لومړۍ 200 کرښې.
Menantu!
Menantuku!
Dia menyeretnya!
Ayah!
Lepaskan!
Aku takkan pergi sampai aku balas dendam!
Aku tak mau pergi!
Reet.
Ayo pergi, sayang.
- Tas siapa ini? - Apa?
Tas seseorang tertinggal. Hei.
Ini bom!
Itu bukan tas kita' kan.
Kubilang, ada bom di tas itu.
Bom!
Oh Tuhan!
Dan kita tak bisa pergi dari sini.
Jangan khawatir, Nek.
- Aku akan melindungimu. - Mundur!
- Minggir. - Hei!
Tas ini ada bomnya.
- Tas ini berisi bom. - Apa?
Dia bilang apa?
Pengecut!
- Kenapa dia? - Lihat aku memeluknya.
- Hei. - Terima kasih banyak.
Terima kasih banyak.
Oh ayolah. Gak perlu berterima kasih, Reet.
Kok bisa tahu namaku?
Reet Rathore.
Kau mau ke Chandigarh.
Kok bisa tahu ya?
Aku tahu semuanya.
Anggap saja indra keenam atau… indra keenam.
Tidak, kurasa bukan itu.
- Tentu. - Beneran aku punya indra keenam.
Oh iya, aku Ruhaan Randhawa.
Aku mau ke Delhi lewat Chandigarh.
Terima kasih banyak.
Hati-hati, Tante!
Reet!
Banyak penguntit?
Tidak, ponsel...
Jadi kau mau nomorku sekarang!
- Kau salah. - Tidak, aku benar.
Mengira ada kesempatan karena sudah membantuku?
Reet, ini ponsel...
Persetan ponselmu!
Kau gila, apa?
Aku bukan orang gila,
tapi ponselmu baru saja "kau" pecahkan.
Kau tinggalkan disana.
Apa?!
Astaga!
Keluargamu pasti khawatir. Ini, bicaralah dengan adik iparmu.
Dari mana kau kenal dia?
Ini, bicara padanya.
Hei, Reet. Kau sudah dimana?
Aku baru saja naik bus.
Gembiralah sedikit, karena kau akan menikah.
Ayo, kakak ipar!
Kau menyuruhku kemari mau jadi dokter...
agar kau bisa menikahkanku dengan orang asing?
Reet, Sagar itu anak yang sangat baik.
Ya, dan anggap dirimu beruntung.
Benarkah? Jika dia sangat baik, kenapa tidak nikahinya saja sendiri?
Oke. Aku mau jika kau tak datang.
Cepatlah datang.
Semua orang pada nunggu.
Daah.
Kau bisa dapatkan laki-laki yang lebih baik dibanding Sagar.
Masih gak percaya aku punya indra keenam?!
Kalau begitu lihatlah.
Kau dari Rajasthan.
Nama ayahmu Thakur Vijender Singh.
Sudah 4 tahun kau ada disini...
kuliah MBBS di kampus kedokteran.
- Luar biasa. - Benar,'kan?
Kau memang punya indra keenam.
Menakjubkan.
Boleh aku coba?
Namamu Ruhaan Randhawa.
Anak tunggal mendiang pengusaha sukses Ratan Randhawa.
Dari Delhi.
Tamatan dari Sekolah Doon.
Sekarang pengangguran.
Benar?
Kau juga punya akun Facebook, kau tahu?
Dari situlah semua informasi itu kau dapatkan, kan?
Ini.
Kau tahu, statusku di Facebook lajang?
Bus akan berhenti di sini selama 20 menit.
Aku sudah di jalanan sejak orang tuaku meninggal.
Aku ke Gujarat bulan lalu menerbangkan layang-layang.
Sebelum itu, aku ke Banaras untuk makan paan.
Kau marah.
Begitulah seharusnya seseorang menjalani hidup, Reet.
Kemasi saja tasmu dan pergilah berkeliling dunia.
Nikmati saja hidupmu.
Katakan, tempat mana yang paling kau sukai di sini?
Sudah 4 tahun lamanya aku PP antara perguruan tinggi dan asrama.
Kenapa?
Ayahku orangnya sangat tegas.
Bahkan dia belum siap mengirimku ke sini.
Dia setuju tapi dengan syarat sekolah baik-baik.
