Racket Boys (Racketsonyeondan / 라켓소년단)

Racket Boys (Racketsonyeondan / 라켓소년단)

د Indonesian ژباړه ډاونلوډ کړئ

د خپرونې معلومات

ㅡㅡ라켓소년단ㅡRacket Boys E03 NF-360P/720P/1080P
د لخوا تبصره DD_Movie
NF Retail [ RT 01:03:12 ] | t.me/ddmoviechannel

تګونه

720p
720
1080
په خپور شو: 2021-06-07
ډاونلوډونه: 11
د اوریدلو معیوبیت: No

د Indonesian سرليکونو مخکتنه

لومړۍ 200 کرښې.

MOJUNGHYANG RESTORAN TIONGKOK

Terima kasih.

Terima kasih.

Terima kasih.

- Terima kasih. - Selamat makan.

Sudah lama kita tak makan jjajangmyeon bersama seperti ini.

Selamat makan, Jae-seok.

Oh Jae-seok. Aku tak akan memaafkanmu meski kau mentraktir kami jjajangmyeon.

Bibi! Aku pesan tangsuyuk juga.

- Ukuran besar. - Yang ukuran besar!

- Kau sangat keren. - Aku sangat tersentuh.

Kalian semua sedang apa?

Sedang apa dengan pecundang ini tanpa memberitahuku?

Hae-kang, sebenarnya…

Situasi apa ini sebenarnya?

Biar aku saja menjelaskan.

Alasan aku begitu tahun lalu…

Ibunya menyuruhnya pindah sekolah.

Itu semua perintah ibunya.

Aku tak peduli soal itu.

Kenapa kalian tak pesan punyaku?

Kami sudah memesan milikmu.

Jjajangmyeon ukuran besar.

Benarkah?

Namun, kau keterlaluan tak pernah hubungi kami setelah pindah.

- Benar, bukan? - Maaf. Aku malu.

Ibuku menyuruh pindah ke Seoul untuk berlatih.

- Aku tak bisa membantahnya. - Dasar anak manja.

Baguslah kau tahu malu.

Hei! Menurutmu, apa kita bisa bebas melakukan apa pun?

Kita tak bisa memutuskan apa pun di saat penting tanpa ibu. Ya, 'kan?

Benar juga.

Bisakah kau menginap di rumah temanmu tanpa izin ibumu?

Semua ini juga dibayar dengan kartu ibuku.

Benar. Meskipun sudah 16 tahun,

makanan dan kaus kakiku masih disiapkan Ibu.

Hei. Mereka itu ibu.

Itu karena mereka ibu.

- Kau tak diberi makan di rumah? - Makanlah.

Makan yang banyak. Habiskan semua.

KOMPETISI BADMINTON MUSIM SEMI NASIONAL KE-59

- Bang. - Apa?

Siapa namanya? Oh Jae-seok? Yoo Jae-seok?

Yang kukalahkan itu peringkat berapa?

Mungkin peringkat lima besar nasional.

Lantas, jika aku kalahkan keempat sisanya artinya aku jadi yang terhebat?

Tentu tidak. Kalahkan dulu aku.

Tunggu. Kenapa aku harus bertarung dengan mereka?

Aku hanya perlu mengalahkan si Rambut Kuning,

menang pertandingan tim agar dapat Wi-Fi, lalu pensiun.

Aku akan bermain bisbol.

Halo, Hae-kang!

Dulu aku bermain badminton bersamamu saat masih SD. Apa kau ingat aku?

Kau… Kau Man-sik, bukan?

Aku Jun-sang.

Benar! Jun-sang.

Kau sudah besar sekali. Padahal dulu kecil.

Kau tahu kau sangat hebat hari ini, bukan?

Park Chan juga pasti kalah darimu.

Kau terlalu berlebihan.

Aku memang menang,

tapi karena mereka kalah, kami tak bisa menang pertandingan tim.

- Sayang sekali. - Hae-kang.

Kau akan terus bermain badminton lagi, bukan?

Berdoa saja jika kalian memang menginginkan itu.

Sampai bertemu lagi. Pergilah. Enyah kalian!

Menggemaskan. Selamat jalan.

Anak-anak, kerja bagus.

Ini pertandingan nasional pertama kalian.

Begini…

Pelatih kami punya semua medali dari Asian Games sampai All England.

Tapi, kenapa tak ada medali Olimpiade?

- Karena dia tak menang Olimpiade. - Yang benar saja.

Mungkin dia tak berpartisipasi

karena terluka, atau peringkatnya tak cukup baik.

Tidak. Ranos…

Maksudku, Pelatih Yeong-ja peringkat satu sebelum Olimpiade.

- Peringkat satu nasional? - Tidak. Di dunia.

Pak Yoon! Kenapa Bu Ra tak ikut Olimpiade?

Apa dia tak ikut waktu itu?

Aku tak ingat karena sudah lama.

Olimpiade itu ditentukan oleh para dewa.

Meskipun Bu Ra tak punya medali emas Olimpiade, dia tetap yang terhebat.

Berpartisipasi dalam Olimpiade atau tidak, itu bukan hal penting. Paham?

Jadi, kenapa dia tak ikut?

Lee Yong-tae, turun. Kalian mau lari sampai rumah?

- Tidak. - Tidak.

Hei, pemain terbaik. Apa kabar?

Sampai bertemu pekan depan. Aku akan ke tempatmu.

