لومړۍ 200 کرښې.
Jangan eyang!
jangan izinkan mereka masuk!
Jangan.
Dika.
Sshhh...
Mas...
Mas, Mas bangun Mas...
Ada apa?
Uh...
Kenapa?
Kamu itu belum tidur?
Ini lho, Dika itu tiap malam terutama malam Jumat itu tidurnya mesti gelisah.
ngelindur terus.
apa selama aku di kota sebulan ini Dika begini terus?
sering ad suara-suara aneh Mas kalau malam....
sering ad suara-suara aneh Mas kalau malam....- terus juga sering ada... - shhhhh
- terus juga sering ada... - shhhhh
Dika takut bu.
Dika takut.
Dika nggak usah takut
kan ada Ibu.
Mas Mono, ada apa?
Jaran, jaran Penoleh.
Apa?
Ada apa?
jaran.
- jaran? - jaran.
kuda apa Mas? yang gedir-gedor pintu itu sia?
Dika...
Mas...
Dika!
Hey, anakmu!
Dika!
itu Dika, Dika itu!
Dika!
belum tidur?
sudah tengah malam ini. cepat tidur!
ayok.
eh, kudanya jatuh.
sini.
sini kuda, eh copot.
Dika...
Dika...
nggak dengar ibu panggil ya?
BU, lihat Bu, ada kuda dari tadi disana!
kuda?
Itu bu!
KUda apa, nggak ada apa-apa.
Dika!
Dika!
Bangun Nak!
Ya Allah. ini bagaiman kejadiannya?
- Bangun Nak. - Pak, Bantu.
Angkat dia.
Dika...
tolong.
apa?
benar, Bu .
permisi bu.
Cepetang dong Pak!
Iya Eyang.
tunggu disni. Jaga-jaga.
Iya, Eyang.
- Mbah? - Iya?
begini Mbah...
Uhm...
So...
Aun, saya ingin minta...
minta apalagi?
Apa belum cukup yang diberikan Ki Jaran Penoleh?
Apa belum cukup yang diberikan Ki Jaran Penoleh?Cukup Mbah. Bagi saya itu, itu sudah cukup.
Cukup Mbah. Bagi saya itu, itu sudah cukup.
terus?
saya uh...
saya ingin mengakhiri...
perjanjian dengan Ki Jaran Penoreh.
Kamu bicara itu sadar?
kenapa?
kenapa kamu punya pikiran seperti itu?
Tumbal sepuluh tahun yang lalu...
nagi saya...
adalah tumbal cucu saya yang terkahir.
Penjanjian dengan Ki Jaran Penoleh...
Tidak bisa diakhiri.
Kuasa gelap akan berlaku seumur hidup.
tumbal anak sepuluh tahun sekali.
tumbal anak sepuluh tahun sekali.yang ada kaitnnya dengan dengan keluarga yang meminta...
yang ada kaitnnya dengan dengan keluarga yang meminta...
pesugihan dari Ki Jaran Penoreh
itu sudah menjadi syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi
Ingat...
sebentar lagi...
sebentar lagi...kamu harus...
kamu harus...
memberi tumbal.
saya akan...
Saya akan tambhkan sajennya.
Saya akan menambahkan cincin emasnya.
sekali janji...
selamanya harus dipenuhi.
Kalau kamu lalai dengan kewajibanmu,
maka pelan-pelan...
harta kekayaan,
kejayaan,
dan kesehatan...
kamu akan musnah.
kamu akan sakit-sakitan.
mati mengenaskan.
Sari...
nanti nggak usah masak.
Ibu tadi udah suruh Pak Kasman beli ayam bakar.
kamu ini kenapa?
Ibu perhatikan...
akhir-akhir ini kamu itu jadi pendiam.
jarang bicara sama ibu.
kenapa?
ya seperti sekarang.
Ibu tanya tidak jawab.
diam saja.
nggak apa-apa bu.
Sari itu...
cuma teringat Mas mono .
sama Dika.
akhir-akhir ini bayangan Dika sering muncul.
Sari...
Semua itu sudah takdirnya gusti Allah.
Semua itu sudah takdirnya gusti Allah.kamu itu harus mengikhlaskan.
kamu itu harus mengikhlaskan.
takdir ya?
kalau namanya takdir itukan...
kalau namanya takdir itukan...pasti ada penyebabnya toh bu?
pasti ada penyebabnya toh bu?
apalagi kematian.
Sudah...
nggak usah dibahas.
yang penting ibu mau kamu itu kembali seperti semula.
yah...
gimana ya bu...
sari itu sedih.
tapi Sari yakin,
ini semua pasti berakhir.
Bu?
Bu?
Apa Sar?
nggak apa-apa Pakde.
Apa itu yang kamu pegang?
Ke sini.
Begini Sar...
Pakde sebenarnya tidak suka,
dengan tindakan Ibu mertuamu itu.
Kamu nggak perlu kuatir.
Pakde ini ada di pihakmu.
sudah tenangkan pikiranmu.
tapi ini jadi rahasia kita berdua
serius, Pakde?
Iya.
kunci apa ini, Sar?
nggak tahu.
Sepertinya kunci kandang, Pakde.
Kunci kandang...
Pakde...
Pakde bisa bantu Sari-kan?
maaf ya Eyang...
Batik Eyang masih banyak di toko.
nggak apa-apa.
nanti kapan-kapan saya datang lagi,
Semoga batiknya sudah laku.
Semoga batiknya sudah laku.Terima kasih, Eyang. Amin.
Terima kasih, Eyang. Amin.
Ya sudah, saya balik dulu.
mari.
iya Eyang, silahkan.
Salam buat Eyang .
Lain kali, pasti mbak pesan.
Iya, mbak. Terima kasih.
- Mari. - Iya silahkan.
hati-hati Jeng!
Bu Lasmi hari ini tidak ambil batik kita untuk tokonya .
nggak mungkin.
Bu Lasmi itu sudah menjadi langganan ibu semenjak bapak masih ada.
20 tahun lalu.
kenapa sekarang dia menolak batik kita?
Sari juga nggak tau.
Bu Lasmi nggak menjelaskan apa-apa.
hanya saja...
tadi Bu Lasmi...
Silahkan, Ki.
Kamu tadi sedang apa?
Perusahaan saya...
sepertinya akan bangkrut.
Kamu jangan nunda-nunda memberikan tumbal!
Ingat...
Ingat...Dua minggu lagi...
Dua minggu lagi...
Waktunya kamu memberikan tumbal.
Sar...
ini lho Sar, lihat.
Nih.
cucu ibu.
dari Putri, anak bungsu ibu.
No comments yet. Be the first to leave one.