لومړۍ 200 کرښې.
Profesor Adi barusan meninggal.
Jadi, kita semua harus diisolasi.
Astaga.
Tolong cek nomor telepon Profesor Gunawan...
dari Fakultas Kedokteran.
Terima kasih karena sudah menolongku.
Maaf aku selalu merepotkanmu.
Kau beruntung memiliki suami seperti Arya.
Ayah merindukanmu, Nak.
Inggit juga.
Aduh! Anak Ayah, 'kan?
- Ini waktu dia menikah. - Ini saat dia dewasa.
Lihat ini.
Ini saat ulang tahunnya.
- Lihat, imut sekali. - Sedang apa kalian?
- Terlihat seru sekali. - Tak ada apa-apa, Nak.
Kau bisa duduk di sini.
- Sedang apa, Ibu? - Sedang melihat foto kecilmu. Imut.
- Baik, tutuplah. - Boleh kulihat?
Tidak boleh, Mas!
Kenapa dia tak boleh melihatnya?
Tak mau, Ibu. Aku tampak culun di foto itu.
- Astaga, lihatlah poninya! - Aduh, aku culun sekali.
Sudahlah, Mas. Aku tampak sangat culun di foto.
Sejak kecil dia sudah cantik, Pak.
- Tentu saja. - Cantik sekali.
- Arya. - Tidak, foto itu...
Kami memiliki putri satu-satunya yang paling cantik...
seantero dunia.
Hentikan, Ayah.
- Aku setuju dengan itu. - Ya.
Namun, setiap kali dia dapat nilai jelek,...
- bagaimana sikapnya? - Dia akan mengambek.
Dia akan mengerutkan kertasnya dan buang ke seluruh kamar.
Ibu, jangan buka aib!
Dia masih melakukan itu sampai sekarang.
Jika dia dapat nilai jelek, dia pasti marah kepadaku.
Ya, dia pelit sekali jika memberi nilai.
Bayangkan, semua mahasiswa diberi nilai C. Siapa yang tak kesal?
Kau sembarangan berbicara.
Ya, kau berikan semua murid nilai C!
- Itu bukan pelit. - Itu pelit!
Kau seharusnya tak bersikap begitu, Nak.
Seharusnya Ayah memarahi Mas Arya. Bagaimana bisa dia memberiku nilai C?
Itu artinya kemampuanmu hanya sampai situ.
Kenapa Ayah bicara begitu? Aku sudah berusaha.
Lihat? Ayah pun berpendapat begitu.
Senang karena dibela Ayah?
Namun, terlepas dari semua itu,...
hari ini Ayah benar-benar bahagia.
Kenapa?
Yang pertama...
bahwa kita berempat bisa kembali berkumpul bersama.
Kita bisa kembali saling berbincang.
Sudah lama kita tak mengobrol seperti ini, 'kan?
Yang kedua...
aku merasa badanku lebih sehat.
Merasa lebih ringan.
Sebenarnya Ayah memang tak sakit. Ayah hanya bersikap manja agar kujenguk.
- Benarkah? - Ya!
Aduh!
Yang berikutnya untukmu, Arya.
- Ya, Ayah? - Ayah merasa lebih yakin...
kau bisa menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab...
kepada keluarganya suatu saat nanti.
Amin.
Aku pasti akan berusaha untuk menepati janjiku...
kepada Ayah dan Ibu untuk bisa menjaga Inggit.
- Silakan dilihat lagi fotonya. - Tidak, sudah cukup!
Hentikan! Tidak mau.
Ya, ampun. Aku masih sangat kecil. Aku tidak mau.
=My Lecturer My Husband=
- Salah lagi. - Ini, Mas.
Terima kasih.
Sulit sekali mengetiknya.
Sini, biar aku yang mengetik.
Bisa?
- Aku hanya perlu mengetik, 'kan? - Ya, tapi kau harus fokus.
Karena ini materi yang sangat penting dan harus dikirim ke Profesor Johnson.
- Aku hanya mengetik, bukan membuatnya. - Baiklah.
Aku juga tak akan bisa jika disuruh mengerjakannya.
Pertama...
Baiklah.
Kita lanjutkan?
Cepat.
Bisa jangan bersikap galak? Sebentar.
- Baik. - Apa?
Tunggu sebentar. Kenapa terburu-buru sekali?
Tulis ini.
Riset... Di bawah kalimat itu.