Pelatih, makanlah.

Apa klub badminton tidak mentraktirmu ayam goreng?

Bagaimana kehidupanmu di sini? Tempat ini jauh sekali.

Bahkan rumahku masih jauh lagi.

Namun, kenapa kau datang ke sini?

Tidak ada apa-apa.

Kau harus bermain bisbol lagi, Hae-kang.

Kenapa? Kau sudah berubah pikiran?

Lebih suka badminton?

Pelatih.

Aku menyadari sesuatu setelah main badminton lagi.

Aku…

sangat amat menyukai bisbol.

Aku semakin suka bisbol.

Se-yoon. Apa gaya perayaanmu jika kau menang?

Aku punya gaya perayaan yang sangat keren.

- Apa itu? - Gaya Lee Yong-dae!

- Sial. - Sial.

Sampai kapan kau akan lakukan itu?

Se-yoon. Kau akan sangat keren jika melakukan ini.

Ini. Keren, bukan?

- Aku sudah memikirkan ini. - Manis juga.

Hae-kang. Beri dia ide untuk gaya perayaan kemenangan.

Kalian sangat norak. Begitu saja bingung.

Ini yang terkenal sekarang.

Bukan. Ini yang terkenal. Gayamu bak tari cumi-cumi.

Dasar norak.

Kalian kekanak-kanakan.

Se-yoon. Bagaimana dengan ini?

- Pak Yoon! - Pak Yoon!

Astaga!

IBU

Halo, Ibu.

Kenapa lagi?

Apa dia pusing karena melihat tarian Pak Yoon?

Dia tak terlihat baik.

Dia selalu begitu saat akan ada pertandingan internasional.

Bahkan bisa lebih buruk. Itu karena dia stres.

Suruh dia minum obat.

Kau tak tahu apa pun, bukan?

Itu pertandingan penentuan perwakilan atlet nasional.

Apa kau pernah mendengar "doping"?

Minum obat demam pun bisa tertangkap.

Ibu, kumohon! Ibu kenapa?

Apa Ibu mati jika tak mendaki gunung sehari?

Karena itulah kaki Ibu selalu terluka.

Jangan membuat pikiranku terganggu. Hentikan!

Apa dia menggunakan dialek?

Dia memang berasal dari Daegu. Rumahnya juga di sana.

Namun, kenapa dia berlatih di desa begini? Di kota pasti lebih nyaman.

Ranos… Maksudku, karena Bu Ra.

Se-yoon tidak lihai badminton dari awal.

Namun, setelah menang pertandingan saat kelas lima SD,

dia tak pernah kalah sama sekali.

- Lantas, apa hubungannya dengan ibuku? - Pihak sekolah dan perwakilan atlet

tak berkata apa pun kepada Se-yoon.

Lebih tepatnya tak bisa berkata apa pun karena dia terlalu hebat.

- Lantas? - Ibumu berkata sesuatu.

- Apa? - Saat Bu Ra baru menjadi pelatih,

dia mengajarkan ulang cara memegang raket dan langkah yang benar kepada Se-yoon.

Dia melatihnya dengan sangat keras.

Ibu! Berhenti menyuruhku makan.

Astaga. Selalu tentang makan.

Ibu-ibu selalu berpikir anaknya tidak makan dengan benar.

Benar. Kirimkan video dukungan kalian untuk Se-yoon kepadaku.

- Ya? - Baik.

Hae-kang, kau juga.

Kenapa? Kenapa aku harus mendukungnya?

Anak-anak.

Bagaimana dengan ini?

- Tidak! - Pak Yoon!

- Pak Yoon! - Astaga!

- Tidak! - Astaga, mataku!

Ibu, ini hari Sabtu. Mau ke mana?

Putriku, maafkan aku.

Pekan depan ada orang penting yang akan mengunjungi sekolah.

Ibu akan segera kembali.

Jika bicara begitu, artinya Ibu akan terlambat.

Tidak begitu, Hae-in.

Hae-kang, bantu adikmu mengerjakan PR.

Hae-kang.

Nanti ibu belikan ayam.

Hae-in, apa PR-mu? Ini?

Ini? Tinggal lem dan pasang saja.

Benar.

Rumah sepi sekali karena teman-teman pulang.

Se-yoon ada di rumah.

Tadi dia bilang mau tidur.

Pukul segini?

Padahal belum pukul 18.00.

Na Woo-chan.

Ya, Ayah.

- Kau… - Jangan bicara.

Jika terus disuruh berhenti,

dia tak akan bisa makan dengan tenang.

Lucu sekali.

Ibu sudah pulang.

Hae-kang, Hae-in! Lihat ini.

- Bagus! - Asyik.

Hae-in.

Ada apa dengan Hae-kang? Ada masalah?

Soal itu…

Tadi pelatih bisbolnya datang. Apa mungkin karena itu?

Hae-kang, Ibu membeli ayam kesukaanmu.

Aku tak mau makan!

Baguslah, jadi tak banyak yang makan.

PENDIDIKAN UNTUK MENDUKUNG SEMANGAT DAN KEBAIKAN

Sial. Padahal nilaiku harus bagus kali ini.

Ini membuatku gila.

Kalian sedang apa? Atlet mendapatkan keringanan nilai dalam ujian.

Tidak begitu. Setidaknya harus 40 persen dari nilai rata-rata sekolah.

تبصرې

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left