لومړۍ 198 کرښې.
Ada uang lima juta, berlalu begitu saja.
Hidupku makin tak jelas!
- Welly! - Aba?
- Aba? Apa yang kau lakukan di sini? - Welly.
Aku mau bicara hal penting kepadamu.
Ya, Aba. Namun, jangan bicara di sini.
- Di sini saja. - Jangan, Aba.
- Di sini saja! - Jangan di sini, Aba.
- Ayo, Aba. - Jangan. Mau ke mana?
- Aku mau diajak ke mana? - Tak apa.
- Kenapa kau bersemangat? - Masuklah ke dalam mobil.
Masuklah ke dalam mobil. Ayo.
- Astaga! - Astaga!
- Maaf, Aba. - Astaga!
Ya, Aba. Maaf.
Astaga.
Welly.
Lihatlah mobilmu ini, mewah.
Pakaian bagus.
Namun, kau belum melunasi uang panai.
Kini, sebenarnya apa pekerjaanmu?
Mungkin...
-kau melakukan curanmor? -Aba.
Ini mobil kantor.
Lalu, selama di Jakarta,...
aku melakukan pekerjaan apa pun, Aba.
Lagi pula, kenapa kau tak memberitahuku bahwa kau sudah di Jakarta?
Aku tak memberitahumu...
karena mau membahas hal penting denganmu.
Hei, Welly.
Ingat,...
sebelum kau melunasi uang panai itu,...
aku melarangmu menghamili putriku, Andini. Mengerti?
Apa?
- Serius, Aba? - Serius!
Aku tak apa jika begitu.
Baik, Welly.
Jika kau mau diterima di dalam keluarga besarku,...
jangan mempermalukan keluarga besarku.
Bagaimana jika keluarga besarku tahu...
bahwa aku mengizinkanmu menikahi Andini tanpa uang panai?
Mau diletakkan di mana wajahku?
Ya, Aba. Aku mengerti.
Ingat,...
jika putriku sampai hamil,...
kau akan menyesal selamanya!
Baik, Aba.
Aku berjanji. Aku tak mau menyesal, tak mau menderita.
Jika sudah mengerti, kini antar Aba ke stasiun.
Aku mau pulang ke kampung.
- Langsung pulang? - Ya!
Kau mau mengajakku berkeliling? Kau mau menyuapku? Tidak bisa!
- Tetap harus membayar uang panai. - Ya, Aba.
Asalamualaikum, Karen.
Wa'alaikumussalam.
Welly.
Kenapa kau bengong?
Kau...
Aku mau mengembalikan kunci.
Kau sudah berpakaian rapi, mau pergi?
Ya, mau membeli pakaian,...
juga mencari pakaian bayi. Semua pakaianku sudah kesempitan.
Sendirian?
Aku akan mengantarkanmu, ya?
- Tak apa. Aku bisa sendirian. - Ya, aku tahu.
Namun, aku tak tega membiarkamu pergi sendirian.
Tak apa, aku akan mengantarmu. Aku ambil kembali kunci mobilnya.
- Baik, tunggu sebentar. - Baik.
Ayo.
- Ayo. - Ayo.
Halo, Kak. Mau pilih model yang mana? Ada banyak pilihan.
Ya. Aku mencari baju tidur yang seksi.
Ya, ada banyak modelnya.
Ada model teddy nightie,...
babydoll nightie,...
korset.
Lingerie seksi wanita bertali V.
Sangat banyak, aku menjadi pusing.
Sejujurnya,...
aku...
mau menggoda suamiku.
Jika begitu,...
ini.
Model terbaik di toko kami.
- Bahannya setipis ini? - Ya.
Ini model terbaik di toko kami.
Baik, aku mau membeli yang ini.
- Model ini? Baik. - Ya.
Warna hitam adalah warna netral.
Jadi, nanti...
jika bayinya laki-laki atau perempuan, bisa dipakai keduanya.
Cocok.
