لومړۍ 200 کرښې.
Ayah.
- Ayah tak apa? - Rumah sakit lain juga tak bisa!
Kumohon. Kami tak tahu harus menghubungi ke mana lagi.
Tidak, ini tak boleh terjadi.
Ayah.
Dalam hidup, ada momen yang tiba-tiba terjadi.
Ayah.
Ayah.
Momen ketika kita mencari Tuhan dengan penuh harapan.
Sial.
Ini pasien aorta perut yang pecah tadi.
Sudah kubilang tak ada dokter yang bisa mengoperasinya.
Kenapa bersikeras dibawa ke sini?
Tanda vitalnya baru bisa stabil setelah syok hipovolemik.
Dia bisa tewas bila tak segera dioperasi.
Kami tak bisa.
Cepat pergi.
Sekarang.
- Dokter Ha. - Ya?
Bawa mereka pergi.
- Baik. Mari keluar. - Dokter.
Tolong selamatkan ayahku.
Aku mohon.
Bawa mereka.
Momen ketika kita berharap
arwah dapat membantu kita bila Tuhan sedang sibuk.
- Keluarlah. - Tidak!
Jangan!
Tolong pertimbangkan lagi.
Pasien bisa tewas dalam perjalanan jika kita biarkan dia pergi.
Kau gila?
Berani sekali kau, Anak Magang.
- Kenapa kalian diam saja? - Tidak!
Berhenti!
Ini rumah sakit dan kita dokter.
Siapa yang bisa bantu kalau bukan kita?
Dasar bodoh. Kau pikir kau seorang dokter?
Kalau begitu, kau mau mengoperasi pasien ini?
Jangan pergi, Ayah!
Lalu bagaimana?
Arwah berhasil menyelamatkan pasien itu?
Kalian penasaran, 'kan? Itu…
Itu rahasia.
Gawat kalau orang-orang tahu.
Sungguh ada arwah semacam itu di dunia ini?
Tentu saja. Di rumah sakit ini pun pasti ada.
Dewa pelindung yang melindungi orang sakit.
Tahu dewa pelindung, 'kan?
Jadi, kalian harus bersyukur dan anggap ada dokter arwah
yang selalu menjaga kalian.
- Katakan, "Terima kasih." - Kau bohong!
Mana ada arwah yang baik begitu?
- Benar, kau bohong! - Benar, kau bohong!
Mana mungkin dokter jadi arwah?
Memang arwah itu pahlawan super?
Itu bohong besar!
- Dasar nenek pembohong! - Anak zaman sekarang kasar sekali.
Mereka tak memercayai orang tua.
Jika manusia mampu melakukan segalanya sendiri…
12 TAHUN KEMUDIAN
…itu baru bohong.
Bohong besar.
PUSAT MEDIS UNIVERSITAS EUNSANG
PUSAT KEDARURATAN MEDIS
Luar biasa.
Dia tampak gagah seperti biasa.
Dia dokter utama Bedah Kardiotoraks, Cha Young-min.
Apa? Dia dokter utama?
Tak terduga sekali, 'kan?
Kau pasti heran kenapa pria setampan dan segagah itu jadi dokter.
Selain itu, dia juga sangat misterius.
Ada apa?
RJP berapa lama?
LAYANAN DARURAT 119
Perjalanan 30 menit dan tak tahu henti jantung
- sejak kapan karena tak ada saksi. - Kemari.
Suruh Dokter Han. Tak perlu pakai ECMO.
Menyingkir.
- Siap. Satu, dua, tiga. - Satu, dua, tiga.
Kuperiksa detak jantung.
Siapkan intubasi.
Minta selang 7,5 mm.
Ganti.
Pompa oksigen.
Defibrilator.
Dokter Bedah Kardiotoraks dan Tim Medis ECMO mana?
Katanya mereka segera kemari.
Siapkan 200 joule. Minggir.
- Sudah siap. - Kejut.
Kuperiksa detak jantungnya.
Tekan terus.
Kuperiksa detak jantungnya.
Kau mau ke mana?
Hei, Soo-jung!
Dokter Cha Young-min!
Ada pasien yang butuh ECPR di IGD. Tolong periksa dia.
Dokter magang, Nona Oh?
Pangkat urusan nanti. Ayo cepat.
Dokter magang memang suka sok tahu.
Tak apa. Dahulu aku pun sama.
- Itu hak istimewa dokter magang. - Awas belakangmu, Dok!
Maaf, Dokter. Kita tak ada waktu.
Ayo cepat.
Apa-apaan kau?
Dengar, Nona Oh. Aku sibuk.
Pertama, aku tak memeriksa pasien biasa. Kenapa?
