لومړۍ 200 کرښې.
"Kesalahpahaman ini lahir dari ketidaktahuan masa lalu"
Pada 11 September, 1683,
Islam pada masa kejayaannya melakukan ekspansi ke Barat.
300.000 tentara Muslim, di bawah komando Kara Mustafa
Mengepung kota yang mereka sebut "Golden Aple" Wina.
Tujuan Kara Mustafa adalah untuk memimpin pasukannya ke Roma
Dan mengubah Basilika Santo Petrus menjadi masjid.
Itu tidak pernah terwujud
Ini karena seorang biarawan Italia, Marco Da Aviano
Dan raja Polandia, Jan Sobieski.
Ini adalah kisah mereka.
Italia Utara. Autumn 1682
Bapa Marco. Berkatilah kami, mohon.
Bapa Marco.
Marco.
kau harus masuk.
Mereka sedang menunggumu.
Mundur! mundur ke belakang, Mohon!
Kembali, silakan kembali,!
Mundur, bagi Bapa!
- Tinggalkan dia sendiri! - Pastor Marco, mohon.
Aku buta, aku tidak bisa melihat.
Dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Amin.
Malam ini...
Kalian meninggalkan rumah kalian
Kalian meninggalkan pekerjaan kalian untuk datang ke rumah Tuhan.
Tapi kalian tidak datang ke sini untuk berdoa
Kalian datang ke sini untuk meminta pendeta miskin ini...
Sebuah keajaiban...
Hal yang tidak dapat aku lakukan.
Bukan untuk aku kalian harus berdoa, tetapi untuk Tuhan.
Aku bukan apa-apa.
Aku hanya instrumen yangTuhan pilih...
Untuk membuktikan keberadaannya. Berdoalah kepada Tuhan...
Setiap pagi... bersyukur kepada-Nya
Untuk memberi kalian satu hari lagi untuk hidup di dunia ini,
Merasakan keajaiban.
Berdoalah kepada Tuhan ketika kalian senang dan ketika kalian menderita.
Tetapi di atas semuanya...
Berdoalah kepada Tuhan agar Dia mengisi hatimu.
Dengan kekuatan untuk menjadi prajurit Kristus
Untuk mempertahankan rumahmu...
Untuk mempertahankan tradisimu...
Untuk mempertahankan iman-mu.
Karena segera...
Segera...
Itulah yang harus kita lakukan.
Mempertahankan iman kita.
Sekarang berdoalah denganku.
Aku bisa melihat! Aku bisa melihat... aku bisa melihat.
Oh, Tuhan, aku bisa melihat.
Aku melihat, Aku melihat!
Ada sebuah keajaiban! Dia dipulihkan penglihatannya!
Aku melihat! Oh, Tuhan.
Terima kasih Tuhan! Aku bisa melihat!
Kumohon kembalilah! Mohon.
Kembalilah, keluarkan mereka. Berhenti, mundur.
Apa yang kau lakukan?
Apa yang kau lakukan?
Kalian percaya pada sepotong kain ini akan menyelamatkan kalian?
Kristus-lah yang akan menyelamatkan.
Itu takhayul, Oh Tuhan.
Kembali, keluar!
Beri jalan, mundur!
Pulanglah.
Oh, Tuhan... Oh, Tuhanku.
Aku berdoa untuk orang-orangku selama bertahun-tahun.
Selama bertahun-tahun, Itu semua tidak ada hasilnya.
Kenapa aku?
Mengapa?
Istanbul. Turki.
Kami memilihmu, Kara Mustafa...
Wakil Agung dari Kekaisaran Ottoman.
Kau bersama para komandan kepercayaanmu.
Untukmu, kami meminta agar membawa bendera hijau Muhammad...
Kembali ke jantung Eropa.
Ya!
Sepertinya sulit untuk menang kali ini. ya?
Benar.
Sebelum melewati banyak bulan...
Kau akan menjadi yang pertama mencapai puncak bukit.
Percaya padaku.
Aku ingin sepertimu, Ayah.
Aku ingin menjadi seorang pejuang besar.
kau pasti bisa.
Dan kau sungguh akan menjadi hebat.
Karena kau telah mewarisi keindahan ibumu dan kekuatan ayahmu.
Mari kita pulang sekarang.
Atau ibumu akan mulai khawatir.
Sudah cukup.
Kau tampak tidak bahagia melihatku.
Setiap jauh darimu tampak seperti akan selamanya, Tuanku.
Jadi... Mengapa kau begitu melankolis sekarang?
Ini hanya mimpi yang aneh.
Sebuah mimpi yang tidak penting.
Jadi katakan padaku, Tuan...
Kejadian apa yang membawamu menjauh dari kenyamananmu?
Ini kasus yang sulit...
Ketika kau mengetahui ada perintah dari Kekaisaran Ottoman...
