لومړۍ 200 کرښې.
Tahun 1920.
Daerah Pesisir Srikakulam.
Tentara Inggris sudah siap menyerang suku setempat.
Untuk merebut cadangan emas yang terkubur di tanah mereka,
mereka siap membunuh sampai orang terakhir sekalipun.
- Kalian semua akan mati hari ini. - Suku itu tidak akan lama
- musnah oleh pasukan sebesar itu. - Berlututlah. Atau mati.
Tapi...
satu prajurit punya pandangan lain.
Karena prajurit ini adalah raja mereka juga,
kisah ini pun dimulai.
Tembak!
Perang baru saja dimulai!
Bagi kaumnya, seorang raja bukan cuma salah satu dari mereka.
Mereka percaya raja mereka adalah dewa titisan yang turun untuk menyelamatkan mereka.
Setiap perkataannya adalah perintah bagi mereka.
Perang!
Anak-anak, yang jadi masa depan klannya, dibawa ke
tengah, dikelilingi ibu-ibu mereka dan para lansia di sekitar mereka.
Para prajurit yang melindungi mereka ada di lingkaran luar.
Angkat!
Meski peluru menerjang
dan darah mengalir,
Jangan berhenti sampai anak-anak selamat.
Tembak!
Serbu!
Kapan pun kamu menemukan prajurit yang bisa
menyelamatkan suku kita, serahkan ini padanya.
Dari mana aku tahu siapa rajanya?
Kau meniupkan semangat baru ke klan yang sekarat.
Kapan kau akan kembali?
Kapan kau akan naik takhta lagi?
Kapan kau akan mendirikan kerajaanmu lagi?
- Senapan di bahu! - Satu!
Hadap kanan!
Kiri, kanan, kiri. Cek.
Kiri, kanan, kiri. Cek.
Kiri, kanan, kiri. Cek.
Kiri, kanan, kiri.
Kiri, kanan, kiri.
Satu, dua, tiga, empat.
Kiri, kanan, kiri.
Kiri, kanan, kiri.
Parade, berhenti!
Sreenu.
Sreenu, tolong tunggu.
Sreenu.
Hei, Suri.
Kapan kamu datang?
Ada apa?
Kamu lewat begitu saja seolah tidak melihatku.
Aku kerja di kantor Komisaris, tapi bukan sebagai Komisaris.
Kalau mereka tahu aku membantumu, aku akan kehilangan pekerjaanku.
Kamu tahu kakakku, kan, Sreenu?
Aku tahu, makanya aku memberitahumu.
Hah?
Apa adikmu hilang di pasar malam sampai kita harus mencarinya? Dia membunuh ayahmu.
Ini kasus pembunuhan.
Meski kamu mengejarku sampai berbulan-bulan, aku tidak bisa membantumu.
Aku kira kamu menghindariku karena sibuk.
Aku tidak tahu kalau kamu tidak mau membantu.
Jangan sampai kamu kepikiran ini, dan jangan sampai nggak menemuiku kalau ke desa.
Ngerti?
Suri.
Apa kamu melatih dialog seperti ini di bus waktu kamu ke sini?
Ayo.
Kamu tunggu di sini saja.
- Aku pergi lihat dia ada apa tidak. - Oke.
Tunggu di sini saja.
Kamu polisi?
- Bisa tolong bantu saya, Nak? - Hei, Pak Tua...
Tidak ngerti apa yang kami bilang?
- Saya melihat dia dibawa masuk, Pak. - Hei, Suri, sini.
Hei, perlu dipukuli dulu ya biar kamu mengerti.
Apa kamu nggak ngerti sih kalau nggak ada orang seperti itu di sini?
- Tolong jangan bicara seperti itu, Pak. - Kamu, sini.
Hei, tunggu di sini.
Selamat pagi, Pak.
Ini teman saya, Suri.
Dia dari bagian kami, bekerja sebagai konstabel di Ankapur.
Adiknya hilang delapan belas tahun lalu, Pak.
Hei, bawa fotonya.
Hanya ada satu foto masa kecilnya.
Bisa tolong bikinkan sketsa bagaimana penampilannya kalau sudah dewasa?
Taruh saja di situ.
Adikku.
Siva.
Saya hanya punya foto itu saja, Pak. Tolong hati-hati, Pak.
Pekerjaan kita sudah selesai di sini.
Kau kira dia tidak tahu? Dia pasti sudah bikin banyak sketsa seperti itu.
- Santai saja, saya tunggu di luar. - Ayo. Jangan bikin dia marah.
Kabari kami kalau sudah selesai, Pak. Terima kasih.
Saya yang menyerahkan dia.
- Itu cucu saya, Pak. - Ada apa ribut-ribut?
- Orang tua itu mau apa? - Tolong pertemukan saya dengannya, Pak.
- Dia mencari siapa? - Dia tidak mau pergi, Pak.
Bukankah saya sudah menyerahkan cucu saya, Jogi, kepada Bapak?
Ada apa ini?
Jogi, seorang Naxalite, menyerahkan diri tadi malam.