Sebab aku bukan dokter biasa.
Kedua, aku tak memeriksa pasien darurat. Kenapa?
Sebab ada tahapan untuk sampai kepadaku.
Ketiga, aku tak periksa pasien macam itu. Pasien apa?
Pasien seperti yang baru tiba tadi.
Tangan ini untuk pasien yang minimal punya satu persen harapan hidup.
Awas belakangmu, Dok.
- Daripada bicara terus… - Apa?
Nona Oh, kembalilah ke IGD.
Belajar dahulu cara vonis wafat.
Aku pamit untuk menyelamatkan orang lain.
Dasar sinting.
Siapa nama pasien?
Namanya…
Namanya siapa?
Namanya Shin Jung-woo.
Pak Shin Jung-woo
telah wafat pada 2 September…
pukul 09,31.
Cha Young-min berengsek.
Siapa?
Jangan bilang kau pergi menemuinya.
Hei, kau tak tahu siapa dia?
Siapa lagi? Dokter berandal yang tampak hebat di luar.
Berandal?
Jangan asal bicara.
Kau tak tahu dia itu dokter terhebat rumah sakit kita
yang bahkan tak bisa diusik Direktur Utama?
PUSAT MEDIS UNIVERSITAS EUNSANG
Saat masih magang,
dia berhasil mengoperasi pasien darurat dengan tangannya sendiri.
Konon kala itu, rumah sakit kita benar-benar heboh karenanya.
Saat jadi residen pun, sempat terjadi beberapa kali.
Kini seluruh operasinya selalu berhasil.
Bahkan sampai ada gosip dia dirasuki arwah.
Apa katamu tadi?
Mengoperasi sendiri saat magang?
Kau juga tak percaya, 'kan?
Kala itu pasti seumuran denganmu.
Segenius apa pun dia…
Bukan itu. Soal dirasuki arwah.
Itu hanya metafora.
Maksudnya, kemampuan dia sehebat itu.
Mana mungkin dia sungguh dirasuki arwah?
Pasien wanita, 33 tahun, menderita penyakit Behcet.
Sudah operasi Bentall tiga kali akibat kebocoran katup aorta.
Rencananya hari ini dia akan menjalani operasi Bentall keempat
oleh Dokter Cha akibat aneurisma akar aorta.
Keempat?
Bukan kelima?
Secara teknis memang operasi kelima,
namun, tepatnya, operasi ulang operasi keempat.
Dokter Cha, sebagaimana kau tahu,
penyakit itu sering kambuh, sehingga sering dioperasi
sampai pembuluh darah kerap pecah saat membedah dada
karena adhesinya makin akut.
Itu memang operasi rumit dan sulit.
Lantas kenapa kau lakukan operasi serumit dan sesulit itu?
Itu…
karena dokter lain tak sanggup.
Lalu kenapa tak kau rampungkan operasi ulangnya?
- Begini, Dokter. - Kenapa?
Pasien tak percaya Dokter Ban…
Pasien memohon agar dokternya diganti.
Apa boleh buat. Siapkan operasinya. Lanjut.
Pasien pria, usia 70 tahunan, menderita diabetes kronis, hipertensi,
dan ada riwayat strok dua tahun lalu.
Dari tes, terdeteksi sarkoma jantung
dengan gejala gangguan pernapasan sejak sebulan lalu.
Aku diminta langsung soal operasi itu
dan putranya bertanya apa sang ayah bisa dioperasi.
Jadi, kau mau menjalaninya?
Tentu aku tak bisa. Aku mana bisa?
Aku hanya ingin tanya apa kau bisa.
Tak bisa.
Dokter Cha,
coba pertimbangkan dahulu, jangan langsung ditolak.
Strok amat berpotensi jadi kian parah akibat gumpalan darah atau serpihan tumor
yang terbawa dari jantung.
Potensi kambuh pun tinggi karena tumor tak bisa diangkat sepenuhnya.
Tanpa operasi, pasien bisa hidup satu tahun.
Beri tahu putranya agar dia biarkan sang ayah hidup tenteram
jika tak ingin mengurangi sisa hidupnya.
Jangan begitu, Dokter Cha.
Lanjut.
Dia pasti sengaja mempermalukanku.
Dia selalu meremehkan aku sebagai atasannya.
Mentang-mentang hebat, dia jadi besar kepala, padahal masih muda.
Teruslah berbesar kepala dan lihat karmanya nanti.
Tuhan, tolong hukum dia.
Aku baru ingat.
Hari ini, 'kan?
Lihat saja, Berengsek. Kau akan bertemu lawan yang sepadan.
Mari jalani hari ini dengan santai.
No comments yet. Be the first to leave one.