لومړۍ 200 کرښې.
Aku bisa merasakan kehadirannya. Tapi dia tidak mengeluarkan suara.
Dengan lembut, dia menyentuh bagian belakang kepalaku.
Lalu menurunkan mulutnya ke bibirku.
Dengan ciuman yang kuat...
Dengan ciuman yang kuat... Apa?
Ciuman yang menuntut. - Ya ampun!
Itu membangkitkan nafsu yang liar. - Terus? Terus?
Dia mencium lembut tubuhku. - Apa?
Tunjukkan. Ada fotonya?
Menekan lewat kain. - Ya ampun!
Dia terlalu sering mencium.
Anna, kenapa kamu sampai merah begitu?
Aku tidak merah.
Halo, jelas kamu merah.
Kamu merah sekali. - Kayak tomat.
Kenapa berhenti baca? Lanjutkan baca. - Terus dia ngapain?
Ira, kamu yang baca. - Anna, kamu baca.
Ada yang baca dong. - Permisi!
Gadis-gadis! Apa yang sedang terjadi di sana?
Lari! - Kalian ngapain di situ?
Anna!
Anna!
Cepat. Dia datang.
Gadis-gadis, kalian ngapain?
Cepat! Cepat, girls!
Tenang, girls.
Hari ini Anna dan Ira dari kelas 10B...
...akan memimpin doa kita.
Semua keluarkan buku lagu.
Anna dan Ira, nyanyikan.
Maaf, Bu. Tolong.
Tolong. - Kamu mau nyanyi?
Atau saya antar ke ruang kepala sekolah?
Mau?
Satu, dua, tiga. Nyanyi.
"Segala yang indah dan cerah."
"Segala makhluk..."
Girls!
Bersama. Hitunganku. Satu, dua, tiga.
"Segala yang indah dan cerah."
"Segala makhluk besar dan kecil."
"Ayo pergi."
Aku lihat dia.
Teruskan. Oke? - Oke.
Hai.
Dia lucu, ya?
Iya. - Tapi Shahrukh Khan memang super lucu.
Menurutku dia cukup lucu.
Lihat. - Apa?
Ayo pergi.
Kenapa dia nggak keluar rumah?
Soalnya Shimla membosankan.
Gak ada apa-apa di sini.
Serius deh. Apa ya yang sebenarnya terjadi?
Mungkin dia nggak menikah di waktu yang tepat.
Mungkin itu alasannya.
Beneran?
Siapa peduli?
Pokoknya begitu.
Menurutku sih dia cuma butuh make-up dan sikap baru.
Cukup itu saja.
Anna. Anna.
Kamu ngapain? Ayo, aku lapar. Cepat.
Anna, ibu Ira telepon.
Katakan Ira sudah meninggal.
Ibu, dia bakal telpon lagi.
Oke. - Dia mau apa sih?
Kenapa kamu kejam banget sama ibu sendiri?
Aku kejam?
Dia selalu bertengkar sama aku.
Terus ngasih ceramah terus. Aku benci dia.
Dia kan ibumu, Ira.
Kamu tahu darimana?
Aku rasa aku bukan anak kandungnya.
Maksudku, kok kita bisa beda banget?
Ira.
Apa?
Sini. Cepat.
Lihat ini.
Kasihan sekali.
Hidup macam apa ini!
Siapa sih yang mau hidup kayak gitu?
Satu alasan.
Cinta.
Belum ada cowok yang pernah sentuh dia.
Jadi dia ini galau cinta.
Kasihan wanita itu.
Bayangkan saja.
Nggak ada cowok.
Cerita dia bikin aku mual.
Ira.
Ayo tanya ibu kamu. Ayo.
Ini.
Aku dengar dia Rajput. Keluarga Jubbal.
Kita juga lihat syuting film Black di sana, kan?
Ayah Maya meninggal waktu dia masih kecil.
Setelah itu, pamannya mulai mengatur dia dan ibunya.
Paman itu sering mengancam dan menakut-nakuti mereka.
Serta menyiksa.
Maya juga sering membantah pamannya.
Lalu suatu hari...
Ibunya pergi bersama pria lain.
Kamu bisa bayangkan betapa beratnya kejadian itu buat Maya.