Kami tidak menangkap siapa pun dengan nama itu.
- Inspektur bahkan belum mencatat FIR. - Hei...
- Pak? - Bawakan dia berkas FIR.
- Biar orang tua itu lihat sendiri. - Oke, Pak.
- Pak, maksudnya apa? - Kasihan sekali!
- Dia akan dieksekusi. - Pak...
Kalau dia serahkan diri ke pengadilan, dia mungkin bisa hidup.
Bukankah saya sudah bawa dia dan serahkan semalam, Pak?
- Kok sekarang kamu bohong? - Siapa yang bohong, dasar orang tua!
Kamu datang ke kantor polisi ini dan menuduh kami berbuat salah?
Pak...
Kamu menuduh kami?
Cucumu tidak ada di sini, paham tidak?
- Maksudmu apa? - Hei, Suri...
Hei, Suri!
Saya bisa dipecat di sini.
Cucu saya, Pak...
Apa yang kamu lakukan?
Kamu... Seharusnya saya tidak pernah membawa kamu ke sini.
Hei! Pukul dia.
Hajar dia.
Kamu ini siapa?
Berani-beraninya kamu memukul petugas?
- Pak... - Bagaimana bisa kamu memukulnya?
- Bagaimana bisa? - Hajar dia.
Ayo, lewat sini...
Pukul dia. Terus!
Kamu siapa?
Pukul dia. Hajar dia.
Serang dia.
- Hajar dia. - Pak...
Pak...
- Jogi sudah kabur, Pak. - Pak...
Memangnya dia bisa lari ke mana?
Dia tidak akan dibiarkan.
Pergi, cari dia.
Siapa sih yang mau semua ini sekarang?
Kalau keluar, otakmu ditinggal di rumah ya?
Kok bisa-bisanya kamu memukul pejabat senior?
- Yadagiri... - Ya?
Aku dapat banyak sekali telepon yang minta dia diskors.
Yah...
Lihat tatapannya.
Kalau orang tua dipukul, kamu balasnya ke atasanmu?
Aku tanya kamu. Kenapa tidak dijawab?
- Haruskah kamu memukulnya? - Ya.
Orang tua itu sudah paling tidak tujuh puluh tahun.
Jalan saja sudah susah.
Orang seperti itu dipukul sampai jatuh.
Aku akan membalas, bahkan kalau dia atasanku sendiri.
Maaf, Pak.
Tidak akan terulang lagi.
Oke, baiklah. Yadagiri, suruh dia masuk kerja besok.
Aku belum makan dari pagi.
Tolong siapkan makanan.
Bu.
Ayo makan.
Aku tidak akan mengulanginya lagi.
Kamu pikir aku inspekturmu sampai percaya omonganmu gitu?
Aku kenal ibumu betul.
Satu-satunya kekhawatirannya adalah... Siva.
Dia ingin bertemu dia sekali saja sebelum dia meninggal.
Meskipun dia menyakitimu karena rasa sakitnya, jangan dimasukkan ke hati.
Aku lupa foto kakakku di sana, Om.
Tolong kembalikan.
Empat!
- Eh, aku balik bentar. - Mau ke mana?
Katanya kamu hajar orang di Hyderabad lagi?
Nggak ada kerjaan lain?
Nanti kamu bisa dipecat juga, kan?
Eh, aku nggak tahu. Pergi sana!
Kalau kamu dipecat dari tugas, kamu harus main sama kita.
Katanya ada tiga jip penuh polisi?
- Siapa yang bilang begitu? - Ayahnya Suresh.
Katanya polisi Hyderabad pada di kantor polisi kita semua?
Kamu pasti dipecat.
- Sini! - Nggak mau.
Ambil uangnya, beli bola, Nak. Kayaknya aku bakal balik lagi sebentar lagi.
Ambil ini.
Sialan! Aku tahu kamu bakal kalahin aku.
KANTOR POLISI ANKAPUR, ARKUR
Apa pun yang mereka bilang, jangan ngejawab.
Bilang aja nggak bakal ngulangin lagi. Oke? Ayo.
Itu benar-benar nggak sengaja, Pak.
Dia tumbuh di depan mata saya, Pak.
Dia dapat medali emas di akademi, Pak.
Dia terlatih dengan baik dalam ilmu mata-mata Naxal, Pak.
Berdiri di sana.
Semua orang pikir dia agresif.
- Tapi dia polos banget, Pak. - Suri, tampar dia.
Ayo, Suri. Tampar dia.
Tampar dia seperti yang kamu lakukan di Hyderabad.
Ayo, tampar dia.
Kamu nggak bisa ngikutin perintah sederhana?
Kan sudah kubilang tampar dia!
Pak.
Kenapa kamu butuh seragam ini?
Kamu tahu ada berapa banyak keluhan tentang tingkah lakumu?
Seorang tahanan kabur karena kamu.
Kamu menyerang petugas yang sedang bertugas.
Bukan cuma skorsing.
No comments yet. Be the first to leave one.