Aku harus melaksanakannya.
Membawa bendera hijau Nabi ke jantung Eropa.
Dan menempatkan Barat pada kakiku.
Seperti nenek moyangku yang meletakkan daging kuda di bawah sadel mereka...
dengan kelembutan...
Aku ingin memenangkan "Golden Apple"... Wina.
Dan memimpin tentaraku menuju Roma.
Memberi minum kudaku di Lapangan Santo Petrus.
Jangan pernah kau melepaskan jimat ini.
Informanku mengatakan kepada aku beberapa hari yang lalu...
Di Venice ada seorang laki-laki...
Seorang biksu, yang membuat mukjizat khusus.
Menyembuhkan yang lumpuh, mengembalikan penglihatan orang buta...
Bisa berada di dua tempat sekaligus.
Namanya adalah Marco.
Marco.
Nama ini seperti nama seorang anak yang hidupnya pernah kuselamatkan...
Beberapa puluh tahun yang lalu.
Dialah yang memberi aku jimat ini.
Ini bagus?
Tidak, itu tidak bagus.
Itu harus lebih gelap.
Jika warna terlalu terang, memudarpun sangat cepat.
Tidak, telah kulakukan...
Sangat cerah...
Itu bertahun-tahun yang lalu
Sejak terakhir kali kau mengunjungi ayahmu.
Sejak ada kekuatan lain dalam hidupnya...
Jauh lebih penting dari pada kau, Carlo...
Untuk Bapa kita yang ada di sorga.
Aku mengerti.
Dan dia tidak harus berurusan dengan subsisten setiap bulan.
Carlo!
Apakah kau ingat malam saat aku bertemu pedang Bapa Giovanni di hutan?
Malam itu...
Tuhan memanggil aku.
Itu bukan imajinasi-ku...
Ada demam...
Ada delirium.
Itu adalah suara Tuhan yang memanggilku malam itu.
Aku memutuskan untuk menjadi seorang imam.
Saat ini yang kita perlukan adalah tenaga pembantu di bagian binatu, Marco.
Bukan seorang imam.
Tapi kau memilih sebaliknya.
Maaf, tapi aku sangat lelah.
Selamat malam... anakku.
Ayo.
Sepertinya pekerjaan ini masih belum cukup tenaga pembantu.
Kau masih akan disana, kan?
Aku tahu ibu, aku minta maaf.
Turki mulai membuat terobosan.
Kapal dengan bulan sabit...
Mereka terlihat di Venice.
- Bapaku... - Nyonya, kesana cepatlah!
- Cepat. - Apa yang terjadi, Bartolo?
Sekelompok pemuda menuju bukit.
Mereka mengatakan akan membunuh Abdul.
Oh, Tuhan.
Keluar dari sini kau si Turki!
Ayo, berhenti!
Usir! Kami tidak akan mengatakan lagi. Berhenti, berhenti, berhenti.
- Minta perhatian kalian. - Usir dia dari sini, biksu.
Apa yang kau lakukan? Apakah kau gila?
Abdul adalah saudara kita.
Walau menyembah Tuhan yang berbeda, Dia tetap saudara kita.
Tidak, Dia tidak seperti kita!
- Dia Turki! - Sialan Turki.
Cukup!
Kalian bahkan belum lahir ketika dia datang ke Aviana.
Selama puluhan tahun...
Dia tidak pernah menyakiti siapa pun.
Ini adalah bukti nyata.
Bagaimana kita bisa hidup bersama-sama.
Menghormati iman orang lain.
Kita bisa hidup damai dengan orang-orang ini.
Perdamaian? Apa yang kau katakan, Marco?
Selama dua hari, orang seperti dia meratakan puluhan desa di Hungaria.
Benar, memotong leher pria
Dan mengambil perempuan dan anak-anak.
Oh Tuhan.
Cukup! Mari kita bunuh dia!
- Tidak ada! - Bunuh dia, bunuh dia!
Mari kita pergi.
Mari kita pergi!
Kami akan kembali, Turki.
Pada saat tidak ada seorang biksu lagi yang melindungimu.
Kami akan kembali.
Ingat kami. Kami akan kembali segera.
Lihat saja nanti, Turki.
Tidak, dia mempertaruhkan nyawanya.
Kau seharusnya tidak melakukan itu!
Dia tidak bisa mendengarkanmu. Karena dia tuli dan bisu.
Dia Hidup denganmu?
Tuhan-ku lebih toleran daripada anda, Marco.
Aku memiliki empat istri.
Mengapa kau tidak membela diri... diluar?
Allah-lah yang menentukan nasib kami.
tidak masuk akal jika aku mencoba untuk mengubahnya.
Ketahuilah Abdul...
Tahun lalu, saat aku mengikuti seminar...
No comments yet. Be the first to leave one.