لومړۍ 200 کرښې.
Mas!
Beri aku minuman terbaikmu.
Uhm...
Boleh aku minta satu sloki tequila?
Hai.
Apa kamu keberatan kalau aku gabung?
Tahun pertama SMA.
Aku takkan pernah lupa hari itu.
Aku murid pindahan di sekolah baruku
dan tidak ada yang mau bicara padaku.
Aku senang sekali
ada satu murid yang mau.
Dan memperkenalkan dirinya.
Hai!
Ayo, kita main!
Ngomong-ngomong, aku Maraya.
Tapi kamu bisa panggil aku "Aya."
Kamu Nona Pinlee, 'kan?
Orang tuaku kerja untuk orang tuamu.
Makanya aku tahu kamu.
Ahh, begitu ya.
Hai, Aya.
Aku Pinlee.
Tapi kamu bisa panggil aku Pin.
Ah, tunggu.
Nih, aku bawa makanan ringan.
Kita bisa bagi.
Kelihatannya mahal.
Nggak juga.
Tapi ini enak.
Oke, aku coba ini.
Mulai sekarang, kita sahabat ya?
- Beneran? - Mm-hm.
Janji?
Tentu saja!
Tunggu, sakit!
Nanti kamu terpeleset!
Nggak apa-apa!
Hei! Hati-hati!
- Hei! Nanti kamu basah kuyup! - Nggak apa-apa! Ayo!
Jangan tinggalin aku! Aduh!
Sampai akhirnya Aya dan aku
sampai di tahun ketiga SMA kami.
Kami tumbuh jadi gadis remaja.
Waktu cepat sekali berlalu.
Kami juga sudah mengucapkan selamat tinggal
pada sifat kekanakan kami.
Tubuh kami mulai terbentuk,
wajah kami terlihat lebih cantik.
Di sekolah,
beberapa orang mulai naksir kami.
Hai, Pinlee. Kamu cantik seperti biasa.
Ikut aku, Pinlee.
Aku antar kamu pulang.
Hah?
Dengar ya, tolol.
Jangan ganggu Pinlee.
Kamu mau mukamu kena tonjok?
Ayolah, kawan, biarin aja mereka, oke?
- Nggak bisa! - Ayo.
Orang-orang bodoh ini nggak sopan sama kamu.
- Ayo. - Apa lihat-lihat, jelek?
- Memangnya kamu? - Hei...
Sudah cukup.
Anak-anak!
Aku tahu kalian tergila-gila sama cewek-cewek ini.
Tapi kita masih ada latihan besok di lapangan!
Jadi, bubar!
Pulang ke rumah!
Lapor besok jam enam pagi!
- Paham? - Siap, laksanakan!
Ayo, bubar!
Dasar anak manja.
Bubar!
Kamu ini kenapa, sih?
Biarin aja mereka.
Mereka cuma cari perhatian kita
karena kita cantik.
Kenapa harus mereka, sih?
Nggak penting!
Muka mereka kayak kain lap!
Aya ini rusuh banget, ya, Fled?
Tapi makasih banyak, ya.
Untung kamu datang.
Ah, bukan apa-apa.
Kebetulan saja aku senior kalian
dan aku petugas CAT di sini
jadi mereka nurut apa kataku.
Ya sudah, Aya dan Pin,
aku duluan, ya.
Pak Rodriguez minta aku lapor ke sana.
Hati-hati pulangnya.
Oke.
Kadang aku nggak mengerti kamu.
Kamu bisa lembut banget sedetik,
terus jadi dingin banget sedetik kemudian.
Untung Fled datang menolong.
Karena kalau tidak...
Kamu bakal berantem lagi.
Kadang aku nggak ngerti
siapa kamu sebenarnya, oke?
Aku cuma nggak mau mereka main-main sama kamu.
Kamu 'kan tahu aku.
Oh, tunggu.
- Kayaknya Fled jatuhkan ini. - Oh, iya!
Ya sudah, nanti aku antar ke markas CAT mereka.
- Yakin? - Mhm.
- Beneran? - Iya, beneran.
Jemputanku sudah datang.
- Oke, deh. - Oke, dadah.
- Hati-hati. - Sayang kamu.
Dadah!
Sayang kamu!
Bisa datang ke malam prom
itu bagian penting dari kehidupan SMA.
Percaya aja sama aku, oke?
Di situlah para cowok nembak
cewek yang mereka taksir.
dan ajak mereka berdansa.
Kamu bikin aku gugup.
Yang lain juga
merasakan "pengalaman pertama" mereka di malam prom.
Tapi Aya dan aku...
kami melewatkan prom malam itu.
Kami mungkin ketinggalan prom,
- Kejutan! - tapi hari itu jadi jauh lebih berkesan.
Gimana menurutmu?
Karena ini saatnya kami pertama kali
benar-benar melihat
- satu sama lain. - Apa ini?
Indah, 'kan?
Kenapa kamu nangis?
- Ini berlebihan banget! - Duduk!
Kamu suka?
Aku nggak bisa berkata-kata!
Ada lampu-lampu dan semuanya.
Dan api unggun!
Wow!
- Ini luar biasa! - Duduk!
Tahu nggak,
aku sudah merencanakan ini sejak lama.
Karena seperti yang aku bilang,
kalau aku nggak bisa meyakinkan kamu untuk pergi ke prom,
berarti aku juga nggak akan pergi.
Iya, 'kan?
Jadi ini rencana B-ku.
Aku siapkan semua ini di
tempat rahasia kita
karena ini
tempat kita suka membuat kenangan.
Benar, 'kan?
Lagipula,
prom nggak terlalu berarti buatku.
Masalahnya,
satu-satunya alasan aku semangat
itu karena
aku ingin melihat kamu berdandan,
pakai gaun,
tampil terbaik.
Karena kalau ada orang yang ingin aku ajak
di malam ini,
itu adalah kamu.
Kamu bikin aku nangis.
Aku nggak nyangka aku sepenting ini buat kamu.
- Jangan dramatis. - Ini terlalu indah.
Belum pernah ada yang melakukan ini untukku sebelumnya.
Sudah cukup. Ayo.
Tentu saja kita punya makanan!
Aku bawa
bir dingin juga.
Kita belum pernah minum-minum, 'kan?
Sama sekali?
Jadi, ayo minum.
Kamu takut?
Berani?
Ayo lakukan.
Buka botolmu.
Kamu nggak tahu caranya, 'kan?
- Aku tahu! - Oke.
- Bersulang! - Bersulang!
Ah, ya ampun...
- Aku sayang kamu. - Aku juga sayang kamu!
Oh, habiskan!
Habiskan.
Kamu ini kenapa, sih?
Jijik banget, sih.
Sahabatku jorok.
Taruh itu.
Kamu mabuk cuma setengah botol?
Nggak.
Nggak bisakah kamu buka saja?
Sini aku bantu. Balik badan.
Kamu cantik sekali.
Apalagi kamu pakai gaun.
Tunggu. Kenapa gaun ini?
Siapa yang buat ini?
Aku mau beli.
- Di sinilah kami pertama kali menjelajahi - Sudahlah, robek saja!
- tubuh satu sama lain, - Nah, begitu.
- dan mencari tahu apakah kami saling melihat - Kamu juga, buka!
No comments yet. Be the first to leave one.