لومړۍ 200 کرښې.
Dengan ini saya nyatakan bahwa Apurba adalah salah satu mahasiswa saya di fakultas Kalkuta.
Sensitif, teliti, dan rajin. Dia layak mendapat simpati dan dorongan.
Saya pergi dulu, pak.
Bapak harap kamu bisa menyelesaikan kuliahmu.
Saya tahu, tapi saya kehabisan uang.
Jangan pernah berhenti menulis.
Ceritamu di majalah kampus
tentang kehidupan desa sangatlah -
Jangan tertawa!
Itu bisa jadi ladang bisnis.
Tentu saja, tidak semua orang Sarat Chandra.
- Permintaan kami - - Pasti terpenuhi!
Selamat tinggal, pak.
Hidup revolusi!
SATYAJIT RAY PRODUCTIONS Mempersembahkan
APUR SANSAR
Cerita Asli oleh BIBHUTIBHUSAN BANERJEE
Menampilkan
SOUMITRA CHATTERJEE SHARMILA TAGORE
ALOK CHAKRAVARTI SWAPAN MUKHERJEE
DHIRESH MAJUMDAR
SEFALIKA DEVI
DHIREN GHOSH
Sinematografi oleh SUBRATA MITRA
Penata Artistik BANSI CHANDRAGUPTA
Sound oleh DURGADAS MITRA
Penyunting Gambar DULAL DUTTA
Manager Produksi ANIL CHOUDHURY
Processing oleh INDIA FILM LABORATORIES
Suara Direkam di RCA dan STANCIL-HOFFMAN Systems
Co-Produser AMIYANATH MUKHERJEE
Didistribusikan oleh CHHAYABANI PRIVATE LTD.
Musik oleh RAVI SHANKAR
Diproduseri, Ditulis, dan Distrudarai oleh SATYAJIT RAY
Siapa disana?
Selamat pagi.
Selamat pagi. Silahkan duduk.
Apa sempat aku bisa duduk?
Setidaknya kakimu tidak pegal
setelah lewat tangga itu.
Aku tidak merayap di tangga jadi aku bisa istirahat.
Kita sudah saling kenal
itu kenapa aku kemari.
Aku akan bertanya dengan singkat dan jelas
dan aku mau jawaban yang singkat dan jelas darimu.
Silahkan saja.
Kamu tahu sekarang tanggal berapa?
Sepuluh.
Kamu sewa berapa bulan?
Tiga.
Jadinya 21 rupee.
Kamu mau bayar sekarang atau aku datang lagi nanti?
Itu tiga pertanyaan, bukan satu.
Itu tidak adil.
Banyak ketidakadilan, anak muda.
Kamu pikir kalau aku memberimu tempat tinggal secara cuma-cuma.
Apa itu adil?
Apa adil menggunakan listrikku di siang hari?
Kamu pria terpelajar.
Kamu punya foto tokoh hebat di dinding.
Tapi saat bayar sewa, kamu ogah-ogahan?
Itu juga tanda kebesaran.
Aku tak bisa menang saat berdebat denganmu, Apu-babu.
Aku juga bisa merangkai kata,
tapi itu tak akan pas di telinga anak muda.
Kalau begitu, aku akan balik sore nanti.
Siapkan uangnya
atau aku cari penyewa baru.
- Singkat dan jelas. - Singkat dan jelas.
Permisi.
Masuklah.
Keduanya "Tn. Ray."
Jadinya bingung.
"Kami bersedia menerima
cerita pendek berjudul 'Pria dari Tanah'
untuk kami publikasikan di terbitan Sahityik selanjutnya."
Aku harap bukan kabar buruk.
Baiklah, selamat tinggal.
Kenapa kamu gak pernah dapat surat?
Apa tak ada yang mengirimnya padamu? Bahkan pacar sekalipun?
Pasti senang rasanya membaca surat cinta.
Benarkah? Baguslah.
Pertahankan selagi kamu bisa.
Jangan memikirkan masalah pernikahan dulu.
Aku bicara berdasarkan pengalamanku. - Selamat tinggal.
SEKOLAH DASAR HARIMATI
- Satu, dua, tiga. - Kenapa?
Anda mengiklankan lowongan guru di koran.
Kualifikasinya?
- Sekolah Menengah. - Kami cari Sarjana.
Tapi kan sekolah menengah dulu!
Iklannya bilang apa?
Ya, butuhnya sarjana.
Lalu kenapa sekolah menengah terus?
Masalahnya apa?
Kamu mau bekerja untuk 10 rupee perbulan? Bodoh!
12. Giliranmu.
Empat, enam, delapan, sepuluh, dua belas.