Riset di bidang sosial bagi sebagian kalangan ilmuwan, koma,...
sejatinya jauh lebih rumit daripada riset bidang eksakta.
Tunggu, aku perlu mengambil sesuatu.
Permisi.
Ribet sekali.
Permisi.
- Astaga. Kenapa kau terus bolak-balik? - Aku lapar.
- Kau mau? - Tidak.
Kau suka makan camilan. Kenapa tak mau?
Nanti tanganku akan kotor dan kertasnya menjadi kotor, lalu aku disalahkan.
- Yakin kau tak mau? - Tidak.
- Sudah diminum semua? - Sudah, Ibu.
Terima kasih, Ibu.
Bagaimana dengan anak-anak?
Arya di depan sedang mengerjakan tugas.
Inggit sedang membantunya.
Namun, mereka baik-baik saja, 'kan?
Baik-baik saja.
Berhentilah berpikir hal yang buruk.
Siapa yang memotong kertasnya? Ini tak rata.
Lakukan dengan rapi. Lihat, masih tersisa dua lembar kertas.
Mas, kau paham bersabar tidak?
Kau selalu ingin semua beres dengan cepat. Sabar.
Seperti ini?
Ya, baik.
Satukan dengan pengokot. Cepat.
- Lihat. Sudah rata, ya? - Ya.
Pengokot ini terlalu tebal. Apa bisa digunakan?
Aduh!
Sudah kubilang untuk berhati-hati.
Lihat, kau berdarah.
Kenapa kau tak berhati-hati?
Kalau begitu, jangan menyuruhku untuk buru-buru.
- Sakit! - Diamlah.
Diam.
- Sakit. - Diamlah.
Sayang.
Ternyata benar. Itu mereka.
Mereka makin mesra.
Mereka duduk berdua, dan wajah mereka makin mendekat.
Seperti akan berciuman.
Syukurlah kalau begitu.
Aku senang mendengarnya.
Namun, sebenarnya aku sempat punya perasaan khawatir.
Khawatir kalau Inggit tak ikhlas menikah karena dijodohkan.
Jika semua menantu seperti Arya...
tampan, penyayang,...
kurasa tak akan ada yang menolak perjodohan.
Lagi pula, mereka makin mesra.
Aku sudah tak sabar ingin dapat cucu dari mereka.
Amin.
Sudah.
- Bisa atau tidak? Hati-hati jarimu. - Bisa.
Lakukan yang benar agar rata.
- Biar kubantu. - Jangan terlalu dekat, Mas.
Kenapa kau dekat-dekat?
Kenapa wajahmu terlalu dekat?
Sudah? Lepas. Selesai.
Terima kasih.
- Hai. - Halo.
Apa kabar?
Kondisiku membaik, Inggit.
Aku sudah menjalani uji usap pertama dan hasilnya negatif.
Jadi, aku hanya perlu menunggu hasil uji usap kedua.
Lalu, aku bisa keluar dari ruang isolasi mandiri.
Baguslah. Aku sangat lega mendengarnya.
Maaf, aku tak meneleponmu.
Tak apa-apa, aku mengerti.
Aku tahu kau sedang ada di Yogyakarta, 'kan?
Iim yang mengabariku.
Katanya, ayahmu terjatuh?
Kondisi Ayah naik turun.
Semangatlah, Inggit.
Jagalah ayahmu.
Ya.
Terima kasih.
Aku sangat merindukanmu, Git.
Aku sangat lega kau tak positif terinfeksi virus korona.
Inggit.
Kau tak dengar tadi kubilang aku sangat merindukanmu?
Ya.
Kau hanya menjawab "ya"?
Kau tak merindukanku?
Sebenarnya, ada apa denganmu?
Ya, aku juga merindukanmu.
Baiklah. Semoga kita bisa cepat bertemu.
Baiklah. Dah.
Sayang.
Sayang?
Mas.
Mas!
- Ibu! Ada apa? - Mas!
Mas...
Astagfirullah...
Mas...
Ayah?
Inggit, pegangi Ibu.
Mas, hubungi dokter!
Mas!
Mas...
Mas, bangunlah!
Ibu...
Ayah!
Mas, tolong hubungi dokter!
Ayah!
Mas, hubungi dokter sekarang!
Ayah!
Tiada Tuhan selain Allah...
Tiada Tuhan selain Allah...
Tiada Tuhan selain Allah...
No comments yet. Be the first to leave one.