لومړۍ 188 کرښې.
Kau cewek toksik.
Ayah, dan sekarang Geri!
Semua menjadi kena sial, tahu tidak?
- Jia! - Apa-apaan kau?
Kau keterlaluan banget, ya.
Terima kasih, ya. Berkat doamu, aku menjadi yakin bakal cepat sembuh.
Kau benar-benar bisa main piano?
Berarti habis ini...
kita putus, ya, Ger.
Dinda.
Kenapa main melengos begitu saja tadi pagi?
Ceritanya kita sudah putus.
Lagi pula, satu sekolah juga sudah tahu.
Lagian kenapa kau harus menyebarkan itu di media sosial?
Ya, biar kau bisa bebas mendekati cewek mana pun.
Raini misalnya.
Beraninya mengaturku.
Terserah aku mau mendekati siapa saja.
Ya, terserah kau pokoknya. Asal jangan Jia.
Ya sudah.
Raini saja kali, ya?
Nah, kau ketahuan.
Kau memang suka sama Raini, 'kan? Dasar buaya darat.
Aku jadi bingung denganmu.
Tadi bukannya kau yang menyuruhku pacaran sama Raini?
Sudahlah.
Yang penting sekarang kau sudah jomlo, sudah bebas.
Tapi...
kau masih tetap membantu kakakku...
mengasuh Lucy?
Tentu saja.
Ger.
Selamat ulang tahun, ya. Dah.
- Hai. - Hai.
Jadi, bagaimana? Benar-benar putus atau berpura-pura?
Maksudnya?
Dinda sudah cerita sama aku.
Dia bilang kalau selama ini,...
kalian pacaran pura-pura saja, buat melindungi Dinda.
Kau orang baik, Geri.
Dinda beruntung memilikimu.
Aku juga beruntung memilikinya.
Omong-omong, kau lagi ulang tahun, boleh tidak aku memberimu kado?
Sudah, tidak usah. Tidak usah repot-repot.
Ayolah. Izinkan aku melakukan ini untukmu, ya?
Pokoknya kau boleh pilih restoran apa pun yang kau mau,...
dan aku yang bayar.
Baik.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Tempatnya bagus. - Ya, aku sering banget ke sini.
- Benarkah? - Ya.
Ayo, Sayang. Masa seharian tidak makan apa-apa?
Tidak mau.
Om Geri pulang.
- Kenapa kau yang menjaga Lucy? - Tidak mau.
Bukannya kau seharusnya kerja?
Dinda berhenti, baru hari ini mengabari.
Lucy kangen Tinda.
Lucy kangen Tinda.
Ya, Sayang, besok kita telepon dia, ya.
Sudah, jangan menangis.
Dinda.
Kenapa?
Kau masih harus bertanya?
Geri, aku sudah tidak bisa. Pekerjaan di rumahku banyak.
Aku juga ingin fokus belajar.
Bohong.
Aku lelah.
Titip salam buat Kak Irene...
dan salam kangen buat Lucy.
Kau belum memberiku kado ulang tahun.
Kau tahu aku sudah tidak punya apa-apa.
Ada satu hal yang bisa kau berikan kepadaku.
Makan di sini, ya?
Aku sering banget makan di sini.
Benarkah?
Biasanya kalau suasana hati tidak enak, pasti selalu ke sini.
Tidak tahu kenapa.
- Tapi ini enak. - Enak banget, 'kan?
Dinda.
Kau senang tidak...
sama situasi sekarang ini?
Situasi sekarang ini...
Maksudnya bagaimana, ya?
Kita sama-sama tahu, ya.
Sudah banyak banget yang kau lalui.
Aku merasa kayak...
Bagaimana, ya?
Kau banyak berubah saja.
Kau menjadi gampang menyerah.
Tapi...
Tapi kau yakin kalau aku senang?
Yakin.
Geri...
Dasar cowok, mereka memang kayak begitu.
- Kenapa? - Tidak.
Tidak apa-apa. Memang cowok saja.
Kayak...
abang-abang nasi goreng.
Suka mengaduk-aduk tidak jelas begitu.
Kalau kau bagaimana? Senang, tidak?
Senang.
Aku malah senang banget.
Karena nasi gorengnya, ya.
Karena nasi goreng apa karena makannya sama aku?
Kenapa?
- Minum, Mbak. - Ya ampun.
Terima kasih ya.
Abang, bergerak cepat banget dan peka lagi.
Karena aku langganan.
Kalau sudah sering bertemu dan bersama, itu seharusnya peka berarti, ya?
Padahal cowok abangnya.
Biasanya cowok suka kayak tidak peka, tidak sadar.
Penjual nasi goreng setahuku memang kebanyakan cowok.
Ya, memang.
Ya sudah, kita makan nasi goreng saja.
Dinda...
Besok balik sama Lucy, ya. Dia kangen.
Baik.
Dinda.
Terima kasih buat hari ini.
Berarti sekarang utang kado ulang tahun dari aku sudah lunas, 'kan?
Yang tahun ini sudah lunas.
Tapi kau pikirkan dari sekarang saja.
Kira-kira kado tahun depan buat aku apa.
Kita lihat saja nanti.
Kenapa lihat nanti?
Siapa tahu saja tahun depan, aku sudah tidak sekolah di SMA Garuda.
Kenapa?
Terlalu murah.
Bisa saja.
Tapi...
kita masih bisa...
bersahabat, 'kan?
Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu, ya.
Terima kasih. Dah.
Dinda...
Kira-kira kau mau sesuatu dari aku, tidak?
Apa pun yang kau minta, aku pasti akan melakukannya.
Kau mau minta apa?
Aku bukan pengemis, Ger.
Aku tidak suka minta-minta.
Dinda...
=Kisah Untuk Geri=
Kenapa, Geri?
Tidak apa-apa.
Ya sudah, maaf kalau ganggu.
Kayaknya kau lagi tidak mau diganggu juga.
Aku pergi dulu, ya.
Raini.
Maaf, ya. Aku minta maaf.
Ya...
Kalau kau mau duduk, duduk saja.
Ada yang bisa aku bantu?
Raini.
Kau mengerti jalan pikiran cewek, tidak?
Seharusnya mengerti, aku ini cewek.
Baik. Jadi, begini.
Kalau ada cewek yang bilang kayak begini,...
"Aku bukan pengemis, Ger."
"Aku tidak pernah minta-minta."
Ini tentang Dinda, ya?
Aku tidak sebut nama, ya.
Ya sudah, baik.
Jadi, kau bertanya...
kenapa orang yang namanya tidak mau kau sebut ini berbicara kayak begitu?
- Ya sudah, sebut saja namanya... - Dinda.
Baik. Sebut saja namanya Dinda, ya?
Kau kenapa berbicara kayak begitu?
Karena aku kasihan sama dia.
- "Kasihan"? - Tentu saja, kasihan.
Memang apa lagi kalau bukan kasihan?
Sayang?
Aku? Sayang sama dia?
Mungkin dia yang menyayangiku.
Aku sudah melindunginya, memberi dia pekerjaan,...
mengajak dia jalan-jalan.
Tapi aku bingung saja.
Kenapa dia kelihatannya kayak kesal...
waktu aku tanya mau dia apa.
Benar juga. Seharusnya dia menyayangimu.
- Ya! - Ya, 'kan?
- Seharusnya kau juga menyayangi dia. - Ya, benar...
Tidak, bukan begitu maksudku.
Geri.
Kau orang baik.
Kau tidak akan kekurangan orang yang menyayangimu.
- Terima kasih, ya. - Sama-sama.
No comments yet. Be the first to leave one.