لومړۍ 136 کرښې.
Alkisah,
hiduplah seorang petani bersama istri, putrinya, dan seekor garangan peliharaan.
Suatu hari, kedua orang tua tersebut harus pergi ke kota.
Jadi, mereka meninggalkan putri mereka dalam penjagaan garangan peliharaan itu.
Saat orang tuanya pergi,
seekor ular masuk melalui jendela gubuk mereka.
Tapi garangan itu melindungi sang bayi
dan mencabik ular itu berkeping-keping
dengan giginya yang setajam silet.
Saat kedua orang tuanya pulang,
garangan itu berlari keluar untuk menyambut mereka.
Saat mereka melihat darah menetes dari mulutnya,
mereka menduga garangan itu telah melahap putri mereka.
Sang ayah pun mulai memukulinya dengan tongkatnya.
Sang ibu masuk ke rumah dan menemukan bangkai ular itu
tergeletak di lantai
dan bayi mereka sama sekali tak terluka.
Tapi begitu dia menyadari kebenarannya,
garangan pemberani itu telanjur dipukuli sampai mati.
Terus?
Terus apanya?
Tamat!
Kau pasti lupa akhirnya.
Aku sudah lupa banyak cerita Ibu.
Tapi aku ingat cerita yang ini.
Kau masih bisa ingat suara Ibu?
Andai aku bisa.
Bawa anak itu.
Baik, Pak.
Duduk!
Sedang apa kau di sini? Kenapa tak sekolah?
Aku…
Dia cuma mencari nafkah halal.
Dia harus berterima kasih padaku.
Halal?
Apa kau tahu ini ilegal?
- Beri tahu usiamu. - Empat belas.
Dengar, siapa pun namamu. Pak Mishra.
Semua karyawan kami punya dokumen resmi.
Tak ada yang kerja ilegal.
Nak,
ujian masuk diadakan pukul 08.00 hari Selasa.
Bakatmu istimewa.
Tapi aku tetap harus minta bantuan relasi agar kau masuk daftar ujian.
Kami biasanya tak menerima gadis seperti…
Seperti apa?
Maksudmu, "gadis seperti…" apa?
Kau mau bilang apa? Ayo.
Katakanlah!
Ini kesempatan besar untuknya.
Siapa yang bayar "kesempatan" ini?
Biaya ujiannya 400 rupee.
Biayanya sangat kecil.
Mungkin bagimu kecil, Pak.
400 rupee!
Itu besar baginya.
Beasiswa sekolah asrama Williams amat penting!
Cukup.
Kau
pria berpendidikan dan pintar. Aku tidak.
Aku cuma orang dungu.
Tapi dia tahu mau apa.
Dia juga tahu pekerjaannya.
Semua kerja di sini atas kemauan mereka sendiri.
Aku berterima kasih jika kau
bersedia keluar dari kantorku. Aku sibuk. Keluar!
Aku tahu siasatmu.
Selasa pagi, pukul 08.00.
- Jangan lupa. - Keluar.
Pergi sana.
Pergi!
Ya, Pak Adams…
Pergilah.
Pergilah.
Pergilah.
- Yang mana? - Ini.
"Pria dengan pekerjaan mapan…"
- "Mencari…" - "…mencari pengantin yang setara."
Lalu? Teruskan.
"Gadis yang memenuhi syarat harus berkulit cerah."
- Apa kulitku cerah? - Kulit si bodoh ini kurang cerah.
- Apa ini? - "Dia tak boleh…".
"Dia tak boleh terlalu
ambisius dalam hal pekerjaan."
Tak boleh ambisius?
Jika gadis itu tak ambisius, lantas siapa lagi?
Memang anak lelaki kerjanya becus?
- Tidak. - Tidak becus.
- Dadah, Pria Tampan. - "Tampan"!
Dengar, Sayang. Soal ujian hari Selasa nanti.
Kau akan dapat nilai tertinggi.
Nilai sempurna. Aku yakin.
400 rupee!
Meski kita punya uang sebanyak itu, itu tetap tak sepadan.
Tak sepadan?
Semuanya ada harganya.
Kita bahas pernikahan dan resepsi.
Biayanya juga sangat mahal.
Bagaimana kau akan menikah nanti?
Tak perlu khawatir.
Semuanya sudah kupikirkan.
Jika kau mau membantuku besok,
aku akan memberitahumu rencanaku.
Rencana apa?
Dari mana kau dapat ini?
Itu tak penting.
Kau curi dari pabrik, 'kan?
Aku punya 14 tas ini.
Jika kita jual seharga 40 rupee per buah,
- kita bisa dapat… - 560 rupee.
Boleh kuminta satu?
Baiklah.
- Yang mana? - Yang ini.
Tas 400 rupee cuma 40 rupee.
Belilah tas berkualitas warna-warni.
- Belilah tas baru! - Belilah tas baru!
- Belilah tas warna-warni! - Tas berkualitas!
Mau beli tas?
Tas 400 rupee cuma 40 rupee.
Mau tas?
Tak ada yang tertarik.
Mungkin mereka tak butuh tas?
Bukankah tasnya bagus?
Aku suka tasnya.
Ayo teriak lebih keras.
Tas baru cuma 40 rupee!
Tas 400 rupee cuma 40 rupee. Belilah.
Anuja!
Tas baru cuma 40 rupee.
Tas baru cuma 400 rupee…
Tas baru cuma 400 rupee!
Paman, mau beli tas baru 400 rupee?
Tas baru cuma 400 rupee!
Mau beli tas baru 400 rupee, Bu?
Tasnya cukup bagus.
- Berapa harganya? - 400 rupee per tas.
No comments yet. Be the first to leave one.