Makanya aku selalu PP...
antara kampus dan asrama.
Andai kau keberatan, boleh aku bilang sesuatu?
Tentu.
Kau terlalu naif…
atau kau kira aku begitu.
Begitu?
Kata yang tak pantas di keluarkan.
Kata awalan P.
Penipu?
Sudahlah. Kau begitu naif.
Reet, jangan bilang...
kalau tak pernah datang ke festival musik terkenal di sini.
Benarkan?!
Aku tidak marah, dasar gila.
Ayo.
Kau harus lihat festival itu bersamaku.
Ayo pergi!
Busnya berangkat! Ayo! Ayo cepat!
- Ayo pergi. - Ayo!
Reet…
bus ini bukan satu-satunya yang menuju ke Chandigarh.
Kita bisa naik bus malam.
Lagi pula, kau harus menunggu di bandara selama beberapa jam.
Mari kita manfaatkan waktu itu di sini.
Kau sudah sia-siakan 4 tahun.
Aku yakin kau bisa luangkan 4 jam untuk dirimu!
Kau bilang apa?
Geet!
Reet!
Dia tak angkat ponselnya.
Tolong beritahu kami, Pak.
Kami sudah beritahukan semua yang kami tahu.
Kau harus pergi dan bicara sama mereka.
Apa yang terjadi, Pak?
Jam 14:30 bus yang menuju ke Chandigarh mengalami kecelakaan.
Bus jatuh ke jurang.
itu bus yang kita naiki.
Syukurlah kau tidak naik bus itu.
Tak satu pun penumpang di bus itu selamat.
Temukan.
Halo?
Halo?
Tak bisa kudengar. Halo?
Halo, Trisha!
Trisha? Aku dengar!
Bagaimana ini bisa terjadi, Sagar?
Aku berdoa setiap hari agar pernikahanmu dengan Reet dibatalkan...
jadi kita bisa bersama.
Tak kusangka Tuhan akan menjawab doa-doaku.
Reet meninggal karena aku, Sagar.
Ini bukan salahmu.
Reet,
setidaknya, kakakmu bisa menikahi…
tunanganmu.
- Jangan sampai. - Kenapa tidak?
Jika aku pulang, Ayahku akan menikahkanku.
Beneran?
Undangan nikah sudah dikirim.
Semua orang di kota tahu kalau aku akan menikah dengan Sagar.
Mengubah pengantin disaat terakhir akan merusak reputasi kami.
Dan ayahku bisa mentolerir apa pun selain itu.
Dia mau aku menikah dengan Sagar.
Jadi kau mau apa sekarang?
Aku harus merahasikan dari keluargaku kalau aku masih hidup, Ruhaan.
Cuma dengan begitu mereka ada kesempatan untuk menikah.
Jadi, menurut keluargamu, kau sudah mati selamanya?
Tidak.
Akan kukatakan ke mereka setelah mereka menikah.
Bagaimana dengan Hitler…
Maksudku, ayahmu?
Kau kira dia akan memaafkanmu begitu dia tahu sebenarnya?
Mungkin tidak.
Dia pasti tak menganggapku anaknya.
Tapi setidaknya, adikku bisa tenang bersama orang yang dia cintai.
Kau memang orang baik.
Aku mau tahu apa yang akan dialami keluargaku...
setelah mendengar soal kematianku!
Aku bahkan tak bisa di depan mereka.
Tapi kau…
Ruhaan, maukah kau ikut bersamaku?
Kematian, pemakaman, tangisan, dan ratapan?
Kenapa kau mau libatkan aku dalam kekacauan ini?
Dengar, Ruhaan, toh kau tidak akan kembali ke rumah.
Kau berencana mengembara kan.
Jadi, kenapa gak sekalian ke Bhawanigarh bersamaku!
Bhaw..... Bhawanigarh?
Kau bisa ke Gujarat menerbangkan layang, bisa ke Banaras makan paan,
tapi kau tak bisa ke Rajasthan untuk membantu seorang gadis?!
Kau tahu, dal bati churma kami cukup terkenal.
Betulkah?
Belum pernah kucicipi.
Astaga, romantiknya tempat ini!
Ini rumahmu?!
Kau mau kemana?
No comments yet. Be the first to leave one.