata, "Lihat Napoli sekali sebelum mati."
- Permisi. - Permisi.
Apa kau tahu jalan ke Basilika Santa Clara?
Ya.
Untuk ke basilika, lurus saja dari sini.
- Pada rambu pertama… - Sudah kuduga!
Sudah kubilang ke sana!
Baik, maaf. Terima kasih banyak…
Astaga. Kau tak apa-apa?
Terima kasih banyak.
Maaf.
Ya ampun. Perhatikan jalanmu.
Ayo pergi.
Permisi. Dompetmu terjatuh.
Terima kasih!
Bukan masalah.
Hei, pria tadi seksi sekali, ya?
Kita seharusnya mengambil foto.
Itu keluar dari tasku?
Mungkin hanya hinggap.
Ya, kau benar.
Di kota ini, jangan pernah lengah.
Permisi,
aku mau satu rasa cokelat dan pistacio.
- Buat dua. - Baik.
Sudah kubilang. Tak bisa kerja di sini tanpa izin.
Pergi.
Astaga.
Satu mobil di sini…
Bagaimana? Ini lebih cepat daripada mengantre.
Kita harus bagaimana?
Kuantar kalian ke kota dengan murah.
Benarkah? Seberapa murah?
Luca si Mata Berair.
Sudah kutegaskan kau boleh berbisnis setelah membayar uang perlindungan.
Tolong ampuni aku.
Sudah kubilang bayar dahulu, 'kan?
- Namun… - Sudah kubilang, 'kan?
Aku punya keluarga…
Tolong jangan!
Kau harus lebih menghargai pertemanan denganku daripada keluargamu. Bukan?
Bukan hanya aku yang bekerja tanpa sepengetahuanmu!
Siapa lagi?
Katakan siapa lagi.
Giorno. Giorno Giovanna.
Giorno?
Dia tampaknya menghasilkan banyak uang belakangan ini.
Giorno.
Akan kuurus dia nanti.
Jika tak punya izin, kau tak bisa bekerja di sini.
Pergi ke tempat lain.
Buongiorno.
KEDATANGAN
Akhirnya, aku sampai!
Penerbangan yang panjang.
Di sini tak seperti Jepang.
Sekarang, waktunya bekerja.
Haruno Shiobana. Itu nama yang unik.
Aku akan pergi ke hotel dahulu untuk menyimpan koper dan bersantai.
Di mana aku bisa memesan taksi…
Luar biasa!
Bukankah begitu? Trik yang keren!
Itu mustahil.
Bagaimana cara dia melakukannya?
Menjijikkan sekali.
Bagaimana cara dia memasukkan telinganya ke sana?
Itu sangat menghibur.
Terima kasih.
Jangan terlibat masalah saat bekerja.
Butuh taksi?
- Tidak… - Taksi.
Aku selesai dengan kerja sampinganku. Jadi, aku akan mengantarmu dengan murah.
Bagaimana dengan 180,000 lira ke kota?
Berapa 180,000 lira itu?
Sekitar 10,000 yen?
Mahal sekali!
Biasanya hanya setengahnya.
Bahasa Italia-mu sangat fasih.
Kau pernah tinggal di Italia?
Tidak. Namun, Master Rohan bilang aku harus belajar…
Lupakan saja.
Lebih penting lagi, kau akan menyetir?
Kau seperti masih SMP atau SMA.
Kau memberikan sesuatu kepada petugas keamanan.
Aku bisa melihat sedikit uang. Apa itu?
Tenang, tidak perlu khawatir.
Kalau begitu, 10,000 lira saja.
Tak perlu memberi tip. Uang 10,000 lira untuk ke kota.
Itu sekitar…
lima ratus yen?
Tidak, terima kasih.
Aku akan menunggu taksi saja…
Bagaimana?
Hanya 10,000 lira, 'kan?
Ongkos pas. Namun, kau harus membawa kopermu sendiri
karena tak memberi tip.
Letakkan kopermu di depan. Silakan duduk di belakang.
Kuperingatkan,
aku memang seperti turis Jepang polos, tetapi jangan meremehkanku.
Sebaiknya tepati janjimu dan pergi ke hotel.
Ya. Aku berjanji pergi ke hotel.
Tetapi hanya tasmu yang akan tiba di sana.
Apa? Tunggu…
Aku belum masuk ke mobil.
Dia tak tahu…
Tidak mungkin!
Tunggu!
Ciao.
Reverb Act 3!
Sayang sekali.
Sudah kuperingatkan jangan meremehkanku.
Kau boleh pergi jika mau.
Aku hanya ingin koperku kembali.
Lihat itu. Giorno gagal.
Dia keturunan Jepang,
tetapi masih mencoba menipu turis Jepang.
Namun, dengan rambut seperti itu dan nama seperti Giorno Giovanna,
tak ada yang tahu dia orang Jepang.
Mungkinkah…
Apa? Hilang!
Bagaimana bisa?
Telur apa ini?
Stand?
Bagaimana mungkin ini terjadi di Italia?
Itu bukan Stand! Itu seperti makhluk hidup sungguhan!
Kenapa koperku hilang?
Dia tak punya waktu menyembunyikannya.
Ini buruk sekali.
Kurasa bukan dia, tetapi…
Permisi!
Soal sopir taksi tadi…
Dia seharusnya sudah tahu…
Giorno Giovanna, bukan?
Ini kali pertama kita bicara.
Giorno, kau tahu siapa aku?
Luca si Mata Berair.
Kudengar kau bertarung,
dan meski wajahmu ditusuk, kau tak berhenti bertarung.
Karena itu,
matamu terus mengeluarkan air meski lukanya telah sembuh.
Duduklah di sampingku sebentar.
Duduk saja. Leherku pegal karena terus mendongak.
Berapa usiamu?
Aku 15 tahun.
Lima belas tahun?
Kau muda.
Hei, Giorno.
Untuk menjaga pertemanan baik, kau harus mengikuti tiga aturan.
Tiga aturan.
Pertama, jangan berbohong.
Kedua, jangan sakit hati.
Ketiga, saling menghormati.
Kau mengerti?
Itu tiga aturan pertemanan.
Apa maksudmu?
Aku yang bicara sekarang!
Siapa yang mengizinkanmu bicara, Bajingan?
Sepertinya kau bekerja sambilan di bandara.
Benar?
Aku belum mendapat rasa hormat yang seharusnya kudapat darimu.
Jadi, untuk itu,
kita tak bisa terus berteman.
Berikan dompetmu.
Luca,
jika kau mencari uang perlindungan, sudah kubayar. Aku tak punya uang.
Kepada petugas keamanan?
Aku tak ada hubungannya dengan mereka!
Apa ini? Foto keluarga?
Di mana uangnya?
- Keluarkan dompetmu. - Luca.
Tolong jangan membuatku mengulangi ucapanku.
Sudah kubilang aku tak punya uang karena sudah bayar.
Jangan membuatku mengatakannya tiga kali.
Dasar berengsek!
Makhluk apa itu?
Ia kembali…
Singkirkan!
Katak ini tak ada hubungannya. Tak ada alasan menyingkirkannya.
Aku memberimu perintah.
Aku bilang bayar uang perlindungan juga.
Kau berani melawanku?
Kau berani menolak dua perintah Luca si Mata Berair?
Ini makhluk hidup yang bergerak atas kemauannya.
No comments yet. Be the first to leave one.