لومړۍ 200 کرښې.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
HOBART UNTUK KURSI SENATOR
Saat kami tanya,
"Menurutmu politikus karier macam Dede Standish bekerja baik
dalam mewakili Distrik 27 di Albany?" Responsnya 33 persen "ya", 38 "tidak",
"tidak jawab" 14,
"tanpa opini" 15.
- Itu bagus. - Buruk untuknya, baik untuk kita.
Ya, aku paham. Tak perlu diperjelas.
Tapi saat ditanya,
"Apa kau percaya Payton Hobart berpengalaman
untuk mewakili Distrik 27 di Albany?"
turun ke 21 persen "ya",
"tidak" 44 persen,
"tidak jawab" 22, dan "tanpa opini" 13.
Oke, tapi pertanyaannya beda jauh.
Sebentar. "Tidak jawab" dan "tanpa opini" sama saja.
Tidak.
Astaga! Sial!
Aku sering sekali jabat tangan
sampai separuh bujet habis untuk sanitasi tangan.
Kau akan membiarkannya tumpah atau...
Kenapa dengan sisa sebulan poinnya turun sepuluh lebih?
Nama Dede Standish sudah diakui selama 30 tahun.
Intinya soal pemilih.
Jumlah pemilih Senator New York
cenderung cuma dua persen.
Sedikitnya 6.000 orang akan memberikan suara mereka,
artinya perlombaan ini bisa ditentukan oleh 100 suara.
Kau bisa menang jika kau mengincar orang
yang menjawab "tidak tahu".
Kita tahu siapa. Kita punya nomor teleponnya.
Tak ada respons "tidak tahu"!
Benar, James,
sebab kau menanyakan pendapat orang dengan cara membingungkan.
- Mungkin aku beli kopi saja. - Terima kasih.
Alasan kita tertinggal sepuluh poin
bukannya memimpin sepuluh poin adalah karena kau punya bom nuklir
bertuliskan "tripacar" dan kau menolak memanfaatkannya.
Itulah masalahnya dengan bom nuklir, James.
Pihak peluncurnya dapat citra buruk.
Aku tak mau berkampanye kotor yang menyerang hidup pribadi lawanku.
Aku kandidat bergagasan.
Kalau begitu, biasakanlah dirimu dengan gagasan kita kalah.
Mungkin alih-alih kopi, kita bertemu besok?
Bisa tolong ambilkan pel?
Aku butuh pretzel,
aku butuh selada ayam,
aku butuh Gatorade...
Lupakan.
Semuanya, bangun dari pelana. Ayo mulai.
Kanan, kiri, kanan.
Stabilkan pinggulmu.
Jalur tiga, ditunggu pembeli.
Aku kenal kau. Kenapa mengikutiku?
Mau makan siang?
Aku ingin bicara dengan Payton Hobart.
Jangan bohong dan bilang dia tak ada.
Katakan ada Andrew.
Oke. Andrew?
Tanpa nama belakang. Andrew saja. Seperti Cher.
Rasanya saat aku bicara, mereka tak dengar.
Dan bukan tak disengaja. Mereka sengaja tidak.
Seumur hidup aku menghadapi itu.
Namanya jadi wanita.
Aku benci matematika
dan bertahun-tahun aku di UC Santa Cruz mendalami teori bilangan.
Tahu kenapa?
Karena aku terobsesi dengan Infinity.
Maksudmu orang itu?
Tentu saja, Bodoh.
Aku memikirkannya terus.
Aku beronani terus, itu tak membantu.
Semua sudah kucoba.
Hubungan tak bermakna, banyak wanita lebih tua.
Meniduri cowok juga, mencoba BDSM...
Semua gagal.
Aku jatuh cinta padanya.
Jadi, kenapa kau ke sini?
Aku ingin bekerja untukmu, Dungu. Menurutmu?
Kampanyemu sampah.
Dengar...
aku akan terus terang saja bertanya.
Kenapa tak bekerja untuk kami?
Namun, tidak secara resmi.
Bagaimana kau bisa bantu?
Kalian ini sebebal apa, ya?
Akan kubuat diriku dipekerjakan dalam kampanye Standish.
Yang kau butuhkan itu...
Mata-mata?
Kenapa repot-repot? Kau unggul sepuluh poin.
Inilah cara kami agar unggul sepuluh poin.
Bagaimana kau akan dipekerjakan? Mereka tahu kita satu SMA.
Lantas?
Kubilang saja kau payah dan aku benci kau. Itu benar.
Untuk apa kau begitu?
Dan untuk apa aku begitu?
Karena bakatmu tak diacuhkan
oleh seorang megalomaniak memuakkan
yang, jujur sajalah, tak tahu dia harus bagaimana.