Ada perlu apa?
Saya mengerti anda merekrut farmasi.
Saya ada... ijazah sekolah menengah.
Duduklah.
Ada pengalaman di labeling ?
Saya bisa belajar.
Tidak bisa?
Baiklah. Lewat pintu itu
terus lurus ke belakang.
Labeling ada di sebelah kanan. Lihat-lihat kesana dulu .
- Lihat-lihat? - Ayolah.
Apa ini?
Pulu?
- Kau teman yang sangat baik. - Kenapa?
Pergi dari asrama begitu saja!
Aku mencarimu dari jam 4:00.
- Bagaimana aku tahu kalau kau - - Diamlah!
Tak ada yang tahu kalau kau sudah pergi.
Aku pergi ke tempatnya Anil. Dia pergi bermain.
Aku akhirnya dapat alamatmu dari murid privatmu.
Butuh setengah jam buat kesini!
Kamu ketawa? Kamu harusnya malu!
- Kamu gemukan sekarang. - Aku gemuk tiga jam yang lalu.
- Bagaimana kalau segelas teh? - Dimana?
- Restoran. - Jauhkah?
Sekitaran sini.
Baiklah.
Tapi kita ada tiket nonton A Widow's Fast .
Sebentar.
Kenapa kamu sembunyi disini?
Kamu bikin uang palsu? - Andai aku bisa.
Kompor minyak! Kamu masak sendiri?
Ya. Aku akan masakin kamu kapan-kapan.
Nasi dan kentang rebus.
Bagaimana kerjaan di kereta?
Padahal aku yakin kamu bakal diterima.
Ada mogok kerja. Mereka merekrut yang mogok.
Aku tidak tahu.
- Jadi kamu nganggur? - Aku mengajar sesekali.
Biar yang tidak pandai jadi pandai. - Bayarannya berapa?
Lima belas rupee perbulan.
- Kamu udah belajar mengetik? - Ya, jaga-jaga.
Bagus. Akan aku carikan pekerjaan nanti.
Aku ada tempat kerja. - Balik? Dari mana?
Sepupuku akan menikah hari Senin.
Kamu harus datang.
- Dimana? - Cuma beberapa hari.
- Iya, dimana? - Khulna.
Khulna? Gila kamu ya?
Kamu bakal suka disana.
Desanya asri.
Banyak perahu di sungai.
Lahan rumput dan sawahnya luas.
Setapak berliku di ladang bambu
dan kebun mangga. Gimana?
Dan pohon yang banyak burungnya:
Dan saat senja, jangkrik dan kunang-kunang,
serigala, dan lampu petromaks.
Tanpa listrik!
Mau? Apa aku berhasil membujukmu?
Jadi kamu bakal datang, kan?
"Bawa aku kembali ke pangkuanmu, Oh Ibu Alam.
Bawalah kembali anakMu dan usap dia dengan kain sariMu yang melimpah.
Satukan aku dengan tanahMu dan usapkan padaku
nan jauh disana, layaknya keceriaan di musim semi.
Biar aku dobrak pintu hati yang sempit,
menghancurkan tembok batu diri
dan penjara pikiran yang gelap nan suram,
bergegas maju, menyebar, gemetar -"
Polisi!
Siapa disana?
Ini saya, Mainak, putra dari Himalayas,
menyembunyikan sayapku di lautan.
Kamu dikejar apa?
Kamu kayak Nimchand di drama yang kita tonton - selalu tenang!
- Tahu gak? - Apa?
- Aku gak ngambil kerjaannya itu. - Kerjaan apa?
- Yang kamu bilang tadi. - Kamu naik pangkat?
- Jangan konyol. - Terus kenapa?
Kenapa aku harus jadi buruh?
Tak ada alasan.
Aku orang yang bebas - tak terikat, tanpa tanggung jawab,
tak ada yang khawatir. Kenapa jadi buruh?
Kamu gabisa terus jual buku untuk bayar sewa!
- Semua bakalan baik-baik saja. - Dengan nganggur?
Mereka yang memiliki bakat sejati -
Tak perlu cari nafkah?
Woolfe,
Dickens,
Keats,
Lawrence,
Dostoïevski,
Apurba Kumar Ray.
Tertawa saja sesukamu. Kita lihat saja.
Apa kamu menulis lagi? Puisi baru gitu?
Kamu itu filistin.
Filistin?
Kamu sekarang insinyur.
Kamu akan keluar negeri dan mendapat gelarmu,
lalu tinggal disini dengan gaji besar. Bah!
- Jadi aku filistin? - Betul.
Siapa yang bikin kamu mau baca A Widow's Fast ?
No comments yet. Be the first to leave one.