- Welly! - Ya, ini sangat lucu.
- Welly! - Apa?
Kemarilah!
- Karen? - Kemarilah!
Apa yang kau lakukan?
Menggemaskan.
Cobalah.
Beserta kemejanya.
Astaga.
Kenapa kau memilih pakaian laki-laki?
Bukankah kita seharusnya mencari perlengkapan bayi?
Hentikanlah. Kau berisik. Ini, cobalah.
Cepat, cobalah.
Cobalah, aku mau melihatnya.
Masuklah ke sana.
Asalamualaikum.
Masuk lewat mana?
- Aku tak tahu. - Di sini. Ya.
=9 Bulan=
Karen.
- Karen. - Apa? Ya.
Aku sudah mencobanya. Ayo kita kembalikan.
Kenapa dikembalikan?
Ini menggemaskan. Kenapa dikembalikan?
Untuk apa? Kita beli saja.
Kini, mencari sepatu.
Kau jangan bilang menggemaskan kepadaku.
Aku menjadi...
salah tingkah.
Apa maksudmu? Bukan kau yang menggemaskan.
Maksudku bajunya menggemaskan.
Ini bagus.
Lagi pula, ini cocok denganmu.
Baik. Kini mencari sepatunya.
Ayo kita ke bagian sepatu.
Namun, Karen, kenapa kau mencari sepatu?
Lebih baik kita mencari baju hamil untukmu.
Apa? Aku mau mencari baju untukmu!
Tidak! Lagi pula, kau menantu Pak Anggoro.
Apa kau mau kalah...
dengan cara berpakaian Togap yang agak udik begitu?
Tidak!
Kita harus mencari sepatu!
Aku tak peduli!
Bayiku yang mengidam.
Baik, ayo mencari sepatunya.
Hei, Jamet.
- Kau sudah siap? - Tentu saja.
- Hei, Gegep. - Apa?
Kau berangkat bersamaku naik mobilku.
Kau menghadiri reuni mau naik apa jika tidak bersamaku?
- Kau pasti menumpang, 'kan? - Ya.
Aku ikut denganmu.
Namun, kita menjemput pacarku lebih dahulu.
Pacarku.
Baik, tenang.
Lihat.
Siapa yang menelepon?
Cantikku yang menelepon.
Tunggu sebentar.
Togap.
Aku sakit.
Jadi, aku tak bisa menemanimu.
Padahal...
aku sudah membeli gaun yang sangat bagus.
Astaga.
Namun, bagaimana? Kepalaku terasa amat pusing.
Sangat pusing.
Jika dipaksa pergi, bagaimana jika nanti aku pingsan?
Kau ternyata memang sakit.
Segera beristirahatlah, Sayang.
Tidur.
Makan, ya?
Kau pasti kecewa kepadaku.
Maaf.
Tubuhku lemah.
Tidak.
Tak apa.
Jika sakit, kau harus beristirahat.
Tak apa, Sayang. Aku mengerti.
Benarkah?
Bersanang-senanglah di sana.
Ya, Sayang.
Selamat beristirahat, Sayangku, Kekasihku, Cantikku.
Terima kasih.
Sayang.
Sayangku. Kekasihku.
Sangat cantik.
Sudah siap?
Tentu saja. Lihatlah.
Kita pergi sekarang?
- Silakan. - Ya.
- Mobil yang amat bagus. - Bagus, 'kan?
Mewah.
Silakan masuk.
Silakan.
Sudah siap?
Jadi, ini langsung ke kasir saja.
- Baik, tunggu sebentar. - Terima kasih.
Karen, tapi sepatu itu sangat mahal.
- Tidak perlu. - Jangan berisik!
Aku yang membelinya. Sudahlah.
Ya. Namun, kau bisa menggunakan uangnya untuk hal lain.
Ini keinginan siapa?
- Bayinya, 'kan? - Ya.
Sudahlah.
No comments yet. Be the first to leave one.