Sekali lagi, Infinity tak menjawab teleponku,
dan isi pesannya, "Aku sangat sibuk,"
dan "Berhenti mengirim pesan. Mustahil berhasil."
Pesannya campur aduk.
Aku ingin tahu hubunganmu dengan ayahmu.
- Kenapa? - Aku tahu dia di penjara,
tapi bagaimana sebelum itu?
Apa dia...
egois? Agak kejam?
Itu bukan urusanmu.
Dia agak megalomaniak, bukan?
- Aku enggan duduk dan mendengarkan ini. - Namun, familier, 'kan?
Sosiopat yang hanya mementingkan keinginannya?
Yang membuatmu yakin bahwa dirimu itu kerdil?
- Lucu kita bisa begitu, 'kan? - Akan kuceritakan kau menghampiriku.
Jangan ikuti aku lagi.
Kau pemenang pemilihan itu, Astrid.
Kepala sekolah cerita padaku. Mereka hitung suaranya. Kau menang.
Seharusnya kau yang melawan kami.
Maksudku, seharusnya bukan. Itu pasti gila, tapi...
kau tetap dirampok.
Biar kuperjelas.
Upah untuk bantuanmu adalah menjodohkanmu dengan Infinity?
Itu harganya, Berengsek.
Apa dia tahu?
- Payton tahu dia kalah? - Tidak.
Tidak mau. Bukan begitu caranya.
Ya, Astrid,
dia tahu.
Akan kupikirkan.
Sepakat.
Jadi, bisa dibilang,
cukup menyegarkan
ada kandidat independen
yang maju seperti Pak Hobart.
Apa pun hasil jajak pendapatnya,
dia harus bersaing sampai akhir.
Kurasa sejarah menunjukkan
kandidat berisu tunggal
bagus untuk demokrasi.
Kukira percakapan ini akan beradab.
Elvis, aku bukan kandidat berisu tunggal.
Jika aku tak beradab,
aku akan berkata aku ragu kau bahkan memenuhi syarat untuk maju.
Kau mendaftar di NYU tiga tahun lalu?
Senator, jika kau menyempatkan membaca berkas pencalonanku,
kau pasti tahu bahwa aku sudah resmi jadi warga New York sejak usia 14.
Dengan cara apa?
Kantor pusat PT ayahku di sini, di New York.
Keluargaku punya rumah di Montauk
selama beberapa generasi. Dan faktanya,
aku dapat SIM New York saat musim panas begitu usiaku 16.
Yang kau bawa kembali ke SMA-mu
di Santa Barbara, California.
Terdengar seperti warga New York sejati.
Oke, tersisa lima menit lagi.
Payton,
apa kau kandidat "berisu tunggal"?
Tentu bukan.
Dan gagasan bahwa Senator Standish
mau menggolongkan platform
yang ingin membuat energi terbarukan
prioritas utama kota ini,
menjadikan New York bebas karbon dalam empat tahun...
Memberi kesan bahwa itu semua
hanya mimpi siang bolong, itu menunjukkan dia ketinggalan zaman,
dan itu menggarisbawahi kebutuhan
untuk generasi baru pemimpin muda, yang...
maaf, belum akan mati dalam 20 tahun,
tapi masih di sini, hidup dalam bencana iklim
yang mengancam peradaban seperti yang kita tahu, ya?
Para muda mudilah,
orang yang belum pernah memberikan suara,
yang tahu bahwa inilah ancaman terbesar yang kita hadapi, sebagai spesies,
dan tahu kita punya solusi untuk bertindak sekarang.
Triliun dolar.
Katakan lagi, Senator. Semua orang tak mendengarmu.
Rencana yang tadi kau jelaskan, Payton.
Sedang menghitung cepat di kepalaku,
triliunan, huruf T.
Itu ribuan miliar dolar.
Janji manis yang bagus
dan aku yakin
itu akan sangat membantu kampanye ibumu di California,
tapi ini New York
dan kami lebih cerdas!
Ini bukan proposal serius, Payton.
Andai kau sudah meriset,
kau pasti tahu
bahwa aku baru ikut mendukung RUU yang disahkan jadi UU,
mengamanahkan 2,4 gigawatt
tenaga angin lepas pantai dan energi surya bebas biaya
untuk 10.000 penduduk berpendapatan rendah
tanpa menaikkan pajak untuk satu penduduk di negara bagian ini.
Itu hasil nyata dari kandidat sejati
yang bekerja keras selama 35 tahun terakhir
dan tak punya waktu
untuk atraksi pencalonan yang dilakukan orang-orang tak serius.
Seharusnya kubahas soal tripacar.
Sudah hampir keceplosan.
No comments yet. Be the first to leave one.