لومړۍ 187 کرښې.
Aku sangat jatuh cinta kepadamu.
Aku ingin dicintai kayak Dinda.
Geri adalah milikku.
Jangan dekat-dekat lagi sama dia.
Saat kau dituduh mencuri parfum,...
tidak ada sedetik pun aku percaya kau pelakunya.
Aku berharap kepercayaan yang sama darimu.
Tapi kau tidak memberikan itu.
Ini pasti gara-gara Oemji, Tinda tidak mau main lagi ke sini.
Lucy mau sama Tinda!
(Kak Irene : Ger, tolong jemput Dinda dan Lucy sekarang, ya.)
(Sudah malam, kasihan mereka. Aku bagikan lokasi, ya.)
Hei, Sepupu.
Raini, aku salut kepadamu.
Kau bisa bikin Geri sama Dinda putus.
Sekarang tinggal rencana selanjutnya.
Kau harus bikin Geri dikeluarkan dari sekolah.
Tapi aku masih tidak menyangka seorang Geri bisa jatuh cinta kepadamu.
Aku ingin dengar.
Kau ada ide-ide brilian lainnya, tidak?
Nanti dulu, ya? Aku lelah banget.
Sebentar.
Aku cuma mau mengingatkan kalau kau harus hati-hati sama Dinda.
Dinda itu pintar.
Kalau dia melihat gerak-gerikmu beda,...
nanti kau bisa ketahuan.
Kau harus pastikan satu lagi.
Kalau Dinda sama Geri sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Maaf, ya, Lucy. Lelah berjalan, ya?
Geri gila, ya.
Kacau banget sampai jam sekarang tidak dijemput.
Memangnya dia tidak memikirkan keponakannya?
- Tinda, Lucy mengantuk. - Ya, Tinda tahu.
Maaf, sebentar, Nak.
Sebentar.
Ya ampun.
Kurang sial apa lagi? Baterainya habis.
Aduh, aku harus menemukan tempat mengecas.
Lucy Sayang, kita ke situ dulu, yuk. Tinda mau mengecas ponsel.
- Biar bisa menelepon Om Geri. Yuk. - Baik.
- Permisi, Bang. - Ya?
- Aku mau menumpang mengecas, boleh? - Boleh, Mbak, ada colokan di sana.
- Ada, ya? Baik. Terima kasih. - Ya.
Adit? Budi?
Sedang apa di sini?
Kami sedang mencuci mobil.
Ya, seharusnya kami yang bertanya. Kau sedang apa di sini?
Sama Lucy lagi.
Aku mengantar Lucy membeli ini. Terus tadi seharusnya Geri jemput kami.
Tapi tidak tahu, tidak datang.
Sudah dari tadi aku sama Lucy menunggu lama banget sampai tempatnya tutup.
Aku mau menelepon Geri, tapi masalahnya baterainya habis.
Makanya sekarang aku ke sini mau menumpang mengecas.
Geri begitu banget sekarang.
- Sudah bucin. - Tahu.
Tidak tanggung jawab lagi.
Terus pulang sama siapa? Sudah malam.
Makanya tidak tahu ini.
Ya sudah, bersama kami saja, tidak apa-apa.
Ya ampun. Adit, Budi, terima kasih banyak, ya.
Karena kasihan Lucy. Sudah malam, dia sudah mengantuk banget.
- Sama-sama, santai. - Duduk.
Bagaimana kau ini? Duduk.
- Lucy, duduk. - Lucy Sayang, duduk.
- Duduk di situ? - Kita harus sopan.
- Sopan. - Ya. Silakan.
Kak Irene.
- Malam, Kak. - Ayo, masuk.
Sini, Sayang.
- Lucy. - Kak.
Kenapa kalian jadi ikut Adit sama Budi?
Ya, Kak. Karena dari tadi Dinda sama Lucy menunggu Geri,...
tapi dia tidak datang untuk menjemput.
Kami menunggu lama banget sampai malam.
Tapi Geri tidak datang juga.
Untung saja, bertemu dengan Adit sama Budi.
Pas banget mereka baru selesai latihan basket.
Jadi, sekalian saja pulang bersama karena sudah malam.
- Kasihan Lucy. - Aduh. Ya ampun.
Jadi, Geri tidak menjemput kalian?
Ya ampun. Yuk masuk.
Padahal Kakak sudah mengirim pesan. Yuk.
Hei, baru balik?
Apa-apaan kau, Kak?
Kau memang keterlaluan, ya.
Kau mau anakku celaka? Sakit?
Kak, apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.
Tidak usah berlagak bodoh. Aku kecewa denganmu!
Kau sekarang lagi membahas apa?
