لومړۍ 200 کرښې.
"Semua karakter, organisasi, tempat, dan peristiwa adalah fiktif"
Apa kamu
sungguh berpikir
aku akan menemui seseorang
yang bisa membuatku jatuh cinta?
Mereka yang berani
adalah yang dapat memenangkan cinta.
Halo.
Meja untuk satu orang?
Teman-temanku akan ikut denganku.
Begitu rupanya.
Ini.
Ini kali pertama kamu kemari, bukan?
Ya.
Pilih saja minumanmu.
Lalu chef akan memasak hidangan yang cocok minumanmu.
Begitu rupanya.
Santai saja.
Baik, terima kasih.
Halo, Chef Park.
Pak Kang?
Astaga.
Bu Cha, Anda juga di sini.
Ya, halo.
Apa?
Sang Young, sedang apa kamu di sini?
Kalian berdua bilang akan minum di sini.
Ini kolega seniorku.
Benar.
Halo, aku Sutradara Lee Sang Young.
Halo.
Halo.
Halo.
Kamu selalu membuntuti, bukan? Bagaimana kamu tahu?
Ayolah. Inilah aku.
"Episode 6"
Kamu tidak lelah?
Tidak.
Nona Yoo.
Ya?
Kamu punya pacar?
Tebaklah.
Kurasa...
Kamu mungkin tidak lajang.
Aku lajang.
Kita sama.
Aku juga lajang.
Ya, aku tahu.
Kuharap kalian bertiga bisa melakukan hal lain bersama
bahkan setelah acara ini berakhir.
Mari bersulang.
Ya, tentu.
- Bersulang. - Bersulang.
Bersulang.
Astaga, segarnya.
Kami akan menjadi teman baik selama sisa hidup kami.
Benar, bukan?
- Benar, bukan? - Mereka yang kamu anggap
sekutu sering kali yang paling menyakitimu.
Kamu tidak akan terluka jika tidak tahu orang itu sekutumu.
Kamu bisa mengabaikan orang itu.
Bu Cha.
Pria ini melesat dan menolongku di situasi berbahaya,
dan pria ini bahkan melepaskan jaketnya untukku.
Astaga, benarkah?
A Jin, aku mengerti kalian dekat,
tapi ini bukan sekadar pertemuan sosial.
Kamu tahu berapa banyak uang, kerja keras, dan semangat
untuk memproduksi satu program TV. Taruhannya tinggi.
Kamu harus selalu menjaga jarak yang sehat
untuk memastikan hubungan kerja yang sinergis.
- Yang lebih penting... - Ingat nasihat ini.
Ini nasihat berharga dari pengalamannya sendiri.
- Baiklah. - Hei.
Apa? Apa aku salah?
Begini, Bu Cha
sangat terkenal bahkan saat menjadi asisten sutradaraku.
Dia menjadi cukup kejam selama bertahun-tahun,
tapi dahulu dia sangat penyayang.
Dia langsung berteman dengan semua koleganya
dan menukar sifnya dengan orang lain kapan pun dia diminta.
Dia melakukan banyak hal untuk orang lain.
Dia terbuka dan sering membantu orang lain.
Tapi apa gunanya? Pertemanan berakhir saat acara berakhir.
Lalu dia menangis di depanku.
Dia terus mengatakan betapa kejamnya orang-orang
dan mengeluhkannya.
Dia disakiti oleh sekutunya di masa lalu.
Baiklah, makanan kalian sudah siap.
Ini, satu porsi per orang.
Astaga, terima kasih.
Cantiknya.
Sashimi tuna dan telur landak laut
dengan acar jahe dan alpukat.
Ini kombinasi yang tidak mungkin gagal.
Nikmatilah. Semoga itu bisa menghiburmu.
- Terima kasih. Ini tampak enak. - Terima kasih!
- Astaga. - Ini tampak lezat.
- Enak sekali. - Ya.
Permisi. Tolong berbalik dan kembali.
Itu konyol.
Kenapa aku memikirkannya?
Kenapa kamu kembali?
Ada apa?
Kamu meninggalkan sesuatu di sini?
Aku bertanya kenapa kamu di sini, Pak Kang.
Kamu menyuruhku berbuat sesukaku
saat aku stres.
Kamu bertanya apa aku tidak tahu apa yang kusuka.
Kamu mengatakan itu tadi.
Aku...
Aku tidak ingin berpaling
dari apa yang kusuka.
Itu...
Apa yang kamu suka?
"Homoseksualitas"
"Homoseksualitas adalah dosa!"
"Kudapan Manis"...
Aku ingin bergabung.
Terima kasih, Jin Sung.
Apa yang kamu pikirkan, A Jin?
Yang kusukai...
Kamu mau minum?
- Sekarang? - Ya.
Aku harus ke pasar besok pagi.
Aku akan ikut denganmu.
- Ikut denganku? - Ya.
Hei, kamu tidak tidur?
Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan ganti baju.
Halo.
Kamu tidak keberatan dengan ini?
- Ya. - Benarkah?
- Ini kali pertamamu? - Ya.
Bagus sekali.
Ada banyak yang bisa dilihat.
Jokbal-nya tampak lezat.
Hai, aku membuat nasi kepal ini.
- Nasi kepal. - Terima kasih.
- Sama-sama. - Tunggu sebentar.
- Ini. - Anda tidak akan untung.
Ini hal menyenangkan tentang pasar.
Kamu tidak lelah?
Sama sekali tidak.
- Ini. - Berapa harganya?
- Dua dolar. - Dua dolar?
Akan kuberikan dengan harga bagus.
Ada lagi yang harus kubeli?
- Terima kasih. - Selamat menikmati.
Mi yang kamu pesan juga tampak lezat.
- Selamat menikmati. - Kamu juga.
Aku senang kita memutuskan untuk makan.
Panas sekali.
Astaga, tidak apa-apa. Kamu boleh pulang.
- Aku tidak keberatan. - Sikapmu aneh.
Ada yang ingin kamu katakan kepadaku, bukan?
Jin Sung.
Apa?
Jin Sung!
Kalian berdua sedang apa?
Apa ini?
- Kalian ke pasar bersama? - Ya.
Kamu mau joging?
Kamu tidak mau makan tteokbokki denganku?
- Sekarang? Kami kenyang. - Ayo.
Kamu baru makan mi. Memang tidak kenyang?
Kalau begitu, kita saja yang pergi.
- Ayo. - Baiklah. Sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Sampai nanti!
- Kakak sudah pulang. - Astaga.
Tempat ini seperti kandang babi.
Aku akan membersihkan
di hari saat aku merasa lebih baik.
Ini berat.
Kamu butuh tisu?
Apa? Tidak, aku baik-baik saja.
Kamu mencelupkannya atau menuangkannya?
Apa?
Aku mencelupkannya.
Aku juga.
Begitu rupanya.
Agar gorengan tetap renyah,
kamu harus mencelupkannya. Benar, bukan?
Aku...
Aku tidak ingin berpaling
dari apa yang kusuka.
Tidak, jangan! Jasmu akan terkena cat.
Tidak apa-apa. Pakai saja.
Aku akan masuk lebih dahulu.
Kalau begitu, kita saja yang pergi.
Apa?
- Ayo. - Baiklah.
Tidak...
Ini aneh. Kenapa dia...
"A Jin"
Enak?
Bisa bawakan untukku juga?
Sedang apa?
Kamu bersenang-senang?
Bagaimana bisa kamu makan tteokbokki?
No comments yet. Be the first to leave one.