Anak-anak sering menyalahkan diri sendiri.
Mungkin dia juga merasa nggak pantas dicintai siapa pun.
Kalau tidak, kenapa ibunya meninggalkannya?
Paman-nya memanfaatkan keadaan ini sepenuhnya.
Dia terus-menerus mengatakan bahwa dia tidak layak dicintai siapa pun.
Maya tumbuh dan memasuki usia menikah.
Banyak pemuda datang melamarnya.
Tapi semua menolaknya.
Setelah ditolak berkali-kali...
...pasti hatinya hancur.
Dia berhenti keluar rumah.
Sudah 20 tahun berlalu.
Tapi kenapa tidak ada yang menyukainya?
Apakah dia benar-benar jelek?
Sebaliknya, orang bilang dia sangat cantik.
Kalau begitu?
Ya... tidak ada apa-apa.
Paman-nya mengusir semua orang.
Sejak awal, pamannya mengincar uangnya.
Dan rencananya berhasil.
Kenapa tidak ada yang bilang pada Maya Devi?
Pasti ada yang bilang. Pasti sudah coba.
Tapi orang takut pada pamannya.
Setelah dia meninggal, orang coba lagi.
Tapi mungkin Maya tidak bisa percaya siapa pun.
Akhirnya orang meninggalkannya sendiri.
Dan dia jadi penyendiri sekarang.
Dia ngapain aja sendirian sepanjang hari?
Lagi ngapain?
Pikirin Maya Devi. - Aku juga.
Dengar. Aku punya ide.
Apa?
Bayangkan.
Kalau Maya Devi dapat surat cinta dari seorang pria.
Dan di surat itu dia menulis...
Dear Maya.
Aku mencintaimu.
Aku sangat mencintaimu.
Tapi... pamannya mengusirku.
Atau sesuatu seperti itu.
Pria siapa?
Pria imajiner apa saja.
Kita beri nama.
Dan kita tulis surat atas namanya.
Maksudmu?
Bodoh. Kita yang tulis surat itu.
Tidak mungkin. Kamu gila?
Kalau begitu, kenapa dia percaya ada pria seperti itu?
Dan kalau dia benar-benar cinta, kenapa dia tulis surat?
Dia bisa datang langsung bilang.
Mungkin.
Dia sudah menikah dan punya anak.
Kalau cinta, kenapa selama 20 tahun nggak pernah hubungi?
Dia pikir Maya pasti sudah menikah juga.
Kenapa sekarang baru kontak?
Mungkin krisis usia paruh baya.
Entahlah.
Kalau kita ketahuan?
Terus?
Pikir saja ini kerja sosial.
Kita kirim Shahrukh Khan...
...ke kehidupan membosankan seorang wanita membosankan.
Keren, kan?
Wah! Bagus sekali!
Mama.
Bolehkah aku menginap di rumah Ira malam ini?
Sayang, gurumu sudah telepon. Aku lupa bilang.
Aku tahu Ira adalah sahabatmu.
Tapi aku tidak suka bagaimana dia mendominasi kamu.
Teman itu baik, sayang.
Tapi kamu jangan sampai kehilangan jati diri.
Dia berpengaruh besar padamu.
Bukan begitu, Bu.
Dia beda banget sama kamu.
Dia sedikit manja.
Dia lebih tertarik sama cowok daripada belajar. Kan?
Bu, bukan begitu.
Sayang, kamu belum lihat
cara dia memperlakukan ibunya.
Bibi Reema yang membesarkannya sendiri.
Dan itu nggak mudah. - Bu...
Bu... bibi Reema kan temanmu.
Kok bisa bilang begitu?
Makanya aku bilang kamu harus bertindak bijak...
...buat dirimu dan buat Ira.
Dear Maya.
Aku tidak menikahimu karena kamu jelek dan tidak pakai make-up.
Apa itu yang kamu tulis?
Kita nggak bisa tulis itu. - Kenapa nggak?
Aku yang tulis.
Tulisanku lebih bagus dari kamu.
Astaga!
Oke deh.
Bagaimana kalau...
Ya.
Dear Maya.
Kamu pasti terkejut membaca surat ini.
No comments yet. Be the first to leave one.