Aku menyuruhmu menjemput Dinda sama Lucy ke toko kado.
Terus kau tidak datang. Aku juga sudah bagi lokasi denganmu.
Kau tidak jemput!
Kak.
Kau tidak ada mengirim pesan kepadaku!
Tidak ada pesan apa pun.
Kau tidak ada bagi lokasi apa pun ke aku.
Di mana?
Ini buktinya. Kau mau mencari alasan apa lagi?
Ya, tapi aku tidak mendapatkan pesan apa pun, Kak.
Sumpah, aku tidak menerima pesan apa pun darimu!
Kenapa kau tidak percaya sama aku?
Dihapus kali.
Kau lagi jalan sama Raini, ya?
Ya, tadi.
Memangnya kenapa?
Pantas.
Maksudmu apa?
"Pantas" bagaimana?
Ibu, Lucy mengantuk.
Ya, Sayang, yuk tidur.
Aku belum selesai denganmu.
Din.
Kenapa ini jadi salahku, ya?
Kalau memang kau mau aku jemput,...
kenapa kau tidak mengirim pesan atau meneleponku?
Ponselku ada di sini dari tadi!
Kenapa malah jadi menyalahkan aku?
Aku benar-benar sudah tidak mengerti apa isi otakmu.
Begini, kalau pun memang benar kau tidak ingin menjemputku,...
kau benar-benar tidak mau menjemputku, aku tidak apa-apa, aku mengerti.
Tapi ini Lucy, Ger, keponakanmu sendiri.
Dia masih kecil. Itu sudah malam. Untung aku bertemu dengan Adit dan Budi.
Coba kalau tidak! Kau gila, Ger.
Kau egois, Ger!
- Kalian berdua, antar aku pulang. - Apa-apaan ini?
Budi, Adit!
Kalian temanku atau teman Dinda?
Aku lebih memilih Dinda daripada kau.
Kau sudah berubah sekarang, Ger.
=Kisah Untuk Geri=
Din.
Dinda!
- Jia... - Kenapa kau bengong saja?
- Nanti kesambet. - Kau memikirkan apa?
Kayak berat banget.
Aku memang lagi kepikiran, lagi bingung banget...
karena aku merasa...
akhir-akhir ini, banyak banget hal-hal yang tidak masuk akal untukku.
- Makanya aku bingung. - Ya ampun.
Aku setuju banget.
Masa Jia disangka setan sama Budi?
Itu tidak masuk akal banget, ya, 'kan?
Jazzy, kenapa kau mengingatkan lagi?
Aku jadi sedih.
Masa cowok yang aku taksir menyangka aku kuntilanak?
Kalau itu, kau tenang saja, ya.
Pokoknya urusanmu sama Budi belum selesai.
Tapi masalahnya, ada satu urusan lagi yang membuatku bingung.
Ini soal si Geri sama Raini.
Ya ampun, Dinda. Masalah itu tidak usah dipikirkan lagi.
Kau layak mendapatkan yang lebih baik.
Aduh, Ki, bukan masalah itu.
Begini, maksudku...
aku lagi merasa Geri itu kayak bukan Geri akhir-akhir ini.
Karena begini, kalau dia tidak peduli sama aku, itu sudah biasa.
Tapi ini Lucy, keponakan dia sendiri.
Tidak mungkin banget Geri tidak peduli sama Lucy,...
itu tidak mungkin.
Makanya aku merasa aneh banget. Kayak ada yang salah.
Aku masih bingung. Apa, ya?
Sejak kapan kau merasa kalau si Geri mulai aneh?
Ya...
Semenjak dia jadian sama si Raini.
Tapi yakin bukan karena cemburu?
Bukan, Jia. Kalau yang ini, bukan gara-gara itu.
Ya sudah, bicaranya santai saja. Santai.
Dinda, kau tidak usah khawatir. Kau tenang saja.
Pokoknya urusanmu itu juga menjadi urusan Iblis Merah Muda.
Teman-Teman, kita akan bantu Dinda, 'kan?
- Ya, tentu saja! - Ya.
Terima kasih, Teman-Teman.
Ini aku masak.
Jadi, ini makanan rendah kalori, rendah lemak.
Tapi proteinnya tinggi.
Ini masakanku sendiri.
Coba, ya.
Kalau ini masakanmu juga?
Ambil saja kalau kau mau coba.
Baik.
- Selamat makan. - Selamat makan.
Bagaimana? Enak, tidak?
Enak.
Aku tidak cukup baik untukmu, ya?
Tidak begitu.
Aku suka banget. Suka.
Kalau dibandingkan sama Dinda?
Kenapa kau berbicara begitu?
No comments yet. Be the first to leave one.