لومړۍ 200 کرښې.
"Surat Pengangkatan, Im Ba Reun"
Bangunlah.
"Episode 1"
Ba Reun.
Ba Reun.
Kamu berjanji akan ke sana hari ini.
Sesulit itukah ke sana dan minum segelas kopi?
Ibu, besok hari pertamaku di pengadilan baru.
Sudah kubilang aku tidak suka mendatangi acara semacam itu.
Kamu tidak bisa menebak masa depan.
Ibu melakukan ini demi kamu,
tapi kamu selalu mengabaikan ibu.
Ibu sudah bersusah payah mendidikmu.
Cukup, Ibu. Sudah cukup.
Ibunya Ji Soo tadi singgah.
Karena uang sewa rumah?
Semua berita membahas keterpurukan ekonomi,
tapi biaya kontrak rumah terus menanjak.
Kita harus pindah jika tidak sanggup membayar uang sewa yang baru.
Ibu dan ayahmu tidak masalah karena sudah tua,
tapi kini kamu hakim. Tidak apa kamu hidup begini?
Kamu tidak bosan hidup begini?
Segelas kopi saja, ya?
Ya, masing-masing cukup segelas kopi.
Ya?
- Masing-masing? - Benar!
Segelas kopi tiga kali.
- Apa? - Kamu jauh-jauh datang kemari.
Tentu kamu harus menemui lebih dari satu orang.
Tapi kurasa itu tidak sopan.
Sudah kubilang kamu tidak bisa berlama-lama karena sibuk.
Menemui hakim yang bekerja di Pengadilan Negeri itu sulit.
Selain itu, kamu juga sangat tampan!
- Astaga. - Ayo cepat.
Omong-omong, aku bisa menanggung transportasimu.
Bisakah kita minum kopi bersama lagi sesekali?
Anda menganggapku apa?
Astaga, lupakan saja. Aku hanya bercanda.
Astaga.
Orang tua wanita pertama yang akan kamu temui punya bisnis.
Pasti kamu pernah mendengarnya, Grup Oryong.
Perusahaan itu sering terlibat kasus penggelapan dan malapraktik.
Bukankah keluarganya menyukai kursi roda?
Astaga. Kulitmu sungguh putih dan halus.
Aku tidak pernah keluar rumah.
Lalu apa kerjamu di rumah?
- Aku belajar merangkai bunga. - Merangkai bunga?
Aku juga berlatih yoga dan memasak.
Tidak ada hal istimewa. Orang tuaku sangat hemat.
Kamu melakukan semua itu di rumah?
Terkadang, aku juga berlatih bulu tangkis.
- Di rumah? - Kami tidak punya lapangannya,
- Lapangan bulu tangkis? - tapi aku bisa bermain di halaman
di antara dua lahan parkir kami.
Begitu rupanya. Dua lahan parkir.
Siapa yang mengajarimu?
Mantan atlet, Lee Yong Dae.
Ini. Kamu tahu siapa dia, bukan?
Ya.
Secara realistis, keluarga ini yang akan paling membantumu.
Pernah mendengar Beruang Cokelat Dapsimni?
Orang tuanya punya lembaga pemberi pinjaman swasta.
Itu dia. Kami di sini!
- Jadi, orang tuanya rentenir. - Halo!
Pasti mereka melakukan penghindaran pajak.
Jadi, paras sepertimu mengetukkan palu?
Pasti keren sekali.
Hakim di Korea tidak menggunakan palu.
Kami hanya mengumumkan putusan secara lisan.
Sungguh? Berarti efeknya tidak sama.
- Apa? - Selain itu,
jika ada kasus besar,
apa atasan di pengadilan bertemu diam-diam
dan memberimu perintah?
Kamu dibuntuti dan disadap?
Sepertinya kamu terlalu banyak menonton drama TV dan film.
Memang. Bisa ceritakan bagaimana aslinya?
- Ceritakan. Kumohon. - Apa...
- Aku sangat penasaran. - Nona. Hentikan
Tidak bisakah kamu memberitahuku?
Maaf.
Aku terlalu cerewet, ya?
Mungkin karena aku sering ke gunung
dengan ibuku dan teman-temannya belakangan ini.
Sepertinya ibumu suka mendaki gunung.
Tidak, dia mengoleksi gunung sebagai hobi.
Begitu rupanya.
Temuilah wanita ketiga.
Kehormatan dan status lebih penting daripada uang.
Astaga, kamu sangat tampan.
Dia pasti tampak hebat di foto untuk poster kampanye pemilu.
- Apa? - Tentu saja.
Ayahnya adalah anggota kongres yang telah terpilih empat kali
dan ingin mencalonkan diri untuk gubernur tahun ini.
Bagaimana kamu bisa masuk Sekolah Hukum Universitas Nasional Seoul?
Karena nilaiku sangat tinggi.
Aku daftar dan kebetulan diterima. Sepertinya aku beruntung.
- Ibu! - Dia sungguh rendah hati!
- Astaga. - Kenapa kamu menjadi hakim?
Entahlah. Ada beberapa alasan.
Tujuanmu menjadi hakim di Mahkamah Agung atau politikus?
Kamu terlalu tampan untuk menjadi hakim.
Sebaiknya kamu terjun ke politik.
Bagaimana jika menjadi presiden?
Panutanku Jacqueline Kennedy saat aku masih kecil.
Astaga.
Ibu akan menjadi mertua presiden.
Astaga, ini gila.
Ini sebabnya aku membenci kisah Shim Chung.
Kenapa kita harus mengorbankan raga kita untuk orang tua?
Kenapa Paman payah bermain piano padahal sudah dewasa?
Ini kali pertamaku belajar memainkannya.
Kenapa permainanmu payah padahal sudah belajar lima tahun?
Kenapa Paman tidak belajar sejak masih kecil?
Kenapa Paman memainkan lagu yang sama setiap hari?
Hanya ini lagu yang ingin kumainkan.
"'To Kill a Mockingbird'"
"'To Kill a Mockingbird'"
"'To Kill a Mockingbird'"
Halo, Pak Yoon.
Di mana aku? Aku di kereta bawah tanah.
Mobilku mogok, jadi, kutinggalkan di bengkel.
Mobil impor tidak praktis. Bengkelnya terbatas.
Aku pun berkesempatan untuk naik kereta. Ada apa?
Dia pikir hanya dia manusia di masyarakat industri.
Apa? Kamu takut?
50.000 dolar bukan apa-apa.
Apa yang menakutkan?
Kamu tidak akan kalah, jangan khawatir.
Orang yang punya uang harus saling percaya dan mendukung.
Para tetua mengenalkanku.
Baik sekali, bukan?
Omong-omong, kamu mendengarnya?
Pastor kita berselingkuh dengan gadis muda.
- Jangan-jangan... - Tidak perlu khawatir.
Obat zaman sekarang sangat ampuh.
- Maaf. - Aku tidak bermaksud menyombong,
tapi cucuku dari New York sepertinya genius.
Dia terlalu pintar untuk sekolah biasa.
Dia dari keluarga baik-baik.
Menantuku lulusan sekolah di New York.
Anak mereka lahir di Amerika, jadi, dia orang Amerika.
Ada untungnya menguliahkan putriku di luar negeri.
Maka itu, kepemimpinan cucuku sungguh hebat.
Dengan lima atau enam teman,
dia menegur orang yang tidak menurut kepadanya.
Lalu Komite Kekerasan Sekolah memanggilnya.
Bukankah itu normal untuk lelaki yang sedang tumbuh?
Kurasa anjingku genius.
Anjing tetangga menyalak seperti ini,
tapi anjingku menyalak seperti ini.
Pengucapannya seperti dari Timur.
Anjing itu pasti dari luar negeri.
Apa maksudmu?
Kamu gila?
- Untuk apa aku tahu soal anjingmu? - Itu dia.
Untuk apa aku mendengar soal anak Anda?
Apa?
Astaga, aku sungguh sial.
Mustahil.
Kamu bermain Debussy mulai bulan ini?
Kamu menikmati kursusnya?
Aku tidak suka
kursus piano.
Kenapa? Kamu tidak suka bermain piano?
Selama kursus,
guruku terus...
Guruku terus melakukannya kepadaku.
- Hujan! - Hujan!
"'To Kill a Mockingbird'"
Pak!
Anda baik-baik saja? Butuh bantuan?
- Apa maksudmu? - Sepertinya
wanita ini terus menggosokkan bokongnya ke tangan Anda.
Anda baik-baik saja? Perlukah aku melaporkannya?
Aku tidak paham maksudmu.
Jangan cemas. Untuk berjaga-jaga,
aku sudah merekamnya.
Jangan biarkan orang lain menindasmu karena kamu pria lemah.
- Semangat! - Berikan.
- Apa-apaan Anda? - Berikan.
- Ada apa denganmu? - Apa-apaan?
Beraninya kamu menyentuhku, Bedebah!
Anda seorang profesor.
Profesor pendidikan etika.
Tolong hubungi aku jika butuh saksi mata.
Anda hakim.
Terima kasih, Pak.
Mari kita pergi, Profesor Ko?
Aku butuh ambulans. Aku tidak bisa berjalan.
Kamu tidak apa-apa? Kamu terkejut?
Terima kasih.
Sama-sama.
Kita tidak boleh takut kepada pria aneh sepertinya.
Mereka sekecil ini.
Mereka mini.
- Hati-hati di jalan. - Terima kasih.
Sampai jumpa.
Terima kasih telah membantuku.
Kamu hakim di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.