لومړۍ 200 کرښې.
= Musim gugur 2015 =-
Mati saja semuanya berakhir.
Tolong pinjami aku hape.
Tolong pinjami aku hape.
Tolong pinjami aku hape.
Siapa kau? Menyebalkan. Pergi sana!
Gadis belia ini, baru masuk dua bulan
sudah lebih dari 20 kali melakukan kencan berkompensasi.
Oh ya?
Yang pasti yang menyebabkannya tewas seketika adalah...
= Sertifikat kematian =-
-= Sertifikat Kematian =- ...tulang tengkorak yang retak dikarenakan jatuh.
= Sertifikat Kematian =-
Ah, bau amis darah.
Kau yang akan memberitahu?
Masa tidak?
Aku juga punya anak perempuan.
Tidak diragukan lagi ini adalah penderitaan di atas penderitaan.
Jaya...
Jaya! Jaya!
Lulus!
Jaya!
Ayah!
Lulus.
Kau senang, aku senang, semua senang.
Kau senang, aku senang, semua senang.
Jaya...
S
Su
Sub
Subt
Subti
Subtit
Subtitl
Subtitle
Subtitle
Subtitle o
Subtitle ol
Subtitle ole
Subtitle oleh
Subtitle oleh:
Subtitle oleh:
Subtitle oleh:
Subtitle oleh: ~
Subtitle oleh: ~
Subtitle oleh: ~ D
Subtitle oleh: ~ Da
Subtitle oleh: ~ Dam
Subtitle oleh: ~ Damn
Subtitle oleh: ~ Damn!
Subtitle oleh: ~ Damn!S
Subtitle oleh: ~ Damn!Su
Subtitle oleh: ~ Damn!Sup
Subtitle oleh: ~ Damn!Supe
Subtitle oleh: ~ Damn!Super
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperS
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSu
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub I
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub In
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Ind
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indo
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indon
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indone
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indones
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesi
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesia
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesia
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesia ~
Subtitle oleh: ~ Damn! Super Sub Indonesia ~
Diterjemahkan oleh: ~ to to ro ~
Terima kasih.
Kau sungguh pintar.
Siapa namamu?
Ayah.
Bawa dia ke yayasan!
Ada keluhan.
Dengan situasimu yang seperti ini tidak akan sanggup membesarkan anak dengan baik.
Jangan!
Ayo, Nak.
Walaupun Ayahku kondisinya seperti begini, tapi dia pintar membawa mobil.
Dia juga menyanyikan lagu pengantar tidur dan memandikanku setiap hari.
Aku mau tinggal bersama dengan ayahku.
Aku tidak mau pergi! Biarkan aku tinggal bersama ayahku.
Ampuni aku, jangan bawa aku pergi.
Biarkan kami hidup bersama berdua.
Anda harus mempertimbangkan kebaikan anakmu.
Oh ya...
Ambillah.
Ambillah, ambil.
Jika kau sudah tidak tahan lagi, segeralah kembali.
Jalani hidup dengan baik.
Terima kasih.
- Jalani hidup dengan baik ya. - Baik, kalian masuklah.
Pergilah.
Jaya!
Berbaktilah pada ayahmu.
Baik.
Aku pergi dulu ya.
Ayo beli baju seragam dan sepatu.
Harga seragam di atas 250 ribu (Won).
Mana ada duit sisa buat beli sepatu?
Lima puluh ribu (Won) tidak cukup buat beli sepatu?
Sudah SMA masih pakai sepatu kanvas?
Tas sekolah bagaimana?
Sebelum upacara masuk sekolah, belikan yang baru untukku ya?
Membawa tas sekolah SMP masuk SMA sungguh memalukan.
Lumayan, 'kan?
Hanya ada satu kamar?
Iya.
Sungguh melelahkan. Buat apa datang ke Seoul?
Sudah ah!
Pindahkan lemari bajumu ke ruang tamu saja.
Ruang tamu!
Ayah!
Dasar!
Apa ini?
Hei!
Ajussi!
Hei ini....
Orang bisnis buka toko harus bayar pajak.
Kau malah buka lapak di depan pintu toko orang.
Kau punya surat izin dari pemerintah?
Surat izin.
Ada di sini.
Dasar!
Apa ini? Kau ngerti bahasa manusia?
- Aku adalah pemilik usaha. - Kebetulan sekali kau datang.
Sedang apa kau?
Dasar orang sakit!
Sedang apa kau di sini?
Biarkan aku berdagang di sini.
Tidak boleh berdagang di sini.
Hei ,hei, kalau dibilang tidak boleh berarti tidak boleh!
Cari mati ya kau?
Kenapa begitu galak terhadap ayahku? Kenapa memperlakukan orang cacat seperti ini?
Gila ya kau? Lepaskan! Lepaskan!
Lepaskan!
Kampret, lepaskan!
Sudah, duduklah di sebelah sana.
Kampret, mau masuk penjara dulu baru tahu rasa ya kau?
Hati-hati kalau bicara!
Hei, apa hebatnya orang cacat?
Hei!
Tidak ada sopan santun, kampret!
Kau diam dulu!
Tolong beri dia pelajaran!
Tenang!
Kalian sama-sama bersalah.
Apa benar harus ditransfer ke pusat?
Sesuai hukum! Sesuai hukum!
Ajussi...
Salah memprovokasi orang seperti ini, bisa-bisa semua yang seperti dia berdemo.
Yang ada nanti Ajussi dan Ajumma kalian berdua yang kapok sendiri.
Ajussi,
kenapa kau juga bicara seperti ini?
Manusia yang memiliki cacat bukan manusia?
Kampret!
Hal ini bermula gara-gara ayahmu.
Aku salah ngomong apa?
Bagaimana? Sudah dengar, 'kan?
Makanya, kalau mau berdagang
bayar pajak dan berdaganglah dengan benar, kampret.
Maaf.
Tak sudi aku, tak sudi! Jangan pernah muncul lagi di depan tokoku!
Cukup, Ayah.
Jaya.
Terima kasih.
Terima kasih apa?
Seperti anak kecil saja.
Jangan sampai terjatuh.
Tidak heran lututmu selalu dipenuhi dengan bekas luka.
Lutut selalu penuh luka.
Jaya.
Bulan yang bulat itu bagaikan putriku.
Ayah, bulan itu selalu mengikutiku.
Ajussi...
Ajussi, kau tidak boleh buka lapak di sini.
- Iya, iya. - Ayo cepat diangkat!
Kami mengerti kesusahanmu, tapi tetap saja tidak boleh. Ayo cepat diangkat.
Ini sudah yang ke berapa kalinya. Ayo cepat! Cepat!
Cepat diangkat!
Ajussi, tidak boleh, tidak boleh.
Cepat dibereskan, cepat.
Sudah makan?
Tunggu Ayah datang baru makan.
Bisnis Ayah kurang lancar?
Belakangan ini tidak begitu lancar.
Iuran hape, baju olah-raga dan tas sekolah bagaimana?
Katanya mau beli sebelum aku mulai masuk sekolah?
Kan ada uang yang dikasih oleh Paman.
Mau berapa kali aku bilang?
Bukankah baju seragam dan sepatu sudah beli?
Masa mau disamakan dengan waktu di Ganghwa-do dulu?
Kenapa menghabiskan begitu banyak uang menyekolahkanku ke sekolah kejuruan seni?
Berdasarkan kondisi kita yang seperti ini.
Aku adalah seorang ayah.
Ada uang cadangan.
Kalau tas sekolah juga harus beli, uangnya masih belum cukup.
No comments yet. Be the